Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsKonflik & GeopolitikKamis, 11 Juni 2026

Kisah Pendek — "Ketakutan Abu Bakrah yang Berbeda"

Lima hari menuju tahun baru hijriah, sebuah kisah dari Hayat as-Sahabah karya Syaikh Yusuf al-Kandahlawi menggugah hati pada pekan yang berat ini. Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu, sahabat Nabi ﷺ, di pembaringan terakhirnya mengucapkan kalimat yang membuat anak-anaknya berhenti menangis dan terkejut—kalimat yang sampai hari ini meminta kita untuk merenungkan apa yang sebenarnya layak ditakuti di tahun yang akan datang.

Abu Bakrah dulu menikah dengan seorang perempuan dari Bani Ghudanah. Perempuan itu wafat. Abu Bakrah membawa jenazahnya ke makam.

Saudara-saudara perempuannya menghalangi Abu Bakrah dari memimpin sholat jenazah. Mereka berdiri di antara dia dan tubuh saudari mereka. Pandangan dingin. Tangan terbuka. Tidak ada kata yang ramah.

Abu Bakrah, dengan suara yang tetap tenang, berkata: "Jangan kalian lakukan ini. Aku lebih berhak memimpin sholat atasnya daripada kalian."

Mereka diam sejenak. Salah seorang mengangguk pelan. "Benar, ia sahabat Rasulullah ﷺ." Mereka mundur. Abu Bakrah maju, memimpin sholat jenazah dengan suara yang bergetar tetapi jernih.

Setelah sholat selesai, Abu Bakrah turun ke liang lahad untuk membantu memakamkan jenazah. Di dalam liang yang dalam itu, saudara-saudara almarhumah—yang barangkali masih menyimpan amarah—mendorong Abu Bakrah dengan keras. Sebuah dorongan yang tidak masuk akal di pinggir makam. Abu Bakrah jatuh. Kepalanya membentur. Pingsan.

Mereka mengangkat tubuhnya yang tidak sadarkan diri. Mereka membawanya pulang ke rumah keluarganya. Di rumah, anak-anak Abu Bakrah—anak laki-laki dan anak perempuannya—menangis. Suara tangis penuh sesak memenuhi ruangan. Abdul Aziz, salah seorang dari anak-anak Abu Bakrah yang paling kecil, berdiri di pojok, menatap dengan mata bening yang masih belum paham apa yang sedang terjadi.

Tiba-tiba Abu Bakrah membuka mata. Sadar perlahan. Suaranya lemah tetapi jelas.

"Jangan kalian menangisi aku. Demi Allah, tidak ada jiwa yang lebih aku cintai kepergiannya daripada jiwa Abu Bakrah ini."

Ruangan terdiam. Tangis berhenti seketika. Anak-anaknya saling pandang. Salah seorang mendekat dengan tangan gemetar. "Kenapa, wahai ayah? Kenapa engkau berkata begitu?"

Abu Bakrah menarik napas. Pandangannya menerawang ke langit-langit rumah.

"Aku khawatir akan mendapati zaman di mana aku tidak mampu lagi memerintahkan yang ma'ruf, dan tidak mampu mencegah yang munkar. Dan tidak ada kebaikan pada zaman itu."

Anak-anaknya tertunduk. Mata Abdul Aziz—anak yang paling kecil—berkaca-kaca. Ia tidak paham seluruhnya, tetapi ia tahu satu hal: ayahnya tidak takut mati. Yang ditakutkan ayahnya adalah hidup yang panjang dengan amar ma'ruf yang lumpuh.

Di luar rumah, angin gurun bertiup pelan. Pohon kurma bergoyang lembut. Madinah—atau di mana pun mereka tinggal saat itu—tetap berjalan seperti biasa. Tetapi di dalam rumah Abu Bakrah, satu pelajaran besar sedang ditanam ke dalam ingatan anak-anaknya.

Abu Bakrah memejamkan mata. Wajahnya tenang.

"Yang berbahaya bukan kematian," gumamnya, hampir untuk dirinya sendiri. "Yang berbahaya adalah hidup di zaman ketika yang ma'ruf tidak lagi punya tempat, dan yang munkar tidak lagi ditegur."

Anak-anaknya menangis lagi—kali ini bukan karena takut kehilangan ayah, melainkan karena akhirnya paham apa yang sebenarnya layak ditakuti.

Pelajaran

Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang ikut berperang, ikut menyaksikan zaman kekhalifahan, ikut menyaksikan goncangan politik di akhir hayatnya. Beliau bukan orang yang tidak tahu apa itu kesulitan. Tetapi di pembaringan terakhirnya, yang menjadi rasa takut paling dalam bukan kematian, bukan rasa sakit, bukan kehilangan harta atau status—melainkan kemungkinan hidup terlalu lama di zaman ketika ruang untuk amar ma'ruf nahi munkar tertutup. Pekan ini, ketika kabar berat dari Gaza, dari pertikaian Israel-Iran, dari pelemahan rupiah, dari laporan HAM yang gelap berdatangan ke layar kita, mungkin kita perlu menumbuhkan ketakutan yang sama: bukan takut pada beratnya zaman, melainkan takut pada hari ketika kita berhenti peduli, berhenti menegur kemungkaran, berhenti memerintahkan yang ma'ruf di lingkaran terkecil kita sendiri. Lima hari menjelang 1 Muharram 1448 H, doa Abu Bakrah yang paling layak kita warisi adalah ini: ya Allah, jangan beri kami umur yang panjang tanpa amar ma'ruf, beri kami umur yang berkah dengan amar ma'ruf yang hidup sampai napas terakhir.

Sumber Asli

Hayat as-Sahabah — الباب الرابع باب الهجرة / تخوف أبي بكرة أن يدرك زمانا ليس فيه أمر بالمعروف ونهي عن المنكر

وأخرج الطبراني عن عبد العزيز بن أبي بَكْرة أن أبا بَكْرة رضي الله عنه تزوج امرأة من بني غُدانة، وأنها هلكت فحملها إلى المقابر، فحال إخوتها بينه وبين الصلاة، فقال لهم: لا تفعلوا فإني أحق بالصلاة منكم، قالوا: صدق صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم فصلَّى عليها.

ثم إنه دخل القبر فدفعوه دفعاً عنيفاً فوقع فغُشي عليه، فحُمل إلى أهله فصرخ عليه يومئذ عشرون من ابن وبنت له — قال عبد العزيز: وأنا يومئذ من أصغرهم — فأفاق إفاقة فقال: لا تصرخوا عليَّ، فوالله ما من نفس تخرج أحب إليَّ من نفس أبي بَكْرة.

ففزع القوم فقالوا: لم يا أبانا؟ قال: إني أخشى أن أدرك زماناً لا أستطيع أن آمر بالمعروف ولا أنهي عن منكر، ولا خير يومئذ. ورجاله ثقات، كما قال الهيثمي.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan