Hadirin yang dimuliakan Allah, ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِيْ جَعَلَ الْمُسْلِمِيْنَ إِخْوَةً، وَأَمَرَ بِالْعَدْلِ حَتّٰى مَعَ الْأَعْدَاءِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, marilah pada Jumat yang berkah ini kita awali pertemuan kita dengan satu ayat yang membentuk pondasi sikap Muslim terhadap konflik, bahkan terhadap pihak yang kita anggap sebagai musuh. Allah berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
QS. Al-Maaida: 8 — "Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa."
Hadirin yang Allah rahmati, perhatikan dengan saksama bagaimana ayat ini disusun. Allah memerintahkan kita menjadi qawwamin lillah — penegak kebenaran karena Allah, bukan karena identitas, bukan karena solidaritas kelompok, bukan karena emosi. Lalu Allah memberi peringatan yang sangat tajam: wala yajrimannakum syanaanu qaumin 'ala alla ta'dilu — janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Ini adalah perintah yang luar biasa berat. Allah meminta kita adil bahkan terhadap kaum yang kita benci. Mengapa? Karena adil lebih dekat kepada takwa.
Pekan ini, hadirin, kabar yang sampai kepada kita dari Gaza sangat berat untuk dicerna. Ada kesaksian dari serdadu Israel sendiri tentang pengalaman mereka di lapangan — pengakuan tentang kejahatan perang yang mereka saksikan, termasuk pembunuhan terhadap warga sipil. Ada juga laporan tentang aksi Global Sumud Flotilla — sebuah gelombang solidaritas internasional yang melibatkan aktivis dari berbagai negara, bukan hanya Muslim, untuk meminta perhatian dunia kepada penderitaan saudara-saudara kita di Palestina. Dua kabar ini, hadirin, mencerminkan bagaimana kebenaran yang kita yakini sekarang juga diakui oleh pihak-pihak yang dahulu netral atau berlawanan. Tetapi justru di momen seperti ini, ayat Al-Maaida menjadi sangat relevan: kita harus tetap menjadi saksi yang adil, tidak terjebak retorika yang melebihi fakta.
Maksud adil dalam konteks ini, hadirin, bukan berarti netralitas yang dingin. Allah memerintahkan kita memihak kepada yang teraniaya — tetapi pemihakkan kita harus berdasarkan kebenaran, bukan emosi. Ada perbedaan yang halus tetapi sangat penting antara dua sikap. Sikap pertama: "saya membela Palestina karena mereka Muslim sehingga apapun yang kita katakan tentang mereka harus positif". Sikap kedua: "saya membela Palestina karena mereka tidak adil diperlakukan, dan saya akan bicara berdasarkan fakta yang dapat saya verifikasi". Yang pertama mungkin terdengar lebih bersemangat, tetapi yang Allah ridhai adalah yang kedua. Karena dakwah yang berdasarkan fakta yang lurus akan bertahan lebih lama dari dakwah yang berdasarkan emosi yang berapi-api.
Hadirin yang dirahmati Allah, ada hadits Rasulullah ﷺ yang sangat tepat untuk konteks pekan ini. Beliau ﷺ bersabda:
ٱلْمُسْلِمُ أَخُو ٱلْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ، مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ ٱللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ ٱللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ ٱلْقِيَامَةِ
Sahih Muslim 6578 — "Seorang Muslim adalah saudara bagi sesama Muslim. Ia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh membiarkannya. Barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa melapangkan kesulitan seorang Muslim, Allah akan melapangkan kesulitannya pada Hari Kiamat."
Hadirin, hadits ini memiliki dua larangan dan dua perintah. Larangan pertama: la yazlimuhu — jangan zalim padanya. Larangan kedua, yang sering luput dari renungan kita: la yuslimuhu — jangan biarkan dia (terbenam dalam kesulitan). Inilah yang relevan untuk situasi Palestina. Kita tidak menzalimi mereka secara langsung, kita ada di Indonesia. Tetapi pertanyaannya: apakah kita "membiarkan" mereka? La yuslimuhu berarti tidak meninggalkan saudara dalam kesulitan tanpa pertolongan apapun. Pertolongan kita yang paling minim adalah doa. Pertolongan kita yang lebih konkret adalah donasi yang transparan dan advokasi yang berdasar fakta. Tetapi diam dan scroll-pass karena lelah konflik — itu masuk kategori taslim (meninggalkan), dan itu bukan sikap saudara.
Maka apa yang harus kita lakukan, hadirin? Pertama, hidupkan kembali Qunut Nazilah. Rasulullah ﷺ ketika menghadapi tragedi yang menimpa sahabat-sahabat beliau di Bi'r Ma'unah, beliau berdoa di rakaat terakhir sholat fardhu selama satu bulan. Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu mencatat doa beliau ﷺ:
اَللَّهُمَّ أَنْجِ عَيَّاشَ بْنَ أَبِيْ رَبِيْعَةَ، اَللَّهُمَّ أَنْجِ سَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ، اَللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيْدَ بْنَ الْوَلِيْدِ، اَللَّهُمَّ أَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
Sahih al-Bukhari 1006 — "Ya Allah, selamatkanlah Aiyash bin Abi Rabi'ah. Ya Allah, selamatkanlah Salama bin Hisyam. Ya Allah, selamatkanlah Walid bin Walid. Ya Allah, selamatkanlah orang-orang mukmin yang lemah (mustadh'afin)."
Perhatikan, hadirin, bagaimana Rasulullah ﷺ menyebut nama-nama spesifik. Bukan sekadar "ya Allah tolong umat Muslim secara umum" — beliau menyebut Aiyash, Salama, Walid satu per satu. Doa yang spesifik membuat hati lebih hadir. Pekan ini, ketika kita berdoa untuk Palestina, mari sebutkan satu nama keluarga di Gaza yang kita kenal lewat berita. Bisa keluarga di Jabaliya, bisa keluarga di Rafah, bisa anak yatim yang viral di linimasa. Sebut namanya. Allah Maha Mendengar nama. Doa kolektif untuk "Palestina" itu baik, tetapi doa spesifik untuk satu nama dengan hati yang hadir lebih berat di sisi Allah.
Kedua, hadirin, donasi yang transparan. Banyak lembaga di Indonesia membuka penggalangan dana untuk Palestina. Sebagian besar amanah — Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, BAZNAS, Yayasan Hilal, dan masjid-masjid besar yang memiliki jalur kerjasama langsung. Tetapi ada juga yang tidak transparan. Sebagai donatur, kita punya kewajiban untuk verifikasi: apakah lembaga ini punya laporan tahunan publik? Apakah audit independen tersedia? Apakah ada bukti distribusi dana sampai ke korban? Jangan sungkan bertanya. Lembaga yang amanah tidak akan tersinggung dengan pertanyaan ini — justru menyambutnya. Allah Maha Melihat setiap rupiah yang kita salurkan, dan Allah juga Maha Melihat jalan yang kita lewatkan.
Hadirin yang dimuliakan Allah, Allah memerintahkan kita dengan tegas dalam ayat yang serupa:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ بِٱلْقِسْطِ شُهَدَآءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ أَوِ ٱلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ
QS. An-Nisaa: 135 — "Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu."
Hadirin, ayat ini menggarisbawahi sesuatu yang lebih sulit lagi: kita harus adil bahkan terhadap diri kita sendiri dan kerabat kita. Implikasinya untuk solidaritas Palestina sangat dalam. Kalau ada saudara seiman kita di sini yang menyalahgunakan tragedi Palestina untuk keuntungan pribadi — misalnya menggalang dana tetapi tidak menyalurkan, atau berdagang dengan klaim "untuk Palestina" tanpa transparansi — kita tetap harus adil. Membela kebenaran adalah membela yang teraniaya, bukan membela yang menyalahgunakan nama teraniaya. Itu standar yang tinggi, tetapi itu yang Allah minta dari umat ini.
Hadirin yang Allah rahmati, ada empat sampai enam tindakan konkret yang dapat kita ambil pekan ini sebagai jamaah Jumat. Pertama, mulai membaca Qunut Nazilah di rakaat terakhir sholat fardhu setiap hari. Sebut nama spesifik. Tidak perlu Arab yang panjang, doa singkat yang khusyu cukup. Kedua, pekan ini donasi ke satu lembaga yang sudah kita verifikasi laporan tahunannya. Tidak perlu besar — Rp 50 ribu yang konsisten lebih berkah dari Rp 5 juta sekali saja. Ketiga, batasi konsumsi konten Palestina di feed: 15-20 menit per hari, hindari sebelum tidur. Kepedulian yang sehat datang dari hati yang tenang, bukan dari hati yang trauma. Empat, dalam tujuh hari ke depan kita memasuki Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1448. Jadikan momentum itu untuk satu komitmen tahun baru tentang solidaritas: bisa membaca Qunut Nazilah konsisten satu tahun, bisa donasi bulanan otomatis ke satu lembaga, bisa edukasi anak-anak satu sesi per bulan tentang situasi global. Lima, jika kita di posisi yang punya pengaruh di lingkungan — guru, pengurus RT, pengurus pengajian — bawakan diskusi tentang etika konsumsi konten konflik. Anak-anak muda butuh kerangka untuk peduli tanpa trauma. Enam, jaga akhlaq dalam berdiskusi tentang konflik. Jangan menjadikan tragedi Palestina sebagai alat untuk menyerang Muslim lain yang berbeda pendapat. Itu pengkhianatan terhadap korban.
Hadirin yang dirahmati Allah, marilah kita merenungkan bersama bahwa solidaritas terhadap Palestina bukan tugas Palestina sendiri; itu tugas umat Muslim secara global. Tetapi solidaritas yang baik harus berakar pada keadilan, bukan pada kebencian. Kebencian terhadap kezaliman adalah halal dan bahkan diwajibkan. Kebencian terhadap individu manusia yang sebenarnya juga korban dari sistem yang lebih besar — itu di luar batas yang Allah izinkan. Ada banyak warga Israel yang sendiri korban: yang dipaksa wajib militer, yang anaknya dikirim ke perang yang mereka tidak setujui, yang akhirnya keluar dari militer dan menjadi saksi mata kejahatan. Kita harus bisa membedakan ideologi yang merusak dari individu yang juga manusia. Inilah yang membuat Islam berbeda dari ideologi konflik lainnya: kita tidak menghina manusia, kita menentang kezaliman.
Marilah kita memasuki Jumat yang berbarakah ini dengan satu komitmen baru — komitmen untuk menjadi penegak qisth yang konsisten, mendoakan saudara-saudara kita di Palestina dengan hati yang hadir, dan menjaga jiwa kita sendiri agar tetap tenang di tengah riuhnya kabar dunia.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالٰى حَقَّ تَقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita memperdalam pesan khutbah pertama dengan beberapa renungan tambahan. Salah satu peringatan terberat yang Allah berikan dalam hadits qudsi adalah tentang kezaliman. Rasulullah ﷺ menyampaikan firman Allah dalam hadits qudsi yang diriwayatkan Muslim:
يَا عِبَادِيْ، إِنِّيْ حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلٰى نَفْسِيْ، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فَلَا تَظَالَمُوْا
Sahih Muslim 6572 — Dalam hadits qudsi, Allah berfirman: "Wahai hamba-Ku, Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi."
Hadirin, perhatikan struktur kalimat ini. Allah berkata: "Aku haramkan kezaliman atas DIRI-KU." Allah, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, mengharamkan kezaliman atas Diri-Nya sendiri. Lalu Allah menjadikan kezaliman haram bagi kita. Implikasinya, kezaliman bukan sekadar pelanggaran etika sosial — itu pelanggaran terhadap sifat Allah Sendiri. Kezaliman terhadap Palestina, kezaliman terhadap tetangga kita di kompleks, kezaliman terhadap diri kita sendiri — semua tunduk pada peringatan yang sama. Yang akan ditanyai pertama kali oleh Allah pada Hari Kiamat adalah perkara darah; setiap tetes darah yang tertumpah secara zalim akan dihisab.
Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1448 akan tiba sembilan hari lagi. Momentum muhasabah ini mengajak kita memeriksa: dalam tahun yang lewat, apakah ada hak orang lain yang belum kita tunaikan? Apakah ada doa yang kita janjikan tetapi tidak kita panjatkan? Apakah ada donasi yang kita niatkan tetapi tidak kita salurkan? Mari kita bersihkan rekam jejak amal kita sebelum tahun baru Hijri datang, dimulai dari niat ulang untuk solidaritas Palestina yang konsisten.
Marilah kita memasuki doa khutbah kedua.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، فِيْ غَزَّةَ وَالضِّفَّةِ وَالْقُدْسِ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِيْنًا، وَاحْفَظْ نِسَاءَهُمْ وَأَطْفَالَهُمْ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَفُكَّ أَسْرَاهُمْ.
اَللّٰهُمَّ مَنْ أَرَادَ بِالْإِسْلَامِ وَأَهْلِهِ سُوْءًا فَأَشْغِلْهُ بِنَفْسِهِ، وَاجْعَلْ كَيْدَهُ فِيْ نَحْرِهِ، وَأَهْلِكْ مَنْ يَسْفِكُ دِمَاءَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ، اَللّٰهُمَّ لَا تُمَكِّنْهُمْ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، اَللّٰهُمَّ ارْزُقْهُمْ شَجَاعَةَ مَوَاقِفَ صَرِيْحَةٍ تَنْصُرُ الْمَظْلُوْمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ قُلُوْبَنَا حَيَّةً بِالدُّعَاءِ لَهُمْ، وَأَيْدِيْنَا سَخِيَّةً فِيْ تَبَرُّعِنَا لَهُمْ، وَأَلْسِنَتَنَا صَادِقَةً فِيْ شَهَادَتِنَا.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ.
اَللّٰهُمَّ بَلِّغْنَا الْعَامَ الْهِجْرِيَّ الْجَدِيْدَ سَالِمِيْنَ، وَاجْعَلْ عَامَنَا هٰذَا خَيْرًا مِنْ عَامِنَا الْمَاضِيْ، وَاجْعَلْ آخِرَ عُمْرِنَا خَيْرَهُ، وَخَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيْمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
