أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ.
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan kita yang baru saja melewati tiga kasus berat yang sampai ke berita — kasus KDRT dengan korban balita usia tiga tahun, kasus pemerkosaan anak di Solok Selatan yang berujung penganiayaan pada keluarga pelapor, dan kasus oknum kiai padepokan di Pekalongan dengan korban berkembang puluhan santriwati — ada satu pertanyaan yang ingin saya ajak kita renungkan bersama malam ini. Pertanyaannya bukan "kapan kekerasan ini akan berhenti?" karena jujur saja, jawabannya akan terlalu jauh untuk kita kontrol dari ruangan ini. Pertanyaannya: apa hubungan saya dengan kasus-kasus ini, dan apa yang bisa saya lakukan dari posisi saya pekan ini?
Saya tidak akan bercerita ulang detail setiap kasus — itu sudah penuh di feed kita dan menjadi lelah untuk diulang. Saya ingin menarik satu benang yang sering terlupakan ketika kita melihat berita kekerasan: benang yang menghubungkan tanggung jawab personal kita masing-masing dengan struktur amanah yang Rasulullah ﷺ sebut sebagai "kullukum ra'in." Karena hadits ini, jamaah, adalah hadits yang berat sekali kalau kita renungkan.
Sahih al-Bukhari 5200
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya."
Rasulullah ﷺ tidak berkata "pemimpin negara akan ditanya, sisanya tenang." Beliau berkata: setiap kalian. Setiap suami akan ditanya tentang istrinya. Setiap ayah akan ditanya tentang anak-anaknya. Setiap ibu akan ditanya tentang rumah tangganya. Setiap kakak akan ditanya tentang adik-adik kecilnya. Setiap pengurus RT, pengurus masjid, pengurus pondok akan ditanya tentang warga atau santri yang Allah titipkan ke pundaknya. Tidak ada satu pun struktur kepemimpinan yang luput.
Mari kita ukur diri sendiri pekan ini, jamaah — bukan untuk merendahkan diri, tetapi untuk jujur kepada Allah. Ukuran pertama: bagaimana keadaan emosional istri kita di rumah? Bukan keadaan finansial — itu pertanyaan dunia. Tetapi: apakah istri kita merasa aman bercerita tentang hal yang dia takutkan? Apakah dia masih merasa rumah kita adalah tempat yang ramah, atau dia sudah merasa harus berhati-hati saat berbicara dengan suaminya sendiri? Suami yang amanah memperhatikan ini sebagai prioritas, bukan sebagai afterthought setelah urusan pekerjaan dan urusan luar selesai.
Ukuran kedua: bagaimana keadaan anak-anak kita? Apakah mereka pulang ke rumah dengan langkah ringan karena tahu di rumah ada cinta yang menunggu, atau dengan langkah berat karena tahu di rumah ada hardikan yang menyambut? Anak kecil mengingat hal-hal yang kita kira sudah dilupakan — kalimat keras yang kita lontarkan saat marah, ketidakpercayaan yang kita tunjukkan saat dia cerita sesuatu, momen ketika dia membutuhkan kita tetapi kita sibuk dengan layar. Setiap momen itu adalah jejak yang Allah catat sebagai bagian dari amanah pengasuhan.
Ukuran ketiga: bagaimana sikap kita terhadap kasus yang kita dengar di lingkungan? Pekan ini di Solok Selatan, satu keluarga yang berani melapor justru dianiaya oleh lingkungannya sendiri. Pesan dari kasus itu jelas: lingkungan memilih melindungi pelaku daripada melindungi korban, dengan alasan menjaga nama baik kampung. Pertanyaan tajam yang harus kita ajukan ke diri sendiri: kalau di lingkungan kita sendiri ada kasus seperti itu, apakah kita akan jadi tetangga yang mendampingi pelapor, atau tetangga yang ikut menekan agar tidak lapor? Rasulullah ﷺ memberi peringatan keras tentang kondisi seperti ini.
Bulugh al-Maram 1587
كَيْفَ تُقَدَّسُ أُمَّةٌ، لَا يُؤْخَذُ مِنْ شَدِيدِهِمْ لِضَعِيفِهِمْ؟
"Bagaimana suatu umat dapat disucikan dari dosa-dosanya, sementara hak orang-orang lemahnya tidak diambil dari orang-orang kuatnya?"
Penyucian umat — taqdis — kata Nabi ﷺ — bergantung pada satu kondisi: tegaknya keadilan untuk yang lemah. Anak yang dilukai oleh kerabat di rumah adalah orang lemah. Istri yang dipukul oleh suami yang seharusnya melindunginya adalah orang lemah. Santriwati yang dilukai oleh oknum yang dipercaya mengajar agama adalah orang lemah. Keluarga yang dianiaya setelah berani melapor adalah orang lemah. Setiap kali komunitas memilih diam, ada bagian dari penyucian kolektif umat yang tertunda — dan kita, sebagai bagian dari umat ini, ikut menanggung beban itu.
Tetapi sisi terangnya, jamaah: pekan ini bukan hanya pekan kabar berat. Pekan ini juga pekan ketika banyak warga di feed publik turun tangan menyuarakan kemarahan untuk korban, ketika lembaga seperti Komnas Perempuan dan KPAI menerima banyak laporan baru karena pelapor merasa didukung oleh suara publik, ketika satu per satu pengurus pondok pesantren mulai mengaudit protokol perlindungan santriwati di tempat mereka. Penegakan sedang berjalan, pelan tetapi nyata. Tugas kita di sini — di mushola ini, di rumah kita masing-masing, di lingkungan tetangga — adalah menjaga momentum ini supaya tidak surut dalam dua minggu seperti banyak kasus sebelumnya. Memori publik adalah amanah kolektif yang harus dirawat dengan percakapan yang konsisten, bukan hujatan yang ramai lalu lupa. Tiga ajakan amal pendek pekan ini, jamaah, mohon dijalankan dengan konsisten. Pertama, satu malam pekan ini, sediakan waktu khusus untuk bertanya empat mata kepada istri dan anak-anak dengan pertanyaan terbuka: "Ada yang bikin nggak nyaman akhir-akhir ini?" Dengarkan jawabannya tanpa membantah. Kedua, perhatikan satu keluarga di lingkungan yang kita curigai sedang tertutup — sapa mereka dengan cara yang lembut, jangan menginterogasi, hanya kehadiran. Ketiga, kalau ada pengaduan di lingkungan, jangan ikut menekan pelapor; jadilah suara yang membela hak yang lemah, walaupun harus melawan tekanan komunitas. Itulah cara konkret menjawab pertanyaan Nabi ﷺ — bagaimana umat ini disucikan.
اَللَّهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا مِنْ كُلِّ سُوءٍ، وَاحْفَظْ نِسَاءَنَا مِنْ ظُلْمِ الظَّالِمِيْنَ، وَاحْفَظْ بُيُوْتَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ ظَاهِرٍ وَبَاطِنٍ.
اَللَّهُمَّ ثَبِّتْ أَقْدَامَ كُلِّ مَنْ يَدْفَعُ عَنِ الْمَظْلُوْمِيْنَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَنْصُرُوْنَ الْحَقَّ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ.
رَبِّ نَجِّنِيْ وَأَهْلِيْ مِمَّا يَعْمَلُوْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
