اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهٰذَا، وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, di hadapan kita pekan ini terbentang sebuah pemandangan yang jarang muncul bersama dalam satu pekan. Saudara-saudara kita yang baru menyelesaikan haji 1447 Hijriah sedang menapaki kembali tanah air mereka, masih dengan bekas debu padang Arafah di pakaian dan ihram yang dilipat dengan hati-hati di dasar koper. Sementara itu, kalender hijriah kita sebagai umat sudah berdiri di ambang pergantian — lima hari lagi, langit yang sama akan menjadi langit awal Muharram 1448 Hijriah, sebuah tahun yang belum kita kenal isinya. Dua momentum, satu pekan.
Allah berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia, mengingatkan kita pada satu pertanyaan yang seolah-olah ditujukan langsung kepada hati setiap orang yang mengaku beriman.
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ، وَلَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ، وَكَثِيْرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُوْنَ.
QS. Al-Hadid ayat 16. Terjemahnya: "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah diturunkan kepada mereka, dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik."
Hadirin yang dimuliakan Allah, ayat ini bukan teguran kepada orang kafir. Ayat ini turun untuk orang-orang yang sudah menyebut diri mereka beriman. Allah seolah-olah bertanya kepada kita: setelah sekian banyak ibadah yang kalian tunaikan, setelah sekian banyak ayat yang kalian dengar, setelah sekian banyak pekan yang berlalu — apakah hati kalian masih bisa khusyuk? Atau jangan-jangan, masa yang panjang itu sudah membuat hati kalian mengeras, sehingga ibadah berjalan tetapi tanpa rasa.
Pertanyaan ini menjadi semakin tajam di pekan seperti pekan kita ini. Berita pekan ini menyampaikan bahwa rombongan demi rombongan jamaah haji sudah menyelesaikan Tawaf Wada', meninggalkan Tanah Suci dengan air mata yang sulit mereka tahan. Kita tahu cerita seperti ini, kita pernah mendengar dari paman, dari tetangga, dari pengurus kelompok bimbingan ibadah haji yang menemani mereka. Mereka pulang dengan satu janji yang diucapkan di antara tangis: hidup ini akan berubah setelah hari ini. Mereka berjanji akan lebih lembut kepada istri, lebih sabar kepada anak, lebih jujur dalam dagang, lebih hadir di shaf pertama setiap subuh.
Pertanyaan kita sebagai jamaah Jumat hari ini bukan tentang janji mereka — itu urusan mereka dengan Allah. Pertanyaan kita: berapa banyak dari kita yang pernah berdiri di tempat seperti itu, di sebuah puncak ibadah, lalu turun dan perlahan-lahan kembali ke kebiasaan lama? Berapa banyak dari kita yang pulang dari umrah lima tahun lalu dengan tekad kuat, tetapi hari ini sudah tidak ingat lagi rasa kekhusyukan yang dulu pernah kita rasakan di hadapan Ka'bah?
Di sisi lain, berita pekan ini juga menyampaikan bahwa kajian-kajian streaming dari para asatidz besar kita masih ramai ditonton. Puluhan ribu, ratusan ribu jiwa mendengarkan tafsir, mendengarkan adab, mendengarkan nasihat. Itu kabar baik. Tetapi mari kita jujur kepada diri sendiri — berapa banyak dari kita yang mendengar dan kemudian menutup aplikasi, lalu hidup kita tetap berjalan sama persis seperti sebelum kita mendengarkan kajian itu? Ilmu yang masuk telinga kanan, keluar telinga kiri, tanpa sempat singgah di hati.
Inilah pertanyaan inti khutbah hari ini, ma'asyiral muslimin. Hidayah, ibadah, dan iman — apakah ketiganya event sekali jadi, atau komitmen panjang yang harus kita jaga setiap hari dengan amal-amal sederhana yang konsisten? Allah sendiri yang menjawab pertanyaan ini lewat ayat lain yang mengguncang banyak hati.
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوْا أَنْ يَقُوْلُوْا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ، فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِيْنَ.
QS. Al-Ankabut ayat 2 sampai 3. Allah berfirman: "Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan berkata 'Kami beriman' tanpa diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka pasti Allah akan mengetahui orang-orang yang benar dan pasti akan mengetahui orang-orang yang dusta."
Ayat ini menjelaskan satu hukum yang berlaku atas seluruh manusia. Mengaku beriman itu mudah; lidah kita bisa mengucapkannya seribu kali dalam sehari. Tetapi Allah tidak menerima pengakuan tanpa pembuktian. Allah menguji setiap pengakuan dengan kehidupan yang panjang, dengan ujian-ujian yang datang silih berganti — kadang berupa nikmat, kadang berupa musibah, kadang berupa godaan kecil yang ujungnya menentukan ke mana hati kita berlabuh.
Ma'asyiral muslimin yang dirahmati Allah, mari kita berhenti sejenak pada satu kisah yang menjelaskan bagaimana hidayah itu bekerja. Kisah ini termaktub dalam Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, di bagian yang menceritakan masuk Islamnya Umar bin Khaṭṭāb radhiyallahu 'anhu. Di hari yang menjadi titik balik bagi sejarah umat ini, Umar — yang kala itu adalah salah satu pemuda Quraisy paling keras dan paling ditakuti — keluar dari rumahnya dengan pedang terhunus. Tujuannya satu: membunuh Muhammad ﷺ. Dia sudah muak dengan dakwah yang menurutnya memecah Mekah, dia sudah muak dengan cerita-cerita tentang sahabat-sahabatnya yang satu per satu mengikuti agama baru itu.
Di tengah jalan, seseorang berkata kepadanya: "Wahai Umar, mengapa engkau tidak mengurus dulu keluargamu sendiri? Adikmu Fatimah dan iparmu Said bin Zaid telah memeluk Islam." Mendengar itu, Umar mengubah arah. Pedangnya yang tadi diarahkan ke Nabi ﷺ kini ia bawa ke rumah adiknya sendiri. Dia mengetuk pintu dengan kemarahan, dan dari dalam terdengar suara seseorang yang sedang membacakan ayat Al-Quran. Ketika pintu dibuka, Umar mendengar samar-samar lantunan itu, dan dia bertanya dengan suara yang penuh ancaman: "Apa yang tadi kalian baca?"
Ada perdebatan kecil. Umar memukul iparnya. Adiknya, Fatimah, melindungi suaminya dan terluka di wajahnya. Darah menetes. Pada saat itulah sesuatu yang aneh terjadi di hati Umar yang keras. Melihat darah adiknya, melihat keteguhan adiknya yang lebih memilih luka daripada melepas iman barunya — hati Umar bergetar. Dia berkata, agak melembut: "Tunjukkan kepadaku apa yang kalian baca." Adiknya menjawab bahwa Umar harus mandi terlebih dahulu, karena yang akan ia pegang adalah lembaran Quran. Imam As-Suhaili dalam Ar-Raudh Al-Unuf, sebagaimana dirujuk Ibnu Hisyam, mencatat dalil yang menyertai perintah ini dari Surah Al-Waqi'ah ayat 79.
لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُوْنَ.
"Tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan." Lembaran yang kemudian dibacakan kepada Umar adalah awal Surah Ta-Ha. Dan ayat-ayat itu — yang turun perlahan, tidak diteriakkan, tidak diperdebatkan dengan kasar, hanya dibaca dengan tartil oleh Khabbab bin al-Arat — meleburkan hati Umar yang sebelum hari itu adalah salah satu hati paling keras di Mekah. Umar berkata satu kalimat yang akan dicatat sejarah: "Antarkan aku kepada Muhammad."
Apa pelajaran kita dari kisah ini, hadirin yang dirahmati Allah? Pertama, hidayah itu Allah yang memberi, tetapi Allah memberinya lewat pintu-pintu yang sederhana — lewat ayat yang dibaca perlahan, lewat keteguhan seorang adik yang lebih memilih luka daripada mengkhianati keyakinannya, lewat pintu yang terbuka di waktu yang tepat. Hidayah Umar tidak datang lewat khutbah panjang, tidak lewat debat terbuka di pasar, tidak lewat kontroversi yang viral. Hidayah datang lewat ayat yang berdiri sendiri, jujur, dan dibaca dengan tartil.
Kedua, hidayah Umar tidak selesai di hari itu. Banyak orang membayangkan kisah Islam Umar berakhir di pintu adiknya. Sebenarnya tidak. Pada hari itu Umar baru memulai. Setelah hari itu, dia masih harus menempuh perjalanan panjang — dari pemuda yang dahulu mau membunuh Nabi ﷺ menjadi khalifah kedua yang mengelola wilayah dari Mesir sampai Khurasan dengan keadilan yang masih diingat sampai hari ini. Hidayah hari itu adalah pintu masuk. Apa yang menjadikan Umar adalah Umar yang kita kenal — itu komitmen panjang selama bertahun-tahun setelahnya, yang dia jaga dengan dzikir, dengan shalat malam, dengan menangis di tengah patroli karena melihat seorang ibu memasak batu untuk anaknya.
Inilah pola yang Allah ajarkan kepada kita, ma'asyiral muslimin. Tidak ada satu momen hidayah yang menyelesaikan urusan kita dengan Allah selamanya. Haji yang baru selesai kemarin tidak menyelesaikan urusan kita; itu pintu masuk. Tahun baru hijriah yang akan kita masuki lima hari lagi tidak akan menyelesaikan urusan kita; itu juga pintu masuk. Kajian streaming yang kita dengar tadi malam tidak menyelesaikan urusan kita; itu pintu masuk. Setiap pintu masuk membutuhkan komitmen panjang setelahnya, yang harus kita jaga setiap hari dengan amal-amal kecil yang sederhana.
Lalu apa amal-amal kecil itu? Rasulullah ﷺ memberi kita peta dalam sebuah hadits yang sangat masyhur, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Sahihnya nomor 8, kita kenal sebagai Hadits Jibril. Ketika Malaikat Jibril 'alaihis salam datang dalam rupa seorang laki-laki yang pakaiannya sangat putih dan rambutnya sangat hitam, dia bertanya kepada Nabi ﷺ tentang Islam, Iman, dan Ihsan. Nabi ﷺ menjelaskan Islam dengan lima rukun, menjelaskan Iman dengan enam rukun, lalu menjelaskan Ihsan dengan satu kalimat yang dalam.
أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.
"Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu."
Hadits ini, ma'asyiral muslimin, adalah peta dari iman yang dijaga. Iman bukan klaim sekali yang kita ucapkan saat ijab kabul atau saat masuk Islam. Iman adalah praktik yang dijaga dari pagi sampai malam, dengan kesadaran terus-menerus bahwa Allah sedang melihat. Saat kita di kantor dan ada peluang untuk menggelapkan sedikit angka — Allah melihat. Saat kita di jalan dan ingin mengeluarkan kemarahan kepada pengendara lain — Allah melihat. Saat kita di rumah dan istri kita berbuat kesalahan kecil — Allah melihat. Saat kita di pasar dan ingin mengurangi takaran sedikit saja — Allah melihat.
Inilah yang menjadikan ibadah bukan event sekali jadi. Karena Ihsan menyertai kita di tempat-tempat di mana tidak ada satu pun manusia yang menyaksikan kita. Haji yang mabrur dibedakan dari haji yang tidak mabrur bukan oleh apa yang terjadi di Mekah selama 40 hari itu, melainkan oleh apa yang terjadi setelah jamaah pulang dan tidak ada lagi yang melihat. Apakah dia tetap shalat tepat waktu di tahun keempat setelah haji? Apakah dia tetap tidak berbohong dalam dagang ketika sudah tidak ada yang tahu dia baru pulang dari Tanah Suci?
Saudara-saudara, di pekan ini kita berdiri di antara dua momentum besar. Pertama, kepulangan jamaah haji yang membawa janji-janji perubahan. Kedua, ambang pintu tahun baru hijriah yang mengundang kita untuk muhasabah. Allah memberi kita kerangka tentang muhasabah ini dalam ayat yang sangat tegas.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ، وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ، وَاتَّقُوا اللهَ، إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ.
QS. Al-Hashr ayat 18. Allah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah ia perbuat untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan."
Ayat ini, ma'asyiral muslimin, memberikan kita tiga lapisan instruksi yang harus kita perhatikan baik-baik. Pertama, perintah takwa. Kedua, perintah muhasabah — setiap jiwa harus memperhatikan apa yang sudah ia siapkan untuk hari esok. Ketiga, pengulangan perintah takwa, seolah Allah ingin menekankan bahwa muhasabah tanpa takwa tidak akan ada gunanya, dan takwa tanpa muhasabah akan kering kehilangan arah.
Lima hari lagi kita memasuki 1 Muharram 1448 Hijriah. Para ulama kita, dari generasi sahabat hingga generasi salaf, menjadikan momen pergantian tahun sebagai momentum muhasabah — bukan momentum euforia, bukan momentum pesta. Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berkata, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Tirmidzi: "Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum amal kalian ditimbang." Para sahabat memahami bahwa waktu adalah modal yang tidak bisa dikembalikan, dan setiap tahun yang berlalu adalah satu tahun yang sudah tidak akan pernah kita dapatkan kembali untuk diperbaiki.
Maka pertanyaan muhasabah kita pekan ini, sebelum masuk Muharram, kurang lebih demikian: Selama 1447 Hijriah, shalat apa yang paling sering kita tunda? Hutang apa yang masih belum kita selesaikan? Janji apa yang masih kita tunda? Tetangga mana yang sudah berbulan-bulan tidak kita kunjungi karena ada perselisihan kecil yang seharusnya sudah lama berlalu? Hak siapa yang masih ada di pundak kita dan kita belum sempat tunaikan? Inilah pekerjaan sebelum tahun baru, ma'asyiral muslimin. Bukan pesta. Muhasabah.
Hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan saya menyampaikan beberapa langkah praktis yang bisa kita mulai dari pekan ini juga, sebagai bekal masuk tahun baru hijriah dan sebagai cara kita menjaga komitmen panjang yang sedang kita bicarakan.
Pertama, jadwalkan dzikir pagi dan petang yang konsisten. Bukan satu jam sekali sebulan, melainkan lima sampai sepuluh menit setiap hari, di waktu yang sama. Para ulama menyebut dzikir pagi-petang ini sebagai benteng — benteng yang menjaga hati dari kekerasan yang dikhawatirkan dalam ayat Al-Hadid yang kita buka tadi. Mulailah dengan yang paling sederhana: Ayat Kursi setelah Subuh, lalu tasbih, tahmid, takbir masing-masing 33 kali. Lakukan setiap hari selama 30 hari pertama Muharram. Lihat apa yang berubah di hati kita.
Kedua, buka mushaf lima menit setiap hari sebelum membuka HP di pagi hari. Bukan sebagai tantangan media sosial, bukan untuk dipamerkan, hanya sebagai cara kita mengembalikan prioritas. Ayat-ayat yang masuk ke hati sebelum berita masuk ke mata akan mengubah cara kita memproses seluruh hari itu. Kalau lima menit terasa terlalu sedikit, cukup satu halaman. Kalau satu halaman terasa berat, cukup tiga ayat dengan terjemahan. Yang penting konsisten, setiap hari.
Ketiga, gunakan lima hari menuju tahun baru hijriah ini untuk merapikan utang dan janji yang masih tertunda. Kalau ada teman yang kita pinjam uangnya tiga bulan lalu dan kita tunda terus mengembalikannya, kembalikan pekan ini. Kalau ada janji untuk menjenguk paman yang sakit dan kita tunda dua bulan, kunjungi pekan ini. Kalau ada perselisihan dengan saudara kandung yang sudah memasuki tahun kedua, datangi rumahnya, ulurkan tangan, mulai dari awal. Tahun baru hijriah dimulai dengan punggung yang tidak memikul beban hak orang lain — itulah haji yang sebenarnya, itulah hijrah yang sebenarnya.
Keempat, jamaah Jumat, sambutlah saudara-saudara kita yang baru pulang dari haji 1447 Hijriah dengan kunjungan, bukan dengan harapan oleh-oleh. Kunjungi mereka di rumahnya, minta nasihat. Tanyakan kepada mereka: "Apa pelajaran paling berkesan yang Bapak/Ibu dapatkan di Tanah Suci pekan-pekan kemarin?" Lalu duduk dan dengarkan. Hidayah, sebagaimana kisah Umar mengajarkan kita, sering datang lewat pintu-pintu sederhana — kalimat tartil dari seorang sahabat, cerita dari seorang yang baru pulang, ayat yang dibaca perlahan di waktu yang tidak kita perkirakan.
Kelima, ma'asyiral muslimin, setiap dari kita pilih satu kebiasaan buruk yang ingin kita tinggalkan sebelum 1 Muharram. Satu saja, jangan lebih. Mungkin itu kebiasaan menggunjing di grup WhatsApp keluarga. Mungkin itu kebiasaan menunda shalat Maghrib karena pekerjaan. Mungkin itu kebiasaan berbohong kecil dalam dagang yang kita anggap remeh. Tulis kebiasaan itu, lipat kertasnya, simpan di dompet. Setiap kali kita tergoda untuk melakukannya lagi, buka kertas itu, dan ingat: lima hari lagi tahun baru, dan kita sudah berjanji kepada diri sendiri di hadapan Allah.
Keenam dan terakhir di sisi praktis ini, jangan biarkan momentum ini berlalu tanpa kita ceritakan kepada anak-anak kita. Duduklah dengan mereka pekan ini — di meja makan, di mobil, sebelum tidur — dan ceritakan kepada mereka kisah masuk Islamnya Umar bin Khaṭṭāb. Ceritakan tentang ayat Surah Ta-Ha yang melembutkan hati keras. Ceritakan tentang seorang adik yang lebih memilih luka di wajahnya daripada mengkhianati iman barunya. Anak-anak kita perlu mendengar kisah-kisah ini dari kita, bukan dari layar yang kita tidak tahu sedang mengajarkan apa kepada mereka.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, mari kita kembali sejenak ke pertanyaan pembuka yang Allah lemparkan di awal khutbah ini. Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk menundukkan hatinya kepada peringatan Allah? Pertanyaan itu, ma'asyiral muslimin, bukan pertanyaan retoris. Itu pertanyaan yang harus kita jawab dengan amal nyata pekan ini juga, bukan pekan depan, bukan setelah lebaran berikutnya, bukan setelah anak kita lulus kuliah.
Karena salah satu kebiasaan paling halus yang merusak iman kita adalah kebiasaan menunda. Kita berkata kepada diri sendiri: "Nanti kalau sudah lebih senggang, saya akan mulai rutin shalat malam." Kita berkata: "Nanti kalau bisnis sudah lebih lancar, saya akan mulai sedekah rutin." Kita berkata: "Nanti kalau anak-anak sudah lebih besar, saya akan mulai mengaji setiap pagi." Tetapi nanti yang kita janjikan itu tidak pernah datang. Hari ini akan menjadi besok, besok akan menjadi lusa, lusa akan menjadi minggu depan, dan tanpa kita sadari, kita sedang membangun kebiasaan menunda yang lama-kelamaan mengeraskan hati kita persis seperti yang Allah peringatkan dalam Al-Hadid ayat 16 tadi.
Umar bin Khaṭṭāb tidak menunda. Ketika hatinya tergetar mendengar Surah Ta-Ha, dia tidak berkata: "Saya akan pikirkan ini dulu, mungkin tahun depan saya akan masuk Islam." Dia berkata, dengan pedang yang baru saja dia letakkan: "Antarkan aku kepada Muhammad — sekarang." Itulah yang membuat Umar adalah Umar.
Hadirin, marilah kita tutup khutbah pertama ini dengan satu permintaan kepada diri sendiri. Setelah kita keluar dari masjid hari ini, jangan biarkan apa yang kita dengar di mimbar ini menguap bersama angin sore. Tulis di kertas kecil, simpan di dompet: satu hal yang akan saya mulai dari pekan ini, dan satu hal yang akan saya tinggalkan sebelum Muharram. Itu langkah pertama. Sisanya — Allah yang akan menolong.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الْقَائِلِ فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, izinkan khateeb mengulangi inti khutbah pertama tadi dari satu sudut yang lebih dalam. Hidayah Umar yang kita ceritakan, kepulangan jamaah haji yang sedang berlangsung di sekitar kita, dan ambang Muharram yang sebentar lagi kita masuki — ketiganya menyimpan satu pesan yang sama. Pesan itu adalah: titik balik bukan tujuan akhir. Titik balik adalah jembatan ke perjalanan yang panjang. Kalau setelah titik balik kita berdiri diam, kita tidak akan sampai ke mana-mana.
Banyak dari kita salah memahami konsep hijrah. Kita mengira hijrah adalah satu hari di mana kita mengubah segalanya — kita melepas pakaian lama, kita memutus teman lama, kita mengubah profil media sosial kita, dan setelah itu selesai. Tetapi hijrah yang diajarkan Nabi ﷺ bukan begitu. Rasulullah ﷺ bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma: "Seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang." Bukan orang yang berpindah satu kali, lalu duduk. Tetapi orang yang setiap hari, setiap pekan, setiap tahun, terus meninggalkan apa yang dilarang Allah.
Inilah hijrah yang akan kita bawa masuk ke Muharram 1448. Bukan hijrah profil media sosial. Hijrah kebiasaan. Setiap kali kita berhasil meninggalkan satu kebiasaan yang Allah larang — satu gunjingan yang seharusnya kita tahan, satu bohong kecil yang seharusnya kita ganti dengan kejujuran, satu shalat yang seharusnya kita kerjakan di awal waktu — kita sedang berhijrah. Hijrah adalah verb, kata kerja yang terus berjalan, bukan noun yang berhenti di satu tanggal.
Pesan yang sama berlaku untuk para jamaah haji yang baru pulang pekan ini. Mabrurnya haji mereka — sebagaimana yang diingatkan para ulama dari masa ke masa — bukan ditentukan di Mina, bukan di Muzdalifah, bukan di Arafah. Mabrurnya haji ditentukan di rumah, dua tahun setelah pulang, ketika tidak ada lagi ucapan selamat dari tetangga, tidak ada lagi undangan syukuran, dan haji itu hanya menjadi sebuah peristiwa yang dia ingat sendiri di hatinya. Apakah di tahun kedua itu dia masih shalat Subuh berjamaah di masjid? Apakah dia masih jujur dalam dagang? Apakah dia masih lembut kepada istrinya seperti yang dia janjikan saat menangis di Arafah? Itulah ukuran kemabruran. Tidak di Mekah. Di rumah.
Saudaraku yang dirahmati Allah, satu hal lagi yang ingin saya angkat sebelum kita berdoa bersama. Banyak dari kita merasa bahwa amal-amal yang kecil itu tidak akan berarti apa-apa di hadapan Allah. Kita berkata: "Apa gunanya saya dzikir lima menit kalau saya tidak shalat tahajud? Apa gunanya saya tinggalkan satu gunjingan kalau saya masih punya banyak kekurangan lain?" Sikap seperti ini, ma'asyiral muslimin, adalah salah satu pintu masuk syaitan yang paling halus. Karena syaitan tidak selalu menggoda kita untuk berbuat dosa besar — kadang dia menggoda kita untuk meremehkan amal kecil, sehingga kita tidak melakukan apa-apa sama sekali.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda, sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim: "Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten meskipun sedikit." Allah tidak meminta kita menjadi Umar dalam semalam. Allah meminta kita menjadi lebih baik dari hari kemarin, meskipun sedikit, asalkan konsisten. Itulah yang dimaksud dengan komitmen panjang yang sedang kita bicarakan sejak khutbah pertama.
Maka, hadirin yang dimuliakan Allah, marilah kita masuki tahun baru hijriah ini dengan kerendahan hati. Bukan dengan daftar resolusi yang muluk-muluk, yang dua minggu kemudian kita lupakan. Tetapi dengan satu atau dua komitmen kecil yang sungguh-sungguh akan kita jaga setiap hari. Lebih baik satu amal kecil yang istiqamah selama setahun, daripada sepuluh amal besar yang berhenti setelah satu pekan. Inilah yang menjadikan iman kita iman yang dijaga, bukan iman yang sekadar diklaim.
Sekarang, marilah kita angkat tangan kita, menundukkan hati kita, dan berdoa kepada Allah dengan sepenuh harap.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلٰى دِيْنِكَ، وَثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلٰى طَاعَتِكَ، يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلٰى دِيْنِكَ، يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا إِلٰى طَاعَتِكَ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدٰى وَالتُّقٰى وَالْعَفَافَ وَالْغِنٰى، اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ هُدًى لَا يَزِيْغُ، وَإِيْمَانًا لَا يَرْتَدُّ، وَيَقِيْنًا لَا يَنْفَدُ.
اَللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ حُجَّاجِنَا حَجَّهُمْ، وَاجْعَلْ حَجَّهُمْ مَبْرُوْرًا، وَسَعْيَهُمْ مَشْكُوْرًا، وَذَنْبَهُمْ مَغْفُوْرًا، وَأَعِدْهُمْ إِلٰى أَهْلِيْهِمْ سَالِمِيْنَ غَانِمِيْنَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ بَلِّغْنَا الْعَامَ الْهِجْرِيَّ الْجَدِيْدَ بِالْأَمْنِ وَالْإِيْمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ، وَالتَّوْفِيْقِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضٰى، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ أَوَّلَهُ صَلَاحًا، وَأَوْسَطَهُ فَلَاحًا، وَآخِرَهُ نَجَاحًا، وَاغْفِرْ لَنَا مَا سَلَفَ مِنَ السَّنَةِ الْمَاضِيَةِ مِنْ تَقْصِيْرٍ، وَوَفِّقْنَا لِمَا فِيْهِ رِضَاكَ فِي السَّنَةِ الْآتِيَةِ.
رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصَّالِحِيْنَ، رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَوْلَادَنَا، وَاهْدِهِمْ سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ، وَجَنِّبْهُمُ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْهُمْ مِنْ حَفَظَةِ كِتَابِكَ، وَمِنْ أَهْلِ الذِّكْرِ وَالْعِبَادَةِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ مُعِيْنًا وَنَصِيْرًا، اَللّٰهُمَّ احْقِنْ دِمَاءَهُمْ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَآمِنْ رَوْعَاتِهِمْ، وَاشْفِ مَرْضَاهُمْ، وَارْحَمْ مَوْتَاهُمْ، وَتَقَبَّلْ شُهَدَاءَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، اَللّٰهُمَّ ارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ الَّتِيْ تَدُلُّهُمْ عَلَى الْخَيْرِ، وَجَنِّبْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيْسِيَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ مَشَايِخَنَا وَمُعَلِّمِيْنَا، وَالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيْزُ يَا غَفَّارُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ. أَقِمِ الصَّلَاةَ.
