Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatEkonomi & BisnisKamis, 11 Juni 2026

Khutbah Jumat

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِيَدِهِ خَزَائِنُ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ، يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ، وَجَعَلَ الْاِبْتِلَاءَ سُنَّةً مِنْ سُنَنِهِ فِيْ عِبَادِهِ لِيَمْتَحِنَ الصَّابِرِيْنَ مِنَ الْجَازِعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ، الَّذِيْ أَنْذَرَ أُمَّتَهُ مِنْ فِتَنِ الْأَمْوَالِ وَضَنْكِ الْمَعَاشِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, hadirin yang dimuliakan Allah. Pada kesempatan Jumat yang penuh keberkahan ini, marilah kita awali dengan menengadahkan hati kepada Allah Ta'ala, memohon agar setiap kata yang akan terucap di mimbar ini menjadi cahaya bagi kita semua, bukan sekadar nasihat yang berlalu seperti angin yang melewati telinga. Pada pekan yang baru saja kita lewati, kabar-kabar yang sampai kepada kita banyak yang menggetarkan dada — rupiah yang merangkak mendekati angka delapan belas ribu dan diperbincangkan kemungkinan menuju dua puluh ribu per dolar, harga BBM yang kembali bergerak naik seiring eskalasi konflik di Timur Tengah, dan keluhan rakyat kecil yang berbisik bahwa tahu tempe pun mulai terasa seperti hidangan mewah. Di tengah kabar-kabar itu, Allah membuka hati kita dengan firman-Nya:

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Allah berfirman dalam QS. Ar-Rum: 41: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Hadirin yang dirahmati Allah, ayat ini bukan ayat yang asing di telinga kita. Khateeb-khateeb sebelum kita telah berkali-kali membacanya di mimbar ini. Namun ayat yang sama, dibaca di pekan yang berbeda, kerap mengetuk hati dengan cara yang berbeda pula. Pekan ini, ayat ini terasa seperti cermin yang Allah taruh tepat di depan wajah kita: krisis ekonomi yang sedang membayangi negeri ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, bukan kebetulan yang muncul tiba-tiba dari ruang kosong. Ada sebab, ada akibat, dan Allah ingin kita kembali — kembali ke fitrah ekonomi yang diajarkan agama, kembali ke akhlaq yang dijaga oleh generasi-generasi sebelum kita.

Mari sejenak kita renungkan apa yang terjadi pekan ini. Pertama, ramai diperbincangkan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika terus melemah hingga mendekati ambang batas yang membuat para pengusaha kecil tertekan napasnya. Pelaku usaha kecil-menengah yang bahan bakunya tergantung impor mulai berhitung ulang — sebagian menyebut bahwa makanan rakyat sekalipun, seperti tahu dan tempe, bisa berubah menjadi hidangan yang tidak lagi terjangkau jika tren ini berlanjut. Kedua, harga minyak dunia melonjak akibat eskalasi konflik antara dua negara di Timur Tengah, dan dampaknya menjalar ke harga BBM di dalam negeri. Ketiga, kabar yang sampai ke kita pekan ini juga memuat ironi yang menyayat hati: di tengah rakyat yang sedang mengencangkan ikat pinggang, terungkap pula dugaan korupsi pada dana yang seharusnya dialokasikan untuk program gizi rakyat. Keempat, dari pelosok negeri kita dengar kabar tentang proyek-proyek besar yang mengorbankan hutan dan tanah adat demi target produksi tertentu.

Empat kabar ini, jika kita renungkan, bukanlah peristiwa yang acak. Ia adalah benang-benang yang saling berkait. Mata uang melemah karena fondasi ekonomi rapuh. Fondasi ekonomi rapuh karena ada lubang amanah di banyak titik. Lubang amanah membesar karena akhlaq ekonomi yang Allah ajarkan dilanggar secara berulang — di pasar, di kantor, di proyek, di setiap meja di mana keputusan ekonomi diambil. Lalu seluruhnya bergema ke dapur rakyat yang paling lemah, yang tidak ikut menyebabkan masalah tetapi paling cepat merasakan akibatnya.

Hadirin yang dimuliakan Allah, di sinilah kita perlu mengangkat kepala dan melihat tradisi keilmuan Islam. Tradisi ini bukan hanya menyediakan tafsir ayat, tetapi juga menyimpan riwayat-riwayat yang seakan-akan ditulis untuk zaman kita. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam kitab agung beliau Al-Bidayah wan-Nihayah menyusun satu bab khusus yang beliau beri judul Bab Dzikrul Fitan — bab tentang fitnah-fitnah. Beliau menukil dengan teliti hadits-hadits Rasulullah ﷺ yang memetakan ujian-ujian apa yang akan menimpa umat ini di akhir zaman. Bab itu bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membekali. Karena umat yang tahu peta ujian akan lebih siap menghadapinya daripada umat yang berjalan dalam gelap.

Mari saya bawakan satu riwayat penting yang Imam Ibn Katsir nukil dalam fasal Al-Bidayah wan-Nihayah — Dzikru Syurūrin Tahdutsu fī Hādzihil Ummah fī Ākhiriz Zamān — fasal tentang keburukan-keburukan yang akan terjadi pada umat ini di akhir zaman. Dalam fasal ini, Imam Ibn Katsir menukil sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu 'anhuma. Rasulullah ﷺ menghadap kepada para sahabatnya dan bersabda:

يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِيْنَ، خَمْسُ خِصَالٍ إِذَا ابْتُلِيْتُمْ بِهِنَّ، وَأَعُوْذُ بِاللهِ أَنْ تُدْرِكُوْهُنَّ: لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِيْ قَوْمٍ قَطُّ حَتّٰى يُعْلِنُوْا بِهَا، إِلَّا فَشَا فِيْهِمُ الطَّاعُوْنُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِيْ لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِيْ أَسْلَافِهِمُ الَّذِيْنَ مَضَوْا، وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيْزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِيْنَ وَشِدَّةِ الْمَؤُوْنَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ، وَلَمْ يَمْنَعُوْا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ، إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ، وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوْا.

Maknanya kurang lebih: "Wahai sekalian kaum Muhajirin, ada lima perkara yang jika kalian diuji dengannya — dan aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak mengalaminya: Tidaklah perbuatan keji tampak terang-terangan pada suatu kaum sampai mereka memaklumkannya, melainkan tersebar di tengah mereka wabah dan penyakit-penyakit yang tidak pernah ada pada generasi sebelum mereka. Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan, melainkan mereka ditimpa paceklik, beratnya beban hidup, dan kezaliman penguasa atas mereka. Tidaklah mereka menahan zakat harta mereka, melainkan mereka ditahan dari hujan langit, dan kalau bukan karena hewan-hewan ternak, mereka tidak akan diberi hujan."

Hadirin yang dirahmati Allah, mari kita berhenti sejenak di kalimat kedua dari hadits ini: "Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan, melainkan mereka ditimpa paceklik, beratnya beban hidup, dan kezaliman penguasa atas mereka." Lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ membuat satu garis lurus antara akhlaq individual di pasar — orang yang curang sedikit pada timbangan — dengan tiga akibat besar yang menimpa seluruh masyarakat: paceklik, mahalnya hidup, dan kezaliman penguasa. Garis ini tidak terlihat oleh mata telanjang. Pedagang yang curang di pasar tradisional tidak akan pernah merasa bahwa kecurangannya berhubungan dengan harga minyak goreng yang melonjak setahun kemudian. Pengusaha yang mengurangi kualitas barang tidak akan menghubungkan praktiknya dengan pelemahan rupiah. Tetapi Rasulullah ﷺ memberitahu kita bahwa garis itu nyata, walaupun tersembunyi.

Ma'asyiral muslimin, inilah pelajaran besar yang sering kita lewatkan. Kita kerap memisahkan urusan "akhlaq pribadi" dengan "urusan makro ekonomi", seakan-akan keduanya berjalan di rel yang berbeda. Padahal Allah menciptakan sebab-akibat yang menyatukan keduanya. Ketika praktik mengurangi takaran menjadi lazim di tengah masyarakat — di warung, di proyek, di laporan keuangan, di anggaran pemerintah — maka harga akan berjalan tidak wajar, kepercayaan akan rontok, dan beban kehidupan akan menjadi semakin berat. Apa yang kita rasakan pekan ini berupa rupiah yang melemah dan harga yang melonjak, mungkin sebagian adalah buah dari benih-benih kecurangan yang ditanam berbulan-bulan, bertahun-tahun yang lalu — oleh kita, oleh mereka, oleh banyak tangan yang saling tidak mengenal tetapi bekerja pada satu pola yang sama.

Selanjutnya hadits itu menyebut bahwa menahan zakat akan mengakibatkan tertahannya hujan dari langit. Hadirin, perhatikanlah perumpamaan ini. Hujan dalam tradisi sirah bukan sekadar air yang turun, melainkan simbol seluruh keberkahan yang mengalir dari langit ke bumi. Ketika umat menggenggam erat hartanya, enggan menyalurkan haknya kepada yang berhak, maka aliran keberkahan itu tersumbat. Hujan yang seharusnya turun atas pertanian, atas usaha kecil, atas dagangan rakyat — semuanya menjadi kering. Dalam bahasa zaman kita, ini bisa berarti macetnya pertumbuhan ekonomi yang nyata, mengeringnya lapangan kerja yang halal, dan menyusutnya peluang yang seharusnya tersedia untuk orang kecil.

Mari kita lanjutkan kepada riwayat berikutnya yang masih dalam fasal yang sama. Dalam fasal Al-Bidayah wan-Nihayah — Dzikru Syurūrin Tahdutsu fī Hādzihil Ummah, Imam Ibn Katsir juga menukil dari At-Tirmidzi dengan rangkaian sanad yang panjang sebuah hadits dari Ka'b ibn Iyadh radhiyallahu 'anhu. Hadits ini sangat ringkas tetapi maknanya menusuk tepat ke jantung persoalan zaman kita.

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةُ أُمَّتِيَ الْمَالُ.

Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya setiap umat memiliki cobaan, dan cobaan bagi umatku adalah harta." Hadits ini dikenal juga dalam Riyad as-Salihin 1697.

Hadirin yang dimuliakan Allah, perhatikanlah bagaimana Nabi ﷺ menyebut harta sebagai fitnah — kata yang dalam bahasa Arab tidak hanya berarti cobaan, tetapi juga ujian yang membakar, ujian yang membongkar siapa kita sebenarnya. Setiap umat di sepanjang sejarah memiliki ujian yang khas. Umat-umat sebelum kita diuji dengan kekuasaan, dengan ilmu, dengan keturunan. Tetapi umat ini, umat Nabi Muhammad ﷺ, diuji secara khusus dengan harta — dengan rezeki, dengan ekonomi, dengan timbangan keuntungan dan kerugian.

Mengapa? Karena harta paling cepat membuat manusia lupa siapa Tuhannya. Saat rupiah melemah, kita cenderung memandang langit dengan tatapan curiga seakan-akan Allah sedang menyiksa kita. Saat harga BBM naik, kita cenderung mengeluh tanpa memeriksa apakah kita masih jujur dalam pekerjaan kita. Saat pemberitaan korupsi muncul, kita cepat marah pada orang lain tanpa memeriksa apakah ada timbangan kecil di dalam diri kita yang juga sedang miring. Di sinilah harta menjadi fitnah — ia menyingkap bahwa hubungan kita dengan Allah sebagian besar dimediasi oleh kondisi dompet kita. Saat dompet tebal, kita lupa berdoa. Saat dompet menipis, kita meragukan rahmat Allah. Saat kabar ekonomi memburuk, iman kita ikut goncang. Ini adalah gejala bahwa fitnah harta sedang bekerja di dalam diri.

Mari kita masuk lebih dalam. Imam Ibn Katsir dalam fasal Al-Bidayah wan-Nihayah — Bab Iftirāqil Umam — bab tentang perpecahan umat-umat — menukil hadits Rasulullah ﷺ yang menyebut bahwa umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Dalam riwayat ini, ketika ditanya siapa golongan yang selamat, Rasulullah ﷺ menjawab dengan satu kata: al-jamā'ah — yang berpegang pada kebersamaan, yang tidak memecah barisan, yang tetap dalam jalan tengah yang lurus.

Mengapa hadits perpecahan ini saya bawa ke dalam khutbah tentang ekonomi? Karena di antara akibat yang paling berbahaya dari krisis ekonomi adalah ia merobek jalinan sosial. Ketika harga melonjak dan rezeki menyempit, manusia mulai saling menyalahkan. Yang berpunya menuduh yang lemah tidak bekerja keras. Yang lemah menuduh yang berpunya rakus dan menumpuk. Etnis menuduh etnis. Golongan menuduh golongan. Pengusaha menuduh pemerintah, pemerintah menuduh pengusaha. Setiap kelompok mengeras pada narasinya sendiri, dan jaring sosial yang seharusnya menjadi jaring pengaman bagi kita semua justru robek di banyak tempat.

Inilah mengapa krisis ekonomi yang tidak ditangani dengan akhlaq agama akan selalu berbuah perpecahan. Dan inilah mengapa Rasulullah ﷺ mengingatkan kita untuk tetap dalam al-jamā'ah — bukan sekadar dalam ritual ibadah, tetapi dalam cara kita merespons ujian ekonomi: dengan saling menanggung, saling memberi ruang, dan tidak membiarkan kemarahan ekonomi merobek persaudaraan iman.

Hadirin yang dirahmati Allah, mari sekarang kita kembali kepada ayat Al-Qur'an untuk memperdalam refleksi ini. Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqara: 155: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."

Lihatlah betapa lengkapnya ayat ini dalam memetakan ujian yang menimpa umat. Ketakutan — itu yang kita rasakan ketika membaca kabar konflik di Timur Tengah dan dampaknya pada harga BBM. Kelaparan — itu yang dirasakan oleh saudara-saudara kita yang dapur mereka mulai sulit memasak makanan yang layak. Kekurangan harta — itu yang dirasakan oleh pengusaha kecil yang ongkos bahan bakunya melambung. Kekurangan jiwa — itu kehilangan orang-orang yang kita cintai, baik karena sebab langsung maupun karena tekanan ekonomi yang akhirnya mengikis kesehatan dan ketenangan. Kekurangan buah-buahan — itu menyusutnya hasil bumi dan hasil usaha yang seharusnya menjadi rezeki kita.

Lima jenis ujian yang Allah sebut dalam satu ayat. Dan setelah menyebut lima ujian itu, Allah tidak menutupnya dengan keluh-kesah. Allah menutupnya dengan kabar gembira — wa basysyiris shābirīn — dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Inilah cara Al-Qur'an melatih hati kita: ujian disebut bukan untuk membuat kita patah, melainkan untuk memperkenalkan kita pada satu sikap yang Allah cintai — sabar yang aktif, sabar yang tidak pasif, sabar yang tetap menjaga akhlaq dan amal di tengah segala tekanan.

Ma'asyiral muslimin, perhatikanlah juga firman Allah yang lain:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوْا۟ مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ ٱلْبَأْسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوا۟ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصْرُ ٱللَّهِ ۗ أَلَآ إِنَّ نَصْرَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqara: 214: "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: 'Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat."

Hadirin, ayat ini adalah pelipur lara bagi setiap mukmin yang sedang merasa pertolongan Allah terlambat datang. Para Nabi sendiri, dengan kedudukan mereka yang tinggi, pernah merasakan goncangan yang membuat mereka bertanya: "Bilakah pertolongan Allah?" Maka ketika kita di tahun ini, di pekan ini, merasakan goncangan ekonomi yang membuat kita bertanya kapan keadaan akan membaik — itu adalah pertanyaan yang manusiawi, pertanyaan yang dialami juga oleh para pendahulu kita yang shalih. Yang membedakan kita dengan orang-orang yang tidak beriman bukanlah ketiadaan goncangan, melainkan jawaban yang kita pegang: alā inna naṣrallāhi qarīb — sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Hadirin yang dimuliakan Allah, satu lagi ayat yang sangat penting untuk kita renungkan:

وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَٰنَنِ

Allah berfirman dalam QS. Al-Fajr: 16: "Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: 'Tuhanku menghinakanku.'"

Ayat ini menggambarkan sikap yang sangat sering muncul di tengah kita saat menghadapi krisis ekonomi. Manusia memiliki kecenderungan untuk membaca penyempitan rezeki sebagai tanda kehinaan dari Allah — seakan-akan dipersempit rezekinya berarti dimurkai Allah. Padahal, sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama tafsir, ujian dengan dilapangkan rezeki dan ujian dengan dipersempit rezeki — keduanya sama-sama ujian. Yang dilapangkan diuji apakah akan bersyukur dan menunaikan hak harta atau justru menjadi pongah. Yang dipersempit diuji apakah akan tetap sabar dan jujur atau justru menggadaikan agama demi sedikit penghasilan.

Maka, ma'asyiral muslimin, jika pekan ini kita sedang merasa rezeki menyempit — bukan berarti Allah menghinakan kita. Allah sedang menanti respons kita. Apakah kita akan tetap jujur di tempat kerja walaupun gaji terasa tidak cukup? Apakah kita akan tetap menunaikan zakat walaupun rasanya berat? Apakah kita akan tetap memilih usaha halal walaupun jalan haram terasa lebih mudah dan cepat? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang sedang Allah ajukan kepada kita melalui setiap kenaikan harga, melalui setiap pelemahan rupiah, melalui setiap berita ekonomi yang menyesakkan dada.

Hadirin, dari renungan-renungan di atas, marilah saya tarik benang merahnya menjadi beberapa langkah konkret yang dapat kita bawa pulang dari mimbar ini hari ini.

Pertama, mari kita jaga timbangan di tangan kita sendiri. Bagi para pedagang di antara kita, takaran yang adil di warung, di toko, di lapak — itu adalah ibadah harian yang nilainya tidak bisa kita ukur. Pedagang yang menjaga timbangannya tidak hanya menjaga keuntungan pelanggan, ia juga menjaga keberkahan kota. Hadits yang tadi kita dengar dengan jelas mengaitkan kecurangan timbangan dengan paceklik dan beratnya beban hidup. Maka satu pedagang yang lurus, di mata Allah, adalah satu pilar keberkahan yang menahan datangnya bencana ekonomi.

Kedua, mari kita tunaikan zakat dengan segera, tanpa menunggu "merasa kaya". Banyak di antara kita menunda zakat karena merasa "saya juga belum mapan". Padahal nishab zakat ditetapkan sangat moderat, dan barangkali harta kita sudah cukup untuk wajibnya zakat tanpa kita sadari. Hadits di atas mengingatkan bahwa menahan zakat berakibat tertahannya keberkahan dari langit. Jika kita ingin keadaan ekonomi membaik — mulailah dengan menjernihkan harta kita sendiri.

Ketiga, mari kita jauhi spekulasi mata uang dan investasi tidak jelas yang sedang ramai pekan ini. Pelemahan rupiah memang menggoda banyak orang untuk masuk ke pasar valas atau aset spekulatif lainnya dengan harapan menyelamatkan harta. Tetapi spekulasi yang mengandung unsur gharar, judi, dan ketidakjelasan bukanlah jalan yang dibenarkan. Lebih baik harta kita berkurang nilainya sedikit dengan jalan halal, daripada bertambah nilainya dengan jalan yang Allah murkai. Karena harta yang Allah murkai akan kembali habis dengan cara yang tidak kita duga.

Keempat, mari kita lakukan musyawarah keluarga tentang prioritas pengeluaran. Setiap kepala keluarga di antara kita pekan ini punya tugas untuk duduk bersama istri dan anak-anak, membicarakan dengan jujur apa yang masih bisa dihemat, apa yang harus dipertahankan, dan apa yang harus disesuaikan. Ini bukan tanda kelemahan — ini adalah tanda kepemimpinan keluarga yang sehat. Anak-anak yang dilibatkan dalam musyawarah keuangan keluarga akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab daripada anak-anak yang dilindungi dari kenyataan ekonomi.

Kelima, mari kita kuatkan jaring sosial di lingkungan terdekat kita. RT kita, masjid kita, kompleks kita. Sebagaimana yang kita bahas tadi, salah satu bahaya terbesar dari krisis ekonomi adalah ia merobek jalinan persaudaraan. Maka tugas kita adalah memperkuat jalinan itu — dengan mengecek tetangga yang lansia, dengan menyediakan ruang bagi yang sedang kehilangan pekerjaan, dengan mengaktifkan kembali tradisi saling mengirim makanan kepada tetangga yang membutuhkan. Jaring kecil ini, jika dirawat baik-baik di setiap RT di Indonesia, akan menjadi jaring pengaman nasional yang tidak ada satu pun kebijakan negara bisa menggantikannya.

Keenam, mari kita perbanyak istighfar dan doa. Hadits-hadits yang kita kaji tadi memetakan dengan jelas hubungan antara perilaku umat dan keadaan ekonomi. Maka pintu pertama untuk memperbaiki keadaan ekonomi bukanlah strategi yang rumit — melainkan istighfar yang banyak, doa yang khusyuk, dan tekad untuk memperbaiki diri.

Hadirin yang dirahmati Allah, marilah kita tutup khutbah pertama ini dengan keyakinan bahwa krisis yang sedang kita hadapi tidak lebih besar dari rahmat Allah. Para pendahulu kita di Madinah pernah mengalami harga yang melonjak parah, sebagaimana tercatat dalam Bulugh al-Maram 927. Ketika itu para sahabat memohon kepada Rasulullah ﷺ untuk menetapkan harga, dan Rasulullah ﷺ menjawab bahwa sesungguhnya Allahlah yang menetapkan harga, yang menahan, yang melapangkan, dan yang memberi rezeki. Rasulullah ﷺ tidak mau campur tangan menentukan harga, bukan karena beliau tidak peduli, melainkan karena beliau ingin mengajarkan kepada umat bahwa pengaturan ekonomi yang paling utama bukanlah pada level kebijakan, melainkan pada level akhlaq dan tawakkal. Saat akhlaq pasar terjaga dan hati-hati tawakkal kepada Allah, harga akan menemukan keseimbangannya sendiri.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، عَلٰى مَا أَوْلَانَا مِنْ نِعَمٍ ظَاهِرَةٍ وَبَاطِنَةٍ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالٰى وَأَطِيْعُوْهُ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, izinkanlah saya pada khutbah kedua ini memperdalam tiga sisi dari pesan yang baru saja kita renungkan. Pertama, mari kita pahami bahwa setiap kenaikan harga yang kita rasakan pekan ini sebenarnya adalah jeritan halus dari sebuah sistem yang sedang meminta untuk diperbaiki. Sistem ekonomi yang dibangun di atas pondasi yang rapuh — riba yang menjalar, kontrak yang tidak transparan, amanah yang dijaga setengah-setengah — akan terus mengirimkan sinyal-sinyal seperti pelemahan mata uang, lonjakan harga komoditas, dan keluhan rakyat kecil. Sinyal-sinyal ini bukan untuk dijadikan bahan keluhan di warung kopi, melainkan untuk dijadikan panggilan untuk introspeksi: apa peran saya, apa peran keluarga saya, apa peran komunitas saya dalam sistem yang sedang berderak ini?

Kedua, hadirin, mari kita pertajam pemahaman kita tentang konsep istikhlāf — bahwa kita semua di muka bumi ini adalah khalifah Allah, pemegang amanah atas harta yang Allah titipkan. Tidak ada harta yang benar-benar milik kita. Kita hanyalah pemegang sementara. Rumah yang kita tempati, kendaraan yang kita gunakan, tabungan yang kita simpan, gaji yang kita terima — semua itu adalah amanah yang akan ditanyakan: dari mana datangnya, dan ke mana dibelanjakannya. Saat krisis ekonomi datang, pemahaman istikhlāf ini akan menyelamatkan kita dari panik. Karena yang berkurang bukanlah milik kita yang sesungguhnya — yang berkurang adalah angka pada amanah yang memang tidak pernah benar-benar kita pegang. Yang tetap milik kita adalah amal yang sudah kita kerjakan dengan harta itu sebelum ia berkurang.

Ketiga, mari kita renungkan satu sisi yang jarang kita sentuh: hubungan antara doa dan ekonomi makro. Dalam fasal Al-Bidayah wan-Nihayah — Bab Iftirāqil Umam, dan dalam banyak fasal lainnya yang Imam Ibn Katsir himpun, ditegaskan bahwa keadaan sebuah umat bukanlah hasil semata dari faktor-faktor materil. Ada lapisan yang lebih dalam — lapisan ruhani — yang menentukan apakah sebuah umat akan diberi keberkahan atau ditahan keberkahannya. Doa-doa kita di rumah, doa-doa kita di masjid, doa-doa kita di sepertiga malam — semua itu bekerja secara ghaib menggerakkan keadaan ekonomi yang kita rasakan. Maka jika kita ingin rupiah membaik, ingin harga stabil, ingin lapangan kerja terbuka — janganlah meremehkan kekuatan doa. Satu doa yang khusyuk dari seorang ibu untuk negerinya, lebih kuat dari seribu analisis ekonomi di televisi.

Keempat, hadirin yang dimuliakan Allah, jangan ada di antara kita yang menjadi penyebar kepanikan. Pekan ini banyak pesan berantai beredar di grup-grup keluarga, di status media sosial, di percakapan kantor — yang isinya menggambarkan keadaan ekonomi dengan nada yang berlebihan dan menebar kecemasan. Sebagian dari pesan itu mungkin akurat, sebagian lagi dilebih-lebihkan, sebagian lainnya bahkan tidak berdasar. Tugas kita sebagai mukmin bukanlah ikut menyebarkan kepanikan, melainkan menyebarkan ketenangan yang ada landasannya. Bicarakan kondisi ekonomi dengan jujur — tetapi sertakan harapan, sertakan langkah, sertakan doa. Jangan menjadi corong kecemasan; jadilah corong kesabaran.

Kelima, dan ini yang terakhir sebelum kita berdoa, ma'asyiral muslimin: ingatlah bahwa di balik setiap krisis selalu Allah letakkan pintu-pintu pertolongan yang tidak terduga. Sejarah umat ini penuh dengan kisah-kisah ketika keadaan tampak paling gelap, justru di situlah cahaya yang paling terang muncul. Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang tetap menjaga adab di tengah ujian. Maka peganglah adab itu — adab dalam pasar, adab dalam keluarga, adab dalam berbicara tentang pemimpin, adab dalam menyikapi kabar — dan Allah akan membukakan jalan keluar dari arah yang tidak pernah kita duga.

Marilah sekarang kita angkat tangan, kita tundukkan hati, dan kita berdoa kepada Allah Yang Maha Memberi Rezeki.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِزْقًا طَيِّبًا، وَعِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا حَلَالًا طَيِّبًا، وَبَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا، وَاجْعَلْ غِنَانَا فِيْ أَنْفُسِنَا، وَاجْعَلْ فَقْرَنَا إِلَيْكَ وَحْدَكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ. اَللّٰهُمَّ نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ الْمُذِلِّ، وَمِنَ الْغِنَى الْمُطْغِيْ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَالِ الَّتِيْ حَذَّرَنَا مِنْهَا نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

اَللّٰهُمَّ جَنِّبْنَا الرِّبَا أَكْلَهُ وَمُوَكِّلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ. اَللّٰهُمَّ جَنِّبْنَا الْغُلُوْلَ وَالْغِشَّ وَالتَّطْفِيْفَ فِي الْمِيْزَانِ وَالْمِكْيَالِ. اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ تُجَّارَنَا عَلَى الصِّدْقِ، وَعُمَّالَنَا عَلَى الْأَمَانَةِ، وَأَهْلَ الزِّرَاعَةِ مِنَّا عَلَى الْإِخْلَاصِ، وَأَهْلَ الصِّنَاعَةِ مِنَّا عَلَى الْإِتْقَانِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِيْنًا، وَفَرِّجْ كُرَبَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَاكْسُ عَارِيَهُمْ. اَللّٰهُمَّ انْتَقِمْ مِنَ الظَّالِمِيْنَ، وَاجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِيْ نُحُوْرِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ، وَاجْعَلْهَا بَلْدَةً آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ عُمْلَتَنَا، وَبَارِكْ فِيْ أَسْوَاقِنَا، وَلَطِّفْ بِالضُّعَفَاءِ مِنْ شَعْبِنَا، وَيَسِّرْ لَهُمْ أَمْرَ مَعَاشِهِمْ. اَللّٰهُمَّ اكْفِ ذَوِيْ الدُّخُوْلِ الصَّغِيْرَةِ كَيْدَ الْغَلَاءِ، وَاجْعَلْ فِيْ بُيُوْتِهِمْ بَرَكَةً تَفُوْقُ مَا يَنْقُصُ مِنْ أَمْوَالِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ مَنْ تَوَلّٰى أَمْرَ هٰذِهِ الْأُمَّةِ مِنْ خِيَارِهَا، وَجَنِّبْنَا شِرَارَهَا. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ عَنْ هٰذِهِ الْأُمَّةِ كُلَّ غَاشٍّ وَخَائِنٍ، وَاهْدِ مَنْ ضَلَّ مِنْهُمْ، وَاكْفِنَا شَرَّ مَنْ لَا يَهْتَدِيْ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَوْلَادَنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَارْزُقْهُمْ قُلُوْبًا سَلِيْمَةً، وَأَلْسِنَةً صَادِقَةً، وَأَيْدِيًا أَمِيْنَةً.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ. أَقِمِ الصَّلَاةَ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan