Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsLingkungan & BencanaAhad, 7 Juni 2026

Kisah Pendek — "Pohon Kurma yang Menangis"

Pekan ini diskusi tentang bencana lingkungan, alih fungsi lahan, dan kerusakan ekosistem kembali ramai. Pertanyaan yang sering tidak terucapkan: apakah benda-benda alam — pohon, hewan, sungai — punya nilai pada dirinya sendiri di mata Allah, atau sekadar alat pemenuhan kebutuhan manusia? Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah mengabadikan satu hadits mutawatir (sangat banyak periwayatnya) yang menjawab pertanyaan ini.

Setting kisahnya adalah Madinah pada awal pembangunan Masjid Nabawi. Saat itu masjid masih sederhana — atapnya dari pelepah kurma, tiangnya dari batang pohon. Di tengah masjid berdiri sebuah jidh' — batang pohon kurma — yang berfungsi sebagai mimbar pertama. Setiap kali Rasulullah ﷺ menyampaikan khutbah, beliau berdiri di samping batang kurma itu, bersandar ringan ke sana.

Imam Ibn Katsir menukil hadits Ubay bin Ka'b radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan Imam asy-Syafi'i rahimahullah:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي إِلَى جِذْعٍ إِذْ كَانَ الْمَسْجِدُ عَرِيشًا، وَكَانَ يَخْطُبُ إِلَى ذٰلِكَ الْجِذْعِ

"Rasulullah ﷺ shalat menghadap sebuah batang kurma ketika masjid masih berupa peneduh, dan beliau berkhutbah berdiri di samping batang itu."

Hari demi hari. Bulan demi bulan. Mungkin tahun demi tahun. Batang kurma itu menjadi bagian dari rutinitas Rasulullah ﷺ. Tubuh beliau bersentuhan dengan kayunya setiap Jumat. Suara beliau bergema di sekitar batang itu. Hubungan yang tidak biasa antara nabi dan sebatang pohon mati.

Suatu hari salah seorang sahabat — perempuan dari kaum Anshar — datang kepada Rasulullah ﷺ. Beliau berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلْ لَكَ أَنْ نَجْعَلَ لَكَ مِنْبَرًا تَقُومُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ؟

"Ya Rasulullah, maukah engkau kalau kami buatkan mimbar yang engkau pakai berdiri pada hari Jumat?"

Sahabat itu memiliki pelayan tukang kayu. Beliau menawarkan jasanya. Rasulullah ﷺ mengangguk dan menerima tawaran itu — Madinah sedang berkembang, jamaah Jumat semakin banyak, dan mimbar yang sedikit lebih tinggi akan membantu jamaah belakang melihat dan mendengar lebih jelas.

Maka mimbar pun dibuat. Mungkin dari kayu lain, mungkin dari batu — riwayat-riwayat berbeda. Yang pasti: mimbar baru berdiri di Masjid Nabawi, dan batang kurma yang lama dipindahkan ke sisi.

Tibalah hari Jumat berikutnya. Rasulullah ﷺ masuk masjid. Berjalan ke mimbar baru. Naik. Berdiri. Memulai khutbah.

Lalu terjadilah sesuatu yang tidak akan pernah dilupakan oleh para sahabat yang menyaksikan.

فَلَمَّا قَامَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى الْمِنْبَرِ، حَنَّ الْجِذْعُ كَحَنِينِ النَّاقَةِ

"Ketika beliau berdiri di mimbar pada hari Jumat itu, batang kurma itu MENANGIS seperti tangisan unta."

Para sahabat mendengar. Suara yang asing — seperti rintihan, seperti tangisan unta yang ditinggalkan anaknya. Mereka mencari sumber suara dan menemukan: suara itu berasal dari batang kurma yang sekarang dipinggirkan. Batang yang selama bertahun-tahun menjadi sandaran Rasulullah ﷺ — sekarang menangis karena jarak.

Rasulullah ﷺ mendengar. Beliau berhenti khutbah. Turun dari mimbar baru. Berjalan ke batang kurma itu. Lalu beliau MEMELUK batang itu — seperti orang yang menenangkan bayi yang menangis. Beliau mengusap-usap kayunya. Beliau berbicara kepadanya.

Imam Ibn Katsir menukil dari riwayat lain bahwa Rasulullah ﷺ kemudian berkata kepada sahabat-sahabatnya:

لَوْ لَمْ أَلْتَزِمْهُ لَحَنَّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

"Kalau aku tidak memeluknya, dia akan terus menangis sampai hari kiamat."

Sebuah kalimat yang membuat banyak sahabat tertegun. Sebatang pohon kurma. Yang tidak punya akal manusia. Yang tidak punya kewajiban shalat. Tetapi yang punya HUBUNGAN dengan Rasulullah ﷺ — dan hubungan itu, ketika diputus, melahirkan rindu yang dalam.

Rasulullah ﷺ kemudian memerintahkan agar batang kurma itu dikubur di bawah mimbar yang baru — supaya tetap dekat dengan posisi beliau setiap Jumat. Dalam sebagian riwayat, beliau memberi pilihan: dikubur, atau ditanam kembali di kebun supaya bisa menjadi pohon yang berbuah. Tetapi batang yang sudah lama mati itu — yang sudah kehilangan kemampuan tumbuh — lebih memilih dikubur dekat mimbar.

Imam Ibn Katsir mencatat bahwa hadits ini diriwayatkan dari belasan sahabat — Ubay bin Ka'b, Jabir bin Abdillah, Anas bin Malik, Ibn Umar, Ibn Abbas, Sahl bin Sa'd, Abu Sa'id al-Khudri, Buraydah, Ummu Salamah, dan al-Muttalib bin Abi Wada'ah radhiyallahu 'anhum. Qadhi 'Iyadh dalam asy-Syifa' menyebut hadits ini mutawatir — diriwayatkan oleh begitu banyak periwayat sehingga tidak mungkin dipalsukan.

Pelajaran

Pohon kurma yang menangis bukan dongeng. Ia hadits mutawatir — yang diriwayatkan oleh begitu banyak sahabat sehingga ahli hadits sepakat tidak mungkin dipalsukan. Yang dia ajarkan adalah hubungan yang sangat berbeda antara manusia dan alam dari yang kita kenal hari ini. Pohon itu BUKAN benda mati yang nilainya hanya pada kegunaannya — ia punya hubungan, punya rindu, punya kemampuan menangis ketika dipisahkan dari yang dicintainya. Untuk pekan ini, ketika diskusi tentang penebangan pohon, alih fungsi lahan, dan kerusakan lingkungan ramai di feed — pertanyaan yang lebih dalam: apakah kita memperlakukan pohon, hewan, dan sumber air di sekitar kita sebagai sekadar alat, atau sebagai makhluk yang punya hubungan dengan Pencipta yang sama? Rasulullah ﷺ memeluk batang kurma yang menangis. Itu jawaban tentang adab seorang Muslim terhadap alam.

Sumber Asli

Al-Bidayah wan-Nihayah — باب حنين الجذع شوقا إلى رسول الله ﷺ

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُصَلِّي إِلَى جِذْعٍ إِذْ كَانَ الْمَسْجِدُ عَرِيشًا، وَكَانَ يَخْطُبُ إِلَى ذٰلِكَ الْجِذْعِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلْ لَكَ أَنْ نَجْعَلَ لَكَ مِنْبَرًا تَقُومُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ؟… فَلَمَّا قَامَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى الْمِنْبَرِ حَنَّ الْجِذْعُ كَحَنِينِ النَّاقَةِ، حَتَّى نَزَلَ النَّبِيُّ ﷺ فَالْتَزَمَهُ، فَسَكَنَ».

قَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ فِي "الشِّفَا": وَهُوَ حَدِيثٌ مَشْهُورٌ مُنْتَشِرٌ مُتَوَاتِرٌ، خَرَّجَهُ أَهْلُ الصَّحِيحِ، وَرَوَاهُ مِنَ الصَّحَابَةِ بِضْعَةَ عَشَرَ، مِنْهُمْ: أُبَيٌّ وَجَابِرٌ وَأَنَسٌ وَابْنُ عُمَرَ وَابْنُ عَبَّاسٍ وَسَهْلُ بْنُ سَعْدٍ وَأَبُو سَعِيدٍ وَبُرَيْدَةُ وَأُمُّ سَلَمَةَ وَالْمُطَّلِبُ بْنُ أَبِي وَدَاعَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan