Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPatologi Sosial DigitalKamis, 11 Juni 2026

Kultum

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَأَوْجَبَ الْعَدْلَ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini ada kabar yang membuat hati tergetar. Dua pemuda mencuri tabungan siswa SLB sepuluh juta rupiah; uang sebesar itu, yang dikumpulkan koin demi koin oleh anak-anak yang Allah titipkan dengan keterbatasan, habis dalam hitungan jam di sebuah aplikasi judol. Di pekan yang sama, seorang istri akhirnya berani jujur kepada suaminya setelah setahun terjerat. Dan dari kanal pengaduan konsumen, kita mendengar kisah seorang konsumen yang ditipu oknum mengaku dari aplikasi pinjol bernama Samir — pelaku tahu nama lengkapnya, nomor HP-nya, bahkan detail pribadinya. Saya ingin kita berhenti sebentar dan bertanya bersama-sama malam ini: apa yang sebenarnya sedang terjadi di dapur digital kita?

Mari saya mulai dengan satu pertanyaan yang menggelitik. Kalau sebuah aplikasi modern, dengan tim desainer paling cerdas, dengan algoritma yang dilatih bertahun-tahun, bisa mengubah seorang pemuda yang tadinya sopan menjadi pencuri tabungan anak SLB — siapa yang sesungguhnya dirancang oleh aplikasi itu untuk ditarik? Apakah pemuda yang kaya, yang berpendidikan tinggi, yang punya buffer finansial tebal? Atau justru sebaliknya — pemuda yang dompetnya tipis, yang sedang stres karena ekonomi, yang baru saja dipecat, yang lihat tetangganya pamer kekayaan di media sosial? Pertanyaan ini bukan retorika kosong. Jawabannya sudah ada di balik algoritma itu sendiri: orang yang paling rentan adalah orang yang paling menguntungkan untuk ditarget. Allah berfirman dalam Kitab-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ وَتُدْلُوا۟ بِهَآ إِلَى ٱلْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا۟ فَرِيقًۭا مِّنْ أَمْوَٰلِ ٱلنَّاسِ بِٱلْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ.

"Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil, dan (janganlah) kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 188)

Perhatikan bagaimana Allah merumuskan larangan ini. Beliau tidak hanya berkata "jangan mencuri" — Beliau memakai kata yang jauh lebih luas: bil-bathil, dengan cara yang bathil. Bathil adalah segala bentuk perpindahan harta yang tidak punya dasar haq di belakangnya — tidak ada pertukaran yang adil, tidak ada usaha yang halal, tidak ada kerelaan yang sungguh dari pemilik. Judol, pinjol predator, penipuan online — semuanya masuk dalam payung satu kata ini. Para ulama tafsir mengingatkan bahwa ayat ini turun di Madinah, di tengah masyarakat yang sedang membangun ekonomi baru, dan Allah ingin umat ini paham sejak awal: harta bukan hanya soal angka, harta adalah amanah yang punya jalur halal dan jalur bathil. Aplikasi yang menjanjikan kekayaan dengan satu klik adalah definisi paling murni dari bathil di abad kita.

Mari kita kembali ke tiga cerita pekan ini. Dua pemuda yang mencuri tabungan siswa SLB itu, saya yakin, bukan dari kecil bercita-cita jadi pencuri. Ada satu titik di hidup mereka — entah kekalahan pertama yang harus ditebus, entah iklan yang muncul terus di feed mereka, entah teman yang bercerita "menang 5 juta dalam semalam" — di titik itulah aplikasi mulai bekerja. Setelah itu, yang berbicara di kepala mereka bukan lagi suara hati nurani, melainkan suara algoritma yang sudah dirancang untuk memanggil mereka kembali. Sepuluh juta rupiah tabungan anak SLB itu, dalam dunia mereka pada malam itu, sudah berubah bentuk: bukan lagi koin perjuangan anak-anak berkebutuhan khusus, melainkan modal untuk "menutup kekalahan kemarin".

Cerita istri yang akhirnya jujur kepada suaminya menyentuh sudut yang berbeda. Setahun penuh ia menyimpan rahasia. Bisa kita bayangkan apa yang ia rasakan setiap kali makan malam, setiap kali shalat, setiap kali suami bertanya kabar pekerjaan. Tradisi kita memberi nama untuk beban itu: ghill, beban hati yang tidak terucap. Dan beban itu tidak hilang dengan sendirinya — ia menumpuk sampai akhirnya pecah dalam satu malam keberanian. Mari kita catat baik-baik: kejujuran itu sendiri adalah pintu pertama keluar dari jeratan. Sebelum solusi finansial datang, sebelum konselor keluarga datang, yang harus pecah dulu adalah dinding rahasia di dalam rumah. Sedangkan kasus oknum yang mengaku dari pinjol Samir mengingatkan kita pada lapisan ketiga: penipuan yang membonceng nama lembaga digital — pelakunya tahu data pribadi korban, dan korban dibuat ragu apakah ini sah atau tipu, dipaksa membayar dalam ketakutan dan keterburu-buruan.

Tradisi kita sudah lama memetakan akar masalah ini. Allah berfirman dalam ayat yang sangat tajam:

يَمْحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰا۟ وَيُرْبِى ٱلصَّدَقَٰتِ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ.

"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa." (QS. Al-Baqarah: 276)

Kata yang dipakai Allah di sini menakutkan: yamḥaq — memusnahkan, menghapus, mengikis sampai tidak ada bekas. Bukan "mengurangi", bukan "tidak memberkahi" saja — tetapi memusnahkan. Para ulama menafsirkan ayat ini di dua tingkat. Di tingkat lahir, harta riba secara empiris memang sering musnah: kita lihat sendiri bagaimana uang dari judol tidak pernah bertahan, bagaimana keluarga yang terjerat pinjol harus menjual aset demi aset, bagaimana ekonomi rumah tangga rontok lapis demi lapis. Di tingkat batin, yang dimusnahkan lebih dalam lagi: keberkahan, ketenangan, hubungan keluarga, percaya diri di hadapan anak-anak. Sementara sedekah — kata Allah — yurbī, ditumbuhkan, dibesarkan, disuburkan. Inilah hukum keseimbangan ilahi: harta yang mengalir dari sistem bathil akan terkikis dari pemiliknya, sementara harta yang dikeluarkan di jalan kebaikan akan kembali berlipat dalam bentuk yang sering tidak kita duga.

Sekarang saya ingin mengajak kita semua merenung lebih dalam. Pemuda yang mencuri tabungan siswa SLB itu — sebelum aplikasi judol masuk hidupnya, dia mungkin adalah anak yang membantu ibunya, yang menyalami tetangga, yang ikut shalat berjamaah di mushola kompleks. Kita tidak sedang berbicara tentang orang yang dari awal jahat. Kita sedang berbicara tentang orang biasa yang bertemu dengan sistem yang dirancang oleh orang lain — orang-orang yang sangat cerdas, yang tahu psikologi manusia, yang tahu titik lemah otak ketika dihadapkan pada dopamin kemenangan instan. Kalau kita melihat pemuda itu hanya sebagai "pencuri" dan menghakiminya dengan kata-kata kasar, kita kehilangan setengah cerita. Setengah cerita yang lain adalah: siapa yang merancang aplikasi itu? Siapa yang membayar iklan judol di setiap streaming bola? Siapa yang membiarkan pinjol predatorial tetap hidup di app store?

Inilah kenapa tradisi kita memberi vocabulary yang tepat — bathil dan ribā — bukan untuk men-shame orang-orang yang sudah terjerat, melainkan untuk membongkar bangunan sistemnya. Ketika kita sebut sebuah transaksi sebagai bathil, kita tidak sedang menunjuk pada satu pemuda; kita sedang menunjuk pada seluruh rantai: dari desainer aplikasi, ke pemilik server, ke pengiklan, sampai ke regulator yang abai. Dan ketika kita sebut sebuah pinjaman sebagai mengandung riba, kita tidak sedang mempermalukan ibu yang terdesak; kita sedang menyatakan bahwa ada bunga predatorial yang dibungkus dengan istilah modern. Tugas dakwah kita pekan ini bukan menghakimi korban — itu pekerjaan yang terlalu mudah dan terlalu sia-sia. Tugas kita adalah membongkar tipuannya, menamai sistemnya, dan menarik tangan saudara kita keluar dari dalamnya.

Lalu, jamaah yang saya hormati, kita pulang malam ini dengan apa? Saya ingin mengajak kita kepada tiga hal konkret yang bisa kita lakukan dalam 24 jam ke depan. Yang pertama, bukalah satu percakapan jujur dengan anggota keluarga yang paling kita sayangi — pasangan, anak remaja, atau adik yang tinggal serumah. Tanyakan, bukan dengan nada introgasi, melainkan dengan nada cinta: "Selama setahun ini, apakah ada beban finansial yang kamu pikul sendirian? Apa pun jawabannya, kita selesaikan bersama-sama, tanpa marah, tanpa hukuman." Banyak jeratan judol dan pinjol tetap tersembunyi karena tidak ada satu pun pintu yang aman untuk dibuka. Mari kita jadi pintu itu untuk keluarga kita sendiri. Yang kedua, kalau kita atau orang dekat kita pernah dihubungi oleh oknum pinjol predator, laporkan ke OJK lewat kontak 157 atau aplikasi OJK Konsumen. Setiap laporan, sekecil apa pun, membantu menutup celah penipuan yang merugikan orang lain di kompleks sebelah. Yang ketiga, ajak takmir masjid atau pengurus RT untuk membuka satu sesi pendek — cukup tiga puluh menit selepas shalat Jumat depan — yang isinya bukan ceramah, melainkan ruang aman bagi siapa pun yang sedang terjerat untuk bercerita dan dirujuk ke konselor atau lembaga keuangan syariah terdekat. Kita tidak butuh program besar; kita butuh satu pintu yang terbuka.

Jamaah yang saya hormati, mari kita ingat bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah membangun masyarakat Madinah dengan cara menghakimi orang yang jatuh. Beliau membangun sistem yang membuat orang tidak harus jatuh. Beliau membersihkan riba dari pasar, melindungi yang lemah dari yang kuat, dan memuliakan harta yang halal seberapa pun kecilnya. Kita sebagai umatnya hari ini punya tugas yang sama dalam versi modern: membongkar judol dan pinjol bukan dengan caci maki, melainkan dengan membuka jalan keluar untuk saudara-saudara kita yang sedang berjuang di dalamnya. Itulah dakwah yang dibawa pulang dari malam ini — bukan rasa benci kepada siapa pun, tetapi tekad untuk menjadi pintu rahmah bagi siapa pun yang sedang terluka oleh sistem bathil.

Mari kita tutup dengan doa.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ الْمُحْوِجِ، وَالطَّمَعِ الْمُهْلِكِ، وَمِنْ كُلِّ مَالٍ أُكِلَ بِالْبَاطِلِ، وَمِنْ كُلِّ كَسْبٍ مَحَقَتْهُ يَدُ الرِّبَا.

اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، وَطَهِّرْ بُيُوْتَنَا مِنْ كُلِّ كَسْبٍ خَبِيْثٍ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ رِزْقٍ طَيِّبٍ مُبَارَكٍ.

اَللّٰهُمَّ انْتَشِلْ إِخْوَانَنَا الَّذِيْنَ ابْتُلُوْا بِالْمَيْسِرِ وَالدُّيُوْنِ الْمُحَرَّمَةِ، وَافْتَحْ لَهُمْ أَبْوَابَ التَّوْبَةِ وَالنَّجَاةِ، وَاجْعَلْ فِيْ بُيُوْتِنَا صُدُوْرًا مُنْشَرِحَةً لِلصِّدْقِ، وَأَلْسِنَةً نَاطِقَةً بِالنَّصِيْحَةِ، وَأَيْدِيًا مَمْدُوْدَةً لِلْعَوْنِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan