بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَجَعَلَ الْأَرْضَ مُسَخَّرَةً لَنَا أَمَانَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini ada satu sindiran yang viral di lini masa: bencana di Pantura Jawa sebenarnya bukan bencana alam, melainkan bencana buatan manusia yang dipersepsikan sebagai alam. Sindiran itu menyentuh sesuatu yang dalam — sesuatu yang Al-Quran sudah peringatkan empat belas abad yang lalu.
Saya ingin membuka malam ini dengan satu pertanyaan yang jujur. Kalau bencana itu kita sendiri yang menyebabkan, kepada siapa kita marah saat ia datang? Pertanyaan ini bukan retorika kosong, jamaah. Pertanyaan ini lahir dari pekan yang sedang kita lewati bersama — pekan di mana kabar tentang banjir Pantura, abrasi pantai utara, dan sungai-sungai yang dieksploitasi habis-habisan datang silih berganti ke beranda kita. Kita ingin menyalahkan langit. Kita ingin menyalahkan cuaca ekstrem. Kita ingin menyalahkan pejabat. Tetapi suara hati nurani kita yang paling jernih tahu bahwa ada lapis pertama yang harus kita periksa lebih dulu — lapis yang ada di dalam diri kita sendiri.
Allah berfirman dalam Al-Quran, dalam QS. Ar-Rum: 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ.
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." Ayat ini, jamaah, bukan ayat sejarah. Ayat ini ayat diagnostik. Ia menamai akar dari banyak musibah ekologis yang kita saksikan hari ini — dan ia memberikan diagnosis itu dengan satu frasa yang menusuk: "bimaa kasabat aydiinnaas" — disebabkan oleh apa yang diusahakan oleh tangan-tangan manusia. Bukan tangan langit. Bukan tangan takdir buta. Tangan kita sendiri.
Tetapi yang paling indah dari ayat ini bukan teguran-nya, melainkan harapan-nya. Allah tidak menutup ayat ini dengan ancaman, melainkan dengan satu kata yang penuh kasih sayang: "la'allahum yarji'uun" — supaya mereka kembali. Kerusakan yang Allah biarkan kita rasakan sebagian akibatnya, bukan untuk menghancurkan kita, melainkan untuk memanggil kita pulang. Pulang ke kerangka yang benar tentang bumi ini: bahwa bumi bukan milik kita, melainkan amanah yang dititipkan kepada kita.
Inilah, jamaah, inti pesan saya malam ini. Kekhalifahan bumi bukan slogan yang kita pajang di poster lingkungan hidup setiap tanggal lima Juni. Kekhalifahan bumi adalah praktik harian yang mengukur amanah kita sebagai Muslim. Setiap kali kita membuka kran, kita sedang menjalankan kekhalifahan. Setiap kali kita membuang plastik sembarangan, kita sedang melukainya. Setiap kali kita memilih beli atau tidak beli — apakah barang itu, apakah dalam kemasan itu, apakah dari produsen yang merusak hutan atau tidak — kita sedang mengambil keputusan khalifah. Dan di Hari Kiamat, Allah akan tanyakan satu per satu.
Mari kita lihat pekan ini dengan jernih. Dari kabar yang sampai ke kita, di Pantura Jawa, tanggul-tanggul jebol, rumah-rumah tergenang, lahan sawah hilang ditelan air pasang. Narasi resmi mengatakan ini akibat kenaikan permukaan laut. Itu benar — sebagian. Tetapi narasi itu menutupi fakta yang lebih dalam: mangrove di pantai utara Jawa sudah dibabat habis untuk tambak, untuk vila, untuk industri. Penahan alami yang Allah pasang selama ribuan tahun untuk melindungi pesisir kita, kita cabut dalam dua-tiga dekade. Lalu ketika laut datang, kita berkata "ini bencana alam." Padahal ini bencana amanah. Bencana yang lahir dari amanah khalifah yang kita ingkari.
Kabar lain pekan ini datang dari Papua. Sungai Digul — sungai yang menjadi nafas kehidupan masyarakat adat di sana — sedang dirusak oleh aktivitas yang mengejar keuntungan jangka pendek. Sungai yang selama berabad-abad merawat masyarakat di sekitarnya kini sedang diperjuangkan agar tidak rusak lebih jauh. Ini bukan bencana alam, jamaah. Ini keputusan manusia — keputusan yang diambil di ruang-ruang ber-AC, jauh dari sungai itu sendiri, oleh orang-orang yang tidak akan pernah merasakan akibatnya. Tetapi Allah merasakannya. Dan Allah mencatat.
Mari kita kembali ke ayat. Allah berfirman dalam QS. Al-Kahf: 41:
أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَنْ تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا.
"Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi." Ayat ini, jamaah, lahir dari kisah dua kebun — kisah seorang pemilik kebun yang sombong dengan kekayaannya, lupa bahwa semua yang ia miliki adalah pinjaman dari Allah. Allah peringatkan dia melalui sahabatnya: bahwa air yang sekarang melimpah di kebunmu bisa Allah surutkan kapan saja. Dan ketika air itu surut, kau tidak akan mampu mencarinya kembali.
Mari kita resapi. Berapa banyak sumber mata air di Jawa, di Sumatera, di kampung-kampung kita yang dulu mengalir jernih, sekarang kering? Berapa banyak sumur tetangga kita yang dulu cukup satu meter sudah ketemu air, sekarang harus digali sepuluh, dua puluh meter? Berapa banyak sawah yang dulu cukup hujan, sekarang harus ditarik air tanah dengan pompa? Allah sedang menunjukkan bagian dari ayat-Nya kepada kita. Air sedang Allah surutkan — bukan karena Dia menghukum, melainkan karena Dia memanggil kita kembali pada amanah.
Dan jamaah, akar masalah lingkungan ini tidak akan kita selesaikan dengan kampanye saja. Kita harus menggali lebih dalam — sampai ke ruang yang paling pribadi: meja makan kita sendiri. Imam al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah menulis bab khusus tentang adab al-bathn — adab tentang perut. Beliau mengingatkan bahwa manusia yang tidak punya adab pada perutnya tidak akan pernah punya adab pada bumi. Karena dari mana sampah lahir? Dari konsumsi. Dari mana eksploitasi lahir? Dari nafsu konsumsi yang tidak diiringi adab. Dari mana pemborosan air lahir? Dari hilangnya rasa syukur ketika kita memutar kran.
Jadi dakwah lingkungan, jamaah, dimulai bukan di hutan, bukan di laut, bukan di kantor menteri lingkungan. Dakwah lingkungan dimulai di meja makan kita sendiri. Saat kita memutuskan untuk tidak menyisakan nasi di piring. Saat kita memutuskan untuk membeli secukupnya, bukan sebanyak yang bisa kita beli. Saat kita memutuskan untuk mengajari anak-anak kita bahwa makanan adalah amanah, bukan komoditas yang bisa dibuang sesuka hati. Dari satu meja makan yang punya adab, lahir satu keluarga yang punya jejak ekologis yang sehat. Dari seribu keluarga yang sehat, lahir satu kampung yang sehat. Dari ribuan kampung yang sehat, lahir satu umat yang menjalankan kekhalifahan dengan benar.
Dan kita semua, jamaah, sebenarnya tahu ini. Yang sering hilang dari kita bukan pengetahuan — yang hilang adalah keberanian untuk mengubah kebiasaan kecil yang kita anggap sepele. Padahal kebiasaan kecil itulah yang menumpuk menjadi pola, dan pola itulah yang menumpuk menjadi kerusakan. Satu botol plastik yang kita buang di pinggir kali hari ini, akan bergabung dengan jutaan botol lain yang sampai di muara, dan akhirnya sampai di perut ikan yang akan kita makan minggu depan. Lingkaran itu nyata, jamaah. Allah sudah menyusun keseimbangannya — kita hanya perlu jujur mengakui di mana posisi tangan kita dalam lingkaran itu.
Saudara-saudara sekalian, mari kita tutup malam ini dengan tiga hal konkret yang bisa kita kerjakan dimulai besok pagi. Pertama, audit sampah rumah kita selama tujuh hari ke depan. Bukan untuk dilaporkan ke siapa-siapa, tetapi untuk dilaporkan ke diri sendiri. Berapa kantong sampah yang keluar dari dapur kita seminggu? Apa isinya? Berapa yang sebenarnya tidak perlu kita beli? Catatan itu, jamaah, akan lebih mengubah hidup kita daripada seribu kultum tentang lingkungan. Kedua, mari kita tanam satu pohon — satu saja — pekan ini. Bisa di halaman sendiri, bisa di pekarangan masjid, bisa di tanah kosong RT yang selama ini gersang. Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa siapa yang menanam pohon, lalu ada makhluk yang memakan buahnya, semua itu menjadi sedekah baginya. Pohon itu, insya Allah, akan terus bersedekah untuk kita bahkan ketika kita sudah di alam kubur. Ketiga, mari kita ajak anak-anak kita — sabtu atau minggu pagi pekan ini — untuk memungut sampah di lingkungan terdekat. Bukan untuk foto, bukan untuk konten medsos, tetapi untuk menanamkan satu kerangka di hati mereka: bumi ini titipan, dan kita yang menjaganya.
Jamaah yang dirahmati Allah, izinkan saya menutup dengan satu paragraf reflektif. Kita hidup di zaman ketika banyak orang merasa masalah lingkungan terlalu besar untuk diurusi oleh satu orang. Kita merasa kecil. Kita merasa apa yang kita lakukan tidak akan mengubah apa-apa. Tetapi Allah tidak pernah menghitung kita berdasarkan dampak yang kita ciptakan — Allah menghitung kita berdasarkan amanah yang kita tunaikan. Tugas khalifah bukan menyelamatkan bumi sendirian. Tugas khalifah adalah menyelamatkan posisi diri sendiri di hadapan Allah dengan menunaikan amanah yang dititipkan di tangan kita. Kalau setiap Muslim di Indonesia menunaikan amanah kecilnya — satu meja makan yang beradab, satu pohon yang ditanam, satu kebiasaan boros yang ditinggalkan — kita akan terkejut betapa besar perubahan yang lahir. Bumi tidak butuh pahlawan. Bumi butuh khalifah yang setia.
Mari kita berdoa.
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ أَرْضِنَا، وَفِيْ سَمَائِنَا، وَفِيْ مَائِنَا، وَفِيْ ثِمَارِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِيْنَ يُعَمِّرُوْنَ الْأَرْضَ وَلَا يُفْسِدُوْنَ فِيْهَا.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ إِخْوَانَنَا الْمُتَضَرِّرِيْنَ بِالْفَيَضَانَاتِ وَالْكَوَارِثِ فِيْ بِلَادِنَا، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَعَوِّضْ مَا فَقَدُوْا، وَأَلْهِمْنَا جَمِيْعًا حُسْنَ الْأَمَانَةِ عَلٰى مَا اسْتَخْلَفْتَنَا فِيْهِ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ إِذَا أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ شَكَرُوْا، وَإِذَا ابْتُلُوْا صَبَرُوْا، وَإِذَا أَذْنَبُوْا اسْتَغْفَرُوْا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
