Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatPendidikan & SDMKamis, 11 Juni 2026

Khutbah Jumat

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، وَرَفَعَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, marilah kita buka khutbah Jumat ini dengan ayat yang menjadi turunnya wahyu pertama kepada Rasulullah ﷺ di Gua Hira'. Ayat ini bukan kebetulan menjadi pembuka risalah — ia adalah penanda bahwa peradaban yang dibangun di atas Islam berdiri di atas pondasi ilmu, bukan di atas pondasi kekuatan, kekayaan, atau kemewahan.

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ ۝ خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ ۝ ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ ۝ ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ ۝ عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-'Alaq: 1-5)

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, perhatikan urutan kalimat ini. Allah tidak memerintahkan kepada Nabi-Nya yang mulia untuk pertama kali "berperanglah", tidak pula "kumpulkanlah harta", tidak pula "bangunlah pasukan". Yang pertama kali Allah perintahkan adalah "bacalah" — sebuah kata kerja yang menggambarkan kerendahhatian seorang murid di hadapan Rabbnya. Rasulullah ﷺ, manusia yang paling mulia, dimulai perjalanannya dengan posisi seorang pembelajar. Dari sini kita memahami bahwa belajar bukan aktivitas pinggiran dalam kehidupan seorang Muslim — ia adalah inti, ia adalah pondasi, ia adalah identitas.

Ma'asyiral muslimin, pekan ini kita mendengar banyak kabar tentang dunia pendidikan kita yang membuat hati kita bergetar — sebagian karena prihatin, sebagian karena tergerak. Dari berita pekan ini kita ketahui ada keributan yang terjadi di salah satu sekolah Islam di Pamulang yang sampai harus diklarifikasi oleh pihak universitas. Bagaimanapun konteks lengkapnya, peristiwa seperti ini mengingatkan kita bahwa ruang pendidikan kita masih rentan, masih perlu dirawat, masih membutuhkan tangan-tangan yang sabar untuk menjaga adabnya.

Lebih menyayat lagi, kabar yang sampai kepada kita dari Banjarmasin. Sebuah madrasah Muhammadiyah terbakar, dan anak-anak yang seharusnya duduk di ruang kelas, kini harus mengerjakan ujian dengan lesehan di lantai masjid. Bayangkan, jamaah — anak-anak kecil itu duduk di atas tikar, menulis di kertas yang ditopang lutut, dengan hawa pengap musibah yang baru saja berlalu, namun mereka tetap datang, tetap mengangkat pena, tetap menulis. Inilah gambaran yang seharusnya menggetarkan hati kita: bahkan ketika atap mereka hilang, mereka tidak meninggalkan ilmu.

Di sisi lain, kita juga mendengar keprihatinan yang lebih dalam dan lebih halus — para pendidik dan orang tua mengkhawatirkan generasi Z dan generasi Alpha kita yang semakin tergantung pada kecerdasan buatan. Anak-anak yang belum sempat membangun fondasi berpikir sudah terburu-buru menyerahkan tugas-tugasnya kepada mesin. Mereka mendapatkan jawaban tanpa pernah bergelut dengan pertanyaan. Mereka mengumpulkan kesimpulan tanpa pernah berjalan di lembah keraguan dan pencarian. Inilah krisis senyap yang sedang merambat di rumah-rumah kita.

Ada pula kisah-kisah kecil yang tidak kalah penting — seorang guru yang lelah, yang terus berbuat baik kepada muridnya sampai-sampai ia bertanya pada dirinya sendiri, "berbuat baik itu aneh ya, kita yang berusaha, kita juga yang lelah, tapi kita juga yang bahagia." Kalimat sederhana ini sebenarnya adalah doa yang panjang. Ia adalah pengakuan jujur bahwa mengajar adalah jalan yang melelahkan, tetapi jalan yang melelahkan ini justru menjadi sumber kebahagiaan. Ini adalah rasa yang hanya dipahami oleh mereka yang pernah mengajar dengan ikhlas.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, semua peristiwa pekan ini — dari yang ricuh sampai yang menyayat, dari yang mengkhawatirkan sampai yang menghibur — mengantarkan kita pada satu pertanyaan besar: apakah pendidikan akan kita jadikan amanah yang kita tunaikan sekarang, ataukah amanah yang kita tunda sampai keadaan dianggap ideal?

Jawaban Al-Qur'an dan sunnah serta sirah para sahabat sangat jelas: pendidikan tidak menunggu ideal. Pendidikan adalah amanah yang terus berjalan walaupun atap roboh, walaupun pena patah, walaupun ladang dirundung musibah, bahkan walaupun pedang sedang terhunus di medan jihad.

Allah Ta'ala berfirman dalam Kitab-Nya tentang derajat orang berilmu:

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadalah: 11)

Perhatikan jamaah, Allah menggabungkan dua hal dalam ayat ini: iman dan ilmu. Bukan iman saja, bukan ilmu saja. Iman tanpa ilmu rentan terhadap penyimpangan; ilmu tanpa iman rentan terhadap kesombongan. Maka kewajiban kita sebagai umat adalah menjadi penjaga keduanya secara bersamaan — di rumah, di masjid, di madrasah, di sekolah, di kampus, dan di mana pun anak-anak kita menghabiskan waktu mereka.

Dalam ayat lain Allah Ta'ala mempertegas perbedaan antara dua jenis manusia ini:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

"Katakanlah: 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?' Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar: 9)

Pertanyaan retoris dalam ayat ini bukan untuk menjawab "tidak sama" lalu kita beranjak. Pertanyaan ini menggugat kita: di mana kita meletakkan diri kita? Apakah kita berada di sisi orang yang berusaha tahu, atau di sisi orang yang puas dengan ketidaktahuan? Apakah anak-anak kita kita arahkan untuk menjadi pembelajar seumur hidup, atau kita biarkan mereka tumbuh hanya dengan apa yang kebetulan mereka temui di linimasa media sosial?

Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira tentang siapa pun yang menempuh jalan ilmu. Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (Sahih Muslim 2699)

Subhanallah, jamaah. Coba kita resapi: anak-anak kecil di Banjarmasin yang duduk lesehan di lantai masjid mengerjakan ujian itu — mereka sedang menempuh sebuah jalan. Jalan itu mungkin terasa berat bagi mereka, tetapi langit di atas mereka membaca apa yang mereka lakukan. Para malaikat mencatat. Dan Allah ﷻ menjanjikan: setiap langkah mereka di atas tikar darurat itu adalah langkah yang dipermudah jalannya menuju jannah. Jangan pernah meremehkan satu pun usaha seorang anak yang sedang belajar, walaupun fasilitasnya sederhana, walaupun gurunya kelelahan, walaupun ruangnya bukan ruangan ideal.

Ma'asyiral muslimin, di sinilah kita harus belajar dari teladan para sahabat Rasulullah ﷺ. Imam Yusuf al-Kandahlawi rahimahullah dalam kitabnya yang masyhur, Hayat as-Sahabah, mendokumentasikan satu fasal yang sangat penting untuk kita renungkan pekan ini. Fasal itu berjudul al-Ihtimam bi at-Ta'lim fi al-Jihad fi Sabilillah — perhatian terhadap pendidikan di tengah jihad fi sabilillah.

Dalam fasal ini Syaikh Yusuf al-Kandahlawi menukil tafsir Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma terhadap firman Allah:

وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS. At-Taubah: 122)

Bayangkan jamaah — ini adalah ayat tentang jihad. Tentang kondisi paling genting yang pernah dialami umat Islam. Tetapi apa yang Allah perintahkan? Allah memerintahkan agar SEBAGIAN tetap tinggal untuk yatafaqqahu fid-din — memperdalam pengetahuan tentang agama. Pendidikan tidak boleh berhenti walaupun pedang sedang terhunus. Madrasah tidak boleh ditutup walaupun keadaan sedang sulit. Halaqah ilmu harus tetap berjalan walaupun sebagian saudara sedang berada di garis depan.

Para sahabat radhiyallahu 'anhum mempraktikkan ini dengan sangat ketat. Di tengah ekspedisi militer, mereka tetap mengajarkan Al-Qur'an satu sama lain. Di tengah perjalanan panjang ke medan perang, mereka membaca, menghafal, dan mengajarkan ayat-ayat yang baru turun. Mereka tidak pernah menjadikan jihad sebagai alasan untuk meninggalkan ta'lim, dan mereka tidak pernah menjadikan ta'lim sebagai alasan untuk meninggalkan jihad. Keduanya berjalan bersamaan dalam keseimbangan yang luar biasa.

Jamaah, kalau para sahabat di tengah situasi peperangan masih menjadikan pendidikan sebagai prioritas, lalu kita hari ini — yang Alhamdulillah masih bisa duduk dengan tenang di masjid Jumat ini — dengan alasan apa kita menunda pendidikan anak-anak kita? Dengan alasan apa kita mengabaikan kebutuhan madrasah-madrasah di sekitar kita? Dengan alasan apa kita membiarkan generasi muda kita tumbuh tanpa pendamping yang membimbing mereka memahami dunia ini melalui kacamata iman?

Ma'asyiral muslimin yang dimuliakan Allah, ada satu pola yang harus kita perbaiki bersama. Banyak dari kita yang menunggu kondisi ideal untuk memulai. Kita menunggu sampai punya rumah lebih besar baru mengajar anak-anak tetangga. Kita menunggu sampai punya gelar lebih tinggi baru berani berbicara di majelis taklim. Kita menunggu sampai pemerintah memperbaiki fasilitas baru kita peduli pada sekolah anak kita. Padahal teladan para sahabat justru sebaliknya: mereka tidak menunggu apa pun. Mereka memulai dengan apa yang ada di tangan mereka.

Anak-anak Banjarmasin itu mengajarkan kita pelajaran yang sama. Mereka tidak menunggu madrasah dibangun ulang. Mereka tidak menunggu kursi dan meja dikembalikan. Mereka membawa diri mereka ke masjid, duduk di lantai, dan tetap mengerjakan ujian. Lihatlah betapa kuatnya pelajaran ini — pelajaran datang sebelum fasilitas; tekad datang sebelum perlengkapan; iman datang sebelum kemudahan.

Dan tentang generasi muda kita yang bergantung pada kecerdasan buatan, jamaah, mari kita pahami satu hal dengan jernih. Bukan teknologi itu sendiri yang menjadi masalah. Allah menciptakan akal manusia justru untuk menciptakan dan menggunakan alat-alat. Yang menjadi masalah adalah ketika alat itu menggantikan proses berpikir, bukan membantunya. Ketika anak kita meminta jawaban dari mesin tanpa pernah bergumul dengan pertanyaan, kita sebagai orang tua dan pendidik sedang menyaksikan sebuah pengikisan halus terhadap potensi terbesar yang Allah berikan kepada anak kita: kemampuan berpikir.

Tugas kita bukan menjauhkan anak dari teknologi — itu mustahil dan tidak bijaksana. Tugas kita adalah mendampingi mereka, mengajarkan adab dalam menggunakan, dan menanamkan kemampuan untuk mengevaluasi: apakah jawaban yang diberikan mesin ini benar atau salah? Apakah sesuai dengan nilai-nilai yang kita pegang? Apakah membuat saya lebih dekat kepada Allah atau lebih jauh?

Ma'asyiral muslimin, sebelum saya tutup khutbah pertama ini, izinkan saya menyampaikan beberapa langkah praktis yang bisa kita kerjakan sebagai jamaah pekan ini.

Pertama, mari kita ulurkan tangan untuk madrasah-madrasah yang sedang dilanda kesulitan. Madrasah Muhammadiyah Banjarmasin yang terbakar itu hanyalah satu contoh. Di sekitar kita pun pasti ada madrasah, TPA, atau halaqah yang sedang membutuhkan dukungan. Galang dana, walaupun kecil. Sumbangkan buku bekas yang masih layak. Tawarkan diri menjadi pengajar relawan sehari dalam sepekan. Tidak ada amal yang sia-sia bila niatnya untuk mempertahankan ilmu di tengah umat.

Kedua, mari kita buka rumah kita untuk anak-anak tetangga. Tidak perlu menunggu ruangan besar atau perpustakaan lengkap. Cukup teras rumah, satu hari dalam sepekan, satu jam saja — kita kumpulkan anak-anak RT untuk mengaji bersama, atau bercerita tentang Nabi, atau sekadar membaca buku bersama. Para sahabat memulai dari Darul Arqam yang tidak luas. Allah memberkahi yang sedikit selama hati kita ikhlas.

Ketiga, mari kita duduk dengan anak-anak kita yang menggunakan kecerdasan buatan. Jangan menyalahkan, jangan menghakimi. Tanyakan kepada mereka cara mereka menggunakan, lalu ajarkan keterampilan mengevaluasi. Tunjukkan bahwa pertanyaan lebih penting daripada jawaban; bahwa proses berpikir lebih bernilai daripada hasil instan; bahwa adab kepada ilmu lebih utama daripada penguasaan informasi.

Keempat, mari kita berikan apresiasi kepada guru-guru, ustadz-ustadz, dan ustadzah-ustadzah yang sudah lelah menjaga pendidikan anak kita. Sebuah pesan singkat di WhatsApp, sebuah kunjungan singkat ke rumah mereka, atau hadiah sederhana sebagai tanda terima kasih — itu cukup untuk mengisi kembali tenaga mereka yang sudah terkuras. Ingatlah bahwa kalimat kecil mereka — "berbuat baik itu aneh, kita yang lelah tapi kita yang bahagia" — adalah doa yang sedang menunggu kita amini dengan sebuah perhatian.

Kelima, mari kita perbanyak doa kita untuk anak-anak kita, untuk guru-guru kita, dan untuk para penuntut ilmu di seluruh negeri ini. Doa adalah senjata orang beriman, dan tidak ada satu pun perjuangan pendidikan yang akan berhasil tanpa pertolongan Allah ﷻ.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, izinkan saya memperdalam sedikit beberapa sisi yang sudah saya sampaikan di khutbah pertama. Tentang amanah pendidikan ini, ada satu hal yang sangat penting untuk kita pahami: kita semua adalah pendidik, walaupun mungkin kita tidak pernah berdiri di depan kelas. Setiap ayah adalah guru pertama anaknya. Setiap ibu adalah madrasah pertama putra-putrinya. Setiap kakak adalah teladan bagi adiknya. Setiap tetangga adalah cermin bagi anak-anak di sekitarnya. Kita semua sedang mendidik, baik secara sengaja maupun tanpa sengaja, melalui kata-kata kita, melalui sikap kita, melalui pilihan-pilihan kita sehari-hari.

Maka pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri kita masing-masing bukan, "apakah saya mendidik?" Pertanyaan yang benar adalah, "apakah pendidikan yang sedang saya berikan, dengan sengaja atau tidak, membawa anak-anak di sekitar saya lebih dekat kepada Allah, atau lebih jauh?" Pertanyaan inilah yang harus kita renungkan setiap kali kita memutuskan untuk berbicara, untuk berbuat, atau untuk diam.

Lebih lanjut lagi, jamaah, mari kita renungkan bahwa pendidikan dalam Islam bukan sekadar transfer informasi. Ia adalah transfer adab, transfer cinta kepada ilmu, transfer kerendahan hati di hadapan kebenaran. Para sahabat ketika belajar dari Rasulullah ﷺ bukan hanya menghafal kata-kata beliau; mereka menyerap cara berdiri beliau, cara berjalan, cara tersenyum, cara memperlakukan anak kecil, cara berbicara kepada tamu. Inilah yang membuat ilmu mereka menjadi cahaya, bukan sekadar timbunan informasi. Dan inilah pula yang sering hilang dari pendidikan modern kita — anak-anak diberi banyak informasi, tetapi tidak cukup diberi adab.

Maka tugas kita yang berat namun mulia adalah mengembalikan adab ke dalam ruang pendidikan kita. Adab kepada Allah, adab kepada guru, adab kepada kitab, adab kepada teman, adab kepada diri sendiri. Ketika adab kembali, ilmu menjadi nur. Ketika adab hilang, ilmu menjadi beban.

Akhirnya, jamaah, mari kita ingat bahwa investasi terbesar yang bisa kita berikan kepada umat ini bukan gedung-gedung mewah, bukan acara-acara megah, melainkan generasi yang shalih dan berilmu. Satu anak yang kita didik dengan benar adalah jariyah yang akan mengalir kepada kita lama setelah jasad kita kembali ke tanah. Satu murid yang kita ajari dengan ikhlas adalah cahaya yang akan menerangi jalan kita di yaumul hisab. Janganlah kita meremehkan satu pun langkah kita dalam menjaga amanah pendidikan ini.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اَللّٰهُمَّ زِدْنَا عِلْمًا، وَلَا تَزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

اَللّٰهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا، وَالْحَمْدُ لِلهِ عَلٰى كُلِّ حَالٍ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ حَالِ أَهْلِ النَّارِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا وَأَحْفَادَنَا وَجَمِيْعَ شَبَابِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لِأَهْلِيْهِمْ، وَزَيِّنْ قُلُوْبَهُمْ بِالْإِيْمَانِ، وَزَيِّنْ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْقُرْآنِ، وَزَيِّنْ أَخْلَاقَهُمْ بِهَدْيِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَطْفَالَنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ، وَاجْعَلْهُمْ مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كَانُوْا، وَوَفِّقْهُمْ لِطَلَبِ الْعِلْمِ النَّافِعِ، وَاسْتَعْمِلْهُمْ فِيْ طَاعَتِكَ، وَلَا تَجْعَلْ بُيُوْتَنَا قُبُوْرًا، بَلْ بُيُوْتًا تُتْلَى فِيْهَا آيَاتُكَ، وَيُذْكَرُ فِيْهَا اسْمُكَ.

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ مُعَلِّمِيْ أَوْلَادِنَا، وَفِيْ أَسَاتِذَتِنَا، وَفِيْ مَشَايِخِنَا، وَفِيْ عُلَمَائِنَا، وَاجْزِهِمْ عَنَّا خَيْرَ الْجَزَاءِ، وَأَكْثِرْ مِنْهُمْ فِيْ بِلَادِنَا، وَاحْفَظْهُمْ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ أَهْلَ الْمَدَارِسِ وَالْمَعَاهِدِ وَالْكَتَاتِيْبِ الَّذِيْنَ ابْتَلَيْتَهُمْ بِالْحَرَائِقِ وَالْمَصَائِبِ، وَاخْلُفْ عَلَيْهِمْ خَيْرًا مِمَّا فَقَدُوْا، وَاجْعَلْ مَا أَصَابَهُمْ رِفْعَةً فِيْ دَرَجَاتِهِمْ، وَزِيَادَةً فِيْ حَسَنَاتِهِمْ، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيْبَتَهُمْ فِيْ دِيْنِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَطْفَالَهُمْ، وَطَلَبَةَ مَدَارِسِهِمْ، وَجَامِعَاتِهِمْ، وَمَسَاجِدَهُمْ، يَا قَوِيُّ يَا عَزِيْزُ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ مِمَّنْ يُعْنَى بِتَرْبِيَةِ هٰذَا الْجِيْلِ، وَيَهْتَمُّ بِأَمْرِ الْمَدَارِسِ وَالْمُعَلِّمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan