Pekan ini banyak cerita tentang orang yang kehilangan harta lewat layar kecil — tabungan habis dalam semenit, gaji ditelan aplikasi, utang tumbuh tanpa terlihat. Di tengah kabar yang berulang itu, ada satu kisah lama yang justru menjernihkan: tentang seorang khalifah yang menolak menyentuh harta yang bukan haknya. Imam Yusuf al-Kandahlawi rahimahullah dalam Hayatus Shahabah — Bab Hijrah, Fasal "Pandangan Umar tentang Hak Muslim atas Harta" mencatatnya.
Madinah, suatu hari. Harta rampasan datang dari berbagai penjuru. Pundi-pundi terbuka di hadapan Khalifah. Para sahabat berkumpul.
Umar bin Khaṭṭāb radhiyallahu 'anhu memanggil mereka. Wajahnya serius. Ia tidak mau membagi dulu. Ia ingin para sahabat berpikir bersama.
"Aku memerintahkan kalian berkumpul untuk harta ini," katanya. "Lihat baik-baik. Untuk siapa harta ini sebenarnya?"
Mereka diam. Umar membuka mushaf. Ia membaca pelan, kata demi kata, dari surat Al-Hasyr.
مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنْ أَهْلِ ٱلْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ كَىْ لَا يَكُونَ دُولَةًۢ بَيْنَ ٱلْأَغْنِيَآءِ مِنكُمْ
"Apa yang Allah berikan kepada Rasul-Nya dari penduduk negeri itu, maka untuk Allah, untuk Rasul, untuk kerabat dekat, anak yatim, orang miskin, dan ibn sabil. Supaya harta itu tidak hanya berputar di antara orang kaya saja di antara kalian." (QS. Al-Hasyr: 7)
Umar berhenti pada satu frasa. "Supaya tidak hanya berputar di antara orang kaya." Beliau mengulanginya. Sahabat-sahabat menatap tanah.
Lalu ia membaca ayat berikutnya. Tentang fuqara muhajirin yang diusir dari kampung halaman mereka. Tentang ahlul Madinah yang membuka rumah untuk pendatang dan mencintai mereka melebihi diri sendiri. Tentang orang-orang yang datang setelahnya, memohon ampun untuk yang mendahului.
Umar menutup mushaf. Ia menatap satu per satu.
"Demi Allah," katanya, "tidak ada seorang Muslim pun kecuali ia punya hak atas harta ini — entah diberi atau ditahan untuk maslahat. Bahkan seorang penggembala kambing di Aden — ia juga punya hak di sini."
Aden. Ujung Yaman. Seribu kilometer dari Madinah. Penggembala yang Umar tidak pernah lihat wajahnya. Yang tidak ikut perang, tidak hadir di rapat, tidak tahu apa-apa tentang khalifah dan kabilah. Tapi Umar menyebut dia. Disebut dengan nama profesinya yang paling sederhana — penggembala.
Suasana hening. Para sahabat paham. Harta di hadapan mereka bukan milik yang kuat. Bukan hak yang dekat dengan kekuasaan. Bukan jatah yang pintar berbicara di majelis. Harta itu milik umat — termasuk yang paling jauh, paling tidak terlihat.
Dalam riwayat lain, Mālik bin Aws bin al-Ḥadathān radhiyallahu 'anhu menceritakan bagaimana Umar membaca tiga kelompok ayat berturut-turut. Ayat zakat untuk fuqara dan masakin. Ayat khumus untuk Allah dan Rasul. Ayat fai untuk muhajirin dan ansar. Setiap ayat dibaca, lalu Umar menunjuk: "Ini untuk mereka. Ini untuk mereka. Ini untuk mereka."
Tidak ada satu pun yang menyebut namanya sendiri.
Pelajaran
Yang Umar lakukan adalah menamai dengan jelas: harta ini bukan milikku, walaupun ada di tanganku. Hari ini, banyak saudara kita yang terjerat judol dan pinjol justru terjebak dalam logika sebaliknya — sistem yang dirancang menelan rasa tahu bahwa harta itu sebenarnya hak siapa. Aplikasi memuji kita sebagai "VIP". Notifikasi menyebut "saldo kita". Banner berkata "untungmu menanti". Padahal di balik layar, harta sedang berputar di antara segelintir saja, dan yang paling rapuh justru paling cepat habis. Umar membaca ayat itu pelan-pelan supaya tidak satu pun sahabat mengira harta umum adalah hak pribadi. Pekan ini, mungkin kita perlu membaca akun bank kita pelan-pelan juga — bertanya jujur: berapa rupiah yang lewat tanganku pekan ini, dan apakah ada yang bukan hak siapa pun untuk kuambil? Bukan untuk menghakimi diri, tapi untuk pulang ke posisi Umar — yang takut menyentuh satu dirham yang bukan miliknya.
Sumber Asli
Hayatus Shahabah — Bab Hijrah, Fasal "Pandangan Umar tentang Hak Muslim atas Harta"
حياة الصحابة المال مالاً يبيت فيه حتى يقسمه؛ إلا أن يغلبه شغل فيصبح إِليه، وكان يقول: يا دنيا، لا تغريني وغُرِّي غيري، وينشد: هذا جنايَ وخيارُه فيهْ وكلُّ جانٍ يَدهُ إلى فيهْ
سمعت عمر رضي الله عنه يقول: إجتمعوا لهذا المال فانظروا لمن ترونه. ثم قال لهم: إني أمرتكم أن تجتمعوا لهذا المال فتنظرا لمن ترونه، وإِني قد قرأت آيات من كتاب الله سمعت الله يقول: {مَّآ أَفَآء اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِى الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَى لاَ يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الاْغْنِيَآء مِنكُمْ}
والله ما من أحد من المسلمين إلا وله حق في هذا المال أُعطي منه أو مُنع حتى راعٍ بعَدَن.
ثم تلا: {إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَآء وَالْمَسَاكِينِ} ... فقال: هذه لهؤلاء، ثم تلا: {وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُم مّن شَىْء فَأَنَّ للَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ} ... ثم قال: هذ لهؤلاء، ثم تلا: {مَّآ أَفَآء اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى} ... ثم قرأ: {لِلْفُقَرَآء الْمُهَاجِرِينَ} ... ثم قال: هؤلاء المهاجرون، ثم تلا: {وَالَّذِينَ تَبَوَّءوا الدَّارَ وَالإيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ} ... فقال: هؤلاء الأنصار.
