أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ.
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan kita yang baru saja melewati tiga penangkapan pejabat besar — pimpinan Badan Gizi Nasional yang dituduh memotong anggaran makan anak SD, eks Wakil Menteri Imigrasi yang dituduh menerima setoran ratusan juta rupiah tiap pekan, dan dugaan korupsi pengadaan komputer Kemendikbud — ada satu pertanyaan yang ingin saya ajak kita renungkan bersama malam ini. Pertanyaannya bukan "kapan korupsi ini akan berhenti?" — karena jujur saja, jawabannya akan terlalu jauh untuk kita kontrol dari ruangan ini. Pertanyaannya adalah: apa hubungan saya dengan kasus-kasus ini, dan apa yang bisa saya lakukan dari posisi saya sendiri pekan ini?
Saya tidak akan bercerita ulang detail skandal pejabat — itu sudah penuh di feed kita dan menjadi lelah untuk diulang. Saya ingin menarik satu helai benang yang sering terlupakan ketika kita melihat berita korupsi besar: helai benang yang menghubungkan kompromi kecil di kehidupan kita masing-masing dengan pengkhianatan besar di tingkat pejabat. Sebab Rasulullah ﷺ pernah memberi peringatan yang sangat tajam tentang bagaimana amanah hilang dari sebuah masyarakat secara bertahap.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu sebuah hadits yang panjang tentang pencabutan amanah dari hati manusia.
Riyad as-Salihin 1417 / Sahih al-Bukhari 7086
أَنَّ الْأَمَانَةَ نَزَلَتْ فِي جَذْرِ قُلُوبِ الرِّجَالِ، ثُمَّ نَزَلَ الْقُرْآنُ فَعَلِمُوا مِنَ الْقُرْآنِ، وَعَلِمُوا مِنَ السُّنَّةِ
"Sesungguhnya amanah turun ke akar hati manusia. Kemudian Al-Qur'an diturunkan dan mereka belajar dari Al-Qur'an, mereka belajar dari Sunnah."
Beliau ﷺ kemudian melanjutkan dengan cara yang luar biasa. Beliau menceritakan bahwa amanah itu akan dicabut dari hati manusia secara bertahap — seseorang tidur sejenak, lalu amanah dicabut sedikit, sampai tinggal bekasnya seperti titik hitam kecil di hati. Ia tidur lagi, dicabut lagi, sampai akhirnya hatinya kering seperti bara yang menggelinding di kaki — terlihat menonjol tetapi tidak ada isinya. Sampai pada zaman ketika orang berjual-beli, dan hampir tidak ada satu pun yang amanah; sampai-sampai dikatakan: "di kabilah si fulan ada satu orang yang amanah" — dialah yang menjadi tontonan karena langkanya.
Jamaah, ini hadits yang berat sekali kalau kita renungkan. Karena Rasulullah ﷺ tidak sedang bercerita tentang pejabat yang ditangkap KPK. Beliau sedang bercerita tentang umat. Tentang masyarakat. Tentang kita. Amanah hilang dari hati satu orang dahulu — bukan dari hati seribu orang sekaligus. Lalu dari hati seratus orang. Lalu dari hati seribu. Lalu dari hati sejuta. Sampai akhirnya satu masyarakat secara kolektif kehilangan stok orang yang bisa dipercaya, dan setiap pejabat yang naik ke jabatan tinggi adalah ekstrapolasi dari masyarakat yang melahirkannya.
Maka pertanyaan yang ingin saya ajukan malam ini: amanah di hati kita, sudah kering belum? Atau masih ada bekas yang bisa diselamatkan? Mari kita ukur, jamaah — bukan untuk merendahkan diri, tetapi untuk jujur kepada diri sendiri di hadapan Allah.
Ukuran pertama: bagaimana kita memperlakukan hak orang lemah di lingkungan kita? Pernahkah kita mendengar pengaduan tetangga tentang sesuatu yang kita tahu seharusnya menjadi hak mereka — gaji buruh yang ditahan, hak warisan saudara yang dipinggirkan, antrean bantuan sosial yang dipotong oleh oknum RT — dan kita diam saja karena bukan urusan langsung kita? Diam dalam situasi seperti itu adalah salah satu tanda amanah yang mulai dicabut. Rasulullah ﷺ pernah bersabda dengan keras tentang umat yang membiarkan hak orang lemah tidak ditegakkan.
Bulugh al-Maram 1587
كَيْفَ تُقَدَّسُ أُمَّةٌ، لَا يُؤْخَذُ مِنْ شَدِيدِهِمْ لِضَعِيفِهِمْ؟
"Bagaimana suatu umat dapat disucikan dari dosa-dosanya, sementara hak orang-orang lemahnya tidak diambil dari orang-orang kuatnya?"
Coba dengar pertanyaan Nabi ﷺ ini, jamaah. Beliau tidak berkata "umat yang membiarkan akan dimarahi Allah" — beliau bertanya secara terbuka: bagaimana mungkin umat seperti ini disucikan? Penyucian umat — taqdis — kata Nabi ﷺ — bergantung pada satu kondisi: tegaknya keadilan struktural. Anak yang lapar di pelosok karena anggaran gizi dipotong adalah hak orang lemah yang tertunda. Warga yang antre layanan keimigrasian reguler sementara WNA dengan setoran mendapat prioritas adalah hak orang lemah yang dirampas. Pelajar yang berebut sarana di sekolah negeri sementara anggaran pengadaan dipotong adalah hak orang lemah yang dipangkas. Setiap kali kita diam terhadap ketimpangan seperti ini di lingkungan terdekat kita, kita ikut menanggung beban kolektif yang ditanyakan oleh hadits ini.
Ukuran kedua: bagaimana kita memperlakukan hal-hal kecil di tempat kerja kita? Ini pertanyaan yang lebih dekat ke diri sendiri. Pulpen kantor yang dibawa pulang. Bensin mobil dinas yang dipakai antar anak. Jam kerja yang habis untuk scroll media sosial. Hadiah dari vendor yang dianggap "kebiasaan." Tanda tangan absen yang dipalsukan karena "sekali-sekali saja." Setiap kompromi kecil ini, jamaah, adalah latihan psikologis. Latihan yang sangat efektif. Latihan yang mengajarkan otak kita bahwa hak orang lain bisa dipinggirkan demi kenyamanan diri sendiri, asalkan nominalnya tidak mencolok dan tidak ada yang melihat. Setelah lima tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun latihan seperti ini, ketika orang yang sama naik ke jabatan yang punya akses ke anggaran ratusan miliar — apakah kita kira reflex jujurnya akan tiba-tiba muncul di hari pelantikan? Tidak. Reflex itu dilatih sejak skala kecil; pertaruhan dilakukan saat skala besar. Pejabat yang setor seratus juta rupiah tiap Jumat itu, dulu pernah jadi mahasiswa yang ambil kembalian belanja diam-diam. Dulu pernah jadi pegawai magang yang minta bensin dinas untuk pulang ke kampung. Latihan psikologisnya panjang — tinggal eskalasi.
Allah memberi peringatan tentang pola pengkhianatan seperti ini dengan kata kerja yang sangat halus tapi tajam.
QS. Ash-Shu'araa: 183
وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
"Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya, dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan."
Coba dengarkan kata kerja yang Allah pilih, jamaah: tabkhasu — mengurangi sedikit demi sedikit. Bukan merampas terang-terangan. Bukan mencuri secara dramatis. Tetapi mengikis perlahan dari sudut yang tidak terlihat. Kalau timbangan beras di pasar dikurangi seribu rupiah saja per kilogram, pembeli mungkin tidak sadar — tetapi kalau ribuan pasar melakukan ini, dalam satu tahun miliaran rupiah keluar dari kantong rakyat tanpa mereka tahu. Itu pola tabkhīs. Setoran seratus juta tiap Jumat — itu juga tabkhīs, tetapi yang dikelola dengan disiplin dan skala besar. Pulpen kantor yang dibawa pulang — itu tabkhīs juga, hanya skalanya seribu rupiah. Akarnya satu: penolakan untuk membayar hak orang lain karena yakin tidak akan ketahuan.
Ukuran ketiga: bagaimana kita memperlakukan amanah pendidikan anak di rumah? Ini ukuran yang paling sering terlupakan. Padahal di rumahlah amanah ditanam atau dicabut sejak usia dini. Pernahkah kita — sebagai orang tua — diam saja ketika anak kita bercerita bahwa dia menyontek di ulangan dan dapat nilai bagus? Pernahkah kita — sebagai ibu — membiarkan anak ambil kembalian belanja warung tanpa diberitahu bahwa itu bukan miliknya? Pernahkah kita — sebagai ayah — mengizinkan anak meminjam tetangga sesuatu lalu tidak mengembalikan, hanya karena "ya sudah, tidak ditagih juga"? Setiap kali kita biarkan kompromi kecil seperti ini di rumah, kita sedang mencabut amanah dari hati anak kita sendiri — sebagaimana hadits Hudzaifah tadi. Dan dua puluh tahun lagi, ketika anak kita masuk ke dunia kerja, masuk ke birokrasi, masuk ke politik — dia akan membawa hasil latihan kita. Maka jihad melawan korupsi puluhan tahun ke depan dimulai dari ruang makan kita pekan ini, bukan dari demo di gedung KPK.
Tetapi, jamaah, jangan biarkan kultum ini menjadi sumber pesimisme. Karena pekan ini juga ada sisi terang yang penting kita lihat. Pekan ini sembilan belas mobil mewah disita dari rumah satu pejabat. Pekan ini satu bupati nonaktif dipindahkan ke rumah tahanan menjelang sidang. Pekan ini surat ekstradisi buronan kasus e-KTP diterima dari pemerintah Singapura. Penegakan sedang berjalan — pelan, lelah, melawan banyak tekanan, tetapi berjalan. Dan Allah menjanjikan posisi yang istimewa untuk mereka yang menjalankan keadilan dengan jujur.
Sahih Muslim 4721
أَلَا إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ، عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ، الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وُلُّوا
"Ketahuilah, orang-orang yang adil akan duduk di atas mimbar-mimbar cahaya di sisi Allah, di sebelah kanan Ar-Rahman — yaitu mereka yang berlaku adil dalam hukum mereka, dalam urusan keluarga mereka, dan dalam segala sesuatu yang mereka pimpin."
Bayangkan, jamaah: para penyidik yang tidak tidur menyusun berkas. Para hakim yang berjibaku dengan tekanan politik. Para jaksa yang melawan dakwaan tukar-tambah. Para wartawan investigatif yang mengejar dokumen sampai ke kementerian terakhir. Mereka semua sedang menempati posisi yang dijanjikan mimbar cahaya itu. Dan tugas kita di sini — di mushola, di majelis, di rumah — bukan hanya teriak ketika ada kasus baru ditemukan. Tugas kita adalah mendoakan mereka, melindungi mereka dari intimidasi, dan menjaga ingatan publik tentang kasus yang sedang berjalan agar tidak diam-diam tergeser ke gudang lupa.
Maka tiga ajakan amal yang ingin saya tawarkan pekan ini, jamaah, sederhana saja tetapi mohon konsisten dijalankan. Pertama, di kantor masing-masing pekan depan, pilih satu kompromi kecil yang selama ini kita anggap normal tetapi sebenarnya curang — pulpen yang dibawa pulang, jam scrolling di jam kerja, fasilitas dinas untuk urusan pribadi — dan tetapkan satu hal itu sebagai batas yang tidak kita lewati lagi. Bukan untuk membersihkan negara dari atas, tetapi untuk membersihkan latihan psikologis dari dalam diri sendiri. Kedua, sebutkan dalam doa malam kita — minimal tiga malam pekan ini — nama institusi penegak hukum yang sedang bekerja: KPK, Kejaksaan Agung, Mahkamah Agung. Doakan agar Allah jaga mereka dari tekanan, dari intimidasi, dari godaan kompromi. Doa pendek tetapi konsisten lebih bernilai daripada hujatan panjang di feed sosial. Ketiga, pilih satu kasus tertentu — bisa Silmy Karim, bisa MBG, bisa Chromebook — dan ikuti perkembangannya minimal sekali seminggu. Sebut ke teman, ke keluarga, di obrolan ringan: "Eh, kasus X sudah sampai mana ya?" Memori publik dijaga oleh percakapan yang berulang, bukan oleh ramai sekali lalu hilang.
Dan terakhir, jamaah — sebelum kita berdoa bersama — saya ingin kita renungkan satu hal lagi. Di hadits Hudzaifah tadi, Rasulullah ﷺ memberi tanda kapan amanah hampir hilang sempurna dari sebuah umat: ketika di sebuah kabilah hanya tinggal satu orang yang amanah, dan dia menjadi tontonan karena langkanya. Kita belum sampai ke titik itu, jamaah — tetapi jangan sampai kita menjadi generasi yang membawa umat ini ke sana. Mari kita jadi salah satu dari banyak orang yang masih menyimpan amanah di hati — yang menjaga timbangan kecil di kantor, di pasar, di rumah, di kampung. Karena dari banyak hati yang terjaga, lahir generasi yang akan duduk di mimbar cahaya itu.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْأَمِيْنِيْنَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُقْسِطِيْنَ، وَاجْعَلْ رِزْقَنَا حَلَالًا طَيِّبًا، وَأَبْعِدْ عَنَّا كُلَّ مَا فِيْهِ شُبْهَةٌ.
اَللَّهُمَّ ثَبِّتْ أَقْدَامَ الْعَامِلِيْنَ فِيْ مُكَافَحَةِ الْفَسَادِ، وَاحْفَظْهُمْ مِنْ كَيْدِ الْمُجْرِمِيْنَ، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْهِمْ مَنْ لَا يَخَافُكَ وَلَا يَرْحَمُ عِبَادَكَ.
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَالْهَرَمِ وَالْمَغْرَمِ وَالْمَأْثَمِ، وَنَقِّ قُلُوْبَنَا مِنَ الذُّنُوْبِ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
