بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَأَوْجَبَ الْعَدْلَ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati. Pekan ini rupiah hampir tembus angka delapan belas ribu lebih dengan obrolan di mana-mana yang sudah menyiapkan diri di angka dua puluh ribu. BBM naik karena perang di Timur Tengah, harga minyak dunia melonjak, dan di tengah kabar itu kita masih membaca kasus korupsi dana bantuan gizi yang seharusnya untuk balita-balita kita. Malam ini saya hanya ingin mengajak kita merenung sebentar — tidak lama, sekitar sepuluh menit — sebelum kita pulang ke rumah masing-masing.
Saya ingin mulai dengan satu pertanyaan jujur. Kalau lembaga keuangan resmi bilang "perbankan stabil, semua aman", tapi di dapur kita sudah goyang — telur naik, minyak naik, tahu tempe yang dulu pegangan rakyat sekarang mulai diolok-olok jadi "makanan mewah" — kita ini sebenarnya harus mendengarkan siapa? Kita ini harus percaya pada laporan resmi yang menyebut angka-angka stabil, atau percaya pada timbangan beras di pasar yang setiap minggu mengecil? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi sebenarnya tua sekali — setua peradaban manusia. Dan Islam, melalui tradisi sirah-nya, sudah memetakan jawabannya jauh sebelum kita lahir.
Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah — ذكر شرور تحدث في هذه الأمة في آخر الزمان menukil sebuah hadits yang sangat penting untuk kita pekan ini. Beliau meriwayatkan dari jalan Ibn Majah, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ pernah menghadap para sahabat Muhajirin dan bersabda:
يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ، خَمْسُ خِصَالٍ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ، وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ: لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا، إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا، وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ.
Artinya kira-kira: "Wahai kaum Muhajirin, ada lima perkara, semoga Allah lindungi kalian dari semua itu: tidak pernah muncul kekejian terang-terangan dalam satu kaum kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit-penyakit yang belum pernah dikenal nenek moyang mereka; dan tidak pernah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan kecuali mereka akan ditimpa oleh tahun-tahun paceklik, beratnya biaya hidup, dan kelaliman penguasa atas mereka..." — kemudian hadits ini berlanjut menyebut tiga konsekuensi lain.
Jamaah, perhatikan baik-baik klausa kedua dalam hadits ini. Lam yanqushul mikyāla wal mīzāna illā ukhidzū bis-sinīn wa syiddatil ma'ūnah wa jauris sulthān. Mengurangi takaran dan timbangan — dampaknya tiga: tahun-tahun paceklik, beratnya biaya hidup, dan kezaliman penguasa. Sungguh aneh kalau kita baca rangkaian ini dengan jujur, lalu kita buka berita pekan ini. Inflasi yang menekan dapur — itu syiddatul ma'ūnah. Mata uang yang lemah sampai tahu tempe terasa mewah — itu juga syiddatul ma'ūnah. Dan kasus pengelolaan dana bansos yang seharusnya untuk anak balita malah jadi bancakan — itulah yang Nabi ﷺ sebut sebagai jauris sulthān.
Saya tidak sedang berkhotbah apokaliptik, jamaah. Saya tidak sedang bilang akhir zaman sudah di depan pintu dan kita harus panik. Saya hanya sedang membaca tradisi dengan jujur — dan tradisi kita, sejak empat belas abad lalu, sudah memetakan bahwa krisis ekonomi itu bukan kebetulan kosmik. Krisis ekonomi punya akar yang bisa dilihat: ketika takaran dikurangi, ketika amanah bocor, ketika janji tidak ditepati, ketika pembukuan disusun untuk menipu — maka konsekuensinya datang dalam bentuk yang sekarang kita rasakan di ujung kompor masing-masing.
Lalu pekan ini di media sosial saya membaca satu meme yang sangat tajam. Seseorang menulis: "Gess, mari persiapan di dua puluh ribu. Kuat-kuat kalian yang bisnisnya terpengaruh kurs, tahu tempe kita akan jadi makanan mewah, dan berdoa agar tetap waras." Meme itu lucu di permukaan, tapi pahit kalau direnungkan. Pahit karena dia menyimpan kemarahan yang tidak punya jalan keluar. Pahit karena pembuatnya tahu, kita semua tahu, bahwa kalau ada yang harus bertanggung jawab atas kurs yang anjlok dan harga yang naik, daftarnya panjang sekali — tapi jarang ada satu nama yang sungguh-sungguh dimintai pertanggungjawaban. Dan paling pahit lagi karena meme itu hanya bisa menyalurkan luka, tidak bisa mengobati.
Cerita kedua. Pekan ini juga ramai dibicarakan bagaimana seorang pejabat di lembaga gizi nasional — yang tugasnya mengelola dana untuk pemberian makan bergizi ke anak-anak kita — ditangkap oleh kejaksaan dan diduga menggelapkan miliaran rupiah. Coba renungkan apa artinya itu, jamaah. Bantuan gizi yang seharusnya sampai ke piring anak-anak balita yang rentan, diduga diselewengkan oleh oknum di lembaga yang justru bertanggung jawab atas amanah itu — kasusnya sedang diusut oleh kejaksaan. Inilah yang Nabi ﷺ sebut sebagai jauris sulthān. Bukan kezaliman yang ditampakkan dengan pedang — tapi kezaliman yang ditampakkan dengan angka di pembukuan yang dipalsukan. Mereka mengurangi takaran, jamaah, di tingkat yang paling biadab — mengurangi takaran dari mulut bayi.
Dan ada juga peristiwa ketiga yang lebih dekat ke kita. Pekan ini Rasulullah ﷺ pernah dihadapkan pada situasi yang mirip. Imam Ibn Hajar rahimahullah meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ketika harga-harga di Madinah melambung pada masa Nabi ﷺ, para sahabat datang dan berkata, "Wahai Rasulullah, harga-harga telah melambung, maka tetapkanlah harga untuk kami." Nabi ﷺ menjawab:
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ، الْقَابِضُ، الْبَاسِطُ، الرَّازِقُ، وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى اللَّهَ وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِي بِمَظْلَمَةٍ فِي دَمٍ وَلَا مَالٍ.
"Sesungguhnya Allah-lah Yang menetapkan harga, Yang menahan, Yang melapangkan, dan Yang memberi rezeki. Dan aku sungguh berharap bertemu Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kalian menuntutku karena suatu kezaliman dalam darah maupun harta."
Lihat tanggapan Nabi ﷺ. Beliau tidak menyalahkan rakyat yang mengeluh — beliau mengakui kesusahan mereka. Tetapi beliau juga tidak buru-buru mengambil alih mekanisme pasar dengan tangan kekuasaan. Yang beliau lakukan adalah meletakkan dua hal di hadapan jamaah-nya: pertama, ada Allah Yang Maha Mengatur — jangan tukar kecemasan kita dengan keputusasaan. Kedua, ada amanah yang harus dijaga — beliau sendiri menutup penjelasan itu dengan rasa takut bertemu Allah membawa kezaliman terhadap harta seseorang. Inilah dua kaki yang harus kita tegakkan pekan ini, jamaah: tawakkal kepada Allah Yang Maha Mengatur, dan amanah yang kita jaga sekuat tenaga di lingkup kita sendiri.
Jamaah yang saya hormati, kalau hadits tentang mikyāl-mīzān tadi kita baca dengan jujur, maka kewajiban kita sebenarnya jelas. Bukan menunggu kebijakan moneter berubah, bukan menunggu rupiah pulih, bukan menunggu pejabat-pejabat itu insaf dengan sendirinya. Kewajiban kita adalah mengembalikan mikyāl-mīzān di tempat-tempat kita masih punya kuasa. Dan tempat itu ada — selalu ada. Mari kita ukur diri sendiri dengan jujur.
Apa makna mikyāl-mīzān hari ini, di tahun dua ribu dua puluh enam, di kota-kota kita? Mikyāl-mīzān itu bukan hanya tentang timbangan beras di pasar — meskipun itu juga. Mikyāl-mīzān itu adalah janji bayar utang yang kita ulur-ulur padahal sudah jatuh tempo. Mikyāl-mīzān itu adalah pembukuan toko yang kita bikin dua versi — satu untuk istri, satu untuk pajak. Mikyāl-mīzān itu adalah jam kerja karyawan yang kita potong-potong dengan alasan "lagi sulit", padahal mereka juga punya keluarga yang harus makan. Mikyāl-mīzān itu adalah deskripsi produk di etalase online yang kita tulis melebihkan padahal barangnya tidak segitu. Setiap salah satu dari itu, kalau kita lakukan, kita sedang menambah ke timbunan naqsh al-mikyāl yang Nabi ﷺ peringatkan menarik krisis ke kaum.
Dan inilah yang membuat kultum ini berat untuk saya sampaikan, jamaah — termasuk berat untuk diri saya sendiri. Karena kita sering memarahi pejabat yang korupsi sambil tidak menyadari bahwa kita juga sedang melakukan naqsh al-mikyāl dalam ukuran yang lebih kecil di meja kita. Skala memang berbeda, tetapi tradisi mengajarkan bahwa krisis besar itu dibangun dari potongan-potongan kecil yang sehari-hari kita anggap "ah, ini hal kecil, semua orang juga begitu". Padahal tidak semua orang. Dan kalau kita ingin krisis ini berhenti, atau setidaknya tidak makin dalam, harus ada yang memulai memperbaiki dari titik terdekat dengan kakinya sendiri.
Maka tugas kita malam ini, sebelum tidur, ada tiga hal konkret yang ingin saya titipkan. Pertama, ambil pulpen — atau buka aplikasi catatan di HP — dan tulis nota belanja pekan ini, lalu bandingkan dengan anggaran rumah tangga. Kalau ada keluarga yang kita tahu lebih susah dari kita, sisihkan sekedarnya. Sedekah harian, meski hanya seribu rupiah, adalah antibodi terhadap spekulasi dan kepanikan ekonomi — karena ia melatih hati kita untuk tidak menggenggam terlalu kencang. Kedua, kalau ada utang yang kita tunda-tunda padahal kita mampu lunasi sebagiannya — entah utang ke tetangga, ke teman dagang, ke kios langganan — pekan ini bayar walau sebagian. Janji yang tertunda adalah salah satu bentuk naqsh al-mīzān yang paling sering kita lakukan tanpa sadar. Ketiga, kalau kita menjalankan usaha — sekecil apapun, warung kecil, jualan online, jasa rias, ojol — periksa apakah ada satu titik di mana kita "mengurangi takaran" untuk pelanggan. Perbaiki satu titik itu pekan ini. Cukup satu.
Itulah, jamaah, makna kembali ke mikyāl-mīzān. Bukan pekerjaan negara saja, bukan pekerjaan ulama saja — pekerjaan kita masing-masing di lingkup yang Allah titipkan kepada kita. Karena kalau setiap rumah tangga muslim Indonesia hari ini memutuskan untuk tidak mengurangi takaran satu titik saja — bayangkan berapa rumah tangga — maka secara kumulatif kita sedang menarik turun beban jauris sulthān yang sekarang menekan kita semua. Tradisi tidak menjanjikan kemudahan instan; tradisi menjanjikan kepulangan ke jalan yang lurus.
Akhirnya, mari saya tutup dengan satu doa yang Rasulullah ﷺ ajarkan kepada kita.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ كَسْبٍ خَبِيْثٍ وَمِنْ نَقْصِ الْمِكْيَالِ وَالْمِيْزَانِ. اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا شَرَّ مَا قَدَّرْتَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِيْنَ يُؤَدُّوْنَ الْأَمَانَةَ كَمَا أَمَرْتَ. اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا وَعَنْ إِخْوَانِنَا الْمُسْلِمِيْنَ ثِقَلَ الْأَسْعَارِ، وَلَيِّنْ لَنَا قُلُوْبَ مَنْ وَلَّيْتَهُمْ أَمْرَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ خَانَ أَمَانَةَ الْفُقَرَاءِ وَالْأَيْتَامِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
