أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan kita yang baru saja diisi dengan kabar perkembangan teknologi yang luar biasa cepat, ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini. Pesannya satu kalimat: di era ketika saksi semakin tidak terlihat, kesadaran bahwa Allah selalu menyaksikan adalah satu-satunya kompas yang tidak bisa diretas.
Saya yakin di antara kita semua, jamaah, ada yang pekan ini membaca kabar tentang anak muda Indonesia yang membangun startup AI dengan valuasi luar biasa besar. Ada juga yang membaca cerita anak muda lain yang menemukan foto dirinya tanpa busana di ponsel kerabatnya — foto yang ternyata bukan asli, melainkan hasil rekayasa AI. Dua cerita yang sangat kontras, tetapi keduanya bercerita tentang teknologi yang sama. Yang membedakan: di tangan siapa teknologi itu digunakan.
Allah berfirman dalam ayat yang sangat relevan untuk era kita:
وَٱلَّذِينَ هُمْ لِأَمَٰنَٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَٰعُونَ
QS. Al-Mu'minoon: 8 — "Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat yang dipikulnya dan janjinya."
Ayat ini, jamaah, adalah salah satu profil yang Allah berikan tentang orang beriman yang akan mewarisi Surga Firdaus. Perhatikan kata "ra'un" — memelihara, menjaga, mengasuh. Bukan sekadar "tidak mengkhianati". Memelihara amanah adalah aktif menjaga, mengingat, mengelola dengan hati-hati. Di era ketika kita memegang banyak amanah digital — password ratusan akun, foto pribadi orang lain di ponsel kita, percakapan pribadi di grup chat — Al-Quran meminta kita memelihara semuanya, bukan sekadar tidak menyalahgunakannya.
Jamaah yang saya hormati, mari kita lihat satu peristiwa pekan ini lebih dekat. Cerita tentang anak muda yang menemukan foto generated AI dirinya. Yang menyakitkan dari cerita itu bukan hanya pelaku yang membuat foto itu — yang lebih menyakitkan adalah ketidaktahuan korban tentang siapa pelakunya. Dia tidak tahu apakah pelaku ada di lingkaran terdekatnya. Dia tidak tahu apakah foto itu sudah disebarkan. Dia tidak tahu apakah Allah akan memaafkannya untuk dosa yang bukan dia lakukan, atau apakah dia harus melakukan sesuatu untuk membersihkan namanya.
Untuk pertanyaan terakhir itu, jamaah, Al-Quran memberi jawaban yang menenangkan. Allah tidak menghisab kita atas perbuatan orang lain. Hisab Allah adalah sangat adil — setiap orang dihisab atas perbuatannya sendiri. Maka anak muda yang menjadi korban deepfake AI tidak akan dihisab atas perbuatan pelakunya. Yang dihisab adalah pelaku, yang berani mengambil amanah foto orang lain dan mengubahnya menjadi konten yang merusak.
Allah berfirman dalam ayat yang sangat tegas:
وَلَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ
QS. Al-Baqara: 188 — "Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil."
Jamaah, "memakan harta dengan batil" di sini bukan hanya soal uang. Yang Al-Quran maksudkan lebih luas: mengambil apa pun yang bukan hak kita — termasuk gambar, suara, identitas, kehormatan — dengan cara yang batil. Pelaku deepfake AI yang mencuri foto kita lalu mengubahnya menjadi gambar merusak, dia tidak hanya melanggar hukum dunia. Dia masuk ke dalam kategori orang yang Allah peringatkan di ayat ini. Hisabnya akan berat.
Rasulullah ﷺ memberi peringatan yang sangat keras tentang sumpah palsu dalam jual beli — sebuah hadits yang sangat relevan untuk era penipuan AI:
أَقَامَ رَجُلٌ سِلْعَتَهُ فَحَلَفَ بِاللهِ لَقَدْ أُعْطِيَ بِهَا مَا لَمْ يُعْطَهَا
Sahih al-Bukhari 2675 — "Seorang pria memamerkan barang dagangannya di pasar dan bersumpah palsu bahwa ia telah ditawari sekian untuk barangnya, padahal ia tidak ditawari jumlah tersebut."
Hadits ini lalu menyebutkan ayat yang turun setelahnya — bahwa orang yang membeli dengan janji Allah dan sumpah mereka dengan harga sedikit, mereka tidak akan mendapat bagian di akhirat, Allah tidak akan berbicara kepada mereka, tidak akan melihat kepada mereka. Empat belas abad lalu Allah memberi peringatan ini untuk konteks penjualan di pasar dengan sumpah palsu. Hari ini, jamaah, kita melihat manifestasi yang lebih halus tetapi efeknya sama — penipuan online yang memalsukan identitas, deepfake voice yang menyamar sebagai keluarga untuk minta transfer, foto yang dimanipulasi untuk menjebak korban. Semua adalah bentuk modern dari "sumpah palsu untuk mengambil harta orang dengan cara batil".
Jamaah yang saya hormati, mari kita renungkan tiga langkah konkret malam ini. Pertama, sebelum tidur, periksa jejak digital kita. Foto-foto pribadi yang sudah di-publik, video keluarga yang ter-upload, informasi pribadi yang tersebar — adalah amanah yang sekarang ada di tangan publik. Tarik yang tidak benar-benar perlu tampil. Kedua, latih kebiasaan verifikasi sebelum transaksi besar. Kalau ada chat dari keluarga minta transfer mendadak, telepon dulu. Penipuan voice AI sekarang sangat canggih — yang terdengar seperti suara saudara mungkin bukan suara saudara. Verifikasi langsung adalah perlindungan kita. Ketiga, dalam sembilan hari ke depan kita memasuki Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1448. Jadikan momentum muhasabah itu untuk satu janji konkret: hentikan satu kebiasaan digital yang merusak. Tidak perlu besar — cukup satu janji yang konkret dan bisa diukur.
Karena akhirnya, jamaah, hidup kita tidak diukur dari berapa platform yang kita kuasai, tetapi dari berapa amanah yang kita jaga di setiap platform yang kita pakai. Allah tidak menghisab kita berdasarkan jumlah followers — Allah menghisab berdasarkan konsistensi hati kita di hadapan-Nya, baik ketika ada yang melihat maupun ketika tidak ada yang melihat.
Marilah kita berdoa bersama:
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ، وَاحْفَظْ أَعْيُنَنَا وَأَلْسِنَتَنَا وَأَيْدِيْنَا مِنَ الْحَرَامِ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْنَا مِنْ شُرُوْرِ مَا خَلَقْتَ مِنَ الْآلَاتِ، وَوَفِّقْنَا لِاسْتِخْدَامِهَا فِيْ مَا يَنْفَعُ.
اَللّٰهُمَّ بَلِّغْنَا الْعَامَ الْهِجْرِيَّ الْجَدِيْدَ، وَاجْعَلْنَا فِيْهِ خَيْرًا مِنَّا فِي عَامِنَا الْمَاضِيْ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
