أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ.
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Dunia, dan ada satu pertanyaan yang ingin kita renungkan bersama malam ini. Pertanyaannya bukan "siapa yang salah dengan krisis lingkungan?" karena itu di luar kapasitas diskusi kita malam ini. Pertanyaannya: apa kontribusi kita masing-masing terhadap krisis ini, dan apa yang bisa kita lakukan dari posisi kita pekan ini?
Mari kita jujur. Pemerintah menyerukan "Tobat Ekologis" pekan ini, dan sebagian publik menanggapi dengan tajam: "Hutan gundul, dompet rakyat gersang. Kayu sebanyak itu larinya kemana?" Pertanyaan ini valid struktural — memang ada eksploitasi sumber daya alam yang tidak adil di Indonesia. Tetapi kita juga harus jujur pada diri sendiri: di luar struktur besar yang sulit kita ubah secara langsung, ada banyak pilihan kecil yang kita buat setiap hari yang juga berkontribusi pada krisis ini. Sampah plastik dari belanja kita, energi yang kita boros di rumah, makanan yang kita buang ke tempat sampah, transportasi yang kita pilih tanpa pertimbangan ekologis.
Allah memberi peringatan dalam Al-Qur'an.
QS. Al-Baqara: 155
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan."
Jamaah, lima jenis cobaan yang Allah sebutkan ini sering kali saling berkaitan dengan kerusakan lingkungan. Ketika hutan gundul, banjir datang yang membawa ketakutan. Ketika sawah rusak, kelaparan menghampiri. Setiap krisis ekologis adalah pintu yang membuka rangkaian penderitaan kolektif. Dan Allah menutup ayat ini dengan kalimat yang sangat indah: "wa-basyshirish-shabirin" — berikan berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Sabar yang Al-Qur'an maksud bukan sabar pasif menerima ketidakadilan, melainkan sabar aktif yang menerima realitas sambil tetap berikhtiar memperbaiki.
Mari kita ukur diri sendiri, jamaah. Ukuran pertama: bagaimana konsumsi kita masing-masing pekan ini? Berapa banyak sampah plastik dari belanja kita di pasar atau supermarket? Berapa banyak listrik yang kita pakai tanpa pertimbangan? Berapa banyak makanan yang kita buang ke tempat sampah karena kelebihan? Setiap pilihan kecil ini diakumulasi dengan jutaan keluarga lain menjadi kerusakan struktural.
Ukuran kedua: bagaimana ikatan kekeluargaan dan komunitas kita? Pekan ini ada cerita yang sangat menyedihkan tentang korban kecelakaan yang jenazahnya dibiarkan dua hari sebelum ditemukan keluarga. Cerita ini cermin atas runtuhnya jaringan kekeluargaan di banyak komunitas. Rasulullah ﷺ memberi prinsip yang sangat indah.
Riyad as-Salihin 1266
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ
"Seorang Muslim adalah saudara Muslim lainnya, ia tidak menzhaliminya, tidak menghinanya, dan tidak membiarkannya dalam kesulitan."
Jamaah, "lā yuslimuhu" — tidak membiarkan dalam kesulitan — adalah perintah aktif. Pekan ini, satu hal yang bisa kita lakukan: hubungi anggota keluarga jauh yang sudah lama tidak ada kabar. Telepon kakek-nenek, saudara perantauan, kerabat yang biasanya hanya disambangi saat lebaran. Jaringan kekeluargaan yang terjaga adalah perlindungan paling alami terhadap kerentanan hidup.
Ukuran ketiga: bagaimana sikap kita terhadap kapasitas yang Allah berikan? Rasulullah ﷺ berkata bahwa "mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah". Kekuatan di sini bukan hanya fisik — termasuk kekuatan ekonomi, kekuatan sosial, kekuatan intelektual, kekuatan komunitas. Apakah kekuatan yang kita punya kita pakai untuk berkontribusi pada kebaikan kolektif, atau hanya untuk kenyamanan pribadi?
Tetapi sisi terangnya, jamaah: pekan ini juga pekan ketika banyak inisiatif lingkungan komunitas sedang bergerak. Banyak masjid mulai mengadakan gotong royong sampah bulanan. Komunitas urban farming di banyak kota mulai berkembang. Inisiatif kompos rumah tangga mulai diadopsi keluarga muda. Penegakan tobat ekologis sedang berjalan, pelan tetapi nyata di tingkat akar rumput.
Yang sering kita lupa: setiap kebiasaan kecil yang konsisten diakumulasi menjadi perubahan struktural. Tidak ada satu keluarga pun yang mengubah seluruh sistem ekologi sendirian, tetapi ribuan keluarga yang konsisten memilih halal-ramah-lingkungan akan menciptakan permintaan pasar yang berbeda, dan permintaan itu akan mengubah industri.
Mari kita renungkan satu hal lagi sebelum berdoa bersama. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqara: 30 bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi. Konsep khalifah ini bukan dominasi melainkan amanah merawat. Sebagai khalifah, kita semua punya tanggung jawab merawat ciptaan Allah — bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk generasi yang akan datang. Anak-anak dan cucu-cucu kita akan menanggung konsekuensi pilihan kita hari ini — kalau hutan ditebang sembarangan, mereka tidak punya udara bersih. Kalau sungai dipolusi tanpa pertimbangan, mereka tidak punya air bersih. Tanggung jawab antar-generasi ini adalah salah satu wajah amanah khalifah yang Rasulullah ﷺ tegaskan.
Diriwayatkan dalam hadits bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menabur benih lalu manusia atau hewan memakan darinya kecuali itu menjadi sedekah baginya. Bayangkan kalau setiap keluarga Muslim Indonesia menanam minimal satu pohon di pekarangan — akumulasinya menjadi reforestasi keluarga yang sangat besar. Sedekah jariyah yang berlanjut puluhan tahun setelah ajal kita. Tiga ajakan amal pendek pekan ini, jamaah, mohon dijalankan dengan konsisten. Pertama, audit jujur satu kebiasaan konsumsi kita yang bisa diperbaiki dari sudut ekologis — plastik sekali pakai, listrik boros, makanan yang dibuang. Pilih satu, komitmen ubah selama empat minggu. Kedua, hubungi minimal satu anggota keluarga jauh pekan ini untuk menjaga ikatan. Ketiga, kalau di lingkungan ada inisiatif lingkungan (gotong royong, penanaman pohon, pengelolaan sampah komunitas), bergabunglah. Kalau belum ada, dorong inisiasinya.
اَللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا مِنَ الْكَوَارِثِ وَالْفَسَادِ.
اَللَّهُمَّ ارْحَمْ ضَحَايَا الْكَوَارِثِ وَالْحَوَادِثِ، وَآتِ أَهَالِيَهُمْ صَبْرًا جَمِيْلًا.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُفْسِدُوْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
