Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPemerintahan & KebijakanKamis, 11 Juni 2026

Kultum

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمَانَةَ مِيْزَانَ الْعِبَادِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْعَدْلُ فِيْ حُكْمِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْأَمِيْنُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini kita membaca lagi kabar tentang dana program ketahanan pangan yang terjerat kasus korupsi, dan proyek biodiesel di Papua yang menyentuh kehidupan masyarakat adat di hutan-hutan yang selama ini menjaga ekosistem kita. Ada juga pembahasan RUU Polri yang banyak dipertanyakan publik karena prosesnya. Setiap kabar ini, kalau kita renungkan dengan tenang, membawa satu pertanyaan yang sama: apa sebenarnya makna amanah dalam kebijakan publik, dan bagaimana kita sebagai jamaah merespons kabar-kabar seperti ini tanpa kehilangan rahmat dalam diri kita sendiri?

Saya ingin memulai kultum singkat malam ini dengan satu pertanyaan retoris, dan saya minta kita jawab dalam hati masing-masing dulu sebelum saya teruskan. Kalau seorang pemimpin kita — entah di tingkat RT, kepala daerah, menteri, atau pejabat lembaga — bersumpah amanah pada hari pelantikannya di atas Al-Qur'an, lalu beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian kabar korupsi sampai ke kita, dengan apa kita merespons? Apakah dengan kecaman keras di grup WhatsApp dan kolom komentar? Ataukah dengan doa yang tulus, sambil tetap menyuarakan kebenaran lewat jalur yang dibenarkan agama?

Mari kita renungkan firman Allah dalam surah Al-Ma'aarij ayat 32.

وَٱلَّذِينَ هُمْ لِأَمَٰنَٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَٰعُونَ

QS. Al-Ma'aarij: 32 — "Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya."

Jamaah yang dirahmati Allah, ayat ini Allah turunkan di tengah deretan sifat-sifat orang beriman yang akan dimuliakan di surga. Sifat ini Allah letakkan berdampingan dengan sholat, dengan zakat, dengan menjaga kemaluan, dengan ketakutan terhadap Hari Kiamat. Artinya, dalam timbangan Allah, menjaga amanah dan janji bukan urusan kecil — bukan tambahan opsional setelah ibadah ritual. Ia satu paket dengan sholat. Sholat tegak di dalam diri, amanah tegak di luar diri. Keduanya saling memvalidasi.

Kata amaanaat di sini Allah pakai dalam bentuk jamak — bukan satu amanah saja. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa amanah itu berlapis-lapis. Ada amanah Allah pada manusia (perintah-Nya), ada amanah manusia kepada manusia (titipan, hutang, jabatan), ada amanah diri kita kepada diri sendiri (kesehatan, waktu, anak). Yang menarik, ayat ini tidak mengkhususkan pejabat. Ia berlaku untuk pedagang yang menimbang dagangannya, untuk guru yang dititipi anak orang, untuk ibu yang dititipi rahim oleh Allah, untuk RT yang dititipi musyawarah warga, dan ya — juga untuk menteri yang dititipi anggaran negara. Semua kita pemikul amanah, kadarnya berbeda-beda saja.

Jamaah yang saya hormati, kita lihat satu per satu peristiwa pekan ini dalam cahaya ayat ini. Kabar pertama: kasus yang melibatkan mantan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional. Program ini lahir dari niat baik — memastikan anak-anak Indonesia, terutama dari keluarga prasejahtera, mendapat asupan gizi yang layak. Niatnya mulia. Tapi ketika dana yang dialokasikan untuk perut anak-anak itu disinyalir mengalir ke kantong yang salah, yang terluka bukan hanya kas negara. Yang terluka adalah anak-anak yang nasi bergizi-nya tidak sampai utuh ke meja makan mereka. Yang terluka adalah ibu-ibu yang menaruh harapan pada program ini. Yang terluka, pada akhirnya, adalah kepercayaan publik kepada institusi yang seharusnya menjadi pengayom.

Kabar kedua: laporan tentang proyek biodiesel yang menyentuh hutan-hutan di Papua, tanah masyarakat adat yang selama puluhan generasi menjaga keseimbangan alam. Energi terbarukan adalah cita-cita yang baik. Tapi kalau dalam perjalanannya hak masyarakat adat terlampaui tanpa musyawarah yang patut, kita perlu jujur bertanya: apakah amanah pengelolaan bumi ini sedang dijaga, atau sedang diabaikan demi kecepatan target?

Kabar ketiga: pembahasan undang-undang yang dikhawatirkan publik karena prosesnya yang sangat ringkas dibandingkan dengan bobot materinya. Bukan tentang isi undang-undang yang ingin kita masuki di mimbar ini — itu wilayah perdebatan publik yang sah. Tapi soal proses nya: musyawarah yang patut adalah bagian dari amanah legislatif. Cepat tidak selalu berarti baik; cermat adalah saudara dari amanah.

Rasulullah ﷺ memberi peringatan keras tentang ini. Mari kita simak hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, dan saya minta kita perhatikan baik-baik. Rasulullah ﷺ bersabda — dan saya kutip terjemahannya — "Siapa saja di antara kalian yang kami angkat untuk memegang suatu jabatan, lalu ia menyembunyikan dari kami jarum atau sesuatu yang lebih kecil darinya, maka itu adalah ghulul (korupsi) dan ia akan membawanya pada Hari Kiamat." (Sahih Muslim 4743)

Jamaah, perhatikan ukurannya: jarum. Bukan miliaran. Bukan ratusan juta. Jarum. Beliau ﷺ sengaja memilih benda yang nilainya hampir nol di pasar dunia, untuk mengingatkan kita bahwa di hadapan Allah, skala duniawi tidak relevan. Yang relevan adalah apakah yang dititipkan kepada kita sudah kita kembalikan dengan utuh. Kalau jarum saja akan ditagih di Padang Mahsyar, bagaimana dengan dana program gizi anak? Bagaimana dengan tanah masyarakat adat? Bagaimana dengan suara konstituen?

Tapi, jamaah yang saya hormati — dan ini bagian yang ingin saya tekankan malam ini — peringatan Nabi ﷺ tidak mengajarkan kita untuk menjadi pengecam. Beliau ﷺ mengajarkan kita untuk menjadi pengingat. Ada perbedaan besar antara dua sikap ini. Pengecam berdiri jauh dan melempar batu. Pengingat berdiri dekat dan menyodorkan tangan sambil mengingatkan jalan yang benar.

Mari kita ambil cermin dari sejarah, dari sosok Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, sahabat dan menantu Nabi ﷺ, khalifah keempat. Dalam wasiatnya kepada putra-putranya, yang Imam Ibn Katsir himpun dalam Al-Bidayah wan-Nihayah, beliau berpesan tentang banyak hal: tentang takwa, tentang sholat, tentang silaturahmi, tentang anak yatim, tentang tetangga. Beliau berkata kepada putra-putranya:

اللَّهَ اللَّهَ فِي الْأَيْتَامِ ; فَلَا تُعْفُوا أَفَوَاهَهُمْ وَلَا يُضَيَّعُنَّ بِحَضْرَتِكُمْ، وَاللَّهَ اللَّهَ فِي جِيرَانِكُمْ

"Allah, Allah — perhatikanlah anak-anak yatim. Jangan biarkan mulut-mulut mereka kelaparan, dan jangan biarkan mereka tersia-sia di hadapan kalian. Dan Allah, Allah — perhatikanlah tetangga-tetangga kalian."

Jamaah, lihat sudut pandang Sayyidina Ali. Beliau adalah seorang khalifah yang menghadapi turbulensi politik luar biasa, perpecahan yang dahsyat, pengkhianatan dari kelompok-kelompok yang dulu setia. Tapi dalam wasiat terakhirnya, beliau tidak menyusun daftar musuh. Beliau menyusun daftar amanah. Anak yatim, tetangga, Al-Qur'an, sholat, Baitullah. Itu warisan kepemimpinan beliau: bukan ressentimen, melainkan pengingat akan apa yang seharusnya dijaga.

Inilah teladan yang kita butuhkan pekan ini. Ketika kabar-kabar berat sampai ke kita, ada dua jalan yang terbuka. Jalan pertama: kita bergabung dengan paduan suara kemarahan publik, kita teruskan setiap potongan informasi tanpa verifikasi, kita pakai bahasa yang menghancurkan, kita anggap diri kita lebih bersih dari yang dikecam. Jalan kedua: kita ambil jarak sejenak, kita berdoa, kita verifikasi, lalu kita suarakan kebenaran lewat jalur yang dibenarkan — di musyawarah RT, di forum warga, di jalur hukum, di kolom yang produktif.

Bukan berarti kita diam, jamaah. Diam terhadap kezaliman juga bentuk kezaliman, sebagaimana kata para ulama. Tapi bicara itu sendiri punya adab. Rasulullah ﷺ pernah berdoa untuk pemimpin yang baik dengan permohonan agar Allah memudahkan urusannya, dan untuk pemimpin yang lalai dengan permohonan agar Allah mengembalikannya kepada kebenaran. Beliau ﷺ tidak pernah memulai dengan kutukan. Beliau memulai dengan doa.

Saya ingin kita berhenti sejenak pada satu poin yang sering luput. Ada hadits yang sangat menarik dari kitab Bulugh al-Maram 1592. Rasulullah ﷺ bersabda: "Siapa saja yang dijadikan oleh Allah memegang urusan kaum Muslimin, lalu ia menyembunyikan diri dari memenuhi kebutuhan dan mengurus orang miskin mereka, maka Allah akan menyembunyikan diri-Nya dari memenuhi kebutuhannya."

Jamaah, ini bukan ancaman kosong. Ini hukum spiritual yang Nabi ﷺ ungkapkan. Pemimpin yang lupa pada fakir miskin yang dititipkan kepadanya akan menemukan dirinya sendiri terabaikan oleh Yang Maha Memenuhi Hajat. Tapi — dan ini sisi lain yang sering kita lupa — hadits ini juga mengingatkan kita yang bukan pemimpin: setiap kita punya lingkup di mana kita memegang urusan orang lain. Suami atas keluarganya, ibu atas anak-anaknya, ketua RT atas warganya, guru atas muridnya. Kita semua adalah pemimpin pada skala masing-masing. Kalau di skala besar kita risau, di skala kecil kita harus mulai dengan diri sendiri.

Jamaah yang dirahmati Allah, di sinilah refleksi kita yang lebih dalam: kabar pekan ini sebenarnya cermin. Bukan cermin yang menunjukkan keburukan orang lain saja. Ia cermin yang juga menunjukkan amanah-amanah kita sendiri yang mungkin sedang luput. Dana sosial di musholla kita — apakah dicatat dengan jelas? Iuran RT yang kita kumpulkan — apakah pertanggungjawabannya transparan di musyawarah warga? Titipan tetangga yang dipercayakan kepada kita — apakah masih utuh? Janji yang kita ucapkan kepada pasangan kita pagi tadi — apakah sudah kita penuhi? Kalau kita tegas pada amanah orang besar tapi longgar pada amanah kita sendiri, ada ketidakkonsistenan yang Allah perhatikan.

Para ulama mengingatkan: perubahan masyarakat dimulai dari lapisan paling kecil. Sebelum kita menuntut pemimpin nasional adil pada anggaran ratusan miliar, mari kita pastikan kita adil pada anggaran ratusan ribu di kas RT kita. Sebelum kita menuntut transparansi proyek strategis, mari kita transparan pada laporan keuangan masjid lingkungan kita. Skala berbeda, prinsip sama.

Maka, jamaah, sebelum kita pulang dari sholat malam ini, saya ingin ajak kita pada tiga tindakan konkret. Yang pertama: malam ini sebelum tidur, mari kita sisihkan satu menit untuk berdoa bagi pemimpin-pemimpin kita — RT, lurah, bupati, gubernur, menteri, hingga presiden. Doa yang tulus, bukan doa formalitas. Doa agar Allah berikan mereka hidayah untuk berani mengubah arah ketika arah itu sudah miring, doa agar Allah lindungi mereka dari godaan yang menggelincirkan, doa agar Allah ganti yang lalai dengan yang amanah. Doa ini gratis, dan dampaknya melampaui apa yang bisa kita lakukan dengan kecaman.

Yang kedua: dalam tujuh hari ke depan, mari kita audit satu amanah kecil di lingkungan kita. Bisa kas RT, bisa uang arisan, bisa dana santunan masjid. Bukan untuk mencari kesalahan orang, tapi untuk memastikan transparansi yang menjadi teladan. Kalau kita ingin pejabat di atas sana mau diaudit, kita mulai dengan menjadi orang yang sukarela diaudit di sini.

Yang ketiga: pekan ini, sebelum kita meneruskan kabar atau opini tentang pejabat ke grup WhatsApp atau media sosial, mari kita berhenti tiga detik dan tanyakan: apakah ini benar? Apakah ini sudah terverifikasi? Apakah ini bermanfaat bagi siapa yang membaca? Apakah dengan menyebarkan ini saya membantu perbaikan, atau saya hanya memperbesar luka? Tiga detik itu murah, tapi menyelamatkan kita dari menjadi bagian dari masalah.

Jamaah yang saya hormati, mari kita tutup kultum singkat ini dengan menyatukan inti pesan. Amanah adalah ibadah yang Allah letakkan berdampingan dengan sholat dalam Al-Qur'an. Ketika kita melihat amanah dikhianati di mana pun — di kas RT atau di kas negara — respons kita bukan kecaman tanpa adab, melainkan dakwah yang jernih dan doa yang tulus. Kita ingatkan dengan hikmah, kita suarakan dengan jalur yang benar, dan kita mulai perubahan dari amanah kita sendiri. Itulah jalan Sayyidina Ali dan jalan Rasulullah ﷺ.

Mari kita berdoa.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ هُدَاةً مَهْدِيِّيْنَ، غَيْرَ ضَالِّيْنَ وَلَا مُضِلِّيْنَ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَمَانَاتِنَا، وَأَدِّ بِنَا حُقُوْقَ مَنِ اسْتَأْمَنَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ بَابُوَا وَفِيْ كُلِّ مَكَانٍ مِنْ بِلَادِنَا، وَاحْفَظْ لَهُمْ أَرْضَهُمْ وَكَرَامَتَهُمْ وَسُبُلَ مَعِيْشَتِهِمْ، وَاجْعَلِ التَّنْمِيَةَ رَحْمَةً لَا نِقْمَةً.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا وَأَوْلَادَنَا، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا بُيُوْتَ أَمَانَةٍ وَصِدْقٍ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan