Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatPatologi Sosial DigitalAhad, 7 Juni 2026

Khutbah Jumat — "Riba Bukan Hanya Bank — Termasuk Paylater"

Hadirin yang dimuliakan Allah, ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِيْ جَعَلَ الْكَسْبَ الطَّيِّبَ سَبَبَ الْفَلَاحِ، وَجَعَلَ الرِّبَا وَالْمَيْسِرَ سَبَبَ الْخُسْرَانِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, marilah pada Jumat yang berkah ini kita membuka pembicaraan dengan satu ayat yang menjadi peta pekan ini, sebuah ayat yang dalam tujuh kata Al-Quran menggambarkan psikologi orang yang terjerat dalam transaksi yang Allah haramkan:

ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ ٱلرِّبَوٰا۟ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيْطَٰنُ مِنَ ٱلْمَسِّ

QS. Al-Baqara: 275 — "Orang-orang yang memakan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran tekanan penyakit gila."

Hadirin yang Allah rahmati, perhatikan bagaimana Al-Quran tidak hanya melarang riba dengan kata "haram" — Al-Quran memberi gambaran visual yang mencengangkan: orang yang terjerat riba digambarkan seperti orang yang gerakannya tidak teratur, berdiri dengan goyangan, terhuyung-huyung. Ayat ini bukan hanya larangan hukum; ini adalah diagnosis psikologis. Riba mengganggu kewarasan, kestabilan, dan ketenangan jiwa orang yang memakannya. Itu sebabnya, ketika kita pekan ini membaca kesaksian-kesaksian publik yang viral di media sosial — orang-orang yang menceritakan pengalaman mereka terjerat pinjaman online dan paylater — kita melihat persis gambaran yang Al-Quran sebutkan empat belas abad lalu. Tidur tidak nyenyak. Pikiran kacau. Hubungan keluarga retak. Tubuh kurus karena makan tidak teratur. Inilah "yatakhabbatuhu syaitan" yang Al-Quran maksud.

Pekan ini, dari kabar yang sampai kepada kita melalui linimasa media sosial, ada cerita seorang anak muda yang menulis tentang pengalamannya: pinjaman pertama hanya untuk membayar uang kos, lalu pinjaman kedua untuk membayar bunga pinjaman pertama, lalu pinjaman ketiga untuk makan, lalu pinjaman keempat untuk membayar bunga pinjaman kedua. Dalam waktu enam bulan, ia tidak punya cukup uang untuk membeli nasi bungkus. Komentar-komentar pada cerita itu penuh dengan empati — ratusan ribu orang membaca, banyak yang merasa pernah mengalami hal serupa, beberapa menawarkan bantuan personal. Yang menarik bagi kita yang berkumpul di Jumat ini: vokabulari yang digunakan orang awam untuk menamai pengalaman ini sudah sangat dekat dengan vokabulari yang Al-Quran gunakan. "Perut perih", "hidup yang terjebak", "tidak ada jalan keluar". Mereka sedang merasakan apa yang dimaksud Allah dengan "yatakhabbatuhu syaitan".

Hadirin yang Allah rahmati, mengapa Allah melarang riba dengan begitu keras? Tidak hanya melarang — Allah dan Rasul-Nya melaknat semua yang terlibat dalam rantai transaksinya. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

Sahih Muslim 4093 — "Rasulullah ﷺ melaknat pemakan riba dan pemberi makan riba, pencatatnya, dan dua saksinya. Beliau bersabda: 'Mereka semua sama.'"

Perhatikan, hadirin, betapa luas jangkauan laknat ini. Bukan hanya orang yang menerima bunga (yaitu pemberi pinjaman riba). Bukan hanya orang yang membayar bunga (yaitu peminjam). Bukan hanya pencatat transaksi (yaitu bank atau aplikasi pinjaman online). Tetapi juga saksinya — yaitu kita yang ada di sekitarnya, yang melihat seseorang terjerat tetapi diam, yang menjadi referrer aplikasi pinjol agar mendapat komisi kecil, yang merekomendasikan paylater kepada teman tanpa menjelaskan bunganya. Kita semua, hadirin, ada di dalam rantai. Pertanyaan jujur untuk diri kita pagi ini: berapa banyak dari kita pernah membantu kerabat mendaftar paylater tanpa menjelaskan konsekuensinya? Berapa banyak dari kita pernah meneruskan link "pinjaman cepat tanpa BI checking" karena ingin menolong, padahal sebenarnya kita sedang menjadi pintu masuk ke jebakan?

Allah berfirman dalam ayat yang sangat penting kita renungkan:

يَمْحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰا۟ وَيُرْبِى ٱلصَّدَقَٰتِ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

QS. Al-Baqara: 276 — "Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa."

Hadirin yang dimuliakan Allah, ayat ini memberikan dua mekanisme yang berlawanan. Riba dimusnahkan — bukan berarti angka di rekening berkurang, tetapi berkah hilang. Orang yang kekayaannya tumbuh dari riba mungkin secara statistik kaya, tetapi keluarganya berantakan, anaknya tidak terurus, hatinya gelisah, tidur tidak nyenyak. Itulah "mahq" yang Allah maksudkan. Sebaliknya, sedekah disuburkan — bukan berarti angka di rekening bertambah otomatis, tetapi setiap rupiah yang disedekahkan menjadi tabungan akhirat yang berlipat-lipat di sisi Allah. Inilah perbedaan ekonomi Allah dengan ekonomi pasar bunga: yang satu menumbuhkan dengan musnah, yang lain memusnahkan dengan menumbuhkan.

Hadirin yang Allah rahmati, mari kita beralih ke sisi lain dari patologi digital pekan ini — narkoba dan obat-obatan terlarang. Pekan ini media-media kita melaporkan beberapa keberhasilan operasi Polri menggagalkan peredaran narkoba senilai miliaran rupiah saat libur panjang. Itu kabar baik yang patut kita syukuri. Tetapi di pekan yang sama, ada juga laporan dari Kompolnas yang mengkritik hukuman terhadap aparat yang terbukti terlibat dalam peredaran narkoba sebagai tidak cukup memberi efek jera. Dua kabar yang berdampingan ini memberi kita satu pelajaran tentang amanah: integritas tidak diukur dari seragam yang dikenakan, melainkan dari konsistensi antara yang diucapkan dan yang dilakukan ketika tidak ada yang mengawasi.

Rasulullah ﷺ memberi kita peta moral yang sangat tajam tentang hal ini dalam sebuah hadits:

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيْدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَهَا يُرِيْدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللهُ

Sahih al-Bukhari 2387 — "Siapa saja yang mengambil harta orang lain dengan niat untuk membayarnya kembali, maka Allah akan membayarnya atas namanya, dan siapa saja yang mengambilnya dengan niat untuk merusaknya, maka Allah akan merusaknya."

Hadits ini, hadirin, memberikan kunci yang sangat dalam tentang transaksi keuangan. Yang Allah lihat bukan jumlah uang yang dipindahkan, melainkan niat di hatinya. Dua orang bisa meminjam jumlah yang sama, tetapi nasib mereka di sisi Allah berbeda — yang satu meminjam dengan niat sungguh-sungguh akan membayar dan menjaga amanah, Allah membayarnya bahkan ketika ia kesulitan. Yang lain meminjam dengan niat hanya menggunakan tanpa peduli kapan akan bayar, Allah "merusak"-nya — bukan secara harfiah, tetapi berkahnya hilang. Maka pekan ini, jika ada di antara kita yang sedang dalam jeratan utang, mari kita renungkan: apa niat awal kita ketika meminjam? Apakah kita meminjam dengan niat membayar, atau dengan harapan "nanti dipikirkan kemudian"? Niat itu, hadirin, lebih penting di sisi Allah dibanding jumlah angka.

Hadirin yang dimuliakan Allah, ada satu lagi pesan yang ingin saya bagikan dalam khutbah ini. Pekan ini publik kita juga menyaksikan video-video kekerasan yang viral — pelaku kejahatan yang ditangkap dan dilakban, korban begal yang disiksa, dan komentar-komentar yang membela "main hakim sendiri". Saya tidak akan membahas pro-kontra hukum tentang itu — itu bukan tugas mimbar Jumat. Tetapi saya ingin bertanya kepada kita semua satu pertanyaan jujur: ketika kita melihat video kekejaman itu di feed kita, apa yang kita lakukan? Apakah kita scroll lewat, atau kita menonton sampai akhir? Apakah kita mengetik komentar emosional, atau kita berhenti sejenak dan berdoa? Apakah kita membagikan video itu, atau kita memilih untuk tidak ikut mengamplifikasi?

Rasulullah ﷺ memberitahu kita bahwa Anak Adam sering tertipu oleh apa yang ia anggap miliknya:

يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِيْ مَالِيْ، وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ

Sahih Muslim 7420 — "Anak Adam berkata: Hartaku, hartaku. Wahai anak Adam, apakah ada bagianmu dari hartamu kecuali apa yang telah kamu makan lalu habis, atau apa yang telah kamu pakai lalu usang, atau apa yang telah kamu sedekahkan lalu kamu kirimkan menjadi bekal?"

Hadirin yang Allah rahmati, hadits ini mengubah cara kita memandang seluruh transaksi keuangan kita. Yang sungguh-sungguh menjadi milik kita di akhirat hanyalah yang kita sedekahkan — yang kita kirim sebelum kita mati. Yang kita makan akan habis. Yang kita pakai akan usang. Yang kita simpan akan kita tinggalkan untuk ahli waris yang mungkin tidak akan mendoakan kita. Hanya yang kita sedekahkan yang menjadi bekal di hadapan Allah. Maka, ketika kita pekan ini melihat seseorang yang bingung mau memilih antara membayar bunga paylater atau berinfak Rp 10 ribu untuk mushola — pilihan itu sebenarnya jelas di mata akhirat. Yang Rp 10 ribu untuk mushola akan tetap menjadi milik kita selamanya. Yang dibayarkan untuk bunga paylater akan hilang dengan habisnya bulan.

Hadirin yang dimuliakan Allah, ada empat sampai enam langkah konkret yang dapat kita ambil pekan ini sebagai jamaah Jumat. Pertama, audit aplikasi keuangan di HP kita malam ini. Berapa banyak paylater yang aktif? Berapa banyak aplikasi pinjaman cepat yang masih terpasang? Hapus yang tidak benar-benar perlu — bukan untuk menghindari fitur, tetapi untuk menutup pintu godaan saat kita lemah. Kedua, jika kita sudah terjerat utang yang berbunga, jangan tunda lagi — datangi ahli keuangan syariah atau koperasi terdekat, jujur tentang kondisi, dan susun rencana keluar. Allah lebih senang melihat hamba-Nya jujur tentang kelemahan daripada terus menyembunyikan. Ketiga, jika ada keluarga atau tetangga yang kita tahu sedang dalam jeratan utang, jangan tunggu mereka minta tolong — datangi dengan kasih sayang, tanpa menghakimi. Buka pintu hati lebih dulu sebelum menawarkan solusi. Empat, ajak anak-anak kita berbicara terbuka tentang judol dan game online yang berisi mekanisme gambling — banyak game anak yang sudah menyusupkan unsur judi tanpa mereka sadari. Kelima, dalam tujuh hari ke depan kita memasuki Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1448. Jadikan momentum itu untuk satu janji konkret: hentikan satu kebiasaan digital yang merusak — boleh aplikasi tertentu, boleh akun yang melemahkan iman, boleh game tertentu. Satu saja. Enam, di pekan ini, ketika kita melihat video kekerasan atau kekejaman lewat di feed, latih jari kita untuk scroll-pass dalam 3 detik tanpa menonton sampai akhir, dan ucapkan istighfar saat lewat. Mata kita adalah amanah, hadirin.

Hadirin yang dirahmati Allah, marilah kita merenungkan bersama bahwa setiap pengeluaran dan pemasukan kita akan ditimbang di hari yang Allah janjikan. Akan datang hari di mana setiap rupiah yang masuk ke rekening kita akan ditanyai: dari mana? Setiap rupiah yang keluar akan ditanyai: untuk apa? Tidak ada yang tersembunyi pada hari itu. Para malaikat yang mencatat amal kita pekan demi pekan akan menampilkan rekam jejak transaksi kita di hadapan Allah. Maka mari kita persiapkan rekam jejak itu sejak sekarang — bukan setelah malaikat datang menjemput.

Marilah kita memasuki Jumat yang berbarakah ini dengan satu komitmen — komitmen untuk membersihkan transaksi kita, menutup pintu kebiasaan digital yang merusak, dan menggantinya dengan kebiasaan yang Allah ridhai. Karena akhirnya, hidup kita tidak diukur dari berapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi dari seberapa bersih yang kita kumpulkan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالٰى حَقَّ تَقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita memperdalam pesan khutbah pertama tadi dengan beberapa renungan lebih dekat ke kehidupan sehari-hari kita. Patologi digital — judi online, pinjaman online berbunga, narkoba — semuanya memiliki satu kesamaan: mereka semua menjanjikan kemudahan, kecepatan, dan kesenangan instan. Tetapi semuanya juga mencuri yang paling berharga dari kita: ketenangan jiwa.

Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1448 akan tiba sembilan hari lagi. Hari raya ini tidak dirayakan dengan pesta. Islam memberikan kepada kita ruang untuk muhasabah — penghitungan diri di akhir satu siklus tahun. Bagi kita yang mungkin sedang berjuang dengan satu kebiasaan digital yang merusak — entah itu menggulir feed sampai larut malam, entah itu masih ada paylater yang aktif, entah itu game yang menyusup mekanisme judi — Tahun Baru Hijriah adalah pintu untuk berhenti. Bukan dengan resolusi besar yang biasanya dibatalkan dalam tiga minggu, melainkan dengan satu janji konkret yang Allah jadikan saksi.

Allah berfirman tentang riba dengan satu peringatan yang sangat dalam:

وَأَخْذِهِمُ ٱلرِّبَوٰا۟ وَقَدْ نُهُوا۟ عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَٰلَ ٱلنَّاسِ بِٱلْبَٰطِلِ ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَٰفِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًۭا

QS. An-Nisaa: 161 — "Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih."

Hadirin, perhatikan satu frase di ayat ini: "padahal mereka telah dilarang daripadanya". Allah tidak mengazab orang yang tidak tahu — Allah mengazab orang yang tahu tetapi terus melakukan. Itu sebabnya, hadirin, ilmu adalah amanah. Kita yang duduk di majelis ini pekan demi pekan, kita yang membaca dan mendengar pengajaran, kita yang tahu bahwa riba itu haram — bagi kita, peringatan ini berlaku lebih berat dibanding mereka yang belum tahu. Pengetahuan kita meningkatkan standar pertanggungjawaban kita.

Maka, hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita renungkan sekali lagi dengan jujur — apakah kita pekan ini akan terus berada dalam lingkaran transaksi yang Allah peringatkan? Atau kita akan memilih untuk berhenti, walau dengan langkah kecil yang lambat?

Marilah kita memasuki doa khutbah kedua.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِيْنًا، وَاحْفَظْ نِسَاءَهُمْ وَأَطْفَالَهُمْ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، اَللّٰهُمَّ أَزِلْ مِنْ بَيْنِ ظَهْرَانَيْنَا فِتْنَةَ الرِّبَا وَالْمَيْسِرِ وَالْمُسْكِرَاتِ، وَاحْفَظْ شَبَابَنَا مِنْ شُرُوْرِهَا.

اَللّٰهُمَّ مَنْ كَانَ مِنْ إِخْوَانِنَا وَأَخَوَاتِنَا فِيْ ضِيْقٍ مِنَ الدَّيْنِ، فَفَرِّجْ عَنْهُمْ، وَاقْضِ عَنْهُمْ دُيُوْنَهُمْ، وَاجْعَلْ لَهُمْ مَخْرَجًا مِنْ كُلِّ هَمٍّ، وَفَرَجًا مِنْ كُلِّ ضِيْقٍ، وَرِزْقًا مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُوْنَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ.

اَللّٰهُمَّ بَلِّغْنَا الْعَامَ الْهِجْرِيَّ الْجَدِيْدَ سَالِمِيْنَ، وَاجْعَلْ عَامَنَا هٰذَا خَيْرًا مِنْ عَامِنَا الْمَاضِيْ، وَاجْعَلْ آخِرَ عُمْرِنَا خَيْرَهُ، وَخَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيْمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan