Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPekerja & Pertanian RakyatAhad, 7 Juni 2026

Kultum — "Mafia Triliunan vs Guru Empat Ratus Ribu"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَأَوْجَبَ الْعَدْلَ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan kita yang baru saja diisi dengan cerita-cerita pekerja kecil yang tetap berjuang di tengah kerasnya hidup, ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini. Pesannya satu kalimat saja: upah yang ditahan, sekecil apapun, akan diadukan ke Allah, dan Allah berdiri sebagai musuh untuk yang menahannya.

Saya yakin di antara kita semua, jamaah, ada yang pekan ini sempat membaca atau mendengar kabar tentang guru honorer kimia yang mengabdi dengan gaji 400 ribu rupiah sebulan, baru saja didiagnosis kanker, dan BPJS-nya dinonaktifkan karena katanya sudah tidak miskin. Saya tidak ingin kita marah pada satu institusi tertentu — itu tidak akan menyelesaikan masalah. Saya ingin kita bertanya: berapa banyak Pak Wawan di lingkungan kita yang kita belum tahu? Berapa banyak tetangga yang gaji-nya tipis, sakitnya berat, dan tidak punya jaringan untuk dikenal? Kita yang berkumpul di majelis ini, kita punya jaringan. Kita punya dompet kecil yang kalau dijumlahkan menjadi cukup. Apakah kita sudah sampai kepada mereka?

Allah memberi peringatan yang sangat tajam tentang ini:

وَيَٰقَوْمِ أَوْفُوا۟ ٱلْمِكْيَالَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ

QS. Hud: 85 — "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil."

Ayat ini, jamaah, adalah perintah Nabi Syu'aib ﷺ kepada kaumnya di Madyan. Mereka adalah masyarakat pedagang yang kaya, tetapi mereka curang dalam takaran. Mereka memberikan takaran kurang ketika menjual, dan meminta takaran lebih ketika membeli. Akibatnya? Madyan dihancurkan Allah dengan azab yang sangat berat. Perhatikan, jamaah — mereka bukan kaum yang menyembah berhala saja. Mereka adalah kaum yang menyembah Allah tetapi curang dalam takaran. Allah tidak menerima ibadah yang dipisahkan dari keadilan ekonomi. Dua-duanya harus jalan bersama.

Maka pekan ini, jamaah, kita perlu jujur kepada diri sendiri. Apakah kita pernah menahan upah orang? Bisa upah asisten rumah tangga yang kita tunda dengan alasan "nanti minggu depan". Bisa upah tukang yang kita tawar berkali-kali setelah pekerjaan selesai padahal sudah ada kesepakatan. Bisa upah ojek online yang kita beri rating 3 bintang dengan harapan dia akan kena potong komisi padahal pelayanannya sudah baik. Semua ini, jamaah, dalam mata Allah, adalah varian dari "bakhasa" — mengurangi hak orang.

Rasulullah ﷺ memberi peringatan yang lebih tajam lagi. Dalam hadits qudsi yang diriwayatkan Bukhari, Rasulullah ﷺ menyampaikan firman Allah:

ثَلاَثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: رَجُلٌ أَعْطَى بِيْ ثُمَّ غَدَرَ، وَرَجُلٌ بَاعَ حُرًّا فَأَكَلَ ثَمَنَهُ، وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيْرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُعْطِهِ أَجْرَهُ

Sahih al-Bukhari 2270 — Allah berfirman dalam hadits qudsi: "Ada tiga golongan yang Aku akan menjadi musuh mereka pada Hari Kiamat: orang yang membuat janji atas nama-Ku lalu mengkhianatinya; orang yang menjual orang merdeka lalu memakan harganya; dan orang yang mempekerjakan pekerja lalu setelah ia menyelesaikan pekerjaannya, ia tidak membayar upahnya."

Jamaah, perhatikan kalimat ini. Allah tidak berkata "Aku akan menghukum mereka". Allah berkata "Aku akan menjadi MUSUH mereka". Bayangkan, jamaah, betapa beratnya itu. Allah yang Maha Pengasih, yang biasanya berfirman tentang rahmat-Nya yang melampaui murka-Nya, di sini berkata bahwa dengan tiga golongan ini, Allah berdiri sebagai musuh personal pada Hari Kiamat. Yang ketiga adalah peringatan langsung untuk situasi yang banyak kita temui hari ini — pemberi kerja yang menyerap pekerjaan pekerjanya tetapi tidak membayar upahnya. Itu posisi yang sangat berbahaya di sisi Allah.

Mari saya kasih cerita yang menyentuh hati saya pribadi. Seorang ibu di lingkungan saya pernah cerita — dulu dia punya asisten rumah tangga selama 5 tahun, gaji 1,5 juta sebulan. Setiap kali bulan tua dan ibu itu lagi sempit, ia mengulur pembayaran 3-4 hari. Asistennya tidak protes — tetap kerja seperti biasa, walau kadang harus pinjam uang ke tetangga untuk beli beras. Suatu hari ibu itu sakit panas, dirawat 5 hari. Yang merawat anak-anaknya, yang memasak, yang menjaga rumah — adalah asisten yang gajinya sering dia tunda. Ibu itu menangis, dan bilang ke saya: "Bu Ustadzah, saya merasa seperti orang yang Rasulullah peringatkan. Saya menahan upah orang yang justru menjadi penyelamat saya saat saya sendiri jatuh." Sekarang ibu itu punya aturan rumah baru: gaji asisten ditransfer paling lambat tanggal 1, tidak pernah ditunda walau satu hari. Allah memberkahi rumahnya sejak itu.

Jamaah yang saya hormati, mari kita renungkan tiga langkah konkret malam ini. Pertama, sebelum tidur, periksa daftar utang upah yang ada di tangan kita. Asisten rumah tangga, tukang, ojek online, pekerja lepas yang baru kerja minggu ini — apakah semua sudah dibayar? Kalau ada yang tertunda, transfer malam ini juga, walau di luar jam kerja. Kedua, latih kebiasaan baru pekan ini: ojek online yang melayani kita dengan baik dapat tip 5 ribu via fitur tip. Bukan jumlah besar, tetapi konsistensi yang Allah lihat. Ketiga, dalam sembilan hari ke depan kita memasuki Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1448. Jadikan momentum muhasabah itu untuk satu janji konkret: hentikan satu kebiasaan menunda upah. Boleh asisten, boleh tukang, boleh ojek. Satu saja.

Karena akhirnya, jamaah, di mata Allah, kita tidak diukur dari berapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi dari seberapa adil yang kita timbang. Pak Wawan-Pak Wawan yang tidak kita lihat di televisi, mereka ada di setiap RT. Allah melihat kita — apakah pintu kita terbuka untuk mereka, atau kita tutup karena kabar mereka tidak viral.

Marilah kita berdoa bersama:

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يُؤَدُّوْنَ الْأُجُوْرَ كَامِلَةً، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَكُوْنُ اللهُ خَصْمَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ فِيْ أَرْزَاقِ الْعُمَّالِ وَالْفَلَّاحِيْنَ وَالْمُعَلِّمِيْنَ، وَأَوْصِلْ إِلَيْهِمْ حُقُوْقَهُمْ كَامِلَةً.

اَللّٰهُمَّ بَلِّغْنَا الْعَامَ الْهِجْرِيَّ الْجَدِيْدَ، وَاجْعَلْنَا فِيْهِ مِنْ أَهْلِ الْعَدْلِ فِي الْمِيْزَانِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan