Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPendidikan & SDMKamis, 11 Juni 2026

Kultum

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini kita baca kabar tentang sebuah madrasah Muhammadiyah di Banjarmasin yang baru saja terbakar — siswa-siswanya kini ujian lesehan di masjid. Di pekan yang sama, kita juga membaca kekhawatiran tentang generasi muda yang larut bersama AI, yang seolah-olah berpikir bisa di-outsource ke mesin. Dua kabar yang jauh secara fisik, tetapi dekat secara pertanyaan: bagaimana kita merawat amanah ilmu di tengah lanskap yang tidak pernah benar-benar ideal?

Saya ingin membuka kultum malam ini dengan dua pertanyaan yang mungkin terasa janggal, tetapi tolong diam sejenak bersama saya. Kalau gedung sekolah terbakar, apakah pendidikan ikut berhenti? Kalau AI bisa menjawab hampir semua pertanyaan dalam tiga detik, apakah berpikir masih perlu? Saya yakin di hati kita semua jawabannya sama: tentu tidak. Tetapi sering jawaban "tentu" itu tidak otomatis tercermin di pilihan kita sehari-hari. Kita kadang masih mengaitkan ilmu dengan gedung, dengan seragam, dengan jadwal formal. Kita kadang masih menganggap berpikir sebagai pekerjaan yang sudah selesai begitu jawaban muncul di layar.

Marilah kita mendengar ayat yang turun pertama kali kepada Rasulullah ﷺ. Ayat ini turun di gua Hira, di tempat yang tidak ada gedung sekolah, tidak ada papan tulis, tidak ada kurikulum tertulis. Yang ada hanya batu, sunyi, dan seorang manusia mulia yang gemetar.

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ ۝ خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ ۝ ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ ۝ ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ ۝ عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Allah berfirman dalam QS. Al-'Alaq: 1-5: "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."

Perhatikan, jamaah, betapa lembut tetapi tegasnya perintah ini. Wahyu pertama bukan perintah berperang, bukan perintah membangun negara, bukan perintah mendirikan masjid. Wahyu pertama adalah perintah membaca. Allah memilih kata iqra' — bacalah — untuk membuka risalah kenabian. Dan ayat itu turun di tempat yang sama sekali tidak menyerupai sekolah modern. Tidak ada bangunan. Tidak ada laboratorium. Hanya sebuah perintah dan seorang manusia yang siap menerimanya. Ini menjadi pesan yang membentang lintas zaman: ilmu tidak menunggu gedung yang ideal. Ilmu tidak menunggu kondisi yang sempurna. Ilmu adalah amanah yang dimulai dari hati yang siap mengangkat iqra' di mana pun dia berdiri.

Sekarang, izinkan saya membawa kita ke sebuah catatan dari kitab Hayat as-Sahabah karya Syaikh Yusuf al-Kandahlawi rahimahullah. Dalam bagian yang berjudul الإهتمام بالتعليم في الجهاد — Perhatian terhadap pendidikan di tengah jihad — beliau menghimpun riwayat-riwayat yang menunjukkan bagaimana para sahabat Rasulullah ﷺ tetap memprioritaskan ta'lim, tetap memprioritaskan belajar, bahkan di tengah situasi paling genting. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menafsirkan ayat tentang nafir, tentang panggilan berangkat ke medan, dengan menegaskan bahwa pengiriman pasukan tidak boleh mengosongkan barisan penuntut ilmu.

وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةًۭ ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍۢ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌۭ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ

"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama" (QS. At-Taubah: 122). Ayat ini, jamaah, sangat luar biasa kalau kita renungkan. Di tengah perintah yang sebelumnya begitu keras tentang nafir — infirū khifāfan wa thiqālan, berangkatlah dalam keadaan ringan ataupun berat — Allah menahan satu kelompok untuk tetap belajar. Para sahabat memahami bahwa peradaban ini bertumpu pada dua kaki: keberanian dan pengetahuan. Yang satu tanpa yang lain akan pincang. Maka di tengah pasukan yang bergerak ke garis depan, ada barisan lain yang bergerak ke majelis ilmu, dan keduanya sama-sama dinilai sebagai pengabdian.

Apa yang ingin saya garis bawahi dari kisah ini? Bahwa para sahabat tidak pernah menjadikan situasi sulit sebagai alasan untuk menunda ilmu. Ketika negeri belum stabil, mereka tetap menggelar majelis. Ketika perjalanan jihad panjang dan melelahkan, mereka tetap saling mengajari di sela istirahat. Ketika Rasulullah ﷺ wafat dan umat baru saja kehilangan sosok sentral, mereka tidak membiarkan ilmu tercerai-berai — mereka justru memperketat barisan ta'lim. Pesan ini terasa sangat hidup ketika kita meletakkannya di samping kabar madrasah Muhammadiyah Banjarmasin yang baru terbakar. Gedungnya hilang, tetapi ujian tetap berjalan. Anak-anak duduk lesehan di lantai masjid, dengan kertas di pangkuan, dan mereka tetap mengerjakan soal. Itu, jamaah, adalah cermin kecil dari semangat sahabat: ilmu tidak menunggu gedung. Niat untuk belajar mendahului fasilitas.

Rasulullah ﷺ sendiri menjamin bahwa langkah-langkah menuntut ilmu memiliki nilai yang jauh melampaui keletihan yang ditanggung. Dalam riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau ﷺ bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Rasulullah ﷺ bersabda dalam Sahih Muslim 2699: "Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." Jamaah, hadits ini bukan retorika. Ini janji. Setiap kali kita berusaha menambah pengetahuan tentang agama, tentang akhlak, tentang muamalah, tentang cara mendidik anak — bahkan di tengah jadwal sibuk, bahkan di tengah ekonomi yang menekan — Allah catat itu sebagai jalan menuju jannah. Dan kalau kita renungkan: jalan menuju surga adalah jalan paling penting yang pernah kita tempuh. Tidak ada perjalanan dinas, tidak ada studi banding, tidak ada karir naik pangkat yang sebanding dengan satu langkah tulus menuntut ilmu yang Allah mudahkan jalannya.

Sekarang, mari kita kembalikan pesan ini ke kabar pekan ini. Ada cerita seorang guru yang menulis di media sosial tentang muridnya — seorang murid yang pintar dan sopan, tetapi sedang menghadapi sesuatu yang berat. Guru itu tetap memperhatikan meski sedang lelah, dan berkata: berbuat baik itu aneh ya, kita yang effort, kita juga yang bahagia. Saya membaca kalimat itu berulang-ulang. Bagi saya, ini adalah cermin amanah ilmu yang sedang dijaga oleh seorang guru biasa — bukan ulama besar, bukan menteri pendidikan, hanya seorang guru di sebuah sekolah. Dan itu cukup. Karena amanah ilmu memang tidak menunggu jabatan besar. Ia dimulai dari setiap orang yang punya satu hal untuk dibagi: satu ayat, satu hadits, satu keterampilan, satu kebaikan.

Di sisi lain, kita juga membaca kekhawatiran tentang generasi muda kita yang larut bersama AI. Ada keresahan bahwa Gen Z dan Gen Alpha terlalu mudah menyerahkan pekerjaan berpikir kepada mesin. Saya tidak ingin masuk ke posisi anti-teknologi — itu reaktif dan tidak adil. Tetapi saya ingin mengangkat pertanyaan: kalau perintah pertama Al-Qur'an adalah iqra', kalau Allah memuliakan kalam, kalau Allah memuliakan manusia yang mengetahui apa yang tidak ia ketahui sebelumnya — maka apa yang sedang terjadi pada hati kita ketika kita berhenti membaca, berhenti merenung, berhenti menggali sendiri? AI bisa menjadi alat yang sangat baik kalau kita gunakan untuk memperluas pertanyaan kita. Tetapi AI menjadi racun lembut kalau kita pakai untuk menghindari proses berpikir itu sendiri. Bedanya tipis, tetapi konsekuensinya panjang. Karena Allah memuliakan manusia bukan karena jawabannya, melainkan karena perjalanan akalnya menuju jawaban itu.

Jadi, jamaah, kalau saya boleh menyimpulkan kultum malam ini dalam tiga aksi konkret yang bisa kita ambil pekan ini — sebelum kita pulang dari masjid malam ini — saya ingin mengajak kita pada hal-hal kecil yang sebenarnya sangat menentukan.

Pertama, mari kita buka rumah kita untuk anak-anak tetangga selama satu jam dalam seminggu. Tidak perlu menjadi guru profesional. Cukup duduk bersama mereka, dengarkan PR mereka, tanyakan apa yang sedang mereka pelajari di sekolah, bantu sebisanya. Kalau kita tidak bisa mengajar pelajaran sekolahnya, ajaklah membaca cerita nabi, ajak menghafal satu ayat pendek, ajak mengobrol tentang akhlak. Satu jam dalam seminggu terlihat sederhana, tetapi kalau dikumpulkan selama setahun menjadi 52 jam — lebih banyak dari satu semester pelajaran tambahan.

Kedua, mari kita donasikan satu buku ke madrasah atau perpustakaan masjid kita. Satu buku saja. Bisa buku anak-anak, bisa buku sirah, bisa buku tafsir ringan, bisa buku keterampilan praktis. Kalau setiap keluarga di kompleks kita menyumbang satu buku, dalam dua minggu kita sudah punya perpustakaan kecil yang menggerakkan minat baca. Madrasah Banjarmasin yang terbakar itu adalah pengingat bahwa kita tidak bisa menunggu pemerintah saja. Komunitas perlu saling menyangga.

Ketiga, mari kita berbicara dengan anak atau keponakan kita yang menggunakan AI. Bukan untuk melarang — itu tidak realistis. Tetapi untuk membimbing. Tanyakan kepada mereka: kalau AI memberi jawaban, apakah kamu masih bertanya dari mana datangnya jawaban itu? Apakah kamu masih membaca sumber aslinya? Apakah kamu masih punya pikiranmu sendiri? Pertanyaan-pertanyaan kecil ini, kalau diajukan dengan kasih sayang dan tanpa menghakimi, akan menanamkan kebiasaan berpikir yang justru dibutuhkan oleh anak-anak kita di zaman mesin pintar ini.

Jamaah yang saya hormati, izinkan saya menutup dengan satu pesan singkat dan satu doa. Pesannya begini: amanah ilmu adalah amanah yang tidak menunggu kondisi ideal. Para sahabat menjaganya di tengah jihad. Anak-anak Banjarmasin menjaganya di tengah puing. Seorang guru menjaga muridnya di tengah lelahnya. Kita masing-masing dipanggil untuk menjaga bagian kecil dari amanah ini — di rumah kita, di lingkungan kita, di percakapan kita dengan anak-anak. Jangan kita kira amanah ini terlalu besar untuk kita. Justru karena ia dipikul bersama-sama oleh orang-orang biasa, amanah ini terus hidup hingga hari ini.

Mari kita berdoa.

اَللّٰهُمَّ رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا وَارْزُقْنِيْ فَهْمًا، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ الْعَامِلِيْنَ بِهِ، الْمُعَلِّمِيْنَ لِغَيْرِهِمْ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ.

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ أَوْلَادِنَا وَأَوْلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِطَلَبِ الْعِلْمِ النَّافِعِ، وَاحْفَظْهُمْ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ فِيْ دِيْنِهِمْ وَعَقْلِهِمْ وَأَخْلَاقِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ مُعَلِّمِيْنَا وَمُعَلِّمَاتِنَا، وَاجْزِهِمْ عَنَّا خَيْرَ الْجَزَاءِ، وَاجْعَلْ كُلَّ حَرْفٍ عَلَّمُوْنَا فِيْ مِيْزَانِ حَسَنَاتِهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan