Pekan ini rupiah menyentuh angka yang lama tidak terlihat, dan banyak rumah tangga ikut menahan napas. Di tengah kegalauan itu, ada sebuah riwayat lama yang Imam Ibn Katsir rahimahullah himpun dalam Al-Bidayah wan-Nihayah — ذكر شرور تحدث في هذه الأمة في آخر الزمان. Riwayat ini dinukil dari Ibnu Majah, dengan sanad sampai ke Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma. Bukan ramalan apokaliptik. Ini peta — tentang lima retakan yang membuat sebuah masyarakat goyah dari dalam.
Suatu hari, Rasulullah ﷺ menghadap para sahabat Muhajirin di Madinah. Wajah beliau serius. Suaranya pelan tapi tegas.
"Wahai Muhajirin," sabda beliau, "ada lima perkara — dan aku berlindung kepada Allah dari kalian mengalaminya."
Para sahabat terdiam. Madinah pada masa itu sedang tumbuh. Pasar ramai. Kafilah dagang masuk dari Syam, dari Yaman. Roti baru keluar dari tungku setiap pagi. Tapi Nabi ﷺ tidak sedang bicara tentang kelimpahan. Beliau sedang bicara tentang yang akan datang.
"Tidaklah perbuatan keji terang-terangan di tengah suatu kaum," lanjut beliau, "kecuali wabah dan penyakit yang belum pernah dikenal nenek moyang mereka akan menyebar di antara mereka."
Itu yang pertama. Lalu beliau menyebut yang kedua. Suara beliau menjadi lebih dalam.
"Dan tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan ditimpa paceklik, kesulitan biaya hidup, dan kezaliman penguasa."
Suasana di pasar Madinah malam itu seakan berubah. Pedagang kurma pulang ke rumah dengan timbangan masih di tas selempang. Ada yang menghela napas. Karena Nabi ﷺ baru saja menggambarkan satu rantai sebab-akibat yang seringkali dianggap kebetulan: timbangan curang di pasar, harga yang naik tak terkendali, dan tangan penguasa yang berat di pundak rakyat.
وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ
"Dan tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan ditimpa paceklik, kesulitan biaya hidup, dan kezaliman penguasa."
Nabi ﷺ belum selesai. Beliau menyebut yang ketiga.
"Dan tidaklah mereka menahan zakat harta mereka, kecuali air hujan dari langit akan ditahan dari mereka — dan kalau bukan karena hewan-hewan, hujan tidak akan turun sama sekali."
Para sahabat saling pandang. Ada Umar di sana. Ada Abdullah bin Umar yang merekam kalimat ini di benaknya. Mereka tahu — Madinah yang subur ini, dengan kebun-kebun kurmanya, hidup karena hujan dan karena keberkahan. Mencabut keberkahan adalah mencabut sumber kehidupan itu sendiri.
"Dan tidaklah mereka melanggar perjanjian dengan Allah dan Rasul-Nya," kata Nabi ﷺ untuk yang keempat, "kecuali Allah akan menjadikan musuh dari luar mereka menguasai sebagian dari apa yang ada di tangan mereka."
Lalu yang kelima. Yang mungkin paling pedih.
"Dan selama para pemimpin mereka tidak berhukum dengan kitab Allah, dan memilih-milih dari apa yang Allah turunkan — Allah jadikan permusuhan di antara mereka sendiri."
Hadits itu berhenti di sana. Tidak ada penutup yang menghibur, tidak ada janji bahwa semua akan baik-baik saja. Hanya peta. Lima pintu kecil yang, kalau dibuka, membawa konsekuensi yang sambung-menyambung.
Pelajaran
Yang menohok dari riwayat ini bukan peringatannya tentang azab. Yang menohok adalah urutan-sebab-akibatnya yang sangat membumi. Nabi ﷺ tidak sedang berbicara tentang langit yang tiba-tiba runtuh. Beliau sedang menggambarkan ekonomi politik sebuah masyarakat yang kehilangan amanah dari dalam: timbangan di pasar yang dikurangi sedikit demi sedikit, zakat yang ditahan dengan alasan "sedang sulit", janji yang dilanggar pelan-pelan. Dan akibatnya — paceklik, biaya hidup yang menekan, kezaliman penguasa, musuh dari luar yang mengambil keuntungan, dan perpecahan di dalam. Pekan ini, ketika rupiah goyah dan harga BBM ditekan naik, kita mungkin mencari sebabnya pada faktor global. Riwayat ini meminta kita melihat lebih dekat: pada timbangan yang ada di tangan kita sendiri, pada zakat yang belum tertunaikan, pada janji yang masih bisa kita tepati hari ini. Bukan untuk menyalahkan diri, melainkan untuk mengenali — bahwa pintu keluar dari fitnah ekonomi sering kali berada di pintu masuk yang sama.
Sumber Asli
Al-Bidayah wan-Nihayah — ذكر شرور تحدث في هذه الأمة في آخر الزمان
قَالَ ابْنُ مَاجَهْ فِي كِتَابِ الْفِتَنِ مِنْ "سُنَنِهِ": حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ خَالِدٍ الدِّمَشْقِيُّ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَبُو أَيُّوبَ، عَنِ ابْنِ أَبِي مَالِكٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: أَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ:
يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ، خَمْسُ خِصَالٍ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ، وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ: لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا، إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا، وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ، وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ، إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ، وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا، وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ، إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ، وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ، وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ، إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بِأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ.
