أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan kita yang baru saja diisi dengan ramainya cerita-cerita di linimasa tentang jeratan utang, ada satu pesan singkat yang ingin saya bagikan malam ini. Pesannya satu kalimat: yang Allah lihat dari setiap rupiah kita bukan jumlahnya, melainkan asalnya.
Saya yakin di antara kita semua, jamaah, ada yang pekan ini mendengar atau membaca cerita-cerita di media sosial tentang orang-orang yang terjerat pinjaman online dan paylater. Komentar yang paling banyak di-share adalah satu kalimat sederhana: "ternyata begini rasanya perut perih menahan lapar." Komentar itu mendapat ratusan ribu views. Apa yang sebenarnya kita dengar di sana? Bukan keluhan tentang ekonomi makro. Bukan analisis kebijakan moneter. Tetapi kesaksian personal tentang apa yang terjadi pada tubuh ketika utang berbunga melebihi penghasilan, dan tidak ada makanan di rumah.
Allah berfirman dalam ayat yang sangat penting kita renungkan malam ini:
ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ ٱلرِّبَوٰا۟ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيْطَٰنُ مِنَ ٱلْمَسِّ
QS. Al-Baqara: 275 — "Orang-orang yang memakan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran tekanan penyakit gila."
Ayat ini, jamaah, memberi gambaran visual tentang psikologi orang yang terjerat riba. Bukan hanya larangan hukum — diagnosis. Orang yang hidup di dalam kebiasaan riba digambarkan seperti orang yang gerakannya tidak tenang, berdiri dengan goyangan, tidur tidak nyenyak, pikiran kacau. Empat belas abad lalu Allah memberikan diagnosis ini, dan pekan ini di linimasa kita, kita melihat gambaran itu hidup dalam ratusan ribu komentar. "Perut perih". "Hidup yang terjebak". "Tidak ada jalan keluar". Mereka sedang merasakan apa yang dimaksud Allah dengan yatakhabbatuhu syaitan.
Jamaah yang saya hormati, mengapa Allah memberi peringatan yang begitu keras tentang riba? Karena Allah tahu kelemahan kita. Allah tahu bahwa manusia ingin yang cepat — dapat uang cepat, dapat barang cepat, pulang gajian belum tiba tapi ingin liburan. Pinjol dan paylater memanfaatkan kelemahan itu dengan menjanjikan "sat-set", "kilat", "tanpa BI checking". Mereka tidak menjual produk; mereka menjual ilusi waktu — seolah kita bisa membeli sekarang dan membayar nanti seolah-olah nanti adalah waktu yang berbeda. Padahal, jamaah, nanti adalah kita juga. Kita yang akan kepayahan membayar bunga yang lebih besar dari pinjaman pokok. Kita yang akan tidur tidak nyenyak. Kita yang akan kelaparan.
Rasulullah ﷺ memberi peringatan yang sangat luas tentang siapa yang terkena laknat dalam transaksi riba:
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ
Sahih Muslim 4093 — "Rasulullah ﷺ melaknat pemakan riba dan pemberi makan riba, pencatatnya, dan dua saksinya. Beliau bersabda: 'Mereka semua sama.'"
Lima kategori yang terkena, jamaah: pemakan riba (yang mendapat bunga), pemberi makan riba (yang membayar bunga, yaitu peminjam), pencatat (bank atau aplikasi pinjol), dan dua saksi. Yang seringkali luput dari renungan kita adalah dua saksi terakhir — yaitu kita yang melihat kerabat menggunakan paylater tanpa mengingatkan, kita yang menjadi referrer aplikasi pinjol untuk mendapat komisi kecil, kita yang merekomendasikan paylater kepada teman karena "praktis". Hadits ini, jamaah, memperingatkan kita bahwa di mata Allah, semua yang terlibat dalam rantai transaksi riba sama. Bukan hanya yang langsung mengambil bunga — kita yang ada di sekitarnya juga ikut tertanggung beban.
Coba renungkan, jamaah, satu pertanyaan jujur kepada diri kita sendiri malam ini: berapa banyak dari kita pernah merekomendasikan paylater kepada teman dengan kalimat "praktis kok, enggak ribet"? Berapa banyak dari kita pernah membantu kerabat mendaftar aplikasi pinjol "biar cepat dapat dana"? Berapa banyak dari kita pernah ikut akun-akun "tips finansial" yang sebenarnya mengarah ke pinjol terselubung? Kita semua, jamaah, ada di dalam rantai itu. Pintu keluarnya bukan dengan menyalahkan satu pihak — pintu keluarnya adalah dengan menyadari peran kita masing-masing dan memilih untuk berhenti.
Allah memberi kabar gembira di sisi lain:
يَمْحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰا۟ وَيُرْبِى ٱلصَّدَقَٰتِ
QS. Al-Baqara: 276 — "Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah."
Dua mekanisme yang berlawanan. Riba dimusnahkan — bukan berarti angka di rekening berkurang, tetapi berkah hilang. Anak tidak terurus, hubungan suami-istri renggang, tidur tidak nyenyak. Itulah "mahq" yang Allah maksud. Sedekah disuburkan — bukan berarti otomatis ada bonus rupiah, tetapi setiap rupiah yang disedekahkan menjadi tabungan akhirat yang berlipat-lipat di sisi Allah. Ini perbedaan ekonomi Allah dengan ekonomi pasar bunga: yang satu menumbuhkan dengan musnah, yang lain memusnahkan dengan menumbuhkan.
Jamaah yang saya hormati, mari kita renungkan tiga langkah konkret malam ini. Pertama, sebelum tidur, periksa HP kita. Berapa aplikasi paylater yang aktif? Berapa aplikasi pinjaman cepat yang masih terpasang? Jika ada yang tidak benar-benar perlu, hapus malam ini. Bukan untuk gaya — untuk menutup pintu godaan saat kita lemah. Kedua, jika ada di antara kita yang sedang terjerat utang berbunga, jangan tunda lagi. Datangi orang yang kita percaya — ustaz, koperasi syariah, BMT — bicara terbuka. Allah lebih senang melihat hamba-Nya jujur tentang kelemahan daripada terus menyembunyikan sambil utang terus berbunga. Ketiga, dalam sembilan hari ke depan kita memasuki Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1448. Jadikan momentum muhasabah itu untuk satu janji konkret: hentikan satu kebiasaan keuangan yang merusak — boleh paylater tertentu, boleh aplikasi pinjol, boleh game yang menyusupkan mekanisme judi. Satu saja.
Karena akhirnya, jamaah, hidup kita tidak diukur dari berapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi dari seberapa bersih yang kita kumpulkan. Rasulullah ﷺ mengingatkan: dari harta kita, yang sungguh menjadi milik kita di akhirat hanyalah yang kita sedekahkan. Yang lain akan kita tinggalkan. Yang dipinjamkan dengan bunga akan menjadi beban di pundak kita pada hari Allah menghitung.
Marilah kita berdoa bersama:
اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.
اَللّٰهُمَّ مَنْ كَانَ فِيْ ضِيْقٍ مِنَ الدَّيْنِ، فَفَرِّجْ عَنْهُ، وَاجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.
اَللّٰهُمَّ بَلِّغْنَا الْعَامَ الْهِجْرِيَّ الْجَدِيْدَ، وَارْزُقْنَا فِيْهِ صِدْقَ النِّيَّةِ، وَطَهَارَةَ الْكَسْبِ، وَبَرَكَةَ الرِّزْقِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
