إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, hadirin Jumat yang dimuliakan Allah. Marilah pada hari yang berkah ini kita kembali memperbarui rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala — atas nikmat iman, atas nikmat Islam, atas nikmat masih bisa melangkahkan kaki ke rumah Allah pekan ini. Dan marilah kita kuatkan tekad untuk meningkatkan ketakwaan, sebab takwa adalah bekal sejati yang akan menemani kita ketika harta, jabatan, dan pengaruh sudah ditinggalkan di belakang.
Pada kesempatan khutbah pekan ini, ada satu tema yang ingin kita renungkan bersama — tema yang sering kita pinggirkan karena terasa "urusan teknis" atau "urusan pemerintah", padahal sebenarnya inti dari iman dan amanah kita sebagai muslim. Tema itu adalah tanggung jawab kita terhadap bumi yang Allah titipkan. Mari kita awali dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Allah berfirman dalam QS. Ar-Rum: 41: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar."
Hadirin yang dimuliakan Allah, ayat ini ringkas tapi tajam. Allah memberitahukan satu kebenaran yang sering kita lewatkan: ketika bumi rusak, kerusakan itu hampir selalu mengikuti jejak tangan manusia. Allah tidak menyalahkan musim. Allah tidak menyalahkan takdir kosmik. Allah menunjuk satu sumber yang spesifik — perbuatan tangan kita. Dan tujuan dari Allah membiarkan kita merasakan sebagian akibat perbuatan itu bukan sekadar hukuman; melainkan undangan untuk kembali. La'allahum yarji'un — agar mereka kembali. Bumi yang menjerit adalah cara Allah berbisik kepada kita: pulanglah pada amanah yang dititipkan.
Pekan ini kita mendengar satu suara yang menarik dari seorang ahli kebencanaan tentang Pantura Jawa. Ia menjelaskan bahwa apa yang selama ini kita sebut sebagai "bencana alam" di sebagian besar wilayah pesisir utara Jawa sesungguhnya adalah bencana buatan manusia yang dipersepsikan sebagai bencana alam. Narasi kenaikan permukaan laut memang benar, tetapi di balik narasi itu ada fakta yang sengaja tidak banyak diangkat: tanah Pantura amblas. Eksploitasi air tanah yang masif untuk industri, untuk pemukiman padat, untuk berbagai proyek yang tidak pernah berhenti — telah membuat tanah turun lebih cepat dari laut yang naik. Maka ketika rumah-rumah tergenang, sawah-sawah tenggelam, masjid-masjid yang dulu berdiri tegak kini setengah terendam — itu bukan semata kehendak alam. Itu adalah cermin dari pilihan-pilihan yang dibuat di ruang-ruang yang jauh dari rumah para nelayan kecil.
Kabar lain yang sampai kepada kita pekan ini adalah tentang silvofishery — sebuah pendekatan memadukan budidaya ikan dengan pelestarian hutan mangrove. Kita semua tahu mangrove penting; tapi sedikit yang menyadari bahwa mangrove adalah benteng pertama yang Allah pasang di pesisir untuk meredam gelombang, menahan abrasi, dan menjadi rumah bagi ribuan jenis kehidupan. Setiap kali satu hektar mangrove kita tebang demi tambak yang lebih luas atau pelabuhan yang lebih besar, kita sedang membuka pintu bagi gelombang berikutnya yang akan datang dengan amarahnya sendiri.
Kemudian ada juga kabar dari Papua — tentang sungai Digul yang sedang dirusak. Sungai yang dulu menjadi nadi kehidupan masyarakat adat, kini dicemari oleh proses-proses ekstraktif yang mengejar hasil dalam hitungan triwulan, padahal sungai itu telah merawat anak-anak Papua selama berabad-abad. Dan suara terakhir yang sampai kepada kita pekan ini datang dari kalangan organisasi keislaman sendiri — sebuah peringatan bahwa menghadapi krisis iklim yang semakin nyata, pendekatan baru yang mengakar pada nilai spiritual dan keberlanjutan sangat dibutuhkan. Ini bukan ajakan dari kelompok aktivis sekuler; ini adalah ajakan dari saudara-saudara kita sendiri yang membaca tanda zaman dengan jujur.
Empat kabar berbeda dari empat sudut Indonesia, tapi satu benang merahnya: bumi sedang mengirim sinyal, dan sinyal itu adalah lanjutan dari ayat yang baru kita dengar. Zhaharal-fasadu fil-barri wal-bahri bima kasabat aidin-nas — telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.
Hadirin yang dimuliakan Allah, supaya kita memahami beratnya tanggung jawab ini, izinkan kita kembali ke titik nol — ke pertanyaan tentang siapa sebenarnya manusia di muka bumi ini. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengisahkan kepada kita peristiwa agung sebelum Adam diciptakan:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 30: "Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
Khalifah — wakil, pengelola, penjaga amanah. Bukan pemilik, bukan penguasa mutlak yang bebas berbuat sesukanya. Khalifah adalah seorang yang dititipi, dan setiap yang dititipi akan ditanya tentang titipannya. Bumi ini, dengan tanahnya, lautnya, hutannya, mata airnya, hewannya, anginnya — bukan harta warisan yang boleh kita habiskan dalam satu generasi. Bumi ini adalah amanah yang harus kita serahkan kepada anak cucu kita dalam kondisi yang minimal sama seperti ketika kita menerimanya. Kalau kita serahkan dalam kondisi yang lebih buruk, kita sedang menjadi khalifah yang berkhianat pada akadnya sendiri.
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga menegaskan tugas ini lewat lisan Nabi Shalih 'alaihissalam ketika ia berbicara kepada kaumnya:
هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا
Allah berfirman dalam QS. Hud: 61: "Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya."
Pemakmur, musta'mar — dalam bahasa Arab kata ini memiliki akar yang sama dengan "memakmurkan", "menghidupkan", "merawat". Kita diciptakan dari tanah, dan ke tanah pula tugas kita kembali — bukan untuk menggali habis isinya, melainkan untuk menjadikannya makmur, hidup, terawat. Inilah definisi yang Allah tetapkan untuk manusia. Bukan eksploitator, bukan ekstraktor, bukan konsumen yang rakus. Pemakmur. Itulah identitas kita sejak hari pertama.
Hadirin yang dimuliakan Allah, kalau identitas kita adalah pemakmur, maka setiap perbuatan yang merusak adalah pengkhianatan terhadap identitas itu sendiri. Dan Allah sangat jelas memperingatkan kita tentang ini:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللهِ قَرِيْبٌ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ
Allah berfirman dalam QS. Al-A'raf: 56: "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah dekat kepada orang-orang yang berbuat ihsan."
Perhatikan tatanan kalimatnya. Allah pertama kali mengatakan bahwa bumi ini sudah dalam keadaan diperbaiki — ba'da ishlahiha. Allah sudah menatanya. Allah sudah menempatkan setiap unsur pada porosnya. Air ditempatkan di tempatnya, gunung dipancangkan untuk menstabilkan kerak bumi, hutan tumbuh untuk menyaring udara dan menahan air, samudra mengatur iklim. Lalu datang larangan: jangan rusak setelah semuanya tertata. Karena merusak yang tertata jauh lebih mudah daripada menatanya kembali. Satu pohon ratusan tahun ditebang dalam hitungan menit; menumbuhkannya kembali butuh hidup beberapa generasi.
Dan perhatikan apa yang Allah tutup ayat ini: rahmat-Nya dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan. Ihsan kepada bumi adalah pintu kepada rahmat Allah. Sebaliknya, perusakan terhadap bumi adalah pintu menjauhnya rahmat itu.
Hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita lihat lebih dalam apa yang Allah perlakukan secara khusus di antara nikmat-nikmat-Nya. Di antara nikmat yang paling diulang Allah dalam Al-Qur'an adalah air. Air bukan komoditas; air adalah tanda kasih Allah yang paling cair, paling lembut, paling tak terhindarkan dalam kehidupan setiap makhluk. Allah berfirman menggambarkan surga:
وَمَاءٍ مَسْكُوْبٍ
Allah berfirman dalam QS. Al-Waaqia: 31: "Dan air yang tercurah."
Lihat betapa Allah menjadikan "air yang tercurah" sebagai salah satu gambaran kenikmatan surga. Air yang mengalir tanpa putus, air yang dingin di tengah panas, air yang segar di tengah dahaga — itu sudah surga dalam bayangan Allah. Dan Allah memberikan kita bayangan kecil dari nikmat itu di dunia ini: hujan yang turun di musim, mata air yang muncul di gunung-gunung, sungai-sungai yang mengalir membelah lembah-lembah. Setiap kali kita membuka keran dan air mengalir, kita sebenarnya sedang mencicipi cuilan kecil dari surga. Tapi pertanyaan yang menyakitkan adalah: bagaimana kita memperlakukan cuilan surga ini?
Pekan ini, ketika kita mendengar tentang Pantura Jawa yang amblas karena eksploitasi air tanah, kita sebenarnya sedang mendengar cerita tentang nikmat yang dilanggar adabnya. Air yang seharusnya tercurah dari langit ke tanah dan disimpan dengan adab oleh tanah itu sendiri, kini dihisap dari kedalaman bumi dengan pompa-pompa besar yang tidak pernah berhenti. Allah memberi peringatan yang lebih tajam lagi dalam ayat yang lain:
أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَنْ تَسْتَطِيْعَ لَهُ طَلَبًا
Allah berfirman dalam QS. Al-Kahf: 41: "Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi."
Ghawran — surut, hilang, menyerap ke kedalaman yang tak terjangkau. Ini bukan ancaman teoritis. Ini sudah terjadi di banyak desa di Jawa, di Sumatra, di Sulawesi — sumur-sumur yang dulu jernih kini kering. Mata air yang dulu mengalir kini hilang. Petani yang dulu mengandalkan irigasi kini bergantung pada pompa diesel yang mahal. Allah sudah memberi tahu kita: kalau air sudah surut ke kedalaman, kalian tidak akan mampu mencarinya lagi. Maka jagalah selagi ia masih dekat dengan kita.
Hadirin yang dimuliakan Allah, bukan hanya air yang Allah atur dengan presisi. Angin pun memiliki tugasnya sendiri. Allah berfirman dalam serangkaian sumpah agung:
فَالْمُقَسِّمَاتِ أَمْرًا
Allah berfirman dalam QS. Adh-Dhaariyat: 4: "Dan malaikat-malaikat yang membagi-bagi urusan."
Para ahli tafsir menerangkan bahwa di antara makna ayat ini adalah angin-angin yang membawa urusan Allah — yang menggerakkan awan, yang membagi-bagi hujan ke tempat yang berbeda-beda, yang menyebar serbuk sari di antara tanaman, yang membawa biji-biji ke tanah yang baru. Angin adalah kurir agung Allah. Setiap hembusan yang kita rasakan sebenarnya adalah angin yang sedang membawa satu pesan dari satu sudut bumi ke sudut yang lain.
Tetapi ketika kita menebang hutan secara serampangan, ketika kita membakar lahan untuk dijadikan perkebunan monokultur, ketika kita memenuhi langit dengan asap dari pembakaran yang tidak terkendali — kita sedang mengacaukan pesan-pesan yang dibawa angin itu. Angin yang seharusnya membagikan hujan dengan adil kini membawa kekeringan di satu daerah dan banjir di daerah lain. Angin yang seharusnya menjadi rahmat menjadi musibah, bukan karena Allah mengubah sifatnya, tetapi karena kita merusak jalur-jalur yang biasa ia lewati.
Hadirin yang dimuliakan Allah, di sinilah hikmah para ulama kita masuk. Imam al-Ghazali rahimahullah dalam kitabnya Bidayatul Hidayah menempatkan adab al-batn — adab perut, adab makan — sebagai salah satu bab paling awal yang harus dipelajari seorang muslim sebelum ia bicara tentang adab-adab yang lebih luas. Mengapa? Karena beliau melihat dengan jernih bahwa hampir semua kerusakan bermula dari perut yang tidak terdidik. Perut yang menuntut lebih dari yang dibutuhkan; mata yang ingin lebih dari yang cukup; tangan yang meraih lebih dari yang adil. Kerusakan di laut Pantura, kerusakan di mangrove pesisir, kerusakan di sungai Digul — semua itu, kalau ditelusuri ke hulunya, akan bertemu pada satu titik: konsumsi yang melampaui adab.
Maka, hadirin yang dimuliakan Allah, dakwah lingkungan dalam Islam bukan dimulai dari rapat-rapat antar pemerintah. Dakwah lingkungan kita dimulai dari meja makan. Dari pilihan kecil — membeli apa, berapa banyak, dari mana, untuk siapa. Dari kebiasaan kecil — apakah kita membiarkan keran terus menyala saat berwudhu, apakah kita memakai listrik sekedarnya, apakah kita membuang plastik yang sebenarnya masih bisa dipakai ulang. Inilah jihad senyap yang Imam al-Ghazali ajarkan: meletakkan adab pada hal-hal yang paling dekat dengan tubuh kita sendiri, baru kemudian adab itu akan memancar keluar ke seluruh dunia.
Hadirin yang dimuliakan Allah, ada satu dimensi lagi dari amanah ini yang harus kita pahami: tanggung jawab kepemimpinan dan tanggung jawab personal berjalan bersamaan, tidak boleh dipertentangkan. Rasulullah ﷺ bersabda dalam riwayat Bukhari dan Muslim:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." Hadits ini meletakkan setiap muslim sebagai pemimpin di lingkupnya masing-masing. Pemerintah memimpin negara — dan ia akan ditanya tentang tata ruangnya, tentang izin pertambangannya, tentang regulasi air tanahnya. Ayah memimpin keluarga — dan ia akan ditanya tentang kebiasaan konsumsi rumahnya. Ibu memimpin dapur — dan ia akan ditanya tentang bagaimana ia mengajarkan adab pemakaian kepada anak-anaknya. Bahkan anak yang sedang besar memimpin dirinya sendiri — dan ia akan ditanya tentang bagaimana ia memperlakukan ruang, air, energi, dan sampah yang ia hasilkan.
Maka kalau ada di antara kita yang berkata, "Kerusakan lingkungan ini terlalu besar untuk saya tangani; itu urusan pejabat", maka hadits ini sudah memberi jawaban. Tidak ada satu manusia pun yang lepas dari tanggung jawab. Setiap kita memimpin sesuatu, dan setiap kepemimpinan kita akan ditimbang. Pejabat bertanggung jawab atas keputusan besar, dan kita bertanggung jawab atas keputusan kecil. Kalau yang besar lalai, yang kecil masih bisa menyelamatkan banyak hal. Tetapi kalau yang kecil pun ikut lalai, maka tidak ada lagi pintu yang tersisa.
Hadirin yang dimuliakan Allah, maka mari kita rumuskan apa yang bisa kita lakukan pekan depan. Bukan dalam bentuk slogan; tetapi dalam bentuk langkah-langkah konkret yang kita bawa pulang dari mimbar ini.
Pertama, mari kita audit air di rumah kita masing-masing. Selama tujuh hari ke depan, mari kita perhatikan: berapa banyak air yang kita gunakan untuk wudhu, untuk mandi, untuk mencuci? Adakah keran yang menetes dan kita biarkan? Adakah kebiasaan membuka keran lebih lama dari yang dibutuhkan? Mengurangi pemakaian air sebanyak sepuluh persen di rumah kita mungkin terdengar kecil, tapi kalau seluruh jamaah Jumat di Indonesia melakukan hal yang sama, kita sedang menyelamatkan berjuta-juta liter air tanah dari pompa yang tidak perlu berputar.
Kedua, mari kita mulai memilah sampah dari rumah. Tidak perlu menunggu sistem yang sempurna dari pemerintah. Cukup dua tempat sampah: satu untuk organik (sisa makanan, daun, bahan yang bisa membusuk), satu untuk anorganik (plastik, kertas, logam). Sampah organik bisa kita olah jadi kompos kecil untuk tanaman di pekarangan; sampah anorganik bisa kita serahkan ke bank sampah RT atau warga yang mengelolanya. Ini bukan ilmu sulit; ini adalah adab yang harus kita hidupkan kembali.
Ketiga, mari kita tanam minimal satu pohon di pekarangan kita selama bulan ini. Kalau tidak ada pekarangan, kita bisa menanam di pot besar, di pinggir gang RT, atau di lahan masjid yang masih kosong. Pohon yang kita tanam hari ini akan menjadi naungan bagi anak-anak yang akan datang dua puluh tahun lagi. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa barangsiapa menanam pohon lalu burung, manusia, atau hewan memakan buahnya, maka itu adalah sedekah baginya. Pohon adalah sedekah jariah yang murah biayanya tetapi panjang pahalanya.
Keempat, mari kita libatkan anak-anak kita dalam menyayangi alam. Ajak mereka ke pantai bukan hanya untuk berfoto, tetapi untuk memunguti sampah. Ajak mereka ke sungai bukan hanya untuk bermain, tetapi untuk melihat kondisi airnya. Ajak mereka ke kebun bukan hanya untuk panen, tetapi untuk mengerti betapa sabarnya tanah merawat benih. Anak-anak kita yang besar dengan tangan yang pernah memungut sampah akan menjadi pemimpin yang berbeda dari anak-anak kita yang besar tanpa pernah menyentuh tanah.
Kelima, mari kita kurangi konsumsi yang tidak perlu. Sebelum membeli barang baru, tanyakan: apakah barang lama benar-benar tidak bisa lagi dipakai, ataukah saya hanya bosan? Sebelum mengganti pakaian, tanyakan: apakah ini kebutuhan ataukah keinginan yang dipicu oleh tampilan media sosial? Konsumsi yang sederhana adalah bentuk dakwah yang paling sunyi tetapi paling kuat. Setiap kali kita memilih untuk cukup dengan yang ada, kita sedang mengurangi tekanan terhadap bumi yang sudah lelah dipompa habis-habisan.
Keenam, mari kita angkat suara di lingkup yang bisa kita jangkau. Kalau di RT kita ada pembuangan limbah yang tidak benar, sampaikan dengan hikmah. Kalau di lingkungan kita ada lahan terbuka yang akan dikonversi tanpa pertimbangan ekologis, ajukan pertanyaan dengan hormat kepada pengurus RW. Kalau di tempat kerja kita ada praktik yang merusak, ajukan saran perbaikan dengan bahasa yang ihsan. Dakwah lingkungan tidak harus dengan demonstrasi besar; cukup dengan satu suara yang jujur di forum yang tepat.
Hadirin yang dimuliakan Allah, semua langkah ini terdengar kecil. Memang kecil. Tetapi yang besar tidak akan pernah datang kalau yang kecil tidak dimulai. Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak menuntut kita memikul beban dunia di pundak satu orang; Allah hanya menuntut kita memikul beban yang ada di hadapan kita masing-masing dengan sebaik-baiknya. Dan ketika setiap kepala keluarga, setiap ibu rumah tangga, setiap remaja, setiap anak — semua memikul bagiannya sendiri dengan ihsan, maka rahmat Allah yang dijanjikan akan datang. Inna rahmatallahi qaribum minal-muhsinin — sesungguhnya rahmat Allah dekat kepada orang-orang yang berbuat ihsan.
Hadirin yang dimuliakan Allah, semoga Allah mengaruniakan kepada kita hati yang sadar akan amanah ini, tangan yang ringan untuk merawat bumi-Nya, dan langkah yang istiqamah untuk mewariskan dunia yang lebih baik kepada anak cucu kita. Semoga Allah menjadikan kita di antara hamba-hamba-Nya yang disebut sebagai pemakmur bumi, bukan perusaknya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, sebelum kita menutup khutbah kedua ini dengan doa, izinkan kita merenungkan tiga hal yang lebih dalam. Pertama, mari kita renungkan bahwa kerusakan bumi yang kita saksikan hari ini bukan hanya tentang lingkungan dalam pengertian sempit; ini adalah cerminan dari kerusakan adab yang lebih luas. Bumi adalah saksi atas amal manusia. Ketika kita rakus terhadap tanahnya, biasanya kita juga rakus terhadap saudara seiman. Ketika kita boros dengan airnya, biasanya kita juga boros dengan janji-janji yang kita ucapkan. Memperbaiki hubungan kita dengan bumi adalah salah satu pintu untuk memperbaiki hubungan kita dengan diri sendiri, dengan tetangga, dengan Pencipta. Tidak ada satu pun perbaikan yang berdiri sendiri.
Kedua, mari kita renungkan bahwa amanah lingkungan tidak punya kasta. Yang kaya tidak boleh merasa bebas merusak karena ia mampu membayar; yang miskin tidak boleh merasa terlepas karena dampak kecilnya. Setiap muslim adalah pemakmur, setiap muslim adalah saksi, setiap muslim akan ditanya. Maka jangan biarkan rasa kecil atau rasa besar membuat kita lalai dari posisi kita masing-masing.
Ketiga, mari kita renungkan bahwa harapan masih ada selama kita masih bersedia kembali. Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan jelas menyatakan tujuan dari Allah memperlihatkan akibat: la'allahum yarji'un — agar mereka kembali. Allah tidak pernah menutup pintu tobat. Selama kita masih bisa berdoa, selama kita masih bisa berbuat, selama kita masih bisa mengajak — masih ada jalan. Jangan biarkan rasa pesimis terhadap besarnya masalah membuat kita menyerah dari langkah-langkah kecil yang Allah memang minta dari kita.
Keempat, dan ini yang penting: tugas kita bukan menyelesaikan seluruh kerusakan dunia. Tugas kita adalah menjawab "Aku hadir, ya Rabbi" ketika Allah memanggil kita untuk merawat bagian kita masing-masing. Hasil akhirnya adalah urusan Allah. Tetapi pertanggungjawaban kita di Yaumul Qiyamah bukan tentang apakah dunia selamat — itu di luar kuasa kita. Pertanggungjawaban kita adalah tentang apakah kita melakukan bagian kita dengan setia. Bagian yang kecil itu, kalau kita lakukan dengan ihsan, akan ditimbang setara dengan beban yang besar.
Kelima, mari kita perbanyak doa. Sebab di akhirnya, semua usaha kita perlu disertai dengan doa supaya Allah memberi keberkahan. Tanpa doa, langkah sebesar apapun akan kehilangan ruhnya. Mari kita mohon kepada Allah pekan ini agar Dia menjaga bumi yang kita pijak, menjaga air yang kita minum, menjaga udara yang kita hirup, dan menjadikan kita di antara hamba-hamba-Nya yang sadar atas titipan-Nya.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ أَرْضِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ مَائِنَا وَهَوَائِنَا، وَاجْعَلْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيْسِيَّا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِحَارَنَا وَأَنْهَارَنَا وَجِبَالَنَا وَغَابَاتِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِيْنَ يَعْمُرُوْنَ الْأَرْضَ وَلَا يُفْسِدُوْنَ فِيْهَا.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ إِخْوَانَنَا الَّذِيْنَ ابْتُلُوْا بِالْفَيَضَانَاتِ وَالزَّلَازِلِ وَالْحَرَائِقِ وَسَائِرِ الْمَصَائِبِ، اَللّٰهُمَّ اجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَعَوِّضْهُمْ خَيْرًا مِمَّا فَقَدُوْا، وَاجْعَلْ مُصِيْبَتَهُمْ فِيْ مِيْزَانِ حَسَنَاتِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ وَلُبْنَانَ وَكُلِّ أَرْضٍ ابْتُلِيَ أَهْلُهَا، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِيْنًا، وَفَرِّجْ كَرْبَهُمْ، وَاكْشِفْ غُمَّتَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ، وَاهْدِهِمْ إِلَى الْعَدْلِ فِيْ تَدْبِيْرِ أَرْضِنَا وَمَائِنَا وَغَابَاتِنَا، وَجَنِّبْهُمُ الْفَسَادَ وَالطَّمَعَ وَسُوْءَ التَّدْبِيْرِ.
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا قُلُوْبًا تَخْشَاكَ، وَأَيْدِيًا تَعْمَلُ لِمَا يُرْضِيْكَ، وَأَلْسِنَةً تَنْطِقُ بِالْحَقِّ، وَأَجْسَامًا تَصْبِرُ عَلَى طَاعَتِكَ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا وَأَوْلَادَنَا وَإِخْوَانَنَا وَمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ غَيْرَ ضَالِّيْنَ وَلَا مُضِلِّيْنَ.
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَالْهَرَمِ، وَالْمَغْرَمِ وَالْمَأْثَمِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ.
اَللّٰهُمَّ وَفِّقْنَا لِمُحَاسَبَةِ أَنْفُسِنَا فِيْ مَطْلَعِ سَنَتِنَا الْهِجْرِيَّةِ الْجَدِيْدَةِ، وَاجْعَلْهَا سَنَةَ خَيْرٍ وَبَرَكَةٍ، وَزِدْنَا فِيْهَا إِيْمَانًا وَعَمَلًا صَالِحًا، وَاجْعَلْ آخِرَ كَلَامِنَا فِيْهَا لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللهُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ. أَقِيْمُوا الصَّلَاةَ.
