بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَجَعَلَ الْعَافِيَةَ نِعْمَةً لَا تُقَدَّرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ عَلَّمَنَا أَنَّ الْمُؤْمِنَ الْقَوِيَّ خَيْرٌ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di malam menjelang pergantian tahun Hijriah ini — kita semua tinggal lima hari lagi memasuki 1 Muharram 1448 H — saya ingin mengajak kita untuk merenungkan sebuah kalimat sederhana yang muncul di feed media sosial pekan ini. Sebuah cuitan singkat berbunyi: "Hati dan kepala mengerang merintih menjerit minta tolong ke tuhan." Sebelas kata. Tanpa tanda baca. Ditulis seseorang yang barangkali tidak tidur malam itu.
Para jamaah, kita semua pernah merasa seperti itu. Bukan satu kali, bahkan beberapa kali dalam hidup. Ada saat-saat di mana semua usaha terasa mentok, semua jalan terasa buntu, dan satu-satunya yang tersisa hanyalah teriakan dalam diri yang sebenarnya adalah doa, walaupun tidak berbentuk doa formal. Saat seperti itu, Al-Qur'an memberi kita satu ayat yang menjadi pegangan.
وَٱذْكُرِ ٱسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةًۭ وَأَصِيلًۭا
Allah berfirman dalam QS. Al-Insaan: 25 — "Dan sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang." Para jamaah, ayat ini bukan perintah ibadah ritual semata. Ayat ini adalah resep eksistensial: bahwa hati manusia yang rapuh hanya bisa stabil kalau ia diikat dengan nama Tuhannya, dipasang jangkar dua kali sehari. Pagi sebelum dunia mulai membuat kita lelah. Petang sebelum malam membuat kita kesepian.
Cuitan yang saya sebutkan tadi — "hati dan kepala mengerang merintih menjerit minta tolong ke tuhan" — adalah ekspresi kerinduan paling murni. Yang menarik, para jamaah, kerinduan itu tidak salah alamat. Yang dia panggil adalah Tuhan. Yang dia minta adalah pertolongan. Persoalannya hanya satu: dia menunggu sampai puncak rasa sakit untuk memanggil. Padahal Al-Qur'an mengajari kita untuk memanggil sebelum sakit datang — pagi dan petang. Setiap hari. Tidak menunggu krisis.
Mari kita ambil pelajaran dari pekan ini. Berita-berita yang sampai ke kita sungguh berat. Dari Bali, seorang ayah diduga terpengaruh ilmu hitam menebas keluarganya sendiri; anak ditemukan kritis. Dari Situbondo, suami nekat membunuh istrinya yang berprofesi sebagai bidan karena cemburu. Dari Boyolali, ibu mertua tewas usai memakan sate beracun yang dikirim menantu. Tiga kejadian dalam pekan yang sama. Tiga rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, justru menjelma tempat paling berbahaya.
Para jamaah, kalau kita renungkan, ketiga pelaku ini barangkali juga punya momen "hati dan kepala mengerang" sebelum tindakan keji itu terjadi. Mungkin mereka juga pernah punya kerinduan murni kepada Tuhan. Tetapi entah karena tidak ada yang menemani, atau tidak ada yang mendengarkan, atau tidak ada kebiasaan dzikir yang menahan kemarahan, akhirnya kerinduan itu berubah menjadi pembiaran, dan pembiaran berubah menjadi kebencian, dan kebencian berubah menjadi tindakan keji. Satu kebiasaan kecil yang mungkin bisa mencegah semua itu: panggil nama Tuhan. Pagi. Petang. Setiap hari.
Saya pernah membaca satu hadits — dan ini relevan dengan keadaan kita pekan ini.
Sahih Muslim 6576
اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Rasulullah ﷺ bersabda dalam riwayat Muslim nomor 6576 — "Jauhilah kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan di Hari Kiamat." Para jamaah, kezaliman tidak datang tiba-tiba. Kezaliman tumbuh dari kebiasaan kecil yang dibiarkan: kemarahan yang tidak diredam, iri hati yang tidak diakui, syak wasangka yang dipupuk dengan tontonan-tontonan tertentu. Hati yang basah oleh dzikir pagi dan petang lebih sulit menjadi tanah subur untuk kezaliman, karena ia sudah terlatih untuk mengingat bahwa ada Allah yang melihat.
Para jamaah, mari kita gali lebih dalam. Sebuah cerita lain yang viral pekan ini: ada seorang bocah baru pulang sekolah, masih memakai seragam olahraga, terlihat menunggu di depan toko sambil menjajakan dagangannya. Banyak orang yang membaca berita itu merasa iba. Tetapi rasa iba tidak cukup, para jamaah — rasa iba harus berubah menjadi tindakan. Bisakah malam ini kita masing-masing menengok ke RT kita sendiri: adakah anak seperti itu yang setiap hari kita lewati tetapi tidak pernah kita tegur? Adakah keluarga yang kelihatan biasa-biasa saja dari luar tetapi sebenarnya sedang menanggung beban berat di dalam?
Para jamaah, lima hari menuju 1 Muharram adalah kesempatan kita untuk muhasabah bukan dengan kontemplasi yang abstrak, tetapi dengan tiga tindakan konkret malam ini juga. Pertama, mulai besok pagi, sediakan tiga menit di sajadah setelah sholat subuh untuk dzikir dan istighfar — tidak perlu panjang, cukup tiga menit. Kedua, sediakan tiga menit lagi setelah sholat maghrib untuk dzikir petang — sebagai jangkar penutup hari. Ketiga, ajak satu anggota keluarga — pasangan, anak, atau orang tua — untuk ngobrol 15 menit malam ini tanpa HP. Hanya ngobrol. Tanyakan kabar mereka dengan sungguh-sungguh.
Para jamaah, kita semua adalah hati yang kadang mengerang. Kita semua punya momen di mana rasanya semua jalan buntu. Bedanya bukan apakah kita mengalami momen itu atau tidak — bedanya adalah apakah kita sudah memasang jangkar pagi dan petang sebelum momen itu datang. Insya Allah, dengan istiqamah dalam hal kecil ini, hati kita lebih siap menghadapi badai apa pun yang akan datang di tahun 1448 H.
Mari kita tutup dengan doa.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَكَ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، وَاجْعَلْ قُلُوْبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَ، وَأَلْسِنَتَنَا رَطْبَةً مِنْ شُكْرِكَ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بُيُوْتَنَا مِنَ الْفِتَنِ، وَاجْعَلْهَا مَسَاكِنَ الْمَوَدَّةِ وَالرَّحْمَةِ، وَاحْفَظْ أَطْفَالَنَا، وَأَهْلَنَا، وَجِيْرَانَنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ.
اَللّٰهُمَّ بَلِّغْنَا الْعَامَ الْجَدِيْدَ، وَاجْعَلْهُ عَامَ بَرَكَةٍ وَتَوْفِيْقٍ وَهِدَايَةٍ، وَاخْتِمْ لَنَا الْعَامَ الْحَالِيَّ بِخَيْرٍ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
