Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPekerja & Pertanian RakyatKamis, 11 Juni 2026

Kultum

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَأَوْجَبَ الْعَدْلَ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, malam ini kita berkumpul di tepi bulan yang sebentar lagi habis. Lima hari lagi, dengan izin Allah, kita akan menatap 1 Muharram 1448 Hijriah. Pekan kita yang sebentar ini sudah kita lewati dengan kabar-kabar yang tidak ringan — rupiah yang mendekati angka yang membuat pedagang tahu-tempe menghela napas panjang, proyek besar di Papua yang menyentuh tanah adat saudara-saudara kita, dan satu pemandangan kecil tapi menggores hati: seorang bocah berseragam olahraga yang sepulang sekolah berjualan bakso celup di depan minimarket. Malam ini, izinkan saya membawakan satu pesan yang sederhana saja — tentang timbangan yang Allah titipkan di tangan kita.

Saudara-saudara, mari kita mulai dengan satu ayat yang ringan tetapi berat. Allah berfirman:

QS. Ar-Rahmaan: 9

وَأَقِيمُوا۟ ٱلْوَزْنَ بِٱلْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا۟ ٱلْمِيزَانَ

"Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu." (QS. Ar-Rahmaan: 9).

Ayat ini, jamaah, datang setelah Allah menyebut bagaimana Dia menciptakan manusia, mengajarkan al-Qur'an, dan menegakkan langit. Bayangkan urutan ini: langit ditegakkan oleh Allah dengan keseimbangan yang sangat presisi — kalau bumi sedikit saja lebih dekat atau lebih jauh dari matahari, kehidupan tidak mungkin. Lalu setelah Allah memberi kita bumi yang seimbang, Dia berfirman: "tegakkanlah timbangan itu." Seakan-akan Allah berkata: "Aku sudah menegakkan timbangan kosmis untuk kalian; sekarang giliran kalian menegakkan timbangan kecil di tangan kalian sendiri." Ini adalah ayat yang sangat khas Surah Ar-Rahman — rahmat Allah datang berpasangan dengan tanggung jawab manusia.

Saudara-saudara, sekarang mari kita turun ke yang kita alami pekan ini. Pertama, kabar tentang rupiah. Pedagang kecil di pasar tradisional sudah mulai menghitung ulang — kalau dollar terus naik, harga sayur impor naik, bumbu masak naik, gandum naik, kedelai naik. Kedua, kabar tentang lahan adat di Papua yang masuk peta proyek sawit untuk biodiesel. Saudara-saudara kita di sana tidak hanya kehilangan kebun — mereka kehilangan tanah leluhur yang sudah dijaga ratusan tahun. Ketiga, ada satu cerita pendek tetapi menohok — seorang bocah berseragam olahraga jualan bakso celup di trotoar setelah jam sekolah. Itu bukan cerita anomali. Itu cerita yang berulang-ulang di seluruh kota kita.

Tiga cerita berbeda, satu akar: timbangan yang miring. Timbangan kurs antara yang punya akses dollar dan yang punya dompet rupiah. Timbangan pangan antara yang butuh tanah untuk hidup dan yang butuh tanah untuk biodiesel. Timbangan kerja antara orang tua yang seharusnya cukup nafkah dan anak yang akhirnya menambahnya di trotoar. Mari kita renungkan, jamaah — siapakah yang harus menegakkan timbangan-timbangan ini? Jawabannya bukan hanya pemerintah, bukan hanya korporasi, bukan hanya menteri. Allah tidak menyebut "wahai pemimpin, tegakkanlah timbangan." Allah berfirman dalam bentuk perintah jamak: "tegakkanlah" — kepada kita semua. Setiap orang dengan timbangan kecil di tangannya masing-masing.

Saudara-saudara, Rasulullah ﷺ pernah memberikan peringatan yang menggetarkan tentang ini. Dalam riwayat Bukhari, Rasulullah ﷺ bersabda:

Sahih al-Bukhari 2400

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ

"Penundaan pembayaran utang oleh orang yang mampu adalah suatu kezaliman." (Sahih al-Bukhari 2400).

Empat kata Arab, satu kalimat Indonesia. Tetapi maknanya menjangkau seluruh rumah kita. Hadits ini tidak bicara tentang penjahat ekonomi besar. Hadits ini bicara tentang kita — kalau kita punya kemampuan untuk membayar dan kita memilih menunda, kita masuk kategori zalim. Bukan dosa kecil. Kezaliman. Saudara-saudara, mari kita renungkan: ada berapa "minggu depan saja" yang sudah kita ulang ke tukang kita, ke asisten rumah tangga kita, ke sopir kita, ke pemilik warung yang dulu pernah kita bon? Saya yakin di antara kita yang duduk di sini malam ini, ada satu atau dua janji yang sudah lewat tempo. Itu adalah timbangan kecil yang masih bisa kita tegakkan sebelum lewat 25 Dzulhijjah ini.

Lapisan berikutnya, jamaah — kalau timbangan kecil kita bocor, jangan heran kalau timbangan besar di luar juga bocor. Karena keduanya saling terhubung. Petani kecil yang akhirnya menjual tanahnya kepada korporasi besar bukan selalu karena dipaksa secara fisik. Ia dipaksa oleh sistem yang tidak adil dari hulu ke hilir. Kita yang di kota, ketika kita tawar harga sayur sampai sebawah biaya tanam petani, kita ikut menggerakkan sistem itu. Iman, jamaah, bukan hanya soal sholat dan puasa. Iman juga soal cara kita memegang uang, cara kita memberi tip, cara kita memilih pasar.

Maka pesan kultum malam ini sangat sederhana, saudara-saudara. Sebelum kita marah pada timbangan besar di luar yang miring, mari kita audit timbangan kecil di rumah kita. Tiga audit yang konkret dan bisa kita kerjakan dalam 72 jam ke depan. Pertama, audit upah — siapa yang upahnya kita tunda padahal kita mampu? Tunaikan. Kedua, audit janji — janji apa yang sudah lewat tempo dan masih kita gantungkan? Tepati satu pekan ini. Ketiga, audit hak fakir — berapa hak orang lemah di lingkungan terdekat kita yang belum kita tunaikan? Allah dengan tegas menyebut harta mereka di harta kita sebagai haqq, bukan sumbangan. Maka tunaikan, sebelum 1 Muharram menyapa kita dengan timbangan yang sudah terbenahi sebagian.

Saudara-saudara, lima hari ke depan adalah pintu muhasabah. Bukan muhasabah yang panjang dan teoritis. Muhasabah yang konkret di buku catatan keluarga. Ketika kita akhirnya berdiri menghadap 1 Muharram, biarkan kita berdiri dengan timbangan kecil yang sudah terbenahi — bukan timbangan kosmis yang masih dipenuhi PR. Allah Maha Pemurah; Dia tidak meminta kita memperbaiki semua kerusakan dunia. Dia hanya meminta kita menegakkan satu neraca kecil yang berada di tangan kita masing-masing.

Mari kita tutup malam ini dengan satu doa pendek.

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ أَرْزَاقِنَا، وَاجْعَلْهَا حَلَالًا طَيِّبًا، وَلَا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ عَلَيْنَا مَظْلِمَةً، وَوَفِّقْنَا لِأَدَاءِ الْأَمَانَةِ، وَاجْعَلْ عَامَنَا الْجَدِيْدَ خَيْرًا مِنْ مَاضِيْنَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan