Pekan ini percakapan tentang pendidikan kembali ramai — dari ricuh sekolah, anak-anak ujian lesehan di masjid setelah madrasah terbakar, sampai kekhawatiran soal Gen Z dan AI. Ada satu kisah dari kitab Hayat as-Sahabah karya Syaikh Yusuf al-Kandahlawi rahimahullah dalam Bab Hijrah, fasal "Al-Ihtimam bi at-Ta'lim fi al-Jihad" — perhatian para sahabat terhadap pengajaran ilmu bahkan ketika seruan jihad sedang berkumandang.
Kondisi itu berat. Ayat-ayat perang turun bertubi-tubi. "Berangkatlah kalian dalam keadaan ringan maupun berat." "Jika kalian tidak berangkat, niscaya Allah akan mengazab kalian dengan azab yang pedih." Setiap mukmin yang mampu, kakinya seolah harus segera melangkah ke medan.
Tapi para sahabat berhenti sejenak. Mereka bertanya: kalau semua orang berangkat, siapa yang tinggal mengajar?
Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma menjelaskan ayat yang mengikuti perintah perang itu. Allah menurunkan firman-Nya:
وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya ke medan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama, dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS. At-Tawbah: 122)
Ibnu 'Abbas menjelaskan bahwa ayat-ayat perintah perang yang umum tadi dinasakh — dispesifikkan — oleh ayat ini. Bukan dibatalkan dalam arti tidak berlaku lagi, tapi diberi keseimbangan baru. Tidak semua berangkat. Sebagian harus tinggal. Mereka tinggal bukan karena malas atau takut, melainkan karena ada tugas yang sama beratnya: menjaga ilmu tetap menyala.
Para sahabat memahami pesannya. Ada yang berangkat ke Tabuk, ada yang menetap di Madinah belajar di sisi Nabi ﷺ. Ada yang memikul pedang, ada yang memikul Mushaf. Ketika pasukan pulang, yang tinggal akan mengajari yang baru kembali tentang ayat-ayat yang turun selama mereka pergi. Ketika yang tinggal lalai, yang baru pulang akan membagi pengalaman medan.
Lihat polanya. Bahkan ketika pedang terhunus, perhatian Allah dan hamba-hamba-Nya yang beriman tetap diarahkan pada bagaimana ilmu tidak terputus dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jihad bukan alasan menutup halaqah; halaqah bukan alasan absen dari tanggung jawab umat. Keduanya berjalan bersama — dengan pembagian peran yang Allah sendiri yang menurunkan ayatnya.
Ibnu 'Abbas menegaskan inti pesan ini: yang tinggal di majelis ilmu memikul amanah liyatafaqqahu fid-din — memperdalam pengetahuan agama — supaya ketika saudara-saudara mereka pulang dari medan, ada yang sudah siap memberi peringatan dan membimbing kaumnya kembali kepada hikmah wahyu. Pedang tanpa ilmu hanyalah amarah; dan ilmu yang tidak diwariskan akan padam dalam satu generasi.
Pelajaran
Pesan kisah ini sederhana tapi tajam: ketika dunia di sekitar kita tampak penuh urgensi — krisis politik, isu viral, polemik yang menyita perhatian — pendidikan adalah hal pertama yang sering kita kira boleh ditunda. Padahal justru di situasi paling sulit, sebagian umat harus tetap berdiri menjaga halaqah, ruang kelas, dan rumah-rumah ngaji. Anak-anak Banjarmasin yang ujian lesehan di masjid setelah madrasah terbakar adalah cerminan kecil dari prinsip ini: pendidikan tidak boleh berhenti, walau atap sudah hilang. Yang berangkat ke medan dan yang tinggal mengajar, sama-sama mengemban amanah umat — selama keduanya saling menghormati peran masing-masing.
Sumber Asli
Hayat as-Sahabah — الباب الرابع باب الهجرة / الإهتمام بالتعليم في الجهاد
الإهتمام بالتعليم في الجهاد في سبيل الله قول ابن عباس في معنى الآية {وما كان المؤمنون لينفروا كافة} أخرج البيهقي عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قال الله تبارك وتعالى: {خذوا حذركم فانفروا ثبات أو أنفروا جميعا} وقال: {أنفروا خفافا وثقالا} وقال: {إِلاَّ تَنفِرُواْ يُعَذّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا}، ثم نسخ هذه الآيات
