Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsPemerintahan & KebijakanKamis, 11 Juni 2026

Kisah Pendek — "Wasiat Terakhir dari Mimbar Kufah"

Di antara semua kabar pekan ini tentang amanah jabatan yang tergelincir, ada satu suara dari empat belas abad lampau yang terus menggema. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah — صورة الوصية التي تركها علي بن أبي طالب menyimpan wasiat terakhir seorang khalifah yang dibunuh di pintu masjid — bukan karena gagal memimpin, tapi karena terlalu adil bagi sebagian orang yang membencinya.

Subuh bulan Ramadhan tahun 40 Hijriah. Kufah masih gelap. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berjalan menuju masjid seperti biasa. Tidak ada pengawal berlapis. Tidak ada protokol. Khalifah kaum muslimin berjalan kaki, sendiri.

Di pintu masjid, seorang lelaki bernama Ibn Muljam menunggunya. Pedangnya sudah dilumuri racun. Sabetan itu jatuh tepat di dahi Ali — dahi yang penuh bekas sujud, yang setiap malam menempel di tanah Kufah.

Ali jatuh. Darah mengalir. Tapi mulutnya masih bergerak.

"Demi Rabb Ka'bah, aku telah beruntung."

Mereka membawanya pulang. Tiga hari ia bertahan. Dan dalam tiga hari yang singkat itu — saat seorang khalifah tahu nyawanya tinggal menit-menit — apa yang ia tinggalkan? Bukan emas. Bukan istana. Bukan daftar musuh untuk dibalas.

Ia menulis wasiat.

Hasan dan Husain duduk di sampingnya. Muhammad bin al-Hanafiyah ikut hadir. Ali mendiktekan dengan suara yang melemah, tapi jernih:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، هَذَا مَا أَوْصَى بِهِ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ ; أَنَّهُ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Ia mulai dengan syahadat. Bukan dengan daftar harta. Bukan dengan instruksi politik. Tapi dengan pengakuan paling sederhana yang menjadi tiang seluruh hidupnya.

Lalu ia berbicara kepada anak-anaknya — bukan sebagai khalifah kepada rakyat, melainkan sebagai ayah yang akan pergi:

"Wahai Hasan, dan seluruh anakku, dan keluargaku, dan siapa pun yang sampai kepadanya tulisanku ini — aku berwasiat kepada kalian dengan takwa kepada Allah, Rabb kalian. Janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim. Dan berpeganglah pada tali Allah seluruhnya, jangan bercerai-berai."

Ia mengingatkan satu hadits yang pernah didengarnya langsung dari Rasulullah ﷺ:

إِنَّ صَلَاحَ ذَاتِ الْبَيْنِ أَفْضَلُ مِنْ عَامَّةِ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ

"Sesungguhnya mendamaikan hubungan antar saudara lebih utama daripada banyaknya shalat dan puasa."

Aneh sekali. Khalifah yang baru saja ditebas oleh sesama muslim — kelompok yang menyebut diri Khawarij, yang merasa paling murni imannya — justru mewasiatkan perdamaian sebagai amal terbaik. Tidak ada kepahitan. Tidak ada perintah balas dendam.

Ali melanjutkan. Setiap kalimatnya dimulai dengan dua kata yang menggetarkan: "Allah, Allah..." — seolah ia memanggil kesadaran anak-anaknya tentang siapa yang menyaksikan tiap napas mereka.

"Allah, Allah dalam urusan anak-anak yatim. Jangan biarkan mulut mereka terbuka kelaparan di hadapan kalian. Jangan biarkan mereka tersia-sia."

"Allah, Allah dalam urusan tetangga kalian. Mereka adalah wasiat Nabi kalian ﷺ — beliau terus mewasiatkan mereka sampai kami mengira tetangga akan diberi hak waris."

"Allah, Allah dalam urusan Al-Qur'an. Jangan sampai orang lain mendahului kalian dalam mengamalkannya."

"Allah, Allah dalam urusan shalat. Sesungguhnya ia tiang agama kalian."

"Allah, Allah dalam urusan Baitullah, Rabb kalian. Jangan biarkan ia sepi selama kalian hidup."

Hasan menulis. Tangannya gemetar. Bagaimana mungkin ayahnya — yang sedang sekarat — bisa mengingat satu per satu kelompok yang paling rapuh di masyarakat? Yatim. Tetangga. Quran yang mulai ditinggalkan. Shalat yang mulai dilalaikan. Baitullah yang mulai jarang dikunjungi.

Bukan urusan negara. Bukan strategi militer. Bukan pesan ke gubernur-gubernur di provinsi.

Tapi: yatim, tetangga, Quran, shalat, Baitullah.

Ali kemudian beralih ke daftar akhlak yang harus dipegang anak-anaknya:

"Menahan amarah. Menyambung silaturahmi. Sabar terhadap orang yang bodoh. Mendalami ilmu agama. Tabayyun dalam setiap urusan. Menjaga Al-Qur'an. Berbuat baik kepada tetangga. Amar makruf nahi munkar. Menjauhi perbuatan keji."

Tidak ada satu poin pun yang menyebutkan "rebut kembali khilafah dari Mu'awiyah" atau "balaskan dendamku kepada Khawarij". Daftar yang ia tinggalkan adalah daftar pribadi — perilaku harian, akhlak yang menjadi otot batin seorang muslim.

Ia menatap Hasan dan Husain. Lalu, dengan napas yang semakin pendek, ia menambahkan satu wasiat lagi: muliakan adik kalian Muhammad bin al-Hanafiyah. Jangan putuskan urusan tanpa melibatkannya.

Tiga hari ia bertahan. Lalu pada malam Ahad, 21 Ramadhan, di Kufah yang sunyi, khalifah keempat itu menutup mata. Usia enam puluh tiga tahun — usia yang sama dengan Rasulullah ﷺ saat wafat. Kabar menyebar pelan. Tidak ada pemakaman besar. Bahkan letak persisnya makam ia minta dirahasiakan, agar tidak dijadikan tempat pengkultusan.

Yang ditinggalkan hanyalah secarik wasiat.

Pelajaran

Wasiat itu adalah cermin paling jernih tentang apa yang dianggap penting oleh seorang pemimpin di detik terakhirnya. Ali radhiyallahu 'anhu tidak meninggalkan strategi politik. Ia meninggalkan daftar tanggung jawab kepada yang lemah — yatim, tetangga, jamaah Baitullah — dan daftar akhlak yang harus dijaga setiap anaknya. Pemimpin yang adil ternyata bukan yang paling banyak menguasai sumber daya, melainkan yang paling waspada terhadap apa yang Allah titipkan di pundaknya. Pekan ini, saat kabar amanah yang tergelincir terus berdatangan, wasiat Ali mengingatkan satu hal sederhana: ujian kepemimpinan tidak menunggu sampai seseorang menjabat menteri. Ia datang setiap kali kita memegang sesuatu yang bukan milik kita sendiri — uang kas RT, jadwal piket masjid, daftar bantuan tetangga. "Allah, Allah dalam urusan..." — kalimat itu seharusnya berdetak di setiap meja kerja, setiap meja makan, setiap meja rapat.

Sumber Asli

Al-Bidayah wan-Nihayah — صورة الوصية التي تركها علي بن أبي طالب رضي الله عنه

وَكَظْمِ الْغَيْظِ، وَصِلَةِ الرَّحِمِ، وَالْحِلْمِ عَنِ الْجَاهِلِ، وَالتَّفَقُّهِ فِي الدِّينِ، وَالتَّثَبُّتِ فِي الْأَمْرِ، وَالتَّعَاهُدِ لِلْقُرْآنِ، وَحُسْنِ الْجِوَارِ، وَالْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ، وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَاجْتِنَابِ الْفَوَاحِشِ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، هَذَا مَا أَوْصَى بِهِ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ ; أَنَّهُ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَرْسَلَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ

اللَّهَ اللَّهَ فِي الْأَيْتَامِ ; فَلَا تُعْفُوا أَفَوَاهَهُمْ وَلَا يُضَيَّعُنَّ بِحَضْرَتِكُمْ، وَاللَّهَ اللَّهَ فِي جِيرَانِكُمْ ; فَإِنَّهُمْ وَصِيَّةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مَا زَالَ يُوصِي بِهِمْ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُورَثِّهُمْ، وَاللَّهَ اللَّهَ فِي الْقُرْآنِ ; فَلَا يَسْبِقَنَّكُمْ إِلَى الْعَمَلِ بِهِ غَيْرُكُمْ، وَاللَّهَ اللَّهَ فِي الصَّلَاةِ ; فَإِنَّهَا عَمُودُ دِينِكُمْ

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan