Pekan ini, sebuah cuitan singkat beredar — "hati dan kepala mengerang merintih menjerit minta tolong ke tuhan" — sebelas kata yang menelanjangi inti dari kerinduan manusia kepada Tuhan. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah — قصة الثلاثة الذين أووا إلى الغار menghimpun sebuah kisah lama dari kaum sebelum kita, yang ketika hati mereka benar-benar mengerang, mereka tahu satu pintu yang masih terbuka. Tiga lelaki. Satu gua. Hujan deras.
Tiga lelaki dalam perjalanan. Hujan turun tiba-tiba di tengah gurun. Mereka berlari mencari tempat berteduh. Sebuah gua terlihat di lereng bukit. Mereka masuk ke dalam.
Lalu sebuah batu besar bergerak. Tertimpa angin atau gemuruh tanah — entahlah. Batu itu meluncur turun dan menutup mulut gua. Sempurna. Tidak ada celah. Tidak ada cahaya. Hanya gelap dan napas tiga lelaki yang mendadak menyadari mereka terkubur hidup-hidup.
Mereka saling pandang dalam gelap. Suara salah satu dari mereka pecah: "Demi Allah, wahai kalian, tidak ada yang akan menyelamatkan kita kecuali kejujuran. Hendaklah setiap orang dari kalian berdoa dengan menyebutkan amal yang dia tahu telah dia kerjakan dengan tulus."
Senyap sejenak. Lalu lelaki pertama angkat suara.
"Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa dulu aku punya seorang pekerja. Dia bekerja untukku, upahnya satu takar beras. Tetapi suatu hari dia pergi dan meninggalkan upahnya. Dia tidak kembali. Aku tidak buang takaran beras itu. Aku menanamnya. Beras itu tumbuh. Dari hasilnya aku membeli seekor sapi. Lalu sapi itu beranak. Beranak lagi. Sampai akhirnya menjadi sekawanan."
Dia menarik napas dalam gelap.
"Bertahun-tahun kemudian, pekerja itu datang. Dia berkata, 'Hai, kembalikan upahku — satu takar beras.' Aku jawab, 'Pergilah ke kawanan sapi itu. Itu milikmu.' Dia bingung. Dia berkata, 'Hai, aku hanya punya satu takar beras di sisimu, kenapa kamu kasih sapi?' Aku jawab, 'Pergilah ambil sapi itu — itu hasil dari berasmu.' Dia ambil. Semua. Tanpa kurang."
Suara lelaki pertama bergetar.
"Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa aku melakukan itu karena takut kepada-Mu — bukan karena ingin pujian, bukan karena ingin balasan — maka bukalah gua ini bagi kami."
Hening. Lalu sebuah suara — gemertak halus. Batu di mulut gua bergeser. Sedikit. Tidak cukup untuk keluar. Tetapi cukup untuk masuknya seberkas cahaya.
Lelaki kedua tertegun. Lalu dia mulai bicara — kisah tentang dia yang dulu sangat mencintai sepupunya, mendekatinya dengan niat yang salah, sepupunya menolak; ketika musim paceklik datang dan sepupunya datang minta uang, dia memberinya seratus dinar dengan syarat dia bisa mendapatinya. Sepupunya itu, dalam kelaparan, terpaksa setuju. Tetapi ketika lelaki kedua sudah duduk di sisinya, hampir menyentuhnya, sepupunya berkata, "Wahai hamba Allah, takutlah kepada-Nya — jangan buka apa yang Dia haramkan." Lelaki kedua bangkit. Dia pergi. Uang seratus dinar itu dia tinggalkan.
"Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa aku berdiri dan pergi karena takut kepada-Mu — buka gua ini bagi kami."
Batu bergeser lagi. Cahaya lebih terang. Mereka mulai melihat siluet satu sama lain.
Lelaki ketiga maju. Suaranya lebih lirih.
"Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa aku punya orang tua yang sudah tua. Aku selalu mengantarkan susu untuk mereka sebelum aku memberi keluargaku dan anak-anakku. Suatu malam aku pulang terlambat. Mereka sudah tidur. Aku tidak tega membangunkan. Aku berdiri di samping pembaringan mereka dengan gelas susu di tangan — semalam suntuk — sementara anak-anakku menangis kelaparan di kakiku. Aku tidak memberi mereka sebelum kedua orang tuaku bangun dan minum dulu."
Hening. Hanya napas tiga lelaki dan gemericik tetesan air dari atap gua.
"Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa aku lakukan itu karena Engkau — bukalah gua ini bagi kami."
Batu bergeser sempurna. Mulut gua terbuka lebar. Cahaya matahari membanjiri ruangan. Tiga lelaki melangkah keluar — kembali ke jalan, kembali ke hidup mereka, dengan satu kepastian yang baru saja mereka rasakan di tubuh mereka sendiri: bahwa doa yang ditenun dari amal tulus, tidak pernah ditolak.
Pelajaran
Apa yang membuat ketiga lelaki ini terselamatkan bukanlah amal mereka — amal yang mereka kerjakan dahulu adalah pekerjaan biasa yang dilakukan banyak orang. Yang membuat doa mereka didengar adalah keikhlasan yang menemani amal itu. Setiap dari mereka mengulang frasa yang sama — "jika Engkau tahu bahwa aku lakukan ini karena Engkau" — bukan untuk meyakinkan Allah, tetapi untuk menyatakan dengan jelas kepada diri sendiri bahwa amal itu tidak punya bayangan riya'. Pekan ini, ketika berita-berita keras membuat hati kita ingin "mengerang merintih menjerit minta tolong ke tuhan", kisah ini mengingatkan: pertolongan datang lebih cepat kepada hati yang sudah menabung amal tulus diam-diam, sebelum krisis datang. Lima hari menuju 1 Muharram, satu pertanyaan untuk kita: amal kecil apa yang kita kerjakan diam-diam tahun ini, yang akan menjadi modal kita berdoa di tahun depan?
Sumber Asli
Al-Bidayah wan-Nihayah — قصة الثلاثة الذين أووا إلى الغار
[قِصَّةُ الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ أَوَوْا إِلَى الْغَارِ] فَانْطَبَقَ عَلَيْهِمْ فَتَوَسَّلُوا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِصَالِحِ أَعْمَالِهِمْ فَفُرِّجَ عَنْهُمْ قَالَ الْإِمَامُ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ خَلِيلٍ أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «بَيْنَمَا ثَلَاثَةُ نَفَرٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ يَمْشُونَ إِذْ أَصَابَهُمْ مَطَرٌ فَأَوَوْا إِلَى غَارٍ فَانْطَبَقَ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: إِنَّهُ وَاللَّهِ يَا هَؤُلَاءِ لَا يُنَجِّيكُمْ إِلَّا الصِّدْقُ فَلْيَدْعُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْكُمْ بِمَا يَعْلَمُ أَنَّهُ قَدْ صَدَقَ فِيهِ فَقَالَ وَاحِدٌ مِنْهُمُ: اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ كَانَ لِي أَجِيرٌ، عَمِلَ لِي عَلَى فَرَقٍ مِنْ أَرُزٍّ فَذَهَبَ وَتَرَكَهُ، وَأَنِّي عَمَدْتُ إِلَى ذَلِكَ الْفَرَقِ فَزَرَعْتُهُ فَصَارَ مِنْ أَمْرِهِ أَنِّي اشْتَرَيْتُ مِنْهُ بَقَرًا، وَأَنَّهُ أَتَانِي يَطْلُبُ أَجْرَهُ فَقُلْتُ: اعْمَدْ إِلَى تِلْكَ الْبَقَرِ فَسُقْهَا فَقَالَ لِي: إِنَّمَا لِي عِنْدَكَ فَرَقٌ مِنْ أَرُزٍّ فَقُلْتُ لَهُ: اعْمَدْ إِلَى تِلْكَ الْبَقَرِ فَإِنَّهَا مِنْ ذَلِكَ الْفَرَقِ فَسَاقَهَا فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ مِنْ خَشْيَتِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا فَانْسَاخَتْ عَنْهُمُ الصَّخْرَةُ.
