Script Video 1 — 60 detik (TikTok/Reels)
HOOK (5 detik / 10 kata): "Pernah lihat anak seragam jualan bakso? Apa yang harus kita pikir?"
BODY (45 detik / 95 kata): "Guys, pekan ini ramai foto bocah pakai seragam olahraga jualan bakso celup depan minimarket. Sebagian kita kasihan, sebagian scroll lewat. Tapi coba pikir — kenapa anak SD harus kerja setelah sekolah? Bukan karena dia mau dagang, tapi karena keluarganya butuh. Di QS. Adh-Dhaariyat 19, Allah bilang di harta kita ada haqq untuk yang meminta dan yang tidak mendapat bagian. Hak ya, bukan sumbangan. Anak itu masuk kategori yang tidak mendapat bagian. Berarti haknya ada di dompet kita."
CTA (10 detik / 18 kata): "Pekan ini, sisihin minimal satu jumlah tetap untuk satu keluarga prasejahtera di RT-mu. Mulai literally hari ini."
Script Video 2 — 75 detik (YouTube Shorts)
HOOK (5 detik / 12 kata): "Lima hari lagi tahun baru hijriah. Tapi audit duit kita udah?"
BODY (55 detik / 110 kata): "Btw, biasanya tahun baru hijriah kita rame post quote dan doa, ya kan? Padahal substansi tahun baru hijriah itu muhasabah — audit diri. Audit yang paling konkret apa? Audit duit. Coba cek pekan ini: berapa janji bayar yang udah lewat tempo padahal kita mampu? Berapa upah tukang/asisten yang udah selesai kerjanya tapi belum kita bayar? Berapa hak fakir di RT kita yang belum tertunaikan? Hadits dari Bukhari 2400 tegas — orang mampu yang menunda bayar utang, itu kategori zalim. Bukan kelalaian, bukan keteledoran. Zalim. Jangan masuk 1448 H dengan saldo zalim."
CTA (15 detik / 22 kata): "Tugas kita 72 jam ke depan: tunaikan satu janji, satu upah, satu sedekah. Catat di notes hp, eksekusi sebelum Muharram."
Script Video 3 — 65 detik (TikTok)
HOOK (5 detik / 11 kata): "Rupiah hampir 18 ribu. Mau marah ke siapa? Atau ke mana?"
BODY (50 detik / 100 kata): "Vibes ekonomi pekan ini berat banget. Pedagang tahu-tempe ngeluh, asisten rumah tangga ngeluh, ojol ngeluh. Yang sering kita lupa — sebagian dari berat ini balik ke diri kita sendiri. Bukan karena salah kita, tapi karena posisi kita sebagai konsumen. Kalau setiap kita tawar harga sampai sebawah modal pedagang kecil, rantai pasok rakyat rusak. QS. Hud 85 ngajarin Nabi Syu'aib menyeru: cukupkan takaran dengan adil, jangan rugikan hak manusia. Cukupkan, guys. Bukan over-bayar; cukupkan. Bayar sesuai harga jujur."
CTA (10 detik / 20 kata): "Pekan ini, satu hari skip nawar di pasar tradisional. Bayar full, dapat doa tukang sayur. Sehat lahir batin."
