Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumKonflik & GeopolitikKamis, 11 Juni 2026

Kultum

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ السَّنَوَاتِ مَنَازِلَ يَسِيْرُ فِيْهَا الْعِبَادُ إِلٰى رَبِّهِمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ عَلَّمَنَا الْمُحَاسَبَةَ قَبْلَ أَنْ نُحَاسَبَ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, malam ini kita berkumpul ba'da sholat dengan kabar yang berat di pekan kita. Lima hari lagi—Senin nanti—kita memasuki 1 Muharram 1448 Hijriah. Tahun baru. Lembar baru. Dan kita berdiri di pekan terakhir tahun 1447 H dengan hati yang campur aduk: prihatin dengan saudara di Gaza, cemas dengan rupiah yang melemah, lelah dengan kabar yang tidak pernah berhenti.

Mari kita mulai dengan satu pertanyaan yang sederhana: kalau malam ini Allah memanggil kita pulang, apa yang akan kita tinggalkan di tahun 1447 H ini?

Allah berfirman dalam Surat At-Tahrim:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًۭا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu." QS. At-Tahrim: 6.

Ayat ini, jamaah, adalah ayat tanggung jawab. Allah tidak menyuruh kita memelihara dunia. Allah tidak menyuruh kita memelihara peradaban. Allah menyuruh kita memelihara dua hal: diri sendiri, dan keluarga. Dua lingkaran terdekat. Lingkaran yang paling sering kita lupakan karena kita sibuk mengurus lingkaran yang jauh.

Saya merasakan ini sendiri, jamaah. Pekan ini saya banyak membaca berita dari Gaza, dari Lebanon, dari pertikaian Israel-Iran. Saya share artikel ke grup keluarga. Saya posting status keprihatinan. Saya nonton dokumenter sampai pukul satu malam. Dan ketika saya tutup ponsel dan menengok istri saya yang sudah lama menunggu untuk diajak ngobrol, saya sadar—saya sudah mengurus umat sedunia dan lupa mengurus keluarga sendiri.

Bukan, jamaah, saya tidak mengatakan kepedulian kita pada Palestina itu salah. Justru itu yang harus kita pelihara. Tetapi ayat At-Tahrim mengingatkan urutan: diri dulu, keluarga dulu, baru lingkaran yang lebih luas. Bukan karena yang jauh tidak penting—tetapi karena tanggung jawab kita atas yang dekat tidak bisa didelegasikan ke siapa pun. Tidak ada orang lain yang akan mengantar anak kita ke jalan yang lurus selain kita sendiri. Tidak ada orang lain yang akan menjaga keimanan keluarga kita selain kita sendiri.

Pekan ini ramai dibicarakan tentang kesaksian penyintas dari Gaza. Seorang penyintas berkata: "Saya kira saya tidak akan selamat." Kalimat itu menusuk hati banyak orang Indonesia. Kita merasa lemah karena tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi, jamaah, kelemahan itu jangan kita biarkan berubah menjadi kelumpuhan. Kelemahan kita di hadapan kezaliman global harus kita ubah menjadi kekuatan kita di lingkaran terdekat: jadi suami yang lebih adil, jadi ayah yang lebih hadir, jadi tetangga yang lebih peduli, jadi pekerja yang lebih amanah.

Pekan ini juga ramai dibicarakan tentang rupiah yang melemah. Ada satir di media sosial: "tahu tempe akan jadi makanan mewah". Kita semua tertawa getir. Tetapi di balik tawa itu, ada beban yang nyata di rumah-rumah tetangga kita. Ada ibu yang harus mengatur ulang menu mingguan. Ada bapak yang harus mencari pekerjaan tambahan. Ada anak yang harus melupakan jajan di sekolah.

Jamaah, Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah riwayat:

كَيْفَ تُقَدَّسُ أُمَّةٌ، لَا يُؤْخَذُ مِنْ شَدِيدِهِمْ لِضَعِيفِهِمْ

"Bagaimana suatu umat dapat disucikan dari dosa-dosanya di mana hak orang-orang lemahnya tidak diambil dari orang-orang kuatnya?" Bulugh al-Maram 1587.

Hadits ini menggugat kita. Bukan menggugat presiden, bukan menggugat menteri, bukan menggugat pasar global. Hadits ini menggugat KITA—umat yang berbicara tentang kesucian sambil yang lemah di sebelah rumah kita tidak terpikirkan. Setiap kita yang punya rejeki lebih punya tanggung jawab terhadap yang punya rejeki kurang di lingkaran kita. Setiap kita yang punya pengetahuan punya tanggung jawab terhadap yang tidak tahu. Setiap kita yang punya kuasa kecil—kuasa sebagai pengurus RT, kuasa sebagai guru, kuasa sebagai pemilik warung—punya tanggung jawab untuk menggunakan kuasa kecil itu dengan adil.

Kalau ada satu pelajaran yang ingin saya bawa pulang malam ini, jamaah, ialah ini: pekan ini, dengan semua beratnya kabar dari luar, jangan jadi pelarian untuk lalai dari amanah yang dekat. Justru karena beban dunia terasa berat, kita harus pulang lebih dulu ke pusat lingkaran—ke diri, ke keluarga, ke tetangga—dan tegakkan keadilan di sana.

Saya ingin mengajak jamaah malam ini melakukan tiga hal kecil sebelum 1 Muharram 1448 H tiba:

Pertama, sebelum tidur malam ini, sebut nama orang di keluarga yang paling sering kita abaikan minggu ini dalam doa kita. Mungkin pasangan kita yang menunggu untuk diajak ngobrol. Mungkin anak kita yang ingin didengar tentang masalah sekolahnya. Mungkin orang tua kita yang sudah lama tidak ditelepon. Sebut namanya, doakan, dan besok pagi—lakukan satu hal kecil untuk dia.

Kedua, lima hari ke depan, ambil 10 menit setiap malam untuk muhasabah. Bukan introspeksi yang menyiksa diri—tetapi pemeriksaan jujur: hari ini saya membantu siapa? Hari ini saya menyakiti siapa? Hari ini saya bersyukur untuk apa? Tulis di buku catatan kecil, atau cukup di hati. Ini latihan ringan untuk masuk ke tahun baru dengan jiwa yang lebih bersih.

Ketiga, dalam doa setelah sholat fardhu, sebut secara eksplisit saudara kita di Palestina. Tidak perlu doa panjang—satu kalimat saja. "Ya Allah, lindungi saudara kami di Gaza, di Lebanon, di mana pun mereka berada." Konsistensi lebih penting dari panjangnya. Doa yang disebut setiap hari menjaga hati kita tetap terhubung dengan saudara yang jauh.

Jamaah, Allah memberikan kita lima hari yang sangat berharga ini. Lima hari untuk mengaudit hidup. Lima hari untuk menyusun ulang prioritas. Lima hari untuk membersihkan hati dari residu tahun yang lalu. Mari kita gunakan dengan baik.

اَللّٰهُمَّ بَلِّغْنَا رَأْسَ السَّنَةِ الْجَدِيْدَةِ بِالْعَافِيَةِ وَالْإِيْمَانِ، وَاجْعَلْهَا سَنَةَ تَوْبَةٍ نَصُوْحٍ وَنَهْضَةٍ صَادِقَةٍ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ إِخْوَانَنَا فِيْ غَزَّةَ وَفِيْ كُلِّ مَكَانٍ يُذَلُّ فِيْهِ مُسْلِمٌ، وَاجْعَلْ نَصْرَكَ قَرِيْبًا.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا أَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan