Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsHukum & KeadilanSabtu, 6 Juni 2026

Kisah Pendek — "Hudhayfah dan Pertanyaan tentang Keburukan"

Pekan ini rentetan kabar korupsi besar membuat banyak orang lelah. Muak, lalu pasrah, lalu lupa — siklus yang berulang tiap minggu. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah menukil hadits panjang dari Hudhayfah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu yang memetakan jalan keluar dari siklus itu.

Hudhayfah sahabat yang istimewa. Sahabat lain bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kebaikan, tentang surga, tentang amal yang membawa rahmat. Hudhayfah satu-satunya yang bertanya tentang KEBURUKAN — supaya tidak terjebak saat tiba waktunya.

Suatu hari di majelis Madinah, Hudhayfah mendekat. Beliau menanyakan:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ، فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ، فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟

"Ya Rasulullah, kami dulu di jahiliyah dan keburukan. Lalu Allah datangkan kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?"

Rasulullah ﷺ menjawab singkat: "Ya."

Hudhayfah mengejar. "Lalu apakah setelah keburukan itu akan ada kebaikan lagi?"

نَعَمْ، وَفِيهِ دَخَنٌ

"Ya — tetapi di dalamnya ada dakhan."

Dakhan artinya kabut. Asap. Kebaikan yang keruh oleh kotoran. Hudhayfah bertanya lagi: apa itu dakhan?

قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ

"Kaum yang memberi hidayah dengan selain petunjukku. Engkau akan mengenali sebagian dari mereka — dan mengingkari sebagian."

Inilah keburukan yang paling membingungkan: bukan musuh yang terang-terangan. Kaum yang menyebut Allah, yang ke masjid, yang memimpin pengajian — tetapi amalnya menyimpang. Sebagian terlihat baik. Sebagian terasa keliru. Tidak ada batas yang jelas.

Hudhayfah belum berhenti. "Lalu setelah itu apa?"

نَعَمْ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا

"Ya — penyeru-penyeru di pintu Jahannam. Siapa memenuhi panggilan mereka, dia dilempar ke dalamnya."

Hudhayfah masih bertanya. "Bagaimana mereka, ya Rasulullah?"

هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا

"Mereka dari kulit kita — dan berbicara dengan lidah kita."

Bukan orang asing. Sebangsa. Berpakaian sama. Berbicara dengan kosakata agama yang sama. Tetapi tujuan mereka mengarahkan ke kehancuran. Mereka pintar menggunakan kalimat dan istilah yang kita kenal, tetapi tujuan akhir kalimat itu adalah pintu yang jelek.

Hudhayfah, dengan presisi seorang yang sudah biasa bertanya tentang detail keburukan, bertanya yang terakhir:

فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟

"Apa yang Engkau perintahkan kalau saya hidup di zaman seperti itu?"

Rasulullah ﷺ menjawab:

تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ

"Tetap bersama jamaah kaum Muslimin dan pemimpin mereka."

"Bagaimana kalau tidak ada jamaah dan tidak ada imam?" tanya Hudhayfah lagi.

Rasulullah ﷺ menjawab dengan kalimat penutup yang sangat keras:

فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ

"Tinggalkan semua kelompok itu — walaupun engkau harus menggigit akar pohon sampai wafat dalam keadaan demikian."

Hudhayfah mendengar. Diam sebentar. Lalu mengangguk. Sahabat ini menyimpan jawaban itu sepanjang hidupnya. Setelah Rasulullah ﷺ wafat, ketika fitnah pertama mulai muncul di umat — Hudhayfah dipandang sebagai sahabat yang paling tahu cara membaca tanda-tandanya. Bukan karena beliau lebih alim dari yang lain — tetapi karena beliau satu-satunya yang dari awal bertanya tentang keburukan.

Pelajaran

Korupsi besar di puncak hari ini adalah satu bentuk dakhan yang Rasulullah ﷺ peringatkan kepada Hudhayfah — bukan musuh asing, melainkan saudara sebangsa yang menyimpang. Yang membingungkan: pelakunya berpakaian sama dengan kita, berbicara dengan kosakata agama yang sama, kadang shalatnya rajin dan haji-nya berkali-kali. Rasulullah ﷺ tidak mengatakan kepada Hudhayfah "kenali dan hancurkan mereka." Beliau mengatakan: TETAP BERSAMA jamaah yang benar. Untuk pembaca yang lelah dengan rentetan kabar korupsi pekan ini — Hudhayfah pun lelah, dan beliau bertanya. Pertanyaan yang dijawab Rasulullah ﷺ singkat: cari dan bergabung dengan jamaah yang menegakkan integritas, sekecil apa pun jamaah itu di sekitar kita.

Sumber Asli

Al-Bidayah wan-Nihayah — باب ذكر الفتن

سَمِعَ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ يَقُولُ: كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي. قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ، فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ، فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: «نَعَمْ». قُلْتُ: وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: «نَعَمْ، وَفِيهِ دَخَنٌ». قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: «قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ». قُلْتُ: فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: «نَعَمْ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا». قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، صِفْهُمْ لَنَا. قَالَ: «هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا». قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ». قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ؟ قَالَ: «فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ».

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan