Pekan ini cerita personal yang ramai di feed berkisar tentang ujian yang tidak terlihat — orang yang berjuang membayar pinjaman pendidikan anaknya, ibu tunggal yang bekerja dua shift, anak rantau yang gaji kurang. Semua menanggung sendiri. Pertanyaan yang menggantung: kenapa ujian seberat ini menimpa orang baik yang tidak melakukan apa-apa salah? Imam al-Kandahlawi rahimahullah dalam Hayatus Shahabah menghimpun kisah sahabat bernama Khabbab bin al-Aratt radhiyallahu 'anhu — kisah yang menjawab pertanyaan ini bukan dengan teori, tetapi dengan sebuah punggung.
Khabbab sahabat dari kalangan budak. Beliau ditawan dalam perang Jahiliah, lalu dijual sebagai budak ke perempuan Mekah bernama Umm Anmar. Pekerjaannya sebagai pandai besi — menempa pedang dan kapak untuk dijual di pasar Mekah. Tangannya kasar. Kehidupannya tanpa hak.
Ketika Rasulullah ﷺ memulai dakwah, Khabbab adalah salah satu dari segelintir orang yang masuk Islam paling awal. Untuk bangsawan Quraisy seperti Abu Bakar atau Umar, masuk Islam berarti kehilangan kehormatan sosial. Untuk budak seperti Khabbab, masuk Islam berarti tubuhnya sendiri yang membayar.
Imam al-Kandahlawi menukil dari Imam Ahmad. Ketika Quraisy tahu Khabbab masuk Islam, mereka menyiksanya:
أَخَذُونِي فَأَوْقَدُوا لِي نَارًا، ثُمَّ سَلَقُونِي فِيهَا
"Mereka mengambilku, lalu menyalakan api untukku, kemudian membaringkanku di atasnya."
Mereka tidak sekadar memukul. Mereka membuat api besar dari bara. Lalu menelentangkan Khabbab di atas bara itu. Punggungnya menempel di api. Salah seorang dari mereka menginjak dada Khabbab supaya beliau tidak bisa bergerak. Khabbab kemudian menceritakan:
ثُمَّ وَضَعَ رَجُلٌ رِجْلَهُ عَلَى صَدْرِي، فَمَا اتَّقَيْتُ الْأَرْضَ — أَوْ قَالَ: بَرْدَ الْأَرْضِ — إِلَّا بِظَهْرِي
"Seorang lelaki meletakkan kakinya di dadaku, sehingga aku tidak bisa melindungi diri dari (sengatan) tanah kecuali dengan punggungku."
Kalau Khabbab ingin punggungnya terangkat, dia harus menekan tubuhnya lebih kuat ke tanah — yang sama panasnya. Tidak ada pilihan. Beliau hanya bisa menggigit lidah.
Bertahun-tahun setelahnya, ketika Rasulullah ﷺ sudah wafat dan Umar bin al-Khattab menjadi khalifah, Khabbab datang ke Madinah. Umar bertanya tentang penyiksaan di masa Mekah. Khabbab berkata:
يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، انْظُرْ إِلَى ظَهْرِي
"Ya Amirul Mu'minin, lihatlah ke punggungku."
Khabbab membuka pakaiannya. Punggungnya penuh dengan bekas luka bakar yang dalam. Sebagian berubah warna seperti barash — kerusakan saraf permanen. Umar — khalifah Islam yang menggetarkan Persia dan Romawi — terdiam. Beliau hanya bisa berkata: "Aku tidak pernah melihat seperti hari ini."
Khabbab menjelaskan: "Mereka menyalakan api untukku — dan tidak yang memadamkannya kecuali lemak punggungku."
Lemak tubuh Khabbab yang meleleh karena dibakar adalah yang akhirnya memadamkan bara. Tidak ada yang menyelamatkan beliau kecuali tubuhnya sendiri yang terbakar.
Imam al-Kandahlawi juga menukil kisah Khabbab dengan al-'Ash bin Wa'il — salah satu tokoh Quraisy yang jahat menentang Islam. Sebelum disiksa, Khabbab pernah bekerja sebagai pandai besi untuk al-'Ash. Suatu hari beliau datang menagih upah. Al-'Ash menjawab dengan kalimat yang menghina:
لَا وَاللَّهِ لَا أَقْضِيكَ حَتَّى تَكْفُرَ بِمُحَمَّدٍ
"Demi Allah — aku tidak akan membayarmu sampai engkau kafir kepada Muhammad."
Khabbab — yang punggungnya baru saja dibakar — menjawab dengan ketegasan yang sama:
لَا وَاللَّهِ لَا أَكْفُرُ بِمُحَمَّدٍ حَتَّى تَمُوتَ ثُمَّ تُبْعَثَ
"Demi Allah — aku tidak akan kafir kepada Muhammad sampai engkau mati lalu dibangkitkan kembali."
Al-'Ash mengejek dengan jenakanya yang khas Quraisy: "Kalau aku mati dan dibangkitkan, datanglah kepadaku — di sana aku punya harta dan anak, aku akan membayarmu di akhirat."
Khabbab pergi tanpa upah. Tetapi Allah tidak membiarkan ejekan itu. Allah menurunkan empat ayat khusus dari Surat Maryam:
أَفَرَأَيْتَ ٱلَّذِى كَفَرَ بِـَٔايَٰتِنَا وَقَالَ لَأُوتَيَنَّ مَالًا وَوَلَدًا. أَطَّلَعَ ٱلْغَيْبَ أَمِ ٱتَّخَذَ عِندَ ٱلرَّحْمَٰنِ عَهْدًا. كَلَّا سَنَكْتُبُ مَا يَقُولُ وَنَمُدُّ لَهُۥ مِنَ ٱلْعَذَابِ مَدًّا
"Apakah engkau melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan berkata: 'Aku akan diberi harta dan anak'? Apakah dia tahu yang ghaib, atau dia mengambil perjanjian dari Yang Maha Pengasih? Sekali-kali tidak. Akan Kami tulis apa yang dia katakan, dan Kami akan tambahkan azabnya yang panjang." (QS. Maryam: 77-79)
Allah menambahkan: harta dan anak-anak yang dia banggakan akan Allah warisi, dan dia akan datang menghadap sendirian, tanpa pendukung.
Pelajaran
Ujian fisik dan ekonomi yang berat bukan tanda ditinggalkan Allah — kadang justru tanda bahwa amal kita sedang dijadikan saksi. Punggung Khabbab yang gosong, lemak punggungnya yang meleleh — di mata dunia, itu kekalahan. Di mata akhirat, itu simpanan yang nilainya tidak terhingga. Upah Khabbab yang dirampas al-'Ash tidak pernah dibayar dunia — tetapi Allah membayarnya dengan empat ayat dalam Al-Qur'an yang dibaca milyaran Muslim selama 1400 tahun. Yang menghina Khabbab namanya dihinakan Allah sampai akhir zaman. Yang dihina, Allah muliakan dengan empat ayat. Pekan ini, kalau ujianmu lebih berat dari teman-temanmu, itu bukan ketidakadilan. Itu kepercayaan Allah pada kapasitasmu menanggung — yang sudah disesuaikan dengan kekuatan yang Allah letakkan di hatimu.
Sumber Asli
Hayatus Shahabah — ذكر ما لقي خباب من الأذى في الله
عَنْ خَبَّابٍ قَالَ: أَخَذُونِي فَأَوْقَدُوا لِي نَارًا، ثُمَّ سَلَقُونِي فِيهَا، ثُمَّ وَضَعَ رَجُلٌ رِجْلَهُ عَلَى صَدْرِي، فَمَا اتَّقَيْتُ الْأَرْضَ إِلَّا بِظَهْرِي. ثُمَّ كَشَفَ عَنْ ظَهْرِهِ، فَإِذَا هُوَ قَدْ بَرِصَ.
سَأَلَ عُمَرُ بِلَالًا عَمَّا لَقِيَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ، فَقَالَ خَبَّابٌ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، انْظُرْ إِلَى ظَهْرِي، فَقَالَ عُمَرُ: مَا رَأَيْتُ كَالْيَوْمِ. قَالَ: أَوْقَدُوا لِي نَارًا فَمَا أَطْفَأَهَا إِلَّا وَدَكُ ظَهْرِي.
كُنْتُ رَجُلًا قَيْنًا، وَكَانَ لِي عَلَى الْعَاصِ بْنِ وَائِلٍ دَيْنٌ، فَأَتَيْتُهُ أَتَقَاضَاهُ. فَقَالَ: لَا وَاللَّهِ لَا أَقْضِيكَ حَتَّى تَكْفُرَ بِمُحَمَّدٍ. فَقُلْتُ: لَا وَاللَّهِ لَا أَكْفُرُ بِمُحَمَّدٍ حَتَّى تَمُوتَ ثُمَّ تُبْعَثَ. قَالَ: فَإِنِّي إِذَا مِتُّ ثُمَّ بُعِثْتُ جِئْتَنِي وَلِي ثَمَّ مَالٌ وَوَلَدٌ فَأَعْطِيكَ. فَأَنْزَلَ اللَّهُ: ﴿أَفَرَأَيْتَ ٱلَّذِى كَفَرَ بِـَٔايَٰتِنَا﴾ (مريم: 77-80).
