Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatPemerintahan & KebijakanKamis, 11 Juni 2026

Khutbah Jumat

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمَانَةَ مِيْزَانًا لِلْعِبَادِ، وَجَعَلَ الْعَدْلَ أَسَاسًا لِلْعُمْرَانِ وَالْبِلَادِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ عَلَى مَا أَوْلَى مِنْ نِعَمٍ وَأَفْضَلَ مِنْ أَيَادٍ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مُخْلِصٍ مُسْتَهْدٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَدَّى الْأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, jamaah Jumat yang dirahmati-Nya. Mari kita membuka khutbah pekan ini dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surah Al-Ma'aarij, sebuah ayat yang memetakan salah satu sifat orang-orang yang beruntung di sisi Tuhan kita.

وَٱلَّذِينَ هُمْ لِأَمَٰنَٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَٰعُونَ

"Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat yang dipikulnya dan menepati janjinya." QS. Al-Ma'aarij: 32.

Ayat ini turun di tengah rangkaian sifat-sifat yang Allah pakai untuk membedakan hamba yang akan diberi kemuliaan di hari kiamat dari hamba yang lalai. Di antara shalat malam, infaq, takut pada azab Tuhan, dan menjaga kemaluan, Allah selipkan satu sifat yang sering kita anggap sebagai urusan pribadi semata: memelihara amanat dan menepati janji. Padahal, jamaah, amanat dan janji adalah jaring yang menghubungkan kita satu dengan yang lain — pribadi dengan keluarga, keluarga dengan tetangga, tetangga dengan masyarakat, masyarakat dengan negara. Kalau jaring ini robek di satu titik, getarannya terasa sampai ke titik yang jauh.

Jamaah yang dimuliakan Allah, pekan ini kita mendengar banyak kabar yang membuat hati kita bertanya tentang amanat ini. Ada kabar tentang program besar yang dirancang untuk memberi makan anak-anak negeri kita — sebuah program mulia yang seharusnya mengetuk hati setiap muslim karena di dalamnya ada makna memberi makan kepada yang lemah. Tetapi kabar yang sampai kepada kita pekan ini, salah satu pejabat yang dipercaya mengurus program itu sudah ditahan, lalu — sebagaimana banyak diberitakan — dari dalam tahanan ia mulai menyampaikan keterangan-keterangan yang lebih luas. Ada surat yang berpindah tangan. Ada nama-nama baru yang muncul. Ada janji-janji pelantikan yang dipertanyakan publik. Kita yang membaca dari luar hanya bisa berdoa: semoga semua yang terlibat diberi taufiq untuk jujur, dan semoga anak-anak yang menjadi tujuan utama program ini tetap mendapatkan hak mereka.

Pekan ini juga kita mendengar kabar dari Tanah Papua. Sebuah proyek besar untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar nabati di negeri kita — yang sebenarnya sebuah cita-cita baik untuk mengurangi ketergantungan pada minyak bumi — ternyata menyentuh hutan dan sungai tempat saudara-saudara kita masyarakat adat selama berabad-abad menyandarkan hidup. Ada kekhawatiran yang sampai kepada publik: apakah suara mereka didengar sebelum keputusan dibuat? Apakah jalan musyawarah ditempuh dengan layak? Ini bukan pertanyaan untuk menyalahkan, jamaah. Ini pertanyaan amanah: apakah pemegang kebijakan sudah memenuhi haknya untuk mendengar pihak-pihak yang paling terdampak.

Kabar ketiga yang sampai kepada kita pekan ini adalah pembahasan undang-undang baru tentang kepolisian. Ada pihak yang mempertanyakan kenapa pembahasan tampak "singkat" padahal substansi yang diatur menyentuh ratusan pasal. Sekali lagi, jamaah, kita bukan untuk memvonis baik atau buruknya undang-undang itu — itu pekerjaan ahli yang berkompeten. Kita hanya merenungkan satu hal: di setiap meja yang memutuskan kebijakan untuk hajat hidup orang banyak, terbentang amanat besar dari Allah dan dari rakyat.

Dan kabar keempat yang menyentuh hati kita pekan ini adalah laporan tentang situasi hak asasi di beberapa daerah. Ada gugatan dari saudara-saudara kita di Sumatera. Ada laporan yang menyoroti pelanggaran-pelanggaran yang harus diperbaiki. Ada perusahaan teknologi asing yang menyatakan akan memperketat prosedur hak asasi dalam berurusan dengan pemerintah dan badan keamanan kita. Kita renungkan: apa yang dilihat orang dari luar tentang kita, sebenarnya cerminan dari apa yang kita rawat di dalam.

Jamaah yang saya hormati, semua kabar ini — kalau kita kumpulkan dalam satu tas — adalah pekerjaan rumah satu kata: amanah. Amanah dari Allah kepada yang berkuasa. Amanah dari rakyat kepada yang mereka angkat. Amanah dari generasi sekarang kepada generasi yang akan datang. Dan inilah sebabnya khutbah pekan ini ingin mengangkat satu tema yang barangkali terdengar berat tetapi sebenarnya sangat akrab dengan kita: amanah dalam kepemimpinan publik, dan bagaimana setiap kita — dari yang duduk di kursi menteri sampai yang duduk di kursi takmir musholla — memikulnya bersama-sama.

Mari kita kembali kepada Kitabullah. Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surah Shaad berbicara tentang Nabi Daud 'alaihis salam, seorang nabi yang juga seorang raja, seorang penegak hukum yang ditugaskan langsung oleh Allah untuk memimpin manusia. Allah berfirman:

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلْنَٰكَ خَلِيفَةًۭ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱحْكُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ بِٱلْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ

"Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan engkau khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah." QS. Saad: 26.

Tafsir Ibn Katsir on 38:26 menjelaskan ayat ini dengan sangat indah. Imam Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa Allah mengingatkan Nabi Daud — dan melalui beliau, setiap pemegang kekuasaan sampai hari kiamat — bahwa khilafah, kepemimpinan, jabatan, adalah sebuah penugasan dari Allah. Bukan ganjaran dari nafsu. Bukan kemenangan dari kelicikan. Bukan hadiah dari koalisi. Ia adalah penugasan. Maka tolok ukurnya dua: pertama, menghukumi di antara manusia dengan kebenaran. Kedua, menjauhi hawa nafsu. Imam Ibnu Katsir menegaskan bahwa hawa nafsu di sini bukan hanya syahwat yang kasar, melainkan setiap kecenderungan yang membuat seorang penguasa lebih memilih kepentingan diri, keluarga, kelompok, atau golongannya di atas keadilan.

Renungkan, jamaah, betapa tinggi tolok ukur yang Allah berikan. Nabi Daud — seorang nabi, seorang yang mukjizatnya menundukkan besi, yang gunung dan burung bertasbih bersamanya — pun diingatkan untuk tidak mengikuti hawa nafsu. Ini bukan ayat untuk menakut-nakuti orang biasa seperti kita; ini ayat yang mengangkat standar bagi siapa pun yang dipercaya memegang urusan orang lain. Kalau Nabi Daud diingatkan, apalagi kita.

Lalu Rasulullah ﷺ memperjelas tolok ukur ini dalam sabda beliau. Dalam Sahih al-Bukhari 6722, dari sahabat 'Abdurrahman bin Samurah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda dengan teks aslinya:

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا

"Wahai 'Abdurrahman, janganlah engkau meminta-minta kekuasaan. Karena sesungguhnya jika engkau diberi kekuasaan tanpa engkau memintanya, engkau akan ditolong oleh Allah dalam memikulnya. Tetapi jika engkau diberi kekuasaan karena permintaanmu, engkau akan diserahkan kepadanya sendirian."

Hadits ini, jamaah, adalah lampu di lorong yang gelap. Rasulullah ﷺ tidak melarang kita memikul amanat publik. Beliau melarang kita memburu kekuasaan, mengejarnya dengan ambisi, menjadikannya tujuan akhir. Karena ketika kekuasaan menjadi tujuan, maka rakyat menjadi sarana. Dan ketika rakyat menjadi sarana, amanat sudah retak sejak hari pertama. Sebaliknya, ketika kekuasaan datang sebagai penugasan — datang dengan musyawarah, dengan amanah dari masyarakat, dengan kesiapan memikul — maka pertolongan Allah turun ke pundak pemegangnya. Inilah perbedaan antara pemimpin yang berhasil dan pemimpin yang tergelincir.

Dan Rasulullah ﷺ memperluas tolok ukur ini dalam riwayat berikutnya. Dalam Bulugh al-Maram 1592, dari sahabat Abu Maryam al-Azdi radhiyallahu 'anhu, beliau ﷺ bersabda:

مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَاحْتَجَبَ عَنْ حَاجَتِهِمْ وَفَقِيرِهِمْ، احْتَجَبَ اللَّهُ دُونَ حَاجَتِهِ

"Barangsiapa yang Allah jadikan ia memegang sesuatu dari urusan kaum muslimin, lalu ia menutup pintunya dari kebutuhan mereka dan dari orang-orang miskin di antara mereka, maka Allah akan menutup pintu-Nya dari kebutuhan orang itu (pada hari ketika ia paling membutuhkan)."

Subhanallah, jamaah. Hadits ini berbicara langsung tentang "akses". Pemimpin yang memutus akses orang lemah kepadanya, Allah akan memutus akses pemimpin itu kepada-Nya pada saat ia paling membutuhkan. Bayangkan tukang becak yang mau menyampaikan keluhan tentang kebijakan baru. Bayangkan ibu rumah tangga yang anaknya tidak kebagian program bantuan. Bayangkan masyarakat adat yang tanahnya akan diambil untuk proyek besar. Setiap kali pintu komunikasi ditutup tanpa alasan yang syar'i, ada pintu lain di langit yang bergeser tertutup juga. Inilah hubungan yang Nabi ﷺ tegaskan kepada kita.

Dan tolok ukur amanah ini juga menjangkau yang lebih kecil dari kursi menteri. Dalam Sahih Muslim 4743, dari sahabat 'Adi bin 'Amirah al-Kindi radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ، فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ، كَانَ غُلُولًا يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Barangsiapa yang kami angkat di antara kalian untuk suatu pekerjaan, lalu ia menyembunyikan dari kami sebuah jarum atau yang lebih besar darinya, maka itu adalah ghulul (pengambilan tanpa hak) yang akan ia bawa pada hari kiamat."

Sebuah jarum, jamaah. Rasulullah ﷺ tidak mengatakan satu miliar. Tidak mengatakan satu kantong dana. Beliau mengatakan satu jarum. Karena yang Allah hitung bukan ukuran fisiknya — yang Allah hitung adalah hubungan amanah antara pemberi tugas dengan pemegang tugas. Bahkan jarum yang nyaris tidak berharga di pasar, kalau diambil di luar hak, akan menjadi beban di hari kiamat. Inilah ketelitian Islam dalam mengatur urusan publik.

Sekarang, jamaah yang dimuliakan Allah, mari kita kembali ke konteks kita pekan ini. Saya tidak akan menunjuk nama pejabat tertentu. Saya tidak akan membahas detail kasus yang masih bergulir di meja hijau. Itu pekerjaan penyidik, jaksa, dan hakim — bukan pekerjaan kita di mimbar. Tetapi kita renungkan bersama: setiap kabar yang sampai kepada kita pekan ini adalah cermin. Bukan cermin untuk menertawakan orang lain. Cermin untuk melihat diri sendiri. Karena kita semua, dalam skala yang berbeda-beda, memikul amanat.

Ada di antara kita yang menjadi takmir musholla. Setiap rupiah dari kotak infaq adalah amanah. Ada yang menjadi bendahara RT. Setiap iuran dari tetangga adalah amanah. Ada yang menjadi ketua arisan ibu-ibu. Setiap setoran adalah amanah. Ada yang menjadi pengurus pengajian. Setiap dana untuk kegiatan adalah amanah. Ada yang menjadi guru di kelas. Setiap menit waktu murid adalah amanah. Ada yang menjadi karyawan di kantor. Setiap jam kerja yang kita terima gajinya adalah amanah. Tidak ada satu pun di antara kita yang lepas dari rantai amanah ini.

Maka ketika kita mendengar kabar tentang pejabat yang dipertanyakan kejujurannya, jangan kita bergegas hanya untuk mengutuk. Renungkan dulu: apakah jarum di lingkaran kita sendiri sudah kita jaga? Apakah pintu kita kepada orang-orang lemah di sekitar kita sudah terbuka? Apakah keputusan-keputusan kecil yang kita buat — di RT, di musholla, di rumah — sudah kita timbang dengan keadilan dan bukan dengan hawa nafsu? Inilah cara kita mengambil pelajaran dari berita pekan ini tanpa terjerumus pada penghakiman yang melukai amanah kita sendiri.

Mari kita tutup pengembangan tema ini dengan satu warisan agung dari sahabat Nabi yang paling dekat dengan ilmu dan keadilan, sayyidina 'Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah. Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitabnya Al-Bidayah wan-Nihayah menukil wasiat yang ditinggalkan beliau sebelum wafat. Wasiat itu beliau tujukan kepada putra-putranya, kepada keluarganya, dan kepada siapa pun yang sampai kepadanya tulisan tersebut. Salah satu yang paling menggetarkan dari wasiat itu adalah:

اللَّهَ اللَّهَ فِي الْأَيْتَامِ، فَلَا تُغِبُّوا أَفْوَاهَهُمْ وَلَا يُضَيَّعُنَّ بِحَضْرَتِكُمْ، وَاللَّهَ اللَّهَ فِي جِيرَانِكُمْ، فَإِنَّهُمْ وَصِيَّةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مَا زَالَ يُوصِي بِهِمْ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُمْ

"Allah, Allah (ingatlah Allah) dalam urusan anak-anak yatim — janganlah kalian biarkan mulut mereka kelaparan, dan jangan kalian sia-siakan mereka di hadapan kalian. Dan Allah, Allah dalam urusan tetangga-tetangga kalian — sesungguhnya mereka adalah wasiat Nabi kalian shallallahu 'alaihi wa sallam, yang tidak henti-hentinya berpesan tentang mereka, hingga kami mengira beliau akan menjadikan mereka ahli waris."

Lihatlah, jamaah, betapa indahnya cara sayyidina Ali menutup hidupnya. Bukan dengan wasiat tentang harta. Bukan dengan wasiat tentang jabatan. Tetapi dengan wasiat tentang dua kelompok yang paling sering luput dari perhatian: anak-anak yatim dan para tetangga. Dua kelompok yang paling rapuh terhadap kebijakan publik yang tidak adil. Dua kelompok yang ketika diabaikan, mengikis amanah seluruh masyarakat tanpa kita sadari.

Maka inilah, jamaah, beberapa langkah praktis yang bisa kita ambil dari khutbah hari ini, sebagai jawaban kita atas kabar-kabar pekan ini.

Pertama, mari kita doakan para pemimpin kita. Bukan basa-basi, bukan ritual kosong, melainkan doa yang sungguh-sungguh dari hati. Doakan agar mereka diberi taufiq dan hidayah, agar mereka diberi penasihat yang jujur dan dijauhkan dari penasihat yang menjerumuskan, agar mereka diberi keberanian untuk mengatakan kebenaran walau pahit dan menolak ketidakbenaran walau menggoda. Para ulama mengajarkan bahwa doa untuk pemimpin adalah salah satu bentuk nasihat yang paling tinggi. Karena ketika pemimpin baik, kebaikannya menetes kepada jutaan rakyat; dan ketika pemimpin buruk, kerusakannya juga merata kepada jutaan rakyat. Maka doakan, jangan hanya kritik.

Kedua, mari kita rapikan amanah di lingkungan kita sendiri. Kalau kita pegang kotak infaq musholla, pastikan setiap rupiah tercatat dan dapat diaudit oleh jamaah. Kalau kita bendahara RT, transparankan dana iuran setiap bulan. Kalau kita pengurus pengajian, biasakan menyampaikan laporan keuangan walau jumlahnya kecil. Kita tidak bisa menuntut transparansi di tingkat nasional kalau di tingkat RT kita sendiri masih malas mencatat. Transparansi adalah kebiasaan, bukan slogan; dan kebiasaan dibangun dari yang kecil.

Ketiga, mari kita berhati-hati dengan kabar yang kita sebarkan. Pekan ini banyak informasi yang beredar — sebagian benar, sebagian setengah benar, sebagian lagi tidak diketahui sumbernya. Sebelum kita meneruskan, tanyakan: apakah saya sudah memverifikasi? Apakah saya tahu pasti? Apakah menyebarkan ini akan mendekatkan masyarakat pada keadilan, atau justru menambah kebingungan? Menahan jari kita dari menekan tombol "kirim" adalah salah satu bentuk amanah pada zaman digital. Lidah dulu menjadi pintu fitnah; sekarang jempol bisa lebih cepat daripada lidah.

Keempat, kalau ada kebijakan yang menyentuh komunitas kita secara langsung — entah itu di kampung, di kelurahan, di sekolah — gunakan jalur yang sah. Hubungi DPRD setempat. Datang ke musyawarah desa. Kirim surat dengan baik-baik. Bersuara di forum resmi adalah bentuk amanah warga negara, dan ia jauh lebih kuat dampaknya daripada mencaci di media sosial.

Kelima, mari kita perhalus cara kita mengkritik. Kritik yang membangun adalah amanah; cacian yang menghancurkan adalah kezaliman. Kalau kita mengkritik dengan tujuan agar kebijakan diperbaiki, sertakan usulan, sertakan data, sertakan jalan keluar. Kalau kita hanya ingin meluapkan kekesalan, tahan sebentar — barangkali waktunya belum tepat, atau caranya bisa lebih baik. Para ulama mengajarkan: maksud yang baik tidak menyucikan cara yang buruk; dan cara yang baik akan memperbesar dampak maksud yang baik.

Keenam, mari kita perhatikan saudara-saudara kita yang paling terdampak oleh kebijakan yang sedang dievaluasi publik pekan ini. Kalau ada keluarga di lingkungan kita yang anaknya bergantung pada program bantuan dan sedang bingung — datangi, tanyakan kebutuhannya, bantu sebatas yang kita mampu. Kalau ada saudara dari Tanah Papua atau Sumatera yang merantau di kota kita dan sedang resah, dengarkan mereka, jangan biarkan mereka merasa sendirian. Wasiat sayyidina Ali tadi sangat tegas: jangan sia-siakan mereka di hadapan kalian.

Hadirin yang dimuliakan Allah, marilah kita ingat bahwa amanah adalah jaring yang menghubungkan langit dengan bumi. Setiap kali kita memelihara satu helai jaring itu — sekecil apa pun — kita ikut menahan agar bangunan masyarakat tetap berdiri. Dan setiap kali kita memutus satu helai dengan kelalaian, dengan kepentingan diri, dengan hawa nafsu — kita ikut melemahkan bangunan yang seharusnya melindungi anak-cucu kita.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan saya menambahkan beberapa renungan singkat sebelum kita berdoa bersama. Renungan ini bukan ringkasan khutbah pertama; ia adalah penggalian lebih dalam atas satu sudut yang barangkali masih perlu kita perjelas.

Yang pertama, sering kita lupa bahwa Islam memandang kepemimpinan sebagai pelayanan, bukan privilese. Para ulama salaf, ketika ditunjuk menjadi qadi atau diberi tugas administratif, mereka justru menangis. Bukan karena tidak bisa, melainkan karena tahu beratnya. Imam Abu Hanifah rahimahullah, ketika ditawari menjadi qadi, menolak dan rela dipenjara sampai akhir hayatnya. Bukan karena beliau membenci pemerintah, melainkan karena beliau menjaga dirinya dari kemungkinan bertemu Allah dengan tangan kotor. Hari ini, gambaran ini terasa langka — bahkan ganjil. Maka tugas kita, di komunitas kita masing-masing, adalah merawat budaya yang menghormati orang-orang yang menolak jabatan karena takut kepada Allah, sebagaimana kita menghormati orang yang memikulnya dengan ikhlas.

Yang kedua, kita harus belajar membedakan antara mengkritik kebijakan dan menyerang pribadi. Islam membolehkan — bahkan menganjurkan — kita menyampaikan ketidaksetujuan terhadap kebijakan publik yang kita yakini keliru. Itu bagian dari nasihat untuk pemimpin kaum muslimin, yang Rasulullah ﷺ sebutkan sebagai salah satu bentuk agama. Tetapi Islam mengharamkan kita merendahkan pribadi seseorang, menyebar aib yang belum tentu benar, atau menyerang keluarga yang tidak ada hubungan dengan kebijakan yang dipersoalkan. Garis antara keduanya tipis, dan di zaman media sosial garis itu sering kita lewati tanpa sadar.

Yang ketiga, kita perlu menumbuhkan kesabaran sistemik. Perbaikan bangsa tidak terjadi dalam satu siklus pemilu. Tidak terjadi dengan satu undang-undang yang sempurna. Tidak terjadi dengan satu pemimpin yang dianggap "penyelamat". Perbaikan terjadi ketika jutaan keluarga muslim, dalam jutaan keputusan kecil setiap hari, memilih jujur ketika tidak ada yang melihat, memilih adil ketika menguntungkan untuk curang, memilih melayani ketika lebih mudah memerintah. Kesabaran sistemik adalah kebajikan yang jarang dipuji dan jarang difilmkan, tetapi tanpa ia, tidak ada bangsa yang pernah benar-benar maju.

Yang keempat, jangan kita lupakan saudara-saudara kita di Palestina dan di setiap tempat di dunia ini di mana umat sedang tertekan. Sambil kita merenungkan amanah di negeri kita sendiri, kita juga membawa amanah doa untuk mereka. Karena umat ini, dari Aceh sampai Marauke, dari Maroko sampai Indonesia, adalah satu tubuh — sebagaimana Rasulullah ﷺ ajarkan.

Yang kelima dan terakhir untuk renungan kita, ingatlah bahwa kita semua akan dimintai pertanggungjawaban. Setiap dari kita. Bukan hanya yang duduk di kursi tinggi. Pertanyaannya bukan apakah kita menteri atau bukan. Pertanyaannya: apa yang kita lakukan dengan amanah yang ada di tangan kita? Suami akan ditanya tentang istrinya. Istri akan ditanya tentang anaknya. Guru tentang muridnya. Karyawan tentang waktunya. Pengusaha tentang hartanya. Tidak ada di antara kita yang akan berdiri di hadapan Allah dengan tangan yang kosong dari amanah; yang membedakan kita adalah bagaimana kita merawatnya.

Maka mari kita tutup dengan berdoa kepada Allah, semoga doa kita pekan ini menjadi salah satu sebab tergeraknya pertolongan-Nya untuk negeri kita dan untuk umat seluruhnya.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ وِلَايَتَهُمْ أَمَانَةً يُؤَدُّوْنَهَا بِالْعَدْلِ، وَمَسْؤُوْلِيَّةً يَحْمِلُوْنَهَا بِالْإِحْسَانِ، وَأَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمُ الصَّالِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ.

اَللّٰهُمَّ هَيِّئْ لِأُمَّتِنَا أَمْرَ رُشْدٍ، يُعَزُّ فِيْهِ أَهْلُ طَاعَتِكَ، وَيُهْدَى فِيْهِ أَهْلُ مَعْصِيَتِكَ، وَيُؤْمَرُ فِيْهِ بِالْمَعْرُوْفِ، وَيُنْهَى فِيْهِ عَنِ الْمُنْكَرِ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ، وَمِنَ الْفَسَادِ وَالْإِفْسَادِ، وَمِنْ كُلِّ سُوْءٍ، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ كُنْ مَعَ إِخْوَانِنَا فِيْ بَابُوَا وَفِيْ كُلِّ مَكَانٍ يَعِيْشُ فِيْهِ السُّكَّانُ الْأَصْلِيُّوْنَ، احْفَظْ أَرْضَهُمْ وَأَنْهَارَهُمْ وَغَابَاتِهِمْ، وَاجْعَلْ مَنْ يَتَوَلَّى أَمْرَهُمْ مِنَ الْعَادِلِيْنَ الْمُحْسِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَسْمَعُوْنَ صَوْتَهُمْ قَبْلَ أَنْ يَقْضُوْا فِيْ شَأْنِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ كُلَّ مَنْ تَضَرَّرَ مِنْ سِيَاسَةٍ لَمْ تُحْكَمْ، وَمِنْ قَرَارٍ لَمْ يُتَأَنَّ فِيْهِ، وَمِنْ أَمَانَةٍ لَمْ تُؤَدَّ، اَللّٰهُمَّ اجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَعَوِّضْهُمْ خَيْرًا، وَاكْتُبْ لَهُمُ الْعَافِيَةَ فِيْ دِيْنِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظِ الْأَيْتَامَ وَالْأَرَامِلَ وَالْمَسَاكِيْنَ وَأَبْنَاءَ السَّبِيْلِ فِيْ أَرْضِنَا، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ كُلَّ مَا يُخَصَّصُ لَهُمْ مِنْ بَرَامِجَ وَخِدْمَاتٍ وَاصِلًا إِلَيْهِمْ كَامِلًا غَيْرَ مَنْقُوْصٍ، وَاجْعَلْ مَنْ يَتَوَلَّى أَمْرَهُمْ أُمَنَاءَ يُرَاقِبُوْنَكَ فِيْ كُلِّ صَغِيْرَةٍ وَكَبِيْرَةٍ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ اشْفِ مَرْضَاهُمْ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَفُكَّ أَسْرَاهُمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَاسْقِ ظَامِئَهُمْ، وَآوِ مُشَرَّدَهُمْ.

اَللّٰهُمَّ وَفِّقْنَا فِيْ مَوَاضِعِ أَمَانَتِنَا، فِيْ بُيُوْتِنَا وَفِيْ أَعْمَالِنَا وَفِيْ مَسَاجِدِنَا وَفِيْ مَجَالِسِنَا، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ إِذَا اؤْتُمِنَ أَدَّى، وَإِذَا حَدَّثَ صَدَقَ، وَإِذَا وَعَدَ وَفَّى.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُمْ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُمْ، وَاغْسِلْهُمْ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ.

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا فِيْ هٰذِهِ الْأَيَّامِ الْمُبَارَكَةِ مَعَ دُخُوْلِ الْعَامِ الْهِجْرِيِّ الْجَدِيْدِ مُحَاسَبَةً صَادِقَةً لِأَنْفُسِنَا، وَتَوْبَةً نَصُوْحًا، وَعَزِيْمَةً صَادِقَةً عَلَى الْخَيْرِ، وَاكْتُبْ لَنَا فِيْ عَامِنَا الْآتِيْ خَيْرًا وَبَرَكَةً وَتَوْفِيْقًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ. أَقِيْمُوا الصَّلَاةَ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan