Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsAqidah & IbadahSabtu, 6 Juni 2026

Kisah Pendek — "Tiga Sekutu yang Mengintai Harta Kita"

Pekan ini diskusi soal pejabat yang baru pulang haji lalu jadi tersangka korupsi menggugat banyak orang: kalau biaya ibadah dari sumber abu-abu, apakah ibadahnya sampai? Imam al-Kandahlawi rahimahullah dalam Hayatus Shahabah menukil satu pernyataan singkat tetapi tajam dari Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu 'anhu yang menjawab pertanyaan itu dengan cara melihat harta yang berbeda.

Abu Dzar adalah sahabat yang dikenal paling zuhud. Tubuhnya kurus. Pakaiannya bertambal. Beliau lebih nyaman tidur di pinggir sumur unta daripada di rumah berhias. Beliau pernah berkata bahwa rumah yang luas dan harta yang banyak adalah tabir antara dirinya dan hisab.

Suatu hari beliau berbicara tentang harta dengan kalimat yang tidak biasa:

ٱلْمَالُ ثَلَاثَةُ شُرَكَاءَ

"Pada harta itu ada tiga sekutu."

Sahabat-sahabat yang mendengar terdiam. Tiga sekutu? Maksudnya apa? Mereka selama ini menganggap harta adalah milik pribadi — yang penuh menjadi haknya sepenuhnya. Abu Dzar lalu menjelaskan.

Sekutu pertama: takdir. Takdir tidak akan minta izinmu sebelum mengambil yang terbaik dari hartamu. Bisa lewat kebakaran. Bisa lewat perampokan. Bisa lewat penyakit yang mendadak menggerus tabungan. Bisa lewat bencana alam. Engkau hitung tabunganmu tiap akhir bulan, tetapi takdir tidak akan mengetuk pintu untuk memberi tahu kapan dia akan datang.

Sekutu kedua: ahli waris. Mereka menunggu engkau meletakkan kepalamu (yaitu wafat). Lalu mereka akan mengambil hartamu. Dan engkau tidak akan mendapat apa-apa dari yang mereka ambil itu — kecuali yang sudah engkau infakkan sebelum mati. Abu Dzar menambahkan satu nuansa yang menyedihkan: ahli waris itu mengambil dengan ringan, sementara engkau yang mengumpulkannya seumur hidup tidak bisa membela diri lagi.

Sekutu ketiga, dan ini yang paling penting: engkau sendiri. Engkau adalah satu-satunya yang bisa mengambil bagianmu dari harta itu sebelum dua sekutu lain mengambilnya. Caranya hanya satu — dengan menafkahkan hartamu di jalan Allah sekarang, sebelum kedua sekutu itu sempat berkuasa.

Lalu Abu Dzar menutup dengan kalimat yang sangat tegas:

فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ لَا تَكُونَ أَعْجَزَ الثَّلَاثَةِ فَلَا تَكُونَنَّ

"Jika engkau mampu untuk tidak menjadi yang paling lemah di antara tiga sekutu itu — jangan jadi yang paling lemah."

Beliau melanjutkan dengan menyebut ayat Allah:

فَإِنَّ ٱللَّهَ يَقُولُ: ﴿لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ﴾

"Sungguh Allah berfirman: 'Kalian tidak akan mencapai derajat al-birr sampai kalian menafkahkan apa yang paling kalian cintai.'" (QS. Ali Imran: 92)

Lalu Abu Dzar tidak hanya berkata. Beliau melakukan. Ada seekor unta yang paling beliau cintai dari seluruh harta beliau. Unta itu kuat, mahal, dan satu-satunya yang beliau pakai untuk perjalanan jauh. Beliau menyembelih unta itu di Madinah. Dagingnya dibagikan kepada fakir-fakir yang tinggal di tepi kota. Beliau berkata pelan ke dirinya sendiri:

أَلَا وَإِنَّ هَذَا الْجَلَّ مِمَّا كُنْتُ أُحِبُّ مِنْ مَالِي، فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُقَدِّمَهُ لِنَفْسِي

"Ketahuilah, unta ini termasuk yang paling aku cintai dari hartaku. Maka aku ingin mendahulukannya untuk diriku."

"Untuk diriku." Bukan "untuk fakir." Bukan "untuk pahala." Untuk DIRIKU. Karena yang dimakan fakir hari ini adalah yang Abu Dzar bawa sebagai modalnya ke akhirat. Tiga sekutu — takdir, ahli waris, diri sendiri — Abu Dzar memilih TIDAK menjadi yang paling lemah di antara ketiganya.

Pelajaran

Pertanyaan "apakah hartaku halal?" tidak bisa dijawab hanya dengan menghitung sumber. Jawabannya butuh lanjutan: berapa banyak yang sudah keluar dari tanganku untuk Allah? Yang kita bawa ke akhirat bukan saldo — yang sudah keluar. Tiga sekutu Abu Dzar — takdir, ahli waris, dan kita sendiri — sedang menunggu giliran. Pekan ini, sebelum kita debat soal "sah atau diterima" ibadah orang lain, periksa sendiri: dari harta yang sekarang ada di tangan, berapa yang sudah benar-benar menjadi milik kita di akhirat?

Sumber Asli

Hayatus Shahabah — قول أبي ذر: إن في المال ثلاثة شركاء

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: الْمَالُ ثَلَاثَةُ شُرَكَاءَ: الْقَدَرُ لَا يَسْتَأْمِرُكَ أَنْ يَذْهَبَ بِخَيْرِهَا أَوْ شَرِّهَا مِنْ هَلَاكٍ أَوْ مَوْتٍ، وَالْوَارِثُ يَنْتَظِرُ أَنْ تَضَعَ رَأْسَكَ ثُمَّ يَسْتَاقَهَا وَأَنْتَ ذَمِيمٌ. فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ لَا تَكُونَ أَعْجَزَ الثَّلَاثَةِ فَلَا تَكُونَنَّ، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: ﴿لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ﴾. أَلَا وَإِنَّ هَذَا الْجَلَّ مِمَّا كُنْتُ أُحِبُّ مِنْ مَالِي، فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُقَدِّمَهُ لِنَفْسِي.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan