Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsHukum & KeadilanKamis, 11 Juni 2026

Kisah Pendek — "Hudzaifah dan Pertanyaan tentang Keburukan"

Pekan ini banyak kabar yang menggelapkan: amanah jabatan yang diperjualbelikan, izin yang ditukar dengan amplop tiap Jumat, anak-anak yang luka di tempat yang seharusnya melindungi mereka. Di tengah berita seperti ini, ada satu sahabat Nabi ﷺ yang justru bertanya hal yang berbeda dari sahabat-sahabat lain. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah — باب ذكر الفتن جملة ثم نفصل ذكرها بعد ذلك إن شاء الله تعالى mengabadikan percakapannya. Namanya Hudzaifah bin al-Yaman.

Madinah, tahun-tahun terakhir kenabian. Para sahabat sering bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kebaikan. Tentang surga. Tentang amal yang paling dicintai Allah. Tentang sedekah yang paling berpahala. Pertanyaan-pertanyaan yang wajar dari hati yang sedang menapaki jalan.

Tapi Hudzaifah tidak begitu.

Hudzaifah bertanya tentang keburukan. Tentang fitnah. Tentang kegelapan yang mungkin datang menyergap. Ia takut keburukan itu mendahuluinya, dan ia tidak ingin tertinggal tanpa peta.

"Ya Rasulallah," katanya suatu hari, "kami dulu berada dalam jahiliyah dan keburukan. Lalu Allah datangkan kepada kami kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?"

Rasulullah ﷺ menjawab pendek.

نَعَمْ

"Ya."

Hudzaifah tidak puas dengan satu kata itu. Ia ingin tahu lebih jauh. "Lalu apakah setelah keburukan itu akan ada kebaikan?"

نَعَمْ، وَفِيهِ دَخَنٌ

"Ya, tetapi di dalamnya ada dakhan — ada kabut, ada asap, ada kekeruhan."

Hudzaifah mengejar. "Apa kabut itu, ya Rasulallah?"

Jawaban Nabi ﷺ inilah yang menggetarkan.

قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ

"Suatu kaum yang memberi petunjuk bukan dengan petunjukku. Engkau mengenali sebagian dari mereka, dan engkau mengingkari sebagian lainnya."

Hudzaifah merenungkan kalimat itu. Suatu kaum yang membawa panji petunjuk, tapi petunjuknya bukan petunjuk Nabi. Wajahnya familiar. Bahasanya familiar. Atributnya familiar. Tapi isinya berbeda. Yang dipakai adalah baju yang dikenali jamaah, tapi yang dituju adalah arah yang lain.

Percakapan itu tertanam di dalam dada Hudzaifah. Sepanjang sisa hidupnya, ia dikenal sebagai shahib sirrir-rasul — sahabat yang dipercayakan rahasia Nabi ﷺ. Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu sering bertanya kepadanya tentang munafiqin di Madinah. Hudzaifah-lah yang ditugaskan menjaga jarak antara wajah dan hati, antara baju dan isi. Pertanyaannya tentang keburukan itu menjadi bekalnya seumur hidup — bukan untuk menjadikannya pesimis, tetapi untuk menjadikan matanya terlatih.

Pelajaran

Hudzaifah bertanya tentang keburukan bukan karena ia pesimis. Ia bertanya karena ia tahu bahwa hati yang hanya dilatih mengenali kebaikan akan mudah tertipu ketika keburukan datang berkemas baju kebaikan. Pelajaran Nabi ﷺ kepadanya tajam: akan ada kaum yang memberi petunjuk bukan dengan petunjuk Nabi — wajahnya kita kenal, sebagian sikapnya kita ingkari. Pejabat yang bersumpah di atas mushaf di malam hari, lalu pagi-pagi melanjutkan jual-beli izin. Lembaga yang namanya pelindung, tetapi diam-diam menjadi pemerasan. Petunjuk yang bunyinya lurus, tetapi arahnya miring. Tugas seorang Muslim hari ini bukan sekadar mencari yang baik, tetapi melatih hati untuk mengenali dakhan — kabut yang membuat keburukan terlihat seperti kebaikan. Berpegang pada jamaah muslimin yang istiqamah pada Quran dan sunnah; kalau jamaah itu menjadi langka, kita tetap memilih yang benar walaupun sendirian.

Sumber Asli

Al-Bidayah wan-Nihayah — باب ذكر الفتن جملة ثم نفصل ذكرها بعد ذلك إن شاء الله تعالى

قَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ، حَدَّثَنِي ابْنُ جَابِرٍ، حَدَّثَنِي بِشْرُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ الْحَضْرَمِيُّ، حَدَّثَنِي أَبُو إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيُّ، أَنَّهُ سَمِعَ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ يَقُولُ: كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ؛ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي.

فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ، فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ، فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: "نَعَمْ". قُلْتُ: وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: "نَعَمْ، وَفِيهِ دَخَنٌ". قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: "قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ".

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan