Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatKonflik & GeopolitikKamis, 11 Juni 2026

Khutbah Jumat

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِيْ جَعَلَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِخْوَةً، وَجَعَلَ مِيْزَانَ الْعَدْلِ قَائِمًا بَيْنَ عِبَادِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah pada Jumat yang penuh berkah ini kita mengangkat hati bersama, di hari kedua puluh lima bulan Dzulhijjah, lima hari sebelum kita meninggalkan tahun 1447 H dan memasuki tahun 1448 H. Jumat ini adalah Jumat terakhir di tahun yang akan segera kita tutup; sebuah pintu pelan-pelan menutup, dan pintu baru akan terbuka pada Senin nanti. Apa yang akan kita bawa ke pintu baru itu, hadirin? Apa yang akan kita tinggalkan di pintu yang menutup?

Allah berfirman dalam Kitab-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ بِٱلْقِسْطِ شُهَدَآءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ أَوِ ٱلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ ۚ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًۭا فَٱللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلْهَوَىٰٓ أَن تَعْدِلُوا۟ ۚ وَإِن تَلْوُۥٓا۟ أَوْ تُعْرِضُوا۟

"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan kata-kata atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan." QS. An-Nisaa: 135.

Hadirin yang dimuliakan Allah, ayat ini turun bukan untuk hakim di pengadilan saja. Ayat ini turun untuk setiap mukmin yang berdiri di antara dua dunia—dunia di mana keadilan harus ditegakkan, dan dunia di mana hawa nafsu, ketakutan, atau kepentingan bisikan membisikkan kita untuk diam. Pekan ini kita semua—saya dan ibu-bapak yang hadir di majelis Jumat ini—diuji oleh kabar yang sampai kepada kita dari tanah yang jauh: dari Gaza, dari Lebanon, dari pertikaian terbuka antara Israel dan Iran. Kita menyaksikan kezaliman yang berlangsung. Kita menonton dokumenter di mana seorang penyintas berkata: "saya kira saya tidak akan selamat." Kita membaca laporan badan PBB dan organisasi hak asasi internasional yang mendokumentasikan dengan tinta dingin apa yang sebenarnya terjadi.

Lalu kita menutup laptop. Kita mematikan ponsel. Kita pergi tidur. Dan paginya kita ke pasar—dan menemukan harga cabai sudah naik lagi, harga minyak goreng menyentuh ambang baru, dan rupiah sudah hampir di angka delapan belas ribu. Tiba-tiba kita sadar: kezaliman di Gaza yang kita saksikan dari layar itu ternyata mendarat di dapur kita melalui jalur kurs dan harga minyak dunia. Ada saling serang di langit Tel Aviv dan Teheran—dan ada minyak goreng yang ikut tertarik harganya di pasar Senen. Dua hal yang tampaknya jauh, ternyata duduk di kursi yang sama.

Hadirin, dunia ini saling terjalin lebih dari yang kita kira. Dan kalau kita merasa tidak punya kuasa apa-apa untuk menghentikan kezaliman di tanah yang jauh, jangan keliru memahami diri sendiri—kita semua, sebagai umat, masih punya kuasa: kuasa untuk tidak menjadi bagian dari kezaliman; kuasa untuk tidak melupakan saudara yang teraniaya; dan kuasa untuk tidak terjun ke nada kebencian yang justru menjauhkan kita dari rahmat Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban:

كَيْفَ تُقَدَّسُ أُمَّةٌ، لَا يُؤْخَذُ مِنْ شَدِيدِهِمْ لِضَعِيفِهِمْ

"Bagaimana suatu umat dapat disucikan dari dosa-dosanya di mana hak orang-orang lemahnya tidak diambil dari orang-orang kuatnya?" Bulugh al-Maram 1587.

Pertanyaan ini ditujukan kepada setiap kita. Pertanyaan ini bertanya: bagaimana mungkin umat berbicara tentang kesucian, tentang ibadah, tentang ketakwaan—padahal di dalam umat itu sendiri masih ada yang lemah haknya tidak dijaga oleh yang kuat? Hadirin, mari kita renungkan dua sisi pertanyaan ini. Sisi pertama: skala besar—umat Palestina yang lemah, yang haknya direnggut oleh kekuatan yang lebih besar darinya, dan dunia internasional yang seharusnya menjaga keadilan justru memberikan perlindungan kepada yang menindas. Sisi kedua: skala kecil—di RT kita sendiri, di kompleks kita sendiri, di lingkungan masjid kita sendiri, apakah hak lansia yang tinggal sendiri sudah dijaga? Apakah hak janda yang ditinggal anak-anaknya merantau sudah ditengok? Apakah hak yatim di sebelah rumah kita sudah dipikirkan?

Karena, hadirin, kalau kita marah pada dunia yang gagal melindungi yang lemah di tanah jauh, sementara kita sendiri abai pada yang lemah di sebelah rumah kita—maka kemarahan kita kehilangan akar. Iman tidak boleh sebatas trending topic. Iman dimulai dari pintu rumah yang kita buka setiap hari, dari sapa kepada tukang sampah yang lewat setiap Selasa, dari salam kepada nenek yang duduk sendiri di depan rumah kontrakan.

Allah berfirman dalam Surat An-Nahl:

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." QS. An-Nahl: 90.

Hadirin yang dimuliakan Allah, ayat ini adalah ayat yang oleh banyak ulama disebut sebagai ayat paling padat dalam Al-Qur'an. Dalam satu napas, Allah menyebut tiga perintah dan tiga larangan. Tiga perintah: adil, ihsan, dan memberi kepada kerabat. Tiga larangan: yang keji, yang munkar, dan permusuhan. Coba kita renungkan urutan ini. Allah tidak memulai dengan perintah ibadah ritual—Allah memulai dengan adil. Lalu ihsan—berbuat baik melebihi yang adil. Lalu memberi kerabat—lingkaran terdekat yang sering kita lupakan karena kita sibuk mengurus orang jauh.

Tafsir ayat ini sangat dalam untuk pekan kita ini. Kita banyak berbicara tentang ketidakadilan global—itu benar dan baik. Tapi kalau dalam kosa kata kita sudah ada kata "adil" yang kita teriakkan kepada institusi internasional, sementara di rumah kita sendiri istri yang menanggung beban rumah tangga belum kita perlakukan dengan adil, anak yang minta perhatian kita belum kita dengar dengan adil, karyawan di toko kita belum kita gaji dengan adil—maka ayat ini menampar kita dengan halus. Allah berfirman: mulai dari yang terdekat. Adl. Ihsan. Itai dzil-qurba. Tiga lapis yang dimulai dari pusat lingkaran kita.

Kemudian Allah menyebut: melarang yang keji, yang munkar, dan permusuhan. Permusuhan—al-baghyu. Inilah yang sedang kita saksikan di Gaza, di Lebanon, di mana saja yang lemah ditindas oleh yang kuat. Tapi al-baghyu juga ada bibitnya di rumah, di kantor, di status WhatsApp yang kita tulis dengan marah, di kalimat kepada anak yang kita ucapkan dengan kasar. Mukmin yang menanam al-baghyu di rumahnya tidak punya hak untuk berteriak melawan al-baghyu di tanah yang jauh.

Hadirin, kita masuk ke sirah Nabi ﷺ sebentar. Pada masa Rasulullah ﷺ, sahabat-sahabat beliau yang merasakan langsung penindasan Mekah—Bilal yang disiksa di atas pasir, Khabbab yang punggungnya dibakar, keluarga Yasir yang menjadi syahid—mereka tidak menjadi mukmin yang penuh dendam ketika kemudian Mekah dibebaskan. Pada Fathu Makkah, ketika Rasulullah ﷺ memasuki Mekah dengan kemenangan, kalimat beliau adalah "Idzhabu, fa antumut-thuluqa"—pergilah, kalian semua bebas. Tidak ada pembalasan. Tidak ada penindasan baru yang dibangun di atas penindasan lama. Inilah hikmah yang harus kita pelajari sebagai umat yang sedang menyaksikan saudara teraniaya: tujuan akhir bukan penindasan terbalik; tujuan akhir adalah keadilan yang tertegak.

Hadirin, dari benang ini saya ingin menarik garis ke benang ekonomi yang juga ramai pekan ini. Ketika rupiah melemah, ketika harga minyak naik, ketika gaji yang kita terima tetap sama tetapi belanja bulanan membengkak—siapa yang paling tertekan? Bukan kita yang masih punya kantor dan gaji bulanan. Yang paling tertekan adalah pedagang kecil di pasar yang modalnya tidak bisa ikut menyesuaikan; tukang ojek yang BBM-nya naik sementara tarif tidak boleh naik; ibu rumah tangga yang harus mengatur ulang menu mingguan dengan anggaran yang tidak bertambah; pekerja harian yang upahnya stagnan.

Inilah orang-orang lemah di kompleks kita sendiri, di pasar tetangga kita, di gang sebelah masjid kita. Kalau kita marah pada institusi internasional yang gagal menjaga yang lemah—mari kita gunakan kemarahan itu sebagai bahan bakar untuk menjaga yang lemah di sini, di tangan kita sendiri.

Allah berfirman dalam Surat Aali-Imran:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah." QS. Aal-i-Imraan: 110.

Hadirin, perhatikan urutan dalam ayat ini. Allah tidak berfirman "kalian akan menjadi umat terbaik kalau kalian bisa mengubah dunia". Allah berfirman: kalian adalah umat terbaik karena tiga hal—amar ma'ruf, nahi munkar, dan iman kepada Allah. Tiga hal yang bisa dilakukan di mana saja, oleh siapa saja, dalam kondisi apa saja. Di pekan ini, ketika kita merasa kecil di hadapan kekuatan dunia, ayat ini mengingatkan bahwa kebesaran umat tidak datang dari kekuatan politik atau kekayaan ekonomi—kebesaran umat datang dari konsistensi mengajak pada yang ma'ruf dan mencegah yang munkar.

Maka tugas kita pekan ini, hadirin, sangat konkret:

Pertama, jadilah pendengar bagi yang sedang berduka. Pekan ini banyak jamaah yang menonton dokumenter Gaza dan tidak bisa tidur. Mereka butuh tempat untuk berbicara tanpa diceramahi. Buka rumah kita, buka masjid kita, buka grup WhatsApp kita untuk percakapan yang jujur—bukan untuk meneruskan video konflik, tetapi untuk membahas bagaimana kita harus merespons sebagai mukmin.

Kedua, mulai keadilan dari pintu rumah sendiri. Sebelum kita marah pada dunia, mari kita audit lima hari ke depan—lima hari yang tersisa sebelum 1 Muharram 1448 H—apakah kita sudah berlaku adil kepada istri kita, kepada anak kita, kepada karyawan kita, kepada tukang sampah kita? Adl, ihsan, itai dzil-qurba. Mulai dari pusat lingkaran.

Ketiga, dengan momentum tahun baru hijriah, perbarui niat. Tahun 1447 H telah kita lalui—mungkin dengan banyak kelalaian, mungkin dengan banyak janji yang belum kita tepati. Lima hari ini adalah jeda yang Allah berikan untuk muhasabah. Bukalah catatan diri, bukan untuk menyiksa diri, tetapi untuk menamai apa yang harus dibawa ke tahun baru dan apa yang harus ditinggalkan.

Keempat, jaga lidah dan jari. Di pekan yang penuh kabar berat, mudah sekali kita terjebak menyebarkan konten yang belum tervalidasi, atau memposting kalimat marah yang justru merusak akhlaq kita sendiri. Mukmin yang baik adalah yang selamat saudaranya dari lidah dan tangannya. Sebelum tekan tombol share, tarik napas. Sebelum mengetik komentar, tanyakan: apakah ini akan mendekatkan orang kepada Allah, atau menjauhkan?

Kelima, sandarkan langkah pada doa yang konkret. Berdoalah untuk Palestina dengan menyebut nama-namanya. Berdoalah untuk pemimpin Indonesia dengan memohon perbaikan, bukan kehancuran. Berdoalah untuk diri sendiri dengan kesungguhan—karena kelemahan kita untuk berbuat baik adalah kelemahan paling dekat yang harus kita lawan terlebih dulu.

Hadirin, ada satu kisah dari para sahabat yang patut kita renungkan. Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu, ketika beliau berbaring di pembaringan terakhirnya, dikelilingi anak-anaknya yang menangis, beliau berkata satu kalimat yang aneh: "Jangan menangisi aku. Demi Allah, tidak ada jiwa yang lebih aku cintai kepergiannya selain jiwa Abu Bakrah ini." Anak-anaknya terkejut. "Kenapa, wahai ayah?" Beliau menjawab: "Karena aku khawatir akan mendapati zaman di mana aku tidak mampu lagi memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah yang munkar, dan tidak ada kebaikan pada zaman itu."

Hadirin, kisah ini bukan kisah sedih. Kisah ini adalah kisah seorang sahabat yang menjaga prioritas hidupnya sampai napas terakhir: yang dia takutkan bukan kematian, tetapi hidup yang tidak lagi memiliki ruang untuk amar ma'ruf nahi munkar. Mari kita tanyakan ke diri sendiri: lima hari sebelum tahun baru hijriah, apakah ruang amar ma'ruf nahi munkar di hidup kita masih hidup? Apakah kita masih berani menegur yang salah, dengan hikmah? Apakah kita masih berani mengajak yang lalai, dengan rahmah? Atau kita sudah menjadi mukmin yang hanya menonton dari jauh, mengelus dada, dan tidur lagi?

Hadirin, mari kita tutup khutbah pertama ini dengan satu kalimat: tahun 1448 H akan datang. Kita tidak tahu apakah kita akan sampai ke akhirnya. Tetapi Allah memberikan kita lima hari untuk bersiap, lima hari untuk muhasabah, lima hari untuk menatap pintu yang menutup dan pintu yang akan terbuka dengan hati yang lebih jernih.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, dalam khutbah pertama kita memetakan tiga benang besar: kezaliman yang berlangsung di tanah jauh, transmisi tekanan global ke dapur rakyat kita, dan krisis kepercayaan pada institusi. Mari kita dalami satu sisi lagi sebelum kita berdoa bersama.

Yang ingin saya tegaskan di sini adalah ini: dakwah pekan ini bukan dakwah yang berapi-api. Dakwah pekan ini adalah dakwah yang lembut, sabar, tetapi tidak menyerah. Kita memerlukan keberanian untuk berbicara tentang kezaliman tanpa terjun ke kebencian; keberanian untuk membela yang lemah tanpa merendahkan yang berbeda; keberanian untuk muhasabah tanpa larut dalam kesedihan. Inilah da'wah bil-hikmah—mengajak dengan kebijaksanaan, bukan dengan keras suara.

Di tahun yang akan kita masuki, mari kita ambil komitmen kecil tetapi konsisten. Satu pekan: sebut Palestina dalam doa kita setelah setiap sholat fardhu. Satu bulan: kunjungi satu keluarga rentan di RT kita. Satu tahun: bangun satu kebiasaan baru yang menyatukan ibadah ritual dan ibadah sosial. Kecil, konkret, terukur. Karena sebagaimana sahabat Abu Bakrah takut akan zaman di mana ruang amar ma'ruf hilang, kita pun harus menjaga ruang itu di hidup kita pribadi—mulai dari pintu rumah sendiri.

Akhirnya, hadirin, perlu kita ingat bahwa kemenangan umat ini tidak diukur dengan kekuatan senjata atau kekayaan ekonomi. Kemenangan umat ini diukur dengan sejauh mana ia menjaga amanah Allah—amanah ibadah, amanah keluarga, amanah harta, amanah jabatan, amanah kata-kata. Lima hari menjelang 1 Muharram 1448 H, mari kita kumpulkan kembali amanah-amanah yang tercecer di sepanjang tahun yang lalu, dan kita susun ulang dengan niat yang lebih jernih.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ وَفِيْ غَزَّةَ وَفِيْ لُبْنَانَ وَفِيْ كُلِّ بِلَادٍ مَزَّقَتْهَا الْحُرُوْبُ، اَللّٰهُمَّ احْفَظْ دِمَاءَهُمْ وَأَعْرَاضَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ، وَاجْعَلْ كَيْدَ أَعْدَائِهِمْ فِيْ نُحُوْرِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الشُّهَدَاءَ، وَاشْفِ الْجَرْحَى، وَأَطْعِمِ الْجَائِعِيْنَ، وَآوِ الْمُشَرَّدِيْنَ، وَاكْفِ الْأَيْتَامَ وَالْأَرَامِلَ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْ وِلَايَتَهُمْ فِيْ مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلٰى دِيْنِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلٰى طَاعَتِكَ.

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ سَنَتِنَا الْجَدِيْدَةِ الْقَادِمَةِ، وَاجْعَلْهَا سَنَةَ خَيْرٍ وَبَرَكَةٍ، سَنَةَ نَصْرٍ لِلْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، سَنَةَ هِدَايَةٍ لِلضَّالِّيْنَ، وَتَوْبَةٍ لِلْعَاصِيْنَ، وَشِفَاءٍ لِلْمَرْضَى، وَفَرَجٍ لِلْمَكْرُوْبِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan