بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي بِيَدِهِ الْمِيزَانُ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَقَامَ الْعَدْلَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مَنْ بُعِثَ بِالْعَدْلِ، أَمَّا بَعْدُ.
Ayah, ibu, saudara-saudaraku sekalian,
Mari kita mulai kultum yang singkat ini dengan satu sindiran yang pekan ini sempat viral di media sosial. Seseorang menulis: "Gimana rasanya ya itu? Pulang haji, langsung jadi tersangka korupsi?" Sebuah pertanyaan satir yang sangat menusuk hati — bukan karena ia menyerang individu, tetapi karena ia menyentuh inti dari pertanyaan teologis yang seharusnya kita renungi: apa arti ibadah kita kalau ia tidak mengubah perilaku kita?
Mari kita pinjam waktu beberapa menit untuk merenungi sabda Nabi ﷺ yang sangat singkat tetapi sangat dalam. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
"Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari lidah dan tangannya. Dan seorang muhajir (yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah." (HR. al-Bukhari)
Renungkan baik-baik definisi yang Nabi ﷺ berikan untuk dua identitas yang paling fundamental: Muslim dan muhajir.
Identitas pertama, Muslim, didefinisikan dengan dampak yang dirasakan oleh orang lain — kaum Muslimin lainnya selamat dari lidah dan tangannya. Bukan dengan ritual yang dikerjakan, bukan dengan jumlah hafalan, bukan dengan gelar di kartu nama, bukan dengan jumlah pengikut media sosial. Tetapi dengan satu pertanyaan sederhana: apakah saudara-saudaraku merasa aman dari mulutku dan tanganku? Apakah aku menyakiti mereka dengan ucapan? Apakah aku merugikan mereka dengan perbuatan?
Identitas kedua, muhajir, didefinisikan dengan tindakan yang ditinggalkan — meninggalkan apa yang dilarang Allah. Bukan dengan perjalanan ke Tanah Suci, bukan dengan ritus tertentu, bukan dengan pakaian khusus. Tetapi dengan satu pertanyaan: apakah hari ini aku meninggalkan apa yang Allah larang? Riba kecil yang sering aku abaikan? Gibah yang sering aku biarkan dalam grup WhatsApp? Janji yang sering aku ingkari karena alasan praktis? Suap kecil yang aku terima sebagai "uang terima kasih"?
Saudara-saudaraku, di sinilah letak pelajaran besar dari sindiran "pulang haji jadi tersangka". Bukan bahwa hajinya tidak sah — soal sah atau tidaknya ibadah secara fiqh, itu urusan ulama yang ahli. Tetapi soal apakah hajinya menghasilkan hijrah dalam arti Nabawi — itu pertanyaan yang harus kita jawab semua, bukan hanya pejabat yang disindir.
Saya ingin bertanya kepada diri saya sendiri, dan saya ajak kita bertanya bersama-sama: dalam tujuh hari terakhir ini, apa yang sudah kita "hijrahkan"? Apakah kita meninggalkan kebiasaan menunda shalat? Apakah kita meninggalkan kebiasaan berbohong kecil di pekerjaan? Apakah kita meninggalkan kebiasaan menyebar berita yang belum kita verifikasi? Apakah kita meninggalkan kebiasaan menghakimi orang lain di feed media sosial tanpa mendengar sisi mereka?
Hijrah sejati tidak menunggu kesempatan ke Mekah. Hijrah sejati menanti kita di pagi besok — di meja sarapan, di lampu lalu lintas, di pertemuan kantor, di chat WhatsApp pertama yang kita kirim hari ini. Setiap kali kita meninggalkan satu kebiasaan buruk, kita sedang berhijrah. Setiap kali kita memilih untuk bersabar di tengah godaan untuk marah, kita sedang berhijrah. Setiap kali kita menahan tangan dari yang haram dan lisan dari yang dilarang, kita sedang berhijrah.
Ada satu kisah dari Sahabat yang patut kita renungi. Seseorang bertanya kepada Nabi ﷺ: "Wahai Rasulullah, apa Islam itu?" Nabi menjawab dengan kalimat yang sederhana: bahwa engkau memberi makan (kepada yang lapar) dan mengucapkan salam (kepada yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal)." (HR. Bukhari)
Islam, dalam jawaban Nabi yang ringkas ini, adalah perilaku konkret terhadap orang lain. Memberi makan kepada yang lapar — tindakan nyata kepedulian sosial. Mengucapkan salam kepada semua — tindakan nyata merangkul dan menghormati. Bukan klaim teologis yang abstrak, bukan ritual yang dilakukan sendirian. Tetapi sentuhan yang mengubah hari orang lain.
Saudara-saudaraku, di tengah pekan kita yang penuh dengan kabar tentang kontroversi sosial, sindiran politik, dan polemik agama, mari kita kembalikan dakwah ke akarnya yang sederhana: dakwah adalah cara kita memperlakukan orang di hadapan kita. Atasan yang adil. Bawahan yang amanah. Tetangga yang hangat. Saudara seiman yang menjaga kehormatan saudaranya. Saudara berbeda iman yang dihormati hak-haknya sebagai manusia.
Ada satu hadits qudsi yang patut kita renungi bersama-sama, yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah ﷻ berfirman dalam hadits qudsi:
يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا
"Wahai hamba-Ku, Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan menjadikannya haram di antara hamba-hamba-Ku, maka janganlah mereka saling menzalimi." (HR. Muslim, no. 6572)
Renungkan kalimat pertama: inni harramtu az-zulma 'ala nafsi — "Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku." Ini deklarasi yang luar biasa dari Rabb semesta alam. Allah, Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu, secara sukarela memilih untuk mengharamkan kezaliman atas diri-Nya sendiri. Bukan karena ada yang memaksa — siapa yang akan memaksa Allah? — tetapi karena keadilan adalah salah satu sifat-Nya yang sempurna.
Lalu Allah lanjut: wa ja'altuhu baynakum muharraman fa la tazhalamu — "dan menjadikannya haram di antara hamba-hamba-Ku, maka janganlah mereka saling menzalimi." Implikasinya sederhana tetapi menggetarkan: jika Allah Yang Maha Agung saja mengharamkan kezaliman atas diri-Nya, bagaimana mungkin kita — makhluk yang fana, lemah, terbatas — membenarkan kezaliman terhadap saudara kita?
Saudaraku, hadits qudsi ini, kalau kita hafalkan dan kita baca di awal hari setiap pagi, akan menjadi jangkar batin yang sangat kuat. Setiap kali tergoda untuk berlaku tidak adil — di kantor, di keluarga, di transaksi, di media sosial — ingat: Allah sendiri mengharamkan kezaliman atas diri-Nya. Siapa kita untuk berani lebih bebas dari Tuhan?
Tetapi hadits ini juga membawa kabar gembira bagi yang sedang ditimpa kezaliman. Allah berjanji menjadikan kezaliman haram di antara hamba-hamba-Nya. Janji ini tidak akan dilanggar Allah. Setiap tetes kezaliman akan dihisab di hadapan-Nya. Tugas kita: bersabar atas kezaliman yang menimpa kita, sambil tidak menjadi pelaku kezaliman atas orang lain.
Mari kita tutup dengan satu doa yang sangat tematik untuk pekan ini. Doa Nabi ﷺ yang diriwayatkan Imam an-Nasa'i:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ
Allahumma inni as'aluka kalimata al-haqqi fi ar-rida wa al-ghadab. "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kemampuan untuk mengucapkan perkataan yang benar baik dalam keadaan ridha maupun dalam keadaan marah."
Doa yang sangat relevan untuk era media sosial seperti hari ini, ketika kemarahan sering membungkam pikiran jernih kita. Mari kita memohon dianugerahi kemampuan untuk tetap adil dalam ucapan, baik ketika kita senang maupun ketika kita marah.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
