Pekan ini cerita guru honorer bergaji Rp 400 ribu, buruh yang tidak dibayar tepat waktu, dan petani yang harganya dijepit tengkulak kembali ramai. Pertanyaan yang menggantung: siapa yang bertanggung jawab atas mereka? Apakah ini "takdir ekonomi" — atau ada tanggung jawab pemimpin yang sedang dilalaikan? Imam al-Kandahlawi rahimahullah dalam Hayatus Shahabah menghimpun kebiasaan Khalifah Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu yang menjawab pertanyaan ini — bukan dengan teori kepemimpinan, tapi dengan pertanyaan-pertanyaan sehari-hari.
Setiap kali Umar mengangkat pejabat baru untuk mengelola sebuah wilayah, beliau tidak berhenti di pelantikan. Beliau menunggu beberapa bulan. Lalu memanggil delegasi dari wilayah itu — biasanya tokoh masyarakat atau pedagang yang datang ke Madinah untuk urusan lain. Ketika delegasi sampai, Umar tidak menanyakan laporan administrasi. Beliau menanyakan empat hal:
كَيْفَ أَمِيرُكُمْ؟ أَيَعُودُ الْمَمْلُوكَ؟ أَيَتْبَعُ الْجَنَازَةَ؟ كَيْفَ بَابُهُ؟ أَلَيِّنٌ هُوَ؟
"Bagaimana pemimpin kalian? Apakah dia mengunjungi budak yang sakit? Apakah dia mengikuti pemakaman orang biasa? Bagaimana pintunya — apakah lemah lembut?"
Empat pertanyaan kecil. Tidak ada tentang anggaran. Tidak ada tentang prestasi. Empat pertanyaan tentang interaksi harian pejabat dengan orang paling tidak berdaya di wilayahnya — budak yang sakit, pemakaman orang biasa, pintu yang terbuka. Kalau delegasi menjawab "iya, pintunya lemah lembut, iya dia mengunjungi budak", Umar membiarkan pejabat itu tetap menjabat. Kalau jawabannya tidak, Umar mengirim perintah pencabutan langsung. Tanpa diskusi panjang.
Filter kedua: syarat-syarat yang Umar berikan saat melantik. Beliau mengucapkan dengan keras di depan saksi:
أَنْ لَا تَرْكَبُوا بِرْذَوْنًا، وَلَا تَأْكُلُوا نَقِيًّا، وَلَا تَلْبَسُوا رَقِيقًا، وَلَا تُغْلِقُوا أَبْوَابَكُمْ دُونَ حَوَائِجِ النَّاسِ
"Jangan kalian menunggangi keledai mewah, jangan kalian makan tepung halus, jangan kalian mengenakan kain halus, dan jangan kalian menutup pintu kalian dari kebutuhan rakyat."
Empat larangan konkret. Bukan moralitas abstrak. Empat hal spesifik yang kalau dilanggar menarik pencabutan langsung. Umar tahu bahwa kemewahan dimulai dari hal-hal kecil. Yang paling tajam: jangan menutup pintu dari kebutuhan rakyat. Begitu pejabat menutup pintu, akuntabilitas hilang.
Setelah memberi syarat, Umar mengantarkan pejabat itu sampai ke pinggir kota. Sebelum berpisah, beliau mengucapkan kalimat yang menetapkan filosofi seluruh sistem kepemimpinannya:
إِنِّي لَمْ أُسَلِّطْكُمْ عَلَى دِمَاءِ الْمُسْلِمِينَ، وَلَا عَلَى أَبْشَارِهِمْ، وَلَا عَلَى أَعْرَاضِهِمْ، وَلَا عَلَى أَمْوَالِهِمْ، وَلَكِنِّي بَعَثْتُكُمْ لِتُقِيمُوا بِهِمُ الصَّلَاةَ، وَتَقْسِمُوا فِيهِمْ فَيْأَهُمْ، وَتَحْكُمُوا بَيْنَهُمْ بِالْعَدْلِ
"Aku tidak memberi kalian kuasa atas darah kaum Muslimin, tidak atas badan mereka, tidak atas kehormatan mereka, tidak atas harta mereka. Aku mengirim kalian agar kalian menegakkan shalat bersama mereka, membagi fai' di antara mereka, dan memutuskan dengan adil."
Empat kalimat itu mendefinisikan ulang apa itu kekuasaan publik. Umar mengatakan: pejabat tidak punya kuasa atas darah Muslim, badan Muslim, kehormatan Muslim, atau harta Muslim. Yang pejabat punya kuasa atas hanya tiga: menegakkan shalat, membagi fai' secara adil, dan memutuskan dengan adil. Itu saja.
Beliau mendefinisikan ulang dari "raja yang mahakuasa" yang dominan di zaman itu — di Persia dan Romawi raja punya kuasa absolut — menjadi PELAYAN umat dengan mandat sangat spesifik.
Ada satu hal lagi yang sering Umar ucapkan kepada pejabatnya. Beliau mengirim Sa'id bin Amir al-Jumahi sebagai pejabat. Sa'id menolak. Umar berkata:
إِنَّكَ لَسْتَ أَفْضَلَ مِنْهُمْ، وَلَكِنْ تُجَاهِدُ بِهِمْ عَدُوَّهُمْ، وَتَقْسِمُ بَيْنَهُمْ فَيْأَهُمْ
"Engkau bukan yang paling utama dari mereka. Tetapi engkau berjihad bersama mereka, dan engkau membagi fai' di antara mereka."
Engkau bukan yang paling utama. Umar mengingatkan setiap pejabat: jabatan tidak otomatis membuatnya lebih mulia dari rakyatnya. Banyak — mungkin kebanyakan — rakyatnya lebih bertakwa dari dirinya. Jabatan adalah amanah administratif, bukan tanda kemuliaan.
Pelajaran
Akuntabilitas pejabat diukur dari interaksi paling kecil dengan orang paling tidak berdaya — bukan dari kebijakan besar. Empat pertanyaan Umar tentang kunjungan ke budak sakit, kehadiran di pemakaman orang biasa, pintu yang lemah lembut, dan lemah lembutnya akhlaq — semua tentang interaksi sehari-hari, bukan tentang prestasi makro. Untuk pemimpin di level apa pun pekan ini — RT, masjid, sekolah, perusahaan, dinas — pertanyaan yang sama masih relevan: apakah pintumu terbuka untuk OB? Apakah kamu mengunjungi karyawan yang sakit? Apakah kamu hadir di pemakaman pegawai biasa? Kalau jawabannya tidak, kepemimpinanmu dimulai dari arah yang salah, sekecil apa pun. Dan untuk pekerja kecil yang lelah pekan ini — Umar mengingatkan pejabatnya: kalian bukan yang paling utama. Banyak rakyat yang dianggap remeh oleh struktur mungkin di mata Allah jauh lebih utama daripada manajer yang menggaji mereka.
Sumber Asli
Hayatus Shahabah — شرائط عمر على العمال
كَانَ عُمَرُ إِذَا اسْتَعْمَلَ عَامِلًا فَقَدِمَ إِلَيْهِ الْوَفْدُ مِنْ تِلْكَ الْبِلَادِ، قَالَ: كَيْفَ أَمِيرُكُمْ؟ أَيَعُودُ الْمَمْلُوكَ؟ أَيَتْبَعُ الْجَنَازَةَ؟ كَيْفَ بَابُهُ؟ أَلَيِّنٌ هُوَ؟
كَانَ عُمَرُ إِذَا بَعَثَ عُمَّالَهُ شَرَطَ عَلَيْهِمْ أَنْ لَا تَرْكَبُوا بِرْذَوْنًا، وَلَا تَأْكُلُوا نَقِيًّا، وَلَا تَلْبَسُوا رَقِيقًا، وَلَا تُغْلِقُوا أَبْوَابَكُمْ دُونَ حَوَائِجِ النَّاسِ.
إِنِّي لَمْ أُسَلِّطْكُمْ عَلَى دِمَاءِ الْمُسْلِمِينَ، وَلَا عَلَى أَبْشَارِهِمْ، وَلَا عَلَى أَعْرَاضِهِمْ، وَلَا عَلَى أَمْوَالِهِمْ، وَلَكِنِّي بَعَثْتُكُمْ لِتُقِيمُوا بِهِمُ الصَّلَاةَ، وَتَقْسِمُوا فِيهِمْ فَيْأَهُمْ، وَتَحْكُمُوا بَيْنَهُمْ بِالْعَدْلِ.
