Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPendidikan & SDMAhad, 7 Juni 2026

Kultum — "Bullying di Sekolah: Salah Anak atau Ekosistem?"

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ.

وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di musim Dzulhijjah yang banyak orang sebut sebagai Bulan Pendidikan — karena di dalamnya kita merenung tentang model pendidikan Nabi Ibrahim 'alaihissalam — ada satu pertanyaan yang ingin kita renungkan bersama malam ini. Pertanyaannya bukan "bagaimana mendidik anak yang baik?" karena itu pertanyaan yang terlalu luas untuk dijawab di kultum singkat. Pertanyaannya: siapa guru pertama setiap anak Indonesia hari ini, dan apakah kita sudah memainkan peran itu dengan sungguh-sungguh?

Mari kita jujur kepada diri sendiri. Banyak di antara kita yang ketika anak punya masalah di sekolah — nilai turun, dibully, atau tidak mau berangkat — reaksi pertama kita adalah mencari salah pada guru atau sistem sekolah. Padahal, sebagaimana model Nabi Ibrahim 'alaihissalam mengajarkan kita, pondasi pendidikan anak dimulai dari rumah jauh sebelum sekolah. Dan banyak masalah yang muncul di sekolah sebenarnya adalah refleksi dari atmosfer komunikasi di rumah yang belum sehat.

Allah berfirman dalam ayat yang sangat indah tentang wasiat pendidikan Nabi Ibrahim.

QS. Al-Baqara: 132

وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. Ibrahim berkata: 'Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.'"

Jamaah, perhatikan kata kerja "wa-washsha" — mewasiatkan. Para ulama menjelaskan ini bukan wasiat sekali di akhir hayat; ini wasiat yang diulang sepanjang hidup pendidikan anak. Setiap interaksi adalah peluang menanamkan nilai yang sama. Setiap moment adalah moment pendidikan. Itulah model Nabi Ibrahim — bukan satu sesi pengajaran besar di akhir hayat, melainkan ribuan moment kecil sepanjang hidup mengasuh.

Mari kita ukur diri sendiri, jamaah. Ukuran pertama: bagaimana atmosfer komunikasi di rumah kita pekan ini? Apakah anak kita merasa rumah adalah tempat yang aman untuk bercerita tentang apa pun, atau dia sudah belajar untuk menyembunyikan hal-hal tertentu karena khawatir kita marah? Anak yang menyembunyikan cerita biasanya bukan tanda kenakalan — itu tanda atmosfer rumah yang belum cukup ramah untuk kerentanan.

Ukuran kedua: bagaimana sikap anak kita terhadap teman-temannya yang berbeda? Pekan ini ada cerita anak yang berhenti sekolah karena dibully terus. Cerita ini cermin yang berat — banyak anak yang menjadi pelaku bullying di sekolah sebenarnya membawa sikap stigmatik dari rumahnya sendiri. Kalau di rumah kita sering mengeluh tetangga yang berbeda, anak kita membawa sikap itu ke sekolah. Rasulullah ﷺ memberi prinsip yang sangat indah.

Riyad as-Salihin 1576

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ شَرَفَ كَبِيرِنَا

"Bukan dari golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil kami, dan tidak mengenal kemuliaan orang tua kami."

Jamaah, hadits ini sangat berat. Rasulullah ﷺ melepas dari status "dari golongan kami" siapa pun yang tidak menyayangi anak-anak — termasuk anak orang lain. Setiap orang dewasa yang ikut menstigma anak-anak di sekolah, di lingkungan, atau di media sosial dilepas dari ikatan ukhuwah yang Nabi ajarkan. Berat sekali — ini bukan kalimat ringan.

Ukuran ketiga: bagaimana investasi kita dalam pendidikan anak orang lain? Banyak yang fokus hanya pada anak sendiri — itu wajar — tetapi Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa tanggung jawab pendidikan meluas ke seluruh anak Muslim di lingkungan. Anak yatim yang butuh bimbingan, anak dari keluarga miskin yang berbakat tapi tidak punya akses ke bimbel, anak berkebutuhan khusus yang butuh teman dewasa yang peka — semua adalah peluang pendidikan yang bisa kita ambil. Rasulullah ﷺ memberi tahu kita bahwa ilmu yang bermanfaat adalah salah satu dari tiga amal yang berlanjut setelah kita meninggal.

Tetapi sisi terangnya, jamaah: pekan ini juga pekan ketika banyak inisiatif pendidikan komunitas sedang bergerak di Indonesia. Banyak masjid mulai membuka kelas tahfidz dan pengajian anak yang fokus pada akhlak. Komunitas online seperti grup ibu PKK aktif membagikan tips pendidikan keluarga. Beberapa kampus mulai mendirikan layanan konseling untuk mahasiswa yang mengalami trauma bullying masa lalu. Penegakan pendidikan substantif sedang berjalan, pelan tetapi nyata. Yang sering luput justru peran kita masing-masing menyebarkan informasi dan terlibat aktif.

Yang sering kita lupa: investasi pendidikan adalah investasi akhirat. Rasulullah ﷺ menyebut "ilmu yang dimanfaatkan" dan "anak shaleh yang mendoakan" sebagai dua dari tiga amal yang berlanjut setelah ajal. Tidak ada saham atau deposito yang bertahan setelah meninggal — tetapi anak yang kita didik dengan akhlak yang baik, dan ilmu yang kita ajarkan kepada orang lain, akan terus bergerak menanam kebaikan kita di akhirat.

Mari kita renungkan satu hal lagi sebelum berdoa bersama. Banyak yang berpikir pendidikan anak adalah tanggung jawab eksklusif keluarga inti — ayah dan ibu. Padahal model komunitas Muslim klasik menempatkan pendidikan sebagai tanggung jawab kolektif: kakek-nenek mengajarkan adab, paman dan bibi membantu mentoring, tetangga ikut menjaga akhlak anak-anak di kampung, masjid menjadi pusat pengajaran umum. Anak yang tumbuh dalam ekosistem yang kaya seperti ini menjadi pribadi yang utuh — punya banyak figur dewasa yang bisa dipercaya, banyak teladan yang dapat ditiru, banyak ruang untuk belajar dari berbagai perspektif. Di Indonesia modern, ekosistem ini banyak yang sudah terkikis — keluarga inti dipisahkan dari kakek-nenek karena merantau, tetangga tidak saling kenal karena mobilitas tinggi, masjid hanya jadi tempat shalat tanpa fungsi pengajaran. Tetapi ekosistem ini bisa dibangun kembali, satu hubungan di satu waktu. Tiga ajakan amal pendek pekan ini, jamaah, mohon dijalankan dengan konsisten. Pertama, satu malam pekan ini sediakan waktu untuk berbicara dengan anak tentang sikap mereka di sekolah — bukan tentang nilai. Kedua, perhatikan satu keluarga di lingkungan dengan anak berkebutuhan khusus, dan hadirlah dengan tulus — undang ke arisan, ajak anak bermain. Ketiga, kalau ada anak yatim atau anak dari keluarga miskin di lingkungan yang berbakat, pertimbangkan menjadi mentor mereka untuk satu hal yang kita mampu.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ أَوْلَادَنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ أَوْلَادِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا فِيْ ذُرِّيَّتِنَا.

اَللَّهُمَّ احْفَظْ أَطْفَالَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ سُوءٍ، وَاجْعَلْ مَدَارِسَنَا أَمَاكِنَ آمِنَةً.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan