Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatPemerintahan & KebijakanAhad, 7 Juni 2026

Khutbah Jumat — "Amanah Dimulai dari Meja Sendiri, Bukan Kursi Pejabat"

Hadirin yang dimuliakan Allah, ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمَانَةَ زِيْنَةَ الْعِبَادِ، وَالْعَدْلَ مِيْزَانَ الْبِلَادِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, marilah pada Jumat yang berkah ini kita awali pertemuan kita dengan kalam Allah yang menjadi pondasi seluruh khutbah hari ini, sebuah ayat yang menjelaskan dua tiang kehidupan publik dalam Islam — amanah dan adil:

۞ إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًۭا

QS. An-Nisaa: 58 — "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Ayat ini turun dengan dua perintah yang berdiri berdampingan — tidak terpisah, tidak hierarkis. Allah memerintahkan kita menyampaikan amanah kepada ahli-nya, dan dalam napas yang sama, ketika kita memegang keputusan atas manusia, kita memutus dengan adil. Dua kewajiban ini saling menopang. Amanah tanpa adil bisa menjadi loyalitas buta; adil tanpa amanah menjadi formalitas tanpa ruh. Keduanya, ketika dipadukan, membentuk hakikat kepemimpinan yang Islam ajarkan.

Hadirin yang Allah rahmati, pekan ini kita semua menyaksikan satu peristiwa yang menarik di ranah publik kita. Ada pergantian pimpinan di sebuah lembaga yang menangani anggaran ratusan triliun rupiah, sebuah lembaga yang berdiri di atas niat baik — memastikan anak-anak Indonesia mendapat makanan bergizi di sekolah. Dari kabar yang sampai kepada kita, pergantian itu hadir setelah kejaksaan menyegel ruangan-ruangan tertentu, melakukan penggeledahan, dan publik mendengar nama-nama yang sebelumnya tidak biasa terucap di ruang berita harian. Apakah kita perlu menghakimi siapa yang salah? Itu bukan tugas kita di mimbar ini. Tetapi kita boleh, bahkan harus, memetik pelajaran tentang amanah.

Karena pada saat yang sama pekan ini, kabar tentang seorang guru honorer di sebuah daerah juga sampai kepada kita. Guru itu mengajar kimia di SMA dengan gaji empat ratus ribu sebulan, baru saja didiagnosis kanker, dan menemukan bahwa kartu BPJS-nya telah dinonaktifkan karena katanya ia "sudah tidak miskin". Kita yang mendengar berita itu menahan napas. Bukan karena marah pada lembaga tertentu — kita tidak punya kebijaksanaan penuh tentang aturan teknis BPJS. Tetapi karena kita merasakan ada jurang yang besar antara skala anggaran ratusan triliun dan presisi sasaran terhadap satu guru kimia yang sedang sakit. Dua peristiwa di pekan yang sama, dua sisi koin yang sama: amanah bukan tentang berapa besar dana yang dikelola, melainkan tentang berapa tepat dana itu sampai ke orang yang berhak.

Inilah yang Allah maksud ketika berfirman "tunaikan amanah kepada ahli-nya". Amanah, dalam bahasa Arab, satu akar dengan iman — keduanya berasal dari "a-m-n" yang berarti aman, terpercaya. Orang yang amanah adalah orang yang bisa membuat orang lain merasa aman menyerahkan sesuatu kepadanya. Anak-anak kita yang dititipkan ke sekolah, ada amanah. Pasien yang dititipkan ke rumah sakit, ada amanah. Anggaran rakyat yang dititipkan ke pejabat, ada amanah. Setiap titipan itu mengikat dua arah: ada yang menitipkan, ada yang dititipi. Dan Allah berdiri sebagai saksi di antara keduanya.

Hadirin yang dirahmati Allah, Rasulullah ﷺ memberikan kepada kita sebuah hadits yang menjadi peta kepemimpinan dalam Islam. Beliau ﷺ bersabda dalam sebuah riwayat yang kita semua tahu:

أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهْوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Sahih al-Bukhari 7138 — "Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam atas manusia adalah pemimpin, dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya."

Perhatikan, hadirin, betapa berlapis hadits ini. Rasulullah ﷺ tidak hanya menyebut khalifah, atau gubernur, atau menteri. Beliau ﷺ memulai dengan "kullukum" — kalian semua. Setiap pria adalah pemimpin di rumahnya. Setiap wanita adalah pemimpin di rumah suaminya. Setiap pelayan adalah pemimpin atas harta tuannya. Kepemimpinan, dalam pandangan Islam, bukan kursi yang diduduki segelintir orang di puncak struktur. Kepemimpinan adalah jaringan yang merentang dari pimpinan negara sampai ke ayah yang menutup pintu rumahnya malam ini. Kita semua sedang memimpin sesuatu. Kita semua sedang dipertanggungjawabkan.

Dan inilah, hadirin, yang seringkali luput dari diskursus kita tentang korupsi atau penyalahgunaan jabatan. Kita cenderung mengarahkan telunjuk ke atas, ke pejabat besar, ke menteri-menteri. Tetapi hadits ini meminta kita memutar telunjuk itu ke diri sendiri terlebih dulu. Apakah saya, sebagai kepala keluarga, telah amanah dalam mengatur uang belanja yang istri saya percayakan? Apakah saya, sebagai karyawan, telah amanah dalam jam-jam kerja yang perusahaan bayarkan? Apakah saya, sebagai guru, telah amanah dalam waktu mengajar yang murid-murid percayakan? Pertanyaan-pertanyaan ini terdengar kecil dibanding skandal nasional, tetapi mereka adalah lapisan dasar dari kebudayaan amanah. Bangsa yang pemimpinnya tidak amanah, biasanya, adalah bangsa yang ayah-ayahnya, ibu-ibunya, gurunya, karyawannya juga belum amanah dalam ruang kecil mereka masing-masing.

Hadirin yang dimuliakan Allah, ada hadits lain yang sangat penting kita renungkan bersama dalam khutbah ini. Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang keras kepada pemimpin yang menutup diri dari rakyatnya:

مَنْ وَلَّاهُ اللهُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاحْتَجَبَ عَنْ حَاجَتِهِمْ وَفَقِيْرِهِمْ، اِحْتَجَبَ اللهُ دُوْنَ حَاجَتِهِ

Bulugh al-Maram 1592 — "Siapa saja yang dijadikan Allah memegang urusan kaum Muslimin, lalu ia menyembunyikan diri dari memenuhi kebutuhan dan mengurus orang miskin mereka, maka Allah akan menyembunyikan diri-Nya dari memenuhi kebutuhannya."

Hadits ini, hadirin, adalah peringatan paling halus sekaligus paling tegas tentang konsekuensi pemimpin yang menutup pintu. Allah tidak berfirman bahwa pemimpin yang lalai akan dihukum di dunia — Allah berfirman bahwa Allah Sendiri akan "menutup diri" dari pemimpin itu. Bayangkan, hadirin, betapa beratnya hukuman itu. Bukan dipecat. Bukan dipenjara. Bukan diturunkan jabatannya. Tetapi: dijauhkan dari rahmat Allah ketika ia sendiri yang membutuhkan. Pada hari ia sakit, ia tidak menemukan obat. Pada hari ia susah, ia tidak menemukan jalan keluar. Pada hari ia takut, ia tidak menemukan ketenangan. Inilah yang Allah janjikan kepada pemimpin yang menutup pintunya dari rakyat kecil.

Maka guru kimia di sebuah daerah yang BPJS-nya dinonaktifkan saat sakit, ibu rumah tangga di kampung yang tidak bisa mengakses bantuan karena administrasi yang berlapis, petani kecil yang tidak bisa menjangkau pejabat manapun untuk mengeluhkan harga panen — mereka semua adalah cermin yang Allah kirim untuk pemimpin. Bukan untuk dipersalahkan oleh pemimpin, melainkan untuk dipertanggungjawabkan oleh pemimpin. Dan kita yang duduk di majelis ini, hadirin, kita bukan pemimpin pada level negara. Tetapi kita adalah pemimpin di lingkungan kita. Kita punya tetangga. Kita punya keluarga jauh. Kita punya pegawai. Apakah pintu kita terbuka untuk kebutuhan mereka?

Hadirin yang Allah rahmati, satu lagi dalil yang ingin saya bawa pada khutbah pertama ini. Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira tentang orang-orang yang adil:

إِنَّ الْمُقْسِطِيْنَ عِنْدَ اللهِ عَلٰى مَنَابِرَ مِنْ نُوْرٍ: الَّذِيْنَ يَعْدِلُوْنَ فِيْ حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيْهِمْ وَمَا وَلُوْا

Sahih Muslim 4721 — "Orang-orang yang adil akan duduk di atas mimbar-mimbar cahaya di sisi Allah. Yaitu mereka yang adil dalam hukum mereka, dalam urusan keluarga mereka, dan dalam segala sesuatu yang mereka pimpin."

Perhatikan, hadirin, bagaimana Rasulullah ﷺ memperluas konsep adil ini. Beliau tidak menyebut hanya hakim yang adil di pengadilan. Beliau menyebut tiga ruang: hukum, keluarga, dan urusan yang dipimpin. Tiga ruang ini menggambarkan tiga skala hidup manusia — ruang publik (hukum), ruang privat (keluarga), dan ruang antara keduanya (urusan yang dipimpin: usaha, pekerjaan, organisasi). Allah memberikan mimbar cahaya bukan hanya untuk hakim mahkamah agung, tetapi juga untuk ayah yang adil membagi waktu antara anak-anaknya, untuk ibu yang adil membagi perhatian antara putra dan putri, untuk manajer yang adil memberi kesempatan kepada karyawannya tanpa memandang hubungan.

Hadirin yang dimuliakan Allah, ada empat sampai enam tindakan konkret yang dapat kita ambil minggu ini sebagai jamaah Jumat. Pertama, periksa kembali amanah-amanah yang ada di tangan kita — uang yang dititipkan, pekerjaan yang dibayar, anak yang dibesarkan. Tanyakan pada diri sendiri: apakah saya menyampaikan ini "kepada ahli-nya" sebagaimana ayat tadi memerintahkan? Kedua, jika kita memiliki bawahan, baik di tempat kerja maupun di rumah, pastikan pintu kita terbuka pekan ini. Berikan waktu sepuluh menit setiap hari untuk mendengar satu keluhan yang biasanya kita anggap "kecil". Ketiga, jika di lingkungan kita ada keluarga yang sedang dalam kesulitan — guru honorer yang BPJS-nya bermasalah, tetangga yang kehilangan pekerjaan, lansia yang tinggal sendiri — jangan tunggu kabar di televisi. Datangi langsung. Empat, dalam tujuh hari ke depan kita memasuki Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1448. Jadikan momentum itu untuk satu janji amanah personal — bukan resolusi besar, tetapi satu janji kecil yang konkret. Kelima, jika kita memilih pemimpin, baik di lingkungan RT, RW, masjid, atau yang lebih besar, jangan pilih hanya karena familiaritas atau kompetensi teknis. Pilih dengan kerangka amanah dan adil. Enam, ajak anak-anak di rumah berbicara tentang amanah dengan bahasa mereka — uang saku yang dititipkan untuk jajan, mainan yang dipinjam dari teman, janji yang dibuat kepada orang tua.

Hadirin yang dirahmati Allah, marilah kita merenungkan bersama bahwa amanah dan adil bukanlah konsep yang Allah perintahkan kepada para pemimpin saja. Mereka adalah dua sifat yang Allah perintahkan kepada kita semua. Pemimpin pertama yang harus kita pegang amanahnya adalah pemimpin atas diri sendiri. Allah menitipkan kepada kita anggota tubuh, waktu, kesehatan, harta, dan keluarga. Setiap titipan itu akan ditanyai pada Hari Hisab. Apakah mata kita kita gunakan untuk yang Allah ridhai? Apakah lisan kita kita pelihara dari ghibah dan namimah? Apakah harta kita kita keluarkan zakatnya tepat waktu? Apakah waktu kita kita isi dengan amal yang akan kita banggakan ketika malaikat menulis catatan kita?

Marilah kita memasuki Jumat yang berbarakah ini dengan satu komitmen baru — komitmen untuk menjadi pemimpin yang amanah di ruang sekecil apapun yang Allah amanahkan kepada kita. Karena kepemimpinan tidak diukur dari luas wilayahnya, melainkan dari ketulusan hatinya. Dan ketulusan hati bermula dari kesadaran bahwa Allah selalu menyaksikan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالٰى حَقَّ تَقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita memperdalam pesan khutbah pertama tadi dengan beberapa renungan yang lebih dekat ke kehidupan kita. Amanah, sebagaimana telah kita bahas, adalah jaringan yang merentang dari ruang publik sampai ke ruang rumah tangga. Tetapi ada satu lapisan yang sering luput dari renungan kita: amanah terhadap perbedaan pendapat di tengah masyarakat.

Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1448 akan tiba sembilan hari lagi, hadirin. Hari raya ini tidak dirayakan dengan kembang api atau pesta seperti tahun baru masehi, tetapi Islam memberikan kepada kita ruang untuk muhasabah — penghitungan diri di akhir satu siklus tahun. Muhasabah itu sendiri adalah bentuk amanah tertinggi: amanah terhadap diri sendiri di hadapan Allah. Kita berhenti sejenak, kita lihat ke belakang, kita tanya: apa yang sudah Allah titipkan kepada saya di tahun ini, dan bagaimana saya menjaga titipan itu?

Pada saat yang sama, hadirin, Allah memberikan kepada kita sebuah peringatan dalam Al-Quran tentang sifat-sifat orang yang Allah jadikan pemimpin. Allah berfirman:

ٱلَّذِينَ إِن مَّكَّنَّٰهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ أَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَمَرُوا۟ بِٱلْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا۟ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلْأُمُورِ

QS. Al-Hajj: 41 — "Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan."

Inilah, hadirin, profil pemimpin dalam pandangan Allah. Empat tanda: shalat yang ditegakkan, zakat yang ditunaikan, ma'ruf yang diperintahkan, munkar yang dicegah. Bukan pintar bicara di televisi. Bukan kemampuan menggalang massa. Bukan pula berapa banyak proyek yang ia tanda tangani. Empat tanda ini adalah ukuran yang Allah berikan untuk kita memilih pemimpin di mana pun — mulai dari ketua RT sampai presiden, mulai dari ketua karang taruna sampai ketua majelis taklim. Mari kita pegang ukuran ini, hadirin, dalam setiap proses pemilihan yang akan kita hadapi.

Dan satu hal lagi, hadirin, sebelum kita berdoa bersama. Rasulullah ﷺ memperingatkan kita dalam sebuah hadits yang sangat berat:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللهُ رَعِيَّةً، يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ، وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

Bulugh al-Maram 1687 — "Tidaklah seorang hamba yang Allah jadikan ia memimpin rakyat, lalu ia mati dalam keadaan berkhianat kepada mereka, melainkan Allah akan mengharamkan surga baginya."

Hadirin, ini adalah peringatan yang tidak boleh kita abaikan. Kita yang sedang memimpin sesuatu — sekecil apapun — harus selalu waspada bahwa setiap pengkhianatan terhadap amanah, sekecil apapun, akan ditimbang. Karyawan kita yang gajinya kita potong tanpa alasan. Anak kita yang kita janjikan sesuatu tapi tidak ditepati. Tetangga kita yang minta tolong tapi kita abaikan tanpa udzur. Semuanya tercatat. Marilah kita memperbaiki amanah kita pekan ini, hadirin, sebelum Tahun Baru Hijriah datang dan kita memasuki tahun baru dengan beban yang sama.

Marilah kita memasuki doa khutbah kedua.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِيْنًا، وَاحْفَظْ نِسَاءَهُمْ وَأَطْفَالَهُمْ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْهُمْ يَتَّقُوْنَكَ وَيَتَّبِعُوْنَ رِضْوَانَكَ، اَللّٰهُمَّ ارْزُقْهُمْ بِطَانَةً صَالِحَةً تَدُلُّهُمْ عَلَى الْخَيْرِ وَتُذَكِّرُهُمْ بِهِ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ ضُعَفَاءَ هٰذَا الْبَلَدِ، اَلْفُقَرَاءَ وَالْأَيْتَامَ وَالْأَرَامِلَ، وَالْمُعَلِّمِيْنَ الَّذِيْنَ يَنْفَعُوْنَ النَّاسَ بِعِلْمِهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ مَا يُغْنِيْهِمْ، وَالْعُمَّالَ الَّذِيْنَ يَجْتَهِدُوْنَ فِيْ كَسْبِهِمْ وَلَا يَلْقَوْنَ مَا يَكْفِيْهِمْ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا.

اَللّٰهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ، وَبَلِّغْنَا الْعَامَ الْهِجْرِيَّ الْجَدِيْدَ سَالِمِيْنَ، وَاجْعَلْ عَامَنَا هٰذَا خَيْرًا مِنْ عَامِنَا الْمَاضِيْ، وَاجْعَلْ آخِرَ عُمْرِنَا خَيْرَهُ، وَخَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيْمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan