Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatToleransi & Lintas-ImanAhad, 7 Juni 2026

Khutbah Jumat — "Adil dan Ihsan: Dua Sayap Kewarganegaraan Muslim"

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ، وَأَقَامَ الْعَدْلَ مِيزَانًا لَا يَخْتَلُّ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي بُعِثَ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

Hadirin jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Marilah di awal khutbah ini kita perbarui ketakwaan kita kepada Allah ﷻ — takwa yang menjaga setiap gerak hati, setiap ucapan lisan, dan setiap kerja tangan kita. Takwa bukan hanya di ruang shalat dan di waktu puasa; takwa adalah teman setia kita di meja kantor, di pasar, di ruang rapat, di forum digital. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an:

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl: 90)

Hadirin yang dirahmati Allah,

Ayat yang baru saja dibacakan ini, dalam tradisi para ulama tafsir, sering disebut sebagai jami'atan li khairil khilqi wa nahyu 'an syarrihi — ayat yang menghimpun seluruh ajakan kepada kebaikan dan larangan dari keburukan. Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, sahabat agung yang paling dalam pemahamannya tentang Al-Qur'an, pernah berkata: "Sesungguhnya ayat yang paling menghimpun di dalam Al-Qur'an adalah ayat innallaha ya'muru bil-adli wal-ihsan."

Mari kita pahami tiga perintah yang Allah sebutkan secara berurutan: al-adl (keadilan), al-ihsan (berbuat kebajikan dengan sebaik-baiknya), dan ita'i dzil qurba (memberi kepada kaum kerabat). Tiga perintah ini tidak acak. Mereka adalah lingkaran konsentris — dari kewajiban dasar (keadilan terhadap semua) ke kewajiban yang lebih tinggi (kebaikan yang melampaui yang wajib) hingga ke kewajiban yang paling intim (perhatian khusus kepada kerabat).

Pertama: al-adl. Para ulama mendefinisikan adil sebagai wad'u kulli syai'in fi mahallihi — menempatkan sesuatu pada tempatnya yang semestinya. Adil bukan sama-rata; adil adalah sesuai-hak. Memberi gaji setara kepada pekerja yang kontribusinya berbeda bukan adil. Memberi gaji yang sesuai dengan kontribusi, itulah adil. Adil bukan barang abstrak — ia hidup di setiap transaksi: di laporan keuangan yang jujur, di review kerja yang tidak berat sebelah, di pertimbangan promosi yang tidak berdasarkan kedekatan personal, di putusan keluarga yang tidak memenangkan satu anak dan mengabaikan yang lain.

Kedua: al-ihsan. Jika adil adalah memenuhi hak, ihsan adalah memberi melebihi hak. Adil adalah membayar upah sesuai kontrak; ihsan adalah memberi bonus karena pekerja itu pantas. Adil adalah memenuhi janji; ihsan adalah memenuhi janji dengan cara yang melampaui ekspektasi. Adil adalah hak; ihsan adalah anugerah. Hadits Nabi ﷺ yang masyhur tentang ihsan dalam ibadah — "engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu" — punya korelasi yang erat dengan ihsan dalam muamalah. Ihsan dalam berbisnis adalah berbisnis seakan-akan Allah sedang mengamati setiap rincian transaksi kita.

Ketiga: ita'i dzil qurba. Perhatian khusus kepada kaum kerabat — orang tua, saudara, anak, kerabat dekat. Mengapa Allah secara khusus menyebut ini setelah adil dan ihsan? Karena keadilan publik tidak boleh datang dengan mengorbankan kewajiban privat. Banyak orang yang sangat adil di kantor tetapi mengabaikan orang tuanya di rumah. Banyak yang dermawan di forum publik tetapi tidak peduli pada saudara kandungnya yang sedang kesulitan. Allah mengingatkan: keadilan yang sempurna mencakup ranah privat juga.

Lalu Allah menutup ayat dengan tiga larangan: al-fahsya (keji), al-munkar (kemungkaran), dan al-baghy (permusuhan/melampaui batas). Tiga larangan ini juga lingkaran konsentris — dari perbuatan yang merusak diri sendiri (keji) ke yang merusak masyarakat (kemungkaran) hingga yang merusak hubungan antar-manusia (permusuhan).

Hadirin sekalian, ayat ini sangat relevan untuk pekan kita. Tanggal 1 Juni baru saja melewati kita — Hari Lahir Pancasila. Banyak suara dari berbagai sudut sedang merenungkan apa artinya menjadi Muslim Indonesia di tahun 2026. Saya ingin menyampaikan satu pandangan yang sederhana: menjadi Muslim Indonesia yang baik adalah menjadi pelaku QS. An-Nahl ayat 90 di setiap ranah kewarganegaraan kita.

Sila kedua Pancasila — "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab" — adalah pengejawantahan struktural dari perintah adl dan ihsan. Sila kelima — "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia" — adalah ekspansi politik dari perintah yang sama. Tidak ada kontradiksi antara aqidah Islam tentang keadilan dan cita-cita Pancasila tentang keadilan. Yang ada adalah peluang untuk seorang Muslim Indonesia mengisi cita-cita ini dengan kedalaman teologis yang bersumber dari wahyu.

Tetapi pekan ini juga ada sindiran yang menusuk hati. Akun di media sosial mengembuskan satir: "Gimana rasanya ya itu? Pulang haji, langsung jadi tersangka korupsi?" Pertanyaan ini, meskipun terasa pahit, sebenarnya adalah cermin yang Allah hadirkan kepada kita. Pertanyaannya bukan tentang individu yang dimaksud — pertanyaannya adalah tentang kita semua: bagaimana mungkin ritual ibadah yang demikian agung tidak menggetarkan integritas struktural pelakunya?

Jawabannya, hadirin, ada di sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan Imam al-Bukhari: al-muhajiru man hajara ma naha Allahu 'anhu — "muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah." Hijrah sejati bukan perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain. Hijrah sejati adalah meninggalkan perilaku yang dilarang Allah. Seseorang yang baru pulang dari Tanah Suci, kalau pulang lalu kembali ke pola yang dilarang Allah, sebenarnya belum berhijrah dalam pengertian Nabawi.

Inilah pelajaran berat yang harus kita bawa pulang: ritual ibadah, sebesar apa pun, tidak otomatis menjadi hijrah etis. Hijrah etis adalah pilihan harian yang dibuat di meja kerja, di ruang rapat, di transaksi pasar, di forum digital. Ritual ibadah memberi kapasitas untuk hijrah etis — kapasitas yang harus diaktifkan oleh pilihan-pilihan konkret. Kalau tidak diaktifkan, kapasitas itu menjadi beban pertanggungan jawaban yang lebih berat.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Pada khutbah kedua ini, izinkan kita memperdalam pesan tadi dengan satu hadits yang menggetarkan hati. Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ، وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ، الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا

"Sesungguhnya orang-orang yang adil akan duduk di atas mimbar-mimbar cahaya di sisi Allah, di sebelah kanan Ar-Rahman, Yang Maha Suci dan Maha Agung. Kedua sisi-Nya adalah kanan, keduanya sama-sama utama. (Orang-orang yang adil adalah) mereka yang berlaku adil dalam hukum mereka, dalam urusan keluarga mereka, dan dalam segala sesuatu yang mereka lakukan." (HR. Muslim, no. 4721)

Renungkan tiga ranah yang Nabi ﷺ sebutkan: dalam hukum (fi hukmihim), dalam keluarga (wa ahlihim), dan dalam segala sesuatu yang mereka pegang amanahnya (wa ma walu). Tiga ranah ini mencakup hampir seluruh dimensi hidup seorang manusia.

Fi hukmihim — dalam hukum. Ini bukan hanya hakim di pengadilan. Setiap orang yang punya wewenang membuat keputusan yang mengikat orang lain adalah "hakim" dalam pengertian luas ini. Atasan yang menilai bawahan adalah hakim. Guru yang memberi nilai adalah hakim. Editor yang memilih artikel adalah hakim. Reviewer yang memutuskan promosi adalah hakim. Manajer HR yang menentukan pemecatan adalah hakim. Setiap kali kita membuat keputusan tentang nasib orang lain, kita diuji dalam standar yang Allah tetapkan: apakah kita adil?

Wa ahlihim — dalam keluarga. Ini sering yang paling sulit. Keluarga adalah ruang di mana emosi paling kuat, kepentingan paling personal, dan pengamatan publik paling minim. Banyak orang yang sangat adil di kantor tetapi pilih kasih kepada anak-anaknya. Banyak yang sangat profesional di forum publik tetapi mendiamkan ketidakadilan dalam pernikahannya. Adil dalam keluarga — antara anak, antara istri (bagi yang berpoligami), antara saudara, antara orang tua dan mertua — adalah ujian yang nyata bagi karakter sejati seseorang.

Wa ma walu — dalam segala sesuatu yang dipegang amanahnya. Ini lingkup yang paling luas: pekerjaan, properti, kepercayaan publik, jabatan, modal usaha, harta warisan, akun media sosial yang dipercayakan untuk satu lembaga, password yang diberikan rekan kerja. Setiap amanah, sekecil apa pun, membawa kewajiban keadilan.

Hadirin sekalian, ganjarannya luar biasa: manabir min nur 'an yamini ar-Rahman — mimbar-mimbar dari cahaya di sebelah kanan Ar-Rahman. Posisi yang Allah berikan kepada orang adil di Hari Kiamat adalah posisi yang dimuliakan secara luar biasa — di sebelah kanan Tuhan Yang Maha Pengasih. Dan Nabi ﷺ menambahkan keterangan yang indah: wa kilta yadayhi yamin — dan kedua sisi-Nya adalah sebelah kanan, keduanya sama-sama utama. Ini koreksi penting dari konsep manusiawi tentang sisi kanan dan kiri sebagai hierarki; di sisi Allah, kedua sisi adalah mulia.

Marilah kita pekan ini meninjau ulang ketiga ranah ini dalam diri kita sendiri. Apakah kita adil dalam keputusan yang kita buat tentang orang lain? Apakah kita adil dalam keluarga kita — di antara pasangan, anak, orang tua? Apakah kita adil dalam amanah-amanah kecil yang dipercayakan kepada kita — di kantor, di lingkungan, di komunitas?

Saudaraku jemaah Jumat,

Ada satu pesan akhir yang perlu kita bawa pulang. Sembilan hari lagi, dengan izin Allah, kita akan masuk ke 1 Muharram 1448 H — Tahun Baru Hijriah. Tidak ada ibadah khusus yang muakkad untuk tanggal itu, dan banyak doa "awal tahun" yang beredar di Indonesia tidak punya sanad shahih yang kuat. Yang sah dan disepakati adalah praktik muhasabah — menghitung diri — dan istighfar yang sungguh-sungguh.

Mari kita pakai tujuh hari ke depan untuk muhasabah integritas. Tanya pada diri sendiri setiap malam: di hari ini, apakah aku adil dalam transaksi-transaksi kecil yang kulakukan? Apakah aku menepati janji-janji kecil yang aku ucapkan? Apakah aku jujur dalam komunikasi profesional dan personal? Tutup setiap malam dengan istighfar minimal 33 kali, dan baca ayat berikut sebagai jangkar batin:

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًۭا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ إِنَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ

"Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat." (QS. Hud: 114)

Ayat ini punya janji yang sangat melegakan: innal hasanati yudzhibna as-sayyiat — perbuatan-perbuatan baik akan menghapus perbuatan-perbuatan buruk. Ini bukan lisensi untuk melakukan kesalahan dengan rencana menghapusnya nanti; ini janji rahmat bahwa pintu kembali kepada Allah selalu terbuka, dan setiap shalat, setiap istighfar, setiap amal kebaikan adalah pembersih bagi noda-noda dosa kita.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُقْسِطِينَ فِي حُكْمِنَا وَأَهْلِنَا وَمَا وَلَّيْتَنَا. اللَّهُمَّ اسْتُرْ عُيُوبَنَا، وَآمِنْ رَوْعَاتِنَا، وَاقْضِ دُيُونَنَا. اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا رَأْسَ السَّنَةِ الْجَدِيدَةِ، وَاجْعَلْهَا سَنَةَ خَيْرٍ وَبَرَكَةٍ لَنَا وَلِلْأُمَّةِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan