اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah. Pada hari Jumat yang penuh berkah ini, di pekan terakhir Dzulhijjah 1447 H, dengan lima hari yang memisahkan kita dari awal tahun baru Hijriah, izinkan khatib membuka khutbah ini dengan satu ayat yang menjadi cermin perjalanan kita.
وَٱذْكُرِ ٱسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةًۭ وَأَصِيلًۭا
Allah berfirman dalam QS. Al-Insaan: 25 — "Dan sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang." Ayat pendek ini, hadirin yang dimuliakan Allah, mengikat satu prinsip pokok kehidupan seorang muslim: bahwa di setiap pergantian waktu, ada satu nama yang harus kita ingat. Pagi dan petang — bukan hanya tanda jam, melainkan tanda hidup. Tanda bahwa kita masih diberi kesempatan untuk memanggil-Nya, mengeluh kepada-Nya, dan kembali kepada-Nya.
Hadirin yang dimuliakan Allah, pekan ini publik kita dipertontonkan dua wajah Indonesia yang seharusnya tidak duduk bersebelahan. Di satu sisi, kita menyaksikan tawaf wada' jamaah haji yang menutup rangkaian ibadah haji 1447 H — perpisahan yang penuh air mata di hadapan Baitullah. Di sisi lain, dari Bali, kabar yang menyayat hati: seorang pelaku diduga terpengaruh ilmu hitam menebas istrinya hingga tewas, dengan anak ditemukan dalam kondisi kritis. Dari Situbondo, suami nekat membunuh istrinya yang berprofesi sebagai bidan karena cemburu, jasadnya kemudian ditemukan di drainase. Dari Boyolali, ibu mertua tewas usai memakan sate beracun yang dikirim oleh menantu sendiri. Dan di feed media sosial pekan ini, seorang bocah baru pulang sekolah, masih memakai seragam olahraga, terlihat menunggu di depan toko sambil menjajakan bacil dagangannya.
Empat berita dalam satu pekan. Empat wajah Indonesia yang mengetuk pintu kesadaran kita: kemana arah keluarga Muslim Indonesia hari ini? Kenapa rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru sering menjadi tempat paling rapuh? Kenapa anak yang seharusnya berlari di lapangan justru menjajakan dagangan di depan toko? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk membuat kita putus asa, hadirin — pertanyaan ini untuk membangunkan kita.
Hadirin yang dimuliakan Allah, mari khatib bawakan satu hadits yang sangat relevan dengan keadaan kita pekan ini.
Sahih Muslim 6576
اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ
Rasulullah ﷺ bersabda — sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah dalam Sahih Muslim nomor 6576 — "Jauhilah kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan di Hari Kiamat. Dan jauhilah kekikiran, karena kekikiran telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, karena ia mendorong mereka untuk menumpahkan darah dan menghalalkan apa yang diharamkan bagi mereka."
Hadits ini, ma'asyiral muslimin, memetakan dua sumber kerusakan rumah tangga yang justru kita saksikan terjadi pekan ini. Kezaliman pertama datang dari hati yang merasa berhak atas tubuh atau hidup orang lain — suami yang merasa berhak menyakiti istri karena cemburu, menantu yang merasa berhak mencelakai mertua sendiri, ayah yang membiarkan dirinya dikuasai bisikan jahat hingga menebas keluarganya sendiri. Semua itu, dalam bahasa hadits Nabi ﷺ, adalah zhulm — kegelapan. Bukan hanya kegelapan moral, tetapi kegelapan ontologis: kegelapan yang akan menemani pelakunya di hari kiamat sebagai bukti hitam atas dirinya sendiri.
Kezaliman kedua adalah syuhh — kekikiran yang menghalalkan apa yang Allah haramkan. Ini bukan kekikiran terhadap harta semata, hadirin. Ini juga kekikiran terhadap waktu yang seharusnya kita berikan untuk mendengarkan istri, untuk bermain dengan anak, untuk mengunjungi mertua, untuk menjenguk tetangga. Kekikiran terhadap maaf yang seharusnya kita ulurkan ketika hati terluka. Kekikiran terhadap doa yang seharusnya kita panjatkan ketika orang lain berbuat salah. Kekikiran-kekikiran inilah yang, kalau dibiarkan menumpuk, akhirnya membuka pintu untuk bisikan-bisikan paling kejam.
Hadirin yang dimuliakan Allah, satu pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri sendiri Jumat ini: dengan lima hari lagi menuju 1 Muharram 1448 H, sudahkah kita memeriksa apakah ada bibit zhulm dan syuhh di dalam rumah tangga kita yang sedang tumbuh diam-diam? Sudahkah kita memeriksa apakah ada kemarahan kecil kepada pasangan yang sudah berhari-hari tidak diselesaikan? Sudahkah kita memeriksa apakah ada kerinduan anak yang kita abaikan karena layar HP kita lebih bersinar? Muhasabah, hadirin, bukan sekadar refleksi puitis di malam tahun baru — muhasabah adalah audit darurat hati sebelum bibit-bibit itu tumbuh menjadi pohon yang merusak rumah.
Mari kita bawakan satu ayat lagi yang menjadi penyeimbang argumen ini.
QS. Adh-Dhaariyat: 18
وَبِٱلْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Allah berfirman tentang sifat orang-orang bertakwa — "Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar." Ayat ini, hadirin, menggambarkan satu kebiasaan kecil yang membuat hati seseorang tetap lembut: istighfar di waktu sahur. Sebelum azan subuh berkumandang, sebelum sibuk kerja dimulai, ada satu titik di mana hamba Allah meminta ampun atas segala kekurangan kemarin. Itulah praktek harian yang menjaga rumah tangga dari kegelapan zhulm dan syuhh.
Bandingkan, hadirin, dengan pola hidup kita hari ini. Pagi banyak dari kita justru dimulai dengan tarikan layar HP — membaca berita yang membuat marah, men-scroll feed yang membuat iri, atau menanggapi grup WhatsApp yang penuh perdebatan. Hati yang seharusnya disucikan dengan istighfar justru disirami pertengkaran sejak menit pertama bangun tidur. Bagaimana kita bisa berharap rumah yang dihuni hati seperti ini akan menjadi rumah yang sejuk? Bagaimana kita bisa berharap istri kita merasa dihormati, anak kita merasa diperhatikan, dan tetangga kita merasa dipedulikan, kalau hati kita sendiri sudah dipenuhi keributan sebelum matahari terbit?
Inilah, hadirin, kenapa muhasabah menjelang Muharram bukan ritual yang opsional. Muhasabah adalah jeda yang menyelamatkan. Lima hari di depan kita adalah kesempatan untuk berhenti sejenak, melihat ke dalam diri, dan menetapkan kebiasaan baru yang akan mengikat kita sepanjang 1448 H. Tidak perlu kebiasaan besar — cukup kebiasaan kecil yang istiqamah. Satu istighfar di waktu sahur. Satu menit dzikir pagi. Satu kalimat baik kepada pasangan setiap hari. Satu sentuhan kepada anak sebelum berangkat kerja. Itu cukup. Allah tidak meminta kita memikul ibadah yang tidak mungkin — Allah meminta kita konsisten dalam hal-hal kecil yang menyala terus-menerus.
Mari kita lihat juga ayat yang menjadi peringatan bagi mereka yang lalai dari muhasabah.
QS. An-Naml: 52
فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةًۢ بِمَا ظَلَمُوٓا۟ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةًۭ لِّقَوْمٍۢ يَعْلَمُونَ
Allah berfirman tentang kaum-kaum terdahulu — "Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi kaum yang mengetahui." Hadirin, ayat ini berbicara tentang Tsamud — kaum yang dibinasakan karena kezaliman mereka. Tetapi pesannya tidak terbatas pada masa lalu. Setiap rumah yang dipenuhi zhulm akan menjadi rumah yang khawiyah — runtuh, kosong, ditinggalkan. Bukan hanya runtuh fisik. Lebih sering, runtuh ruhani: rumah yang masih berdiri tetapi penghuninya tidak lagi saling memandang dengan kasih sayang.
Hadirin yang dimuliakan Allah, mari sekarang kita beralih ke arah praktis. Pekan ini, dengan lima hari menuju 1 Muharram, ada beberapa tindakan konkret yang khatib usulkan untuk seluruh jamaah:
Pertama, lakukan audit rumah tangga selama tujuh hari. Setiap malam sebelum tidur, ambil selembar kertas. Tulis satu syukur — satu hal baik yang terjadi hari ini. Tulis satu kekurangan — satu sikap atau ucapan yang kalau bisa diulang akan kita perbaiki. Dan tulis satu niat untuk besok — satu kebaikan kecil yang akan kita ulangi. Tujuh malam berturut-turut. Itu saja. Tetapi konsisten.
Kedua, kunjungi satu kerabat yang sudah lama tidak kita temui sebelum Muharram tiba. Tidak perlu kunjungan panjang — cukup setengah jam. Tidak perlu membawa hadiah mewah — cukup membawa wajah yang hadir. Banyak hubungan keluarga yang rusak karena pertemuan yang tertunda; jangan biarkan tahun baru Hijriah datang dengan beban silaturahmi yang belum tertunaikan.
Ketiga, mulailah dzikir pagi dan petang dengan format yang sederhana. Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, masing-masing tiga kali. Tasbih, tahmid, takbir, masing-masing 33 kali. Total tidak sampai lima menit. Tetapi cukup untuk menjaga hati tetap basah sepanjang hari. Mulai Senin depan — bertepatan dengan 1 Muharram.
Keempat, dengarkan satu orang yang biasa kita lewati. Bisa pasangan yang sering kita potong pembicaraannya. Bisa anak yang ceritanya kita anggap remeh. Bisa orang tua yang kalimatnya kita pikir sudah berulang. Pekan ini, beri mereka 15 menit penuh tanpa interupsi, tanpa HP, tanpa terburu-buru. Inilah ihsan terhadap manusia di tingkat yang paling sederhana — dan paling jarang dipraktekkan.
Kelima, sediakan ruang doa untuk diri sendiri sebelum tidur. Bukan doa berjamaah, bukan doa yang dihafal — doa pribadi, dalam bahasa Indonesia kalau perlu, dengan tangan terbuka kepada Allah. Sampaikan kerinduan, keluhan, harapan. Allah tidak butuh formalitas bahasa Arab untuk memahami; Allah hanya minta kejujuran hati.
Keenam, putuskan satu kebiasaan kecil yang ingin kita tinggalkan di tahun 1447 H. Bisa kebiasaan scroll yang menyita waktu. Bisa kebiasaan ngrasani tetangga. Bisa kebiasaan menunda sholat lima menit. Apa pun itu — pilih satu, lalu putuskan dengan niat yang sungguh-sungguh sebelum Muharram tiba. Hijrah pribadi tidak butuh deklarasi besar; ia butuh keputusan kecil yang istiqamah.
Hadirin yang dimuliakan Allah, kita kembali pada ayat pertama yang khatib buka tadi — "wadzkurismarabbika bukratan wa ashiila". Sebut nama Tuhanmu pagi dan petang. Inilah resep keseimbangan hidup Muslim Indonesia di abad ke-21. Bukan resep yang rumit. Bukan resep yang membutuhkan biaya. Hanya resep yang membutuhkan satu hal: kemauan untuk berhenti sebentar dari kebisingan dunia, dan kembali kepada Allah dengan hati yang jernih.
Allah Ta'ala mengingatkan kita di akhir QS. An-Naml: 52 — bahwa rumah yang runtuh karena kezaliman menjadi pelajaran bagi kaum yang mengetahui. Mari kita menjadi kaum yang mengetahui, hadirin. Mari kita pelajari kabar-kabar yang sampai kepada kita pekan ini — bukan untuk menjadi konsumen tragedi orang lain, melainkan untuk menjadi audit-pribadi kita sendiri. Apakah ada bibit di rumahku yang serupa? Apakah ada percikan zhulm di hatiku yang mulai membesar? Apakah ada syuhh yang membuatku kikir terhadap maaf, terhadap waktu, terhadap kasih sayang?
Hadirin, lima hari ke depan adalah kesempatan kita untuk muhasabah sebelum 1 Muharram. Jangan biarkan tahun 1447 H ditutup dengan hati yang sama seperti saat ia dibuka. Buat satu langkah maju — sekecil apa pun. Allah melihat istiqamah, bukan ukuran.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلٰى رِضْوَانِهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, di khutbah kedua ini izinkan khatib menegaskan ulang satu hal yang sering luput: bahwa muhasabah bukan hanya kegiatan kontemplatif yang dilakukan sendirian di kamar gelap. Muhasabah yang sejati selalu melahirkan tindakan — sekecil apa pun. Hati yang merenung tanpa melahirkan amal adalah hati yang menipu dirinya sendiri.
Kita pekan ini diperlihatkan berita-berita yang menusuk hati: anak yang dini berjuang menjajakan dagangan, istri yang dibunuh suami, mertua yang diracun menantu. Kalau kita berhenti hanya pada perasaan "kasihan ya" atau "ngeri ya", maka kita gagal memetik pelajaran. Muhasabah yang sejati menanyakan: apa peranku dalam mencegah hal serupa terjadi di lingkungan terdekatku? Adakah anak di RT-ku yang sekarang dalam posisi seperti bocah penjual bacil itu, yang aku belum tegur dan belum tanya kabarnya? Adakah keluarga di kampungku yang sedang retak diam-diam, yang aku belum berani menjenguk untuk sekadar mendengar?
Hadirin, perhatikan bahwa Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan kita untuk takut akan terlilit utang — utang harta, ya, tetapi juga utang kepedulian, utang kehadiran, utang kata-kata baik yang seharusnya kita ucapkan tetapi tertunda terus. Lima hari ke depan adalah kesempatan kita untuk melunasi sebagian utang-utang ini — bukan dengan uang, tetapi dengan kehadiran. Satu kunjungan kepada tetangga lansia. Satu obrolan dengan anak remaja yang sudah lama tidak kita ajak ngobrol. Satu kata maaf kepada pasangan yang sudah terlalu lama tertahan.
Dan akhirnya, hadirin, ingatlah bahwa pergantian tahun Hijriah bukan tentang membuat resolusi yang muluk. Pergantian tahun Hijriah adalah tentang kembali kepada esensi: bahwa setiap hari kita diberi pagi dan petang untuk menyebut nama Allah, untuk istighfar, untuk memperbaiki diri sedikit demi sedikit. Hijrah pribadi terjadi dalam keputusan-keputusan kecil yang istiqamah, bukan dalam pengumuman besar yang dibatalkan dalam dua pekan.
Mari kita tutup dengan doa.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَخْتِمَ لَنَا عَامَنَا هٰذَا بِالْمَغْفِرَةِ وَالرِّضْوَانِ، وَأَنْ تَفْتَحَ لَنَا عَامَنَا الْجَدِيْدَ بِالنَّصْرِ وَالتَّوْفِيْقِ، وَأَنْ تَجْعَلَهُ عَامًا مُبَارَكًا عَلَيْنَا وَعَلٰى أَهْلِيْنَا وَأَوْلَادِنَا.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بُيُوْتَنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَاجْعَلْهَا مَسَاكِنَ السَّكِيْنَةِ وَالْمَوَدَّةِ وَالرَّحْمَةِ، وَاحْفَظْ أَطْفَالَنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ، وَارْزُقْهُمْ صِحَّةً فِي أَبْدَانِهِمْ وَصَلَاحًا فِي قُلُوْبِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ مُعِيْنًا وَنَاصِرًا، وَرُدَّ كَيْدَ الظَّالِمِيْنَ فِيْ نُحُوْرِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ أَمِيْنًا مُطْمَئِنًّا سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ مَنْ رَبَّانَا صِغَارًا، وَاجْعَلْ ذُرِّيَّتَنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا وَإِمَامًا لِلْمُتَّقِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
