Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatSosial & KeluargaKamis, 11 Juni 2026

Khutbah Jumat

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِيْ جَعَلَ الْأُسْرَةَ سَكَنًا، وَجَعَلَ بَيْنَ النَّاسِ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، وَأَمَرَ بِأَدَاءِ الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، خَيْرُ مَنْ رَحِمَ أَهْلَهُ وَأَحْسَنَ إِلَى أَطْفَالِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, jamaah Jumat yang dimuliakan Allah. Marilah pada siang yang penuh berkah ini, kita perbarui takwa kita kepada Allah, takwa yang tidak berhenti pada lisan, tetapi turun ke dalam rumah-rumah kita, ke dalam cara kita menatap istri, mendengar anak, dan menerima tamu di pintu kita. Sebab takwa yang sejati, yang menyelamatkan kita di akhirat, adalah takwa yang lebih dulu menyelamatkan orang-orang yang Allah titipkan di sekitar kita.

Allah berfirman di dalam Kitab-Nya yang mulia, menggambarkan sifat orang-orang beriman yang akan mewarisi surga Firdaus. Mari kita simak ayat pembuka khutbah hari ini.

وَٱلَّذِينَ هُمْ لِأَمَٰنَٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَٰعُونَ

Ini adalah firman Allah di dalam QS. Al-Muminoon: 8 yang berbunyi: "Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat yang dipikulnya dan janji-janjinya." Ayat yang sama, dengan lafal yang sama, juga diulang oleh Allah dalam QS. Al-Ma'aarij: 32, seolah Allah ingin memastikan bahwa pesan ini tidak luput dari telinga kita: bahwa amanah dan janji adalah dua benang yang menjahit hidup orang beriman, dan ketika benang itu putus, maka pakaian iman seseorang menjadi koyak.

Hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita renungkan kata kunci ayat ini: amānāt, dalam bentuk jamak. Allah tidak menyebut amanah dalam bentuk tunggal, karena amanah dalam hidup seorang Muslim memang banyak lapisnya. Ada amanah ilmu kepada murid, amanah jabatan kepada rakyat, amanah harta kepada pemiliknya. Tetapi di atas semua itu, amanah yang paling dekat dengan kulit kita, yang paling sering luput karena justru paling dekat, adalah amanah rumah: amanah seorang suami atas istrinya, amanah seorang istri atas anak-anaknya, amanah orang tua atas titipan ilahi yang lahir dari rahimnya, amanah seorang pengasuh atas anak yang dititipkan kepadanya.

Pekan ini, jamaah, kabar yang sampai kepada kita menyayat hati. Di Situbondo, seorang bidan bernama Murtafia ditemukan tidak bernyawa di sebuah saluran air, dibunuh oleh suaminya sendiri yang dikabarkan didera cemburu. Bayangkan, jamaah: rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi seorang perempuan, justru menjadi tempat ia kehilangan nyawanya. Tangan yang dulu pernah mengikat akad nikah, yang dulu pernah disambut keluarganya dengan harapan, kini menjadi tangan yang menutup hayatnya dan membuang jasadnya ke selokan.

Belum reda kabar itu, datang lagi berita dari Boyolali. Seorang ibu mertua wafat setelah memakan sate yang ternyata diracun, dan menantunya sendiri yang dituduh meracuninya. Sebuah hubungan yang seharusnya menjadi silaturahim yang memperpanjang umur, justru menjadi pintu kematian. Lalu kabar dari Lombok Tengah: tiga santri di sebuah pondok pesantren diduga dibakar oleh kakak kelas mereka. Pondok yang seharusnya menjadi rumah kedua tempat anak-anak kita menghafal Kitab Allah, menjadi tempat di mana tubuh anak-anak itu terbakar oleh tangan saudara-saudara seasrama mereka sendiri.

Dan di kanal-kanal media sosial, jamaah, ramai sebuah perdebatan tentang pilihan hidup childfree. Tetapi yang paling menyayat dari perdebatan itu bukan teori-teorinya — yang paling menyayat adalah sebuah pesan dari seorang ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus, yang menulis dengan air mata bahwa ia merasa direndahkan oleh orang yang tidak pernah merasakan perjuangannya. Ibu yang setiap hari berjuang menjaga amanah Allah yang paling rapuh, kini merasa dipinggirkan dalam percakapan publik tentang keluarga.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, kalau kita renungkan benang merah dari semua kabar ini, kita akan menemukan satu pola yang menggetarkan: bahwa kerusakan paling dalam pada masyarakat kita pekan ini tidak datang dari jauh — ia datang dari dalam rumah, dari tangan-tangan yang seharusnya menjaga, dari mulut-mulut yang seharusnya menenangkan, dari pelukan-pelukan yang seharusnya melindungi.

Inilah yang membuat ayat QS. Al-Muminoon: 8 terasa sangat dekat dengan kita hari ini. Allah memperingatkan kita bahwa orang beriman dikenali bukan dari kekhusyukannya di masjid saja, tetapi dari kemampuannya menjaga amanah di rumahnya sendiri. Karena masjid yang ramai tidak akan pernah menutup luka istri yang dipukuli setiap malam. Pengajian yang panjang tidak akan pernah menyelamatkan anak yang dititipkan kepada pengasuh yang lalai. Status sosial yang tinggi tidak akan pernah menebus dosa seorang menantu yang mencabut nyawa mertuanya dengan racun.

Hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan saya menggali argumen ini lebih dalam dengan bantuan tiga dalil lain yang akan kita renungkan bersama pada khutbah pertama ini.

Yang pertama, Rasulullah ﷺ memberi kita ukuran yang sangat jernih tentang siapa Muslim terbaik dalam urusan menafkahi keluarga. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Tsauban radhiyallahu 'anhu, kita membaca:

Sahih Muslim 2310 meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

أَفْضَلُ دِيْنَارٍ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ دِيْنَارٌ يُنْفِقُهُ عَلٰى عِيَالِهِ، وَدِيْنَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ عَلٰى دَابَّتِهِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، وَدِيْنَارٌ يُنْفِقُهُ عَلٰى أَصْحَابِهِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ.

Yang artinya: "Dinar yang paling utama yang dibelanjakan seseorang adalah dinar yang dibelanjakan untuk keluarganya, dinar yang dibelanjakan untuk hewan tunggangannya di jalan Allah, dan dinar yang dibelanjakan untuk sahabat-sahabatnya di jalan Allah." Dan dalam riwayat yang serupa, Sahih Muslim 2311, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menambahkan bahwa Rasulullah ﷺ menekankan kembali: "Dinar yang paling besar pahalanya adalah dinar yang kamu belanjakan untuk keluargamu."

Jamaah, perhatikan urutan yang diajarkan Nabi ﷺ. Banyak dari kita berpikir bahwa amal yang paling berharga di sisi Allah adalah amal yang kelihatan oleh orang banyak — sumbangan besar di masjid, donasi yang diumumkan di mimbar, sedekah yang dipublikasikan di media sosial. Tetapi Nabi ﷺ menempatkan keluarga di urutan pertama. Bukan karena keluarga lebih penting dari masjid secara mutlak, tetapi karena keluarga adalah ujian harian yang paling sulit dipalsukan. Kita bisa berpura-pura ramah di masjid selama dua jam, tetapi kita tidak bisa berpura-pura sayang di rumah selama dua puluh empat jam.

Maka, ketika seorang suami menafkahi istrinya dengan ikhlas, ketika seorang ayah membayar SPP anaknya tanpa mengungkit-ungkit, ketika seorang ibu menyiapkan sarapan setiap pagi tanpa mengeluh, mereka sebenarnya sedang menanam pahala yang lebih besar daripada banyak ibadah lain yang kita kagumi dari jauh. Tetapi kita sering lupa, jamaah. Kita sibuk mencari pahala di tempat-tempat yang jauh, padahal Allah meletakkan ladang pahala terbesar di balik pintu rumah kita sendiri.

Dan inilah ironi yang sangat menyakitkan dari kabar pekan ini: ada suami yang justru menjadikan istrinya bukan ladang pahala, tetapi ladang dosa yang paling gelap. Ada menantu yang justru menjadikan mertuanya bukan jembatan menuju surga, tetapi jurang menuju neraka. Ketika nafkah berubah menjadi pukulan, ketika silaturahim berubah menjadi racun, maka sesungguhnya orang-orang itu sedang membalik takdir baik yang Allah letakkan di hadapan mereka, dan menggantinya dengan takdir buruk yang mereka pilih sendiri.

Yang kedua, jamaah, Allah memberi kita prinsip universal tentang keadilan dan keseimbangan. Mari kita simak ayat berikutnya.

وَأَقِيمُوا۟ ٱلْوَزْنَ بِٱلْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا۟ ٱلْمِيزَانَ

Ini firman Allah dalam QS. Ar-Rahmaan: 9: "Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu." Ayat ini biasa kita dengar dalam konteks perdagangan — bahwa pedagang tidak boleh mengurangi timbangan. Tetapi para ulama mengajarkan bahwa al-mīzān, neraca, dalam ayat ini bermakna jauh lebih luas dari sekadar timbangan di pasar. Mīzān adalah keseimbangan dalam segala hubungan: keseimbangan antara hak dan kewajiban, antara kasih dan ketegasan, antara memberi dan menerima.

Maka ketika seorang suami menuntut ketaatan dari istrinya tanpa memberi nafkah yang layak, ia sedang menjadi pedagang yang curang dalam timbangan rumah tangga. Ketika seorang istri menuntut nafkah yang terus naik tanpa pernah bersyukur atas yang ada, ia juga sedang mengurangi neraca itu. Ketika orang tua menuntut anaknya menjadi sempurna tetapi tidak pernah memberi waktu, perhatian, atau pelukan yang dibutuhkan anak itu, mereka sedang menimbang dengan curang.

Dan ketika sebuah pondok pesantren menuntut santri tunduk pada disiplin yang keras, tetapi tidak memberi mereka perlindungan yang setara dari kekerasan kakak kelas, maka institusi itu sedang mengurangi neraca yang paling sakral: neraca pengasuhan. Anak yang dititipkan kepada pesantren bukan hanya dititipkan untuk hafalan; ia dititipkan untuk dijaga tubuhnya, hatinya, kehormatannya, dan rasa amannya. Setiap mizan yang dikurangi, setiap timbangan yang dimainkan, akan ditegakkan kembali oleh Allah di akhirat dengan timbangan yang tidak bisa kita tipu.

Yang ketiga, jamaah, Rasulullah ﷺ menegaskan dengan sangat tegas tentang tanggung jawab setiap orang atas mereka yang berada di bawah pengasuhannya. Dalam Sahih al-Bukhari 2409, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, kita membaca sabda Nabi ﷺ:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِيْ أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِيْ بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِيْ مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

Yang artinya: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin, dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya, dan ia bertanggung jawab atas keluarganya. Seorang istri adalah pengelola di rumah suaminya, dan ia bertanggung jawab atas pengelolaannya. Seorang pelayan adalah pengelola harta tuannya, dan ia bertanggung jawab atas pengelolaannya."

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, hadits ini adalah salah satu hadits yang paling sering dibaca tetapi paling jarang dipahami secara dalam. Banyak dari kita hanya menangkap kata "pemimpin" dan langsung membayangkan jabatan formal — kepala desa, manajer, direktur. Tetapi Nabi ﷺ memperluas makna kepemimpinan sampai ke unit terkecil masyarakat: setiap suami, setiap istri, bahkan setiap pelayan. Tidak ada seorang Muslim pun yang lepas dari status sebagai pemimpin, karena tidak ada seorang Muslim pun yang tidak memiliki seseorang atau sesuatu yang dititipkan kepadanya.

Maka renungkanlah, jamaah. Seorang suami yang membunuh istrinya bukan hanya melakukan kejahatan kriminal; ia mengkhianati amanah kepemimpinan yang Allah berikan kepadanya. Seorang menantu yang meracuni mertuanya bukan hanya melanggar hukum negara; ia mengkhianati amanah hubungan yang Allah jalin lewat akad nikah. Seorang kakak kelas yang membakar adik kelasnya bukan hanya melanggar aturan asrama; ia mengkhianati amanah pengasuhan yang dilimpahkan kepadanya sebagai senior.

Dan setiap pengkhianatan ini, jamaah, akan dihisab. Akan ditimbang. Akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah, Yang tidak pernah salah dalam menimbang.

Hadirin yang dimuliakan Allah, kalau kita sudah memahami betapa beratnya amanah ini, betapa luasnya cakupannya, dan betapa banyak luka yang muncul ketika ia diabaikan, lalu apa yang harus kita lakukan? Apa yang harus kita bawa pulang dari mimbar ini sebagai aksi nyata?

Yang pertama, jamaah, kita harus mulai dari pertanyaan yang paling sederhana tetapi paling sering kita lupakan: "Apa kabar?" Hari ini, ketika kita sampai di rumah setelah sholat Jumat, tatap mata istri kita. Tatap mata anak kita. Tatap mata orang tua kita yang masih hidup. Dan tanya dengan tulus: "Kamu baik-baik aja?" Jangan tanya sambil membuka HP. Jangan tanya sambil pikiran masih di kantor. Tanya dengan kehadiran penuh, dan dengarkan jawabannya, walaupun jawabannya panjang, walaupun jawabannya menyakitkan, walaupun jawabannya bukan yang kita harapkan.

Banyak rumah tangga yang berantakan, jamaah, bukan karena masalah besar, tetapi karena pertanyaan kecil yang tidak pernah ditanyakan selama bertahun-tahun. Dan banyak luka yang membesar bukan karena tidak ada solusi, tetapi karena tidak ada telinga yang mau mendengarkan.

Yang kedua, jamaah, kita harus membuka mata terhadap tetangga kita. Kekerasan dalam rumah tangga jarang muncul tiba-tiba; ia hampir selalu memiliki tanda-tanda yang terlihat dari luar bagi yang mau melihat. Suara teriakan yang berulang. Memar yang ditutupi. Anak yang takut pulang. Kalau kita melihat tanda-tanda itu di rumah tetangga kita, jangan pura-pura tidak tahu. Bukan dengan cara menggosip — itu menambah luka. Tetapi dengan cara mendekati, menawarkan kehadiran, menjadi tempat aman bagi siapa yang membutuhkan.

Yang ketiga, jamaah, mari kita usulkan kepada takmir masjid kita masing-masing agar mushola atau masjid lingkungan menjadi titik kontak pertama untuk pelaporan KDRT. Bukan menggantikan polisi atau lembaga negara, tetapi menjadi pintu pertama yang mudah didekati. Banyak korban KDRT takut datang ke kantor polisi karena takut diketahui suami atau keluarganya. Tetapi mereka mungkin lebih berani datang ke pengurus masjid yang mereka kenal. Mari kita siapkan masjid kita untuk menjadi tempat yang aman bagi mereka yang sedang terluka di rumahnya sendiri.

Yang keempat, jamaah, mari kita audit pesantren dan tempat penitipan anak yang menjadi rujukan komunitas kita. Tanyakan kepada pengurusnya: bagaimana protokol perlindungan anak di sini? Apa yang dilakukan kalau ada laporan kekerasan antar santri? Siapa yang bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu? Pesantren yang baik tidak akan tersinggung dengan pertanyaan seperti ini; pesantren yang baik justru akan bersyukur karena ada masyarakat yang peduli pada amanah yang mereka pikul.

Yang kelima, jamaah, mari kita hati-hati dengan lisan kita di media sosial. Perdebatan tentang pilihan hidup, tentang childfree, tentang gaya hidup orang lain, sering kali tidak menghasilkan apa-apa selain melukai orang-orang yang sedang berjuang dalam diam. Sebelum kita mengetik komentar, tanyakan: apakah komentar ini akan mendekatkan seseorang kepada Allah, atau justru menjauhkannya? Apakah ia membangun, atau merobohkan?

Dan yang keenam, jamaah, untuk yang Allah karuniai anak berkebutuhan khusus, izinkan saya menyampaikan dari mimbar ini: kalian adalah orang-orang yang sedang memegang amanah yang paling berat di antara amanah-amanah pengasuhan. Pahala kalian — jika ikhlas, sabar, dan istiqomah — tidak akan pernah bisa diukur dengan ukuran dunia. Jangan pernah merasa kecil karena pilihan hidup orang lain. Allah Maha Tahu beratnya beban yang kalian pikul, dan Allah tidak pernah salah memilih siapa yang Dia titipi anak yang istimewa.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, marilah kita tutup khutbah pertama ini dengan sebuah kesadaran: bahwa rumah adalah benteng terakhir dakwah. Kalau benteng itu runtuh, maka tidak ada masjid yang cukup megah, tidak ada pengajian yang cukup panjang, tidak ada da'i yang cukup fasih, yang bisa menggantikan kerusakannya. Maka mulailah dari sana. Mulailah hari ini.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan saya pada khutbah kedua ini menggali satu lapis lagi dari apa yang sudah kita bahas. Kita sering mengira bahwa kekerasan di rumah adalah masalah individu — orang yang jahat bertemu orang yang lemah, dan terjadilah luka. Tetapi kalau kita renungkan dengan dalam, kita akan menemukan bahwa kekerasan di rumah hampir selalu adalah gejala dari sesuatu yang lebih dalam: dari rasa cemburu yang tidak diobati, dari kemarahan yang tidak diolah, dari ego yang tidak ditundukkan kepada Allah, dari rasa berkuasa yang tidak diimbangi dengan rasa takut kepada hisab.

Inilah mengapa Islam tidak hanya mengajarkan etika rumah tangga; Islam mengajarkan tazkiyatun nafs, penyucian jiwa. Karena seorang suami yang jiwanya bersih tidak akan menjadikan tangannya alat untuk melukai. Seorang istri yang jiwanya bersih tidak akan menjadikan lisannya alat untuk merendahkan. Seorang menantu yang jiwanya bersih tidak akan pernah membayangkan racun di piring mertuanya. Maka sebelum kita berbicara tentang reformasi institusi, mari kita mulai dari reformasi jiwa kita sendiri.

Dan ada satu lapis lagi, jamaah, yang harus kita renungkan. Bahwa rumah-rumah yang luka di sekitar kita seringkali adalah cermin dari masyarakat yang sudah lama tidak diperhatikan. Suami yang membunuh istrinya mungkin pernah menjadi anak yang melihat ayahnya memukul ibunya. Menantu yang meracuni mertuanya mungkin pernah hidup dalam rumah yang tidak pernah mengajarkan cara menyelesaikan konflik dengan baik. Kakak kelas yang membakar adik kelasnya mungkin pernah menjadi korban kekerasan yang tidak pernah dirawat. Luka melahirkan luka. Inilah mengapa, ketika kita memutus mata rantai kekerasan di satu rumah, sesungguhnya kita sedang menyelamatkan banyak rumah yang belum dilahirkan dari rumah itu.

Maka tanggung jawab kita, jamaah, tidak berhenti pada rumah kita sendiri. Tanggung jawab kita adalah membangun komunitas yang merawat luka, bukan komunitas yang sibuk menghakimi luka. Komunitas yang membuka pintu bagi yang sedang patah, bukan komunitas yang menutup mata pada yang sedang berdarah. Komunitas yang mengajarkan anak-anak kita cara mengelola emosi sejak dini, sebelum emosi itu meledak menjadi kekerasan di masa dewasa.

Dan akhirnya, jamaah, mari kita ingat bahwa setiap doa yang kita panjatkan untuk keluarga kita, setiap istighfar yang kita ucapkan untuk orang tua kita yang sudah wafat, setiap shalawat yang kita kirimkan untuk Nabi ﷺ, sesungguhnya adalah simpul-simpul yang menjahit kembali kain yang sudah lama koyak. Maka jangan lelah berdoa. Jangan lelah mengulang permohonan kepada Allah, walaupun jawabannya belum kita lihat hari ini. Karena Allah tidak pernah menyia-nyiakan doa orang yang ikhlas, dan Allah tidak pernah lupa pada keluarga-keluarga yang dipasrahkan kepada-Nya.

Marilah kita berdoa, semoga Allah menerima ikhtiar kita dan mengangkat luka-luka rumah tangga umat ini.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ، وَعِبَادَكَ الْمُؤْمِنِيْنَ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ احْفَظْ نِسَاءَهُمْ وَأَطْفَالَهُمْ وَشُيُوْخَهُمْ، وَاجْعَلْ كَيْدَ الظَّالِمِيْنَ فِيْ نُحُوْرِهِمْ، يَا قَوِيُّ يَا عَزِيْزُ يَا جَبَّارُ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ. اَللّٰهُمَّ ارْزُقْهُمْ بِطَانَةَ صَالِحَةً تَدُلُّهُمْ عَلَى الْخَيْرِ وَتُعِيْنُهُمْ عَلَيْهِ، وَجَنِّبْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ أُمَّهَاتِنَا وَآبَاءَنَا، وَأَزْوَاجَنَا وَأَوْلَادَنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ بُيُوْتَنَا سَكَنًا، وَمَلَأْهَا بِالْمَحَبَّةِ وَالْمَوَدَّةِ وَالرَّحْمَةِ. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَهْلِيْنَا مِنَ الْعُنْفِ، وَاحْفَظْ نِسَاءَنَا مِنَ الْأَذَى، وَاحْفَظْ أَطْفَالَنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ يَتَرَبَّصُ بِهِمْ فِيْ بُيُوْتِهِمْ وَمَدَارِسِهِمْ وَمَعَاهِدِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ يَا مُجِيْبَ الدَّعَوَاتِ، اشْفِ قُلُوْبَ الْأُمَّهَاتِ الْمَكْلُوْمَاتِ، وَامْسَحْ دُمُوْعَ الْأَيْتَامِ الَّذِيْنَ فَقَدُوْا أُمَّهَاتِهِمْ بِأَيْدِيْ آبَائِهِمْ، وَاجْبُرْ كُسُوْرَ الزَّوْجَاتِ الْمَظْلُوْمَاتِ فِيْ بُيُوْتِهِنَّ. اَللّٰهُمَّ كُنْ لِلْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ النِّسَاءِ وَالْأَطْفَالِ مَلْجَأً وَمَلَاذًا، وَاجْعَلْ لَهُمْ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ بَلَاءٍ عَافِيَةً.

اَللّٰهُمَّ وَفِّقْ آبَاءَنَا وَأُمَّهَاتِنَا لِأَدَاءِ أَمَانَةِ التَّرْبِيَةِ، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا مَدْرَسَةً لِلْإِيْمَانِ، وَمَأْوَى لِلرَّحْمَةِ، وَحِصْنًا مِنَ الْفِتَنِ. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ مَعَاهِدَنَا وَمَدَارِسَنَا وَدُوْرَ حَضَانَتِنَا، وَاجْعَلْهَا أَمَاكِنَ آمِنَةً لِأَبْنَائِنَا، يَتَعَلَّمُوْنَ فِيْهَا دِيْنَكَ، وَيَنْشَأُوْنَ فِيْهَا عَلٰى تَقْوَاكَ.

اَللّٰهُمَّ مَنْ أَرَادَنَا وَأَرَادَ بُيُوْتَنَا وَأَهْلَنَا بِسُوْءٍ فَأَشْغِلْهُ فِيْ نَفْسِهِ، وَرُدَّ كَيْدَهُ فِيْ نَحْرِهِ، وَاجْعَلْ تَدْبِيْرَهُ تَدْمِيْرًا عَلَيْهِ. اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الْحَسَدِ وَالْحِقْدِ وَالْغَضَبِ، وَاجْعَلْ أَلْسِنَتَنَا رَطْبَةً بِذِكْرِكَ، وَأَيْدِيَنَا مَبْسُوْطَةً بِالْخَيْرِ، وَأَقْدَامَنَا ثَابِتَةً عَلٰى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ. أَقِيْمُوا الصَّلَاةَ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan