بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأُسْرَةَ سَكَنًا، وَجَعَلَ بَيْنَ النَّاسِ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ خَيْرُ مَنْ رَحِمَ الْأَطْفَالَ وَأَحْسَنَ إِلَى أَهْلِهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini kita mendengar lagi kabar yang membuat hati prihatin. Di Situbondo, seorang bidan bernama Murtafia dibunuh suaminya sendiri karena cemburu, jasadnya ditemukan di selokan dengan kepala dihantam batu. Di Boyolali, seorang ibu mertua tewas usai memakan sate yang ternyata sudah diracun dan dikirim oleh menantunya. Rumah kita, saudara-saudara, yang seharusnya jadi sakinah, ternyata bisa berubah jadi tempat luka yang paling dalam.
Saya ingin kita mulai malam ini dengan satu pertanyaan yang sebenarnya menakutkan untuk ditanyakan. Bagaimana mungkin orang yang sehari-hari berbagi piring nasi dengan kita, yang tidur di sebelah kita, yang mengantar anak ke sekolah bersama kita — bagaimana mungkin orang yang sedekat itu bisa berubah jadi orang yang melukai? Apakah perubahan itu terjadi tiba-tiba, di satu malam yang gelap? Atau sebenarnya perubahan itu menumpuk pelan-pelan selama bertahun-tahun, lewat seribu hal kecil yang kita anggap "biasa saja", yang kita lewatkan tanpa kita sadari? Pertanyaan ini, jamaah, bukan untuk menghakimi siapa-siapa — tapi untuk mengajak kita berkaca pada diri sendiri.
Mari kita renungkan sebentar ayat Allah dalam Al-Quran. Allah berfirman dalam surah Al-Ma'aarij ayat 32:
وَٱلَّذِينَ هُمْ لِأَمَٰنَٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَٰعُونَ
Artinya: "Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat yang dipikulnya dan janjinya." QS. Al-Ma'aarij: 32.
Ayat ini, jamaah, datang dalam rangkaian sifat orang-orang yang akan dimuliakan Allah di surga. Coba perhatikan kata yang dipakai: rā'ūn — memelihara, merawat, menjaga seperti gembala menjaga ternaknya. Bukan "menepati", bukan "menyelesaikan". Tapi memelihara. Artinya amanah itu bukan barang yang sekali ditandatangani lalu selesai. Amanah itu makhluk hidup yang harus diberi makan setiap hari, dirawat setiap malam, ditengok setiap pagi. Dan akad nikah, saudara-saudara, adalah salah satu amanah paling berat yang pernah kita pikul dalam hidup. Lebih berat dari banyak amanah pekerjaan, karena yang dijaga di sini bukan dokumen atau uang, melainkan jiwa manusia yang kita janjikan untuk dilindungi seumur hidup.
Mari kita tahan ayat ini di hati sejenak, lalu kita kembalikan pikiran kita ke kabar pekan ini. Suami yang membunuh bidan di Situbondo itu tidak terbangun di pagi hari sebagai pembunuh. Saya yakin. Dia mulai sebagai laki-laki yang mengucap ijab di hadapan wali. Tapi kemudian rasa cemburu yang kecil-kecil, yang tidak ditanyakan baik-baik, yang tidak dibicarakan dengan jujur, tertumpuk hari demi hari sampai akhirnya meledak jadi batu di tangannya. Ibu mertua di Boyolali itu juga tidak datang ke rumah anak menantunya untuk meninggal. Dia datang membawa harapan tentang keluarga yang utuh. Tapi entah ada luka apa di antara dia dan menantunya yang tidak pernah selesai dibicarakan, sampai akhirnya luka itu berubah jadi racun di sebuah piring sate. Inilah yang menakutkan: kerusakan rumah jarang datang tiba-tiba; ia menumpuk dari hari-hari yang tampak biasa.
Inilah pesan yang ingin saya bawa malam ini, jamaah. Rumah yang sakinah tidak dibangun dari deklarasi besar saat akad nikah. Rumah yang sakinah dibangun dari kebiasaan kecil-kecil yang kita jaga setiap hari. Pertanyaan singkat "kamu baik-baik aja?" yang ditanyakan dengan tulus pada istri di pagi hari. Sentuhan ringan di bahu suami saat dia pulang dengan wajah lelah. Lima menit duduk di lantai dekat anak yang sedang bermain, tanpa HP di tangan. Pelukan singkat untuk anak yang baru pulang sekolah sebelum kita menanyakan nilainya. Itu semua kelihatan remeh. Tapi semua itu adalah cara kita memelihara amanah — cara kita merawat janji yang dulu kita ucapkan. Tanpa kebiasaan-kebiasaan ini, akad nikah yang paling khusyuk pun lama-lama akan menguap.
Saya juga ingin kita melihat sebuah peristiwa lain pekan ini yang lebih halus tapi sama-sama penting. Pekan ini di linimasa, ada seorang mbak Xander — saya tidak tahu nama aslinya — yang membuat pernyataan tentang gaya hidup childfree, tentang pilihan untuk tidak memiliki anak. Lalu seorang ibu yang merawat anak penyandang disabilitas memprotes pernyataan itu dengan kalimat yang menyayat: "kamu nggak tahu perjuangan anakku." Saya tidak sedang berdiri di sini untuk menghakimi pilihan siapa pun. Tapi ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan kepada kita semua: di dalam keluarga yang anaknya sudah ada saja, hak-hak yang seharusnya dijaga sering tertinggal — anak disabilitas yang diperjuangkan ibunya sendirian, anak yang tidak ditengok ayahnya karena sibuk kerja, istri yang lelah tapi tidak ada yang menanyakan. Apalagi keluarga yang baru kita bayangkan, atau keluarga yang kita pilih untuk tidak ada. Inti masalahnya bukan punya anak atau tidak punya anak. Inti masalahnya adalah: apakah kita siap memelihara amanah, dengan semua kerepotan harian yang menyertainya? Karena pilihan apa pun yang kita ambil, di hadapan Allah kita akan ditanya: siapa yang sudah kau jaga, dan seberapa baik kau menjaganya?
Rasulullah ﷺ memberi kita panduan yang sangat indah dalam hal ini. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda dalam riwayat yang dimuat di Riyad as-Salihin 1506:
دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلٰى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلٰى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِيْ أَنْفَقْتَهُ عَلٰى أَهْلِكَ
Artinya: "Satu dinar yang kamu belanjakan di jalan Allah, satu dinar yang kamu belanjakan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang kamu belanjakan untuk keluargamu — yang paling besar pahalanya adalah yang kamu belanjakan untuk keluargamu."
Coba kita renungkan urutan yang Nabi ﷺ sebutkan. Beliau menyebut empat hal yang semua mulia: jihad di jalan Allah, memerdekakan budak, sedekah pada orang miskin, lalu nafkah untuk keluarga. Dari keempat itu, yang manakah yang biasanya kita anggap paling "wow", paling "Islami banget"? Mungkin jihad, mungkin sedekah besar. Tapi Rasulullah ﷺ menutup hadits ini dengan kalimat yang membalikkan pikiran kita: yang paling besar pahalanya justru yang paling sehari-hari, yang paling tidak terlihat — uang yang kita berikan untuk membeli beras di rumah, untuk membayar sekolah anak, untuk obat istri yang sakit. Dan kalau uang sehari-hari saja sudah ditempatkan setinggi itu oleh Nabi ﷺ, bayangkan bagaimana tingginya kedudukan waktu kita, perhatian kita, kesabaran kita ketika kita berikan kepada keluarga. Itu semua adalah "dinar" yang Allah hitung. Dan kalau Nabi ﷺ saja memandang nafkah keluarga setinggi itu, alangkah ruginya kita kalau yang justru kita curahkan ke rumah hanyalah sisa-sisa energi setelah semua urusan luar selesai.
Sekarang mari kita berhenti sebentar untuk hal yang lebih berat. Karena saya tidak ingin kultum ini hanya jadi nasihat manis tentang keluarga yang utuh. Pekan ini juga ada kabar tentang pelecehan anak di pondok pesantren, ada kabar tiga santri di Lombok Tengah yang dibakar kakak kelasnya. Dan ini adalah luka yang lebih dalam lagi, karena yang terjadi di sini bukan hanya kegagalan satu keluarga, tapi kegagalan sebuah institusi yang seharusnya menjaga. Ada satu pola yang harus kita berani sebut: ketika institusi pengasuhan — entah itu pesantren, entah daycare, entah panti, entah sekolah — menutup-nutupi luka anak demi menjaga "nama baik" lembaga, sebenarnya mereka sedang menggadaikan amanah Allah demi reputasi makhluk. Dan kita yang di luar institusi itu, sebagai jamaah, sebagai tetangga, sebagai orang tua yang menitipkan anak, punya tanggung jawab untuk tidak ikut diam. Tugas kita bukan menyerang lembaga; tugas kita adalah memastikan tidak ada anak yang ceritanya tenggelam karena dewasa lebih sibuk menjaga papan nama.
Saya juga ingin menyentuh satu hal yang lebih halus tapi sering luput. Kasus Situbondo, kasus Boyolali, kasus-kasus lain yang sejenis — kalau kita rajin membaca beritanya sampai habis, hampir selalu ada tanda-tanda awal yang dilewatkan. Tetangga yang sebenarnya tahu sering ada teriakan di rumah itu, tapi merasa "bukan urusan saya". Saudara yang sebenarnya tahu ada cemburu yang aneh, tapi takut "ikut campur urusan rumah orang". Orang tua yang sebenarnya tahu menantunya tidak akur dengan ibu mertua, tapi memilih "ah, nanti juga selesai sendiri". Saudara-saudara, ada saatnya "tidak ikut campur" itu adalah bentuk dosa pasif. Ketika tetangga kita sedang sakit di rumahnya sendiri dan kita memilih diam, kita ikut menanggung beratnya. Islam mengajarkan kita bahwa hak tetangga bukan sekadar tidak mengganggu — hak tetangga juga mencakup hadir saat dia membutuhkan, walaupun dia belum tentu meminta.
Maka, jamaah yang saya hormati, izinkan saya menutup kultum ini dengan tiga tindakan konkret yang bisa kita coba dalam 24 jam ke depan — bukan teori, bukan slogan, tapi langkah yang kalau kita pulang dari masjid malam ini benar-benar bisa kita kerjakan.
Pertama, sebelum tidur malam ini, tanyakan kepada pasangan kita — atau kalau kita belum menikah, kepada ibu, ayah, atau saudara yang serumah — pertanyaan sederhana ini: "Kamu baik-baik aja? Ada yang berat yang mau diceritakan?" Lalu dengar. Jangan langsung membela diri, jangan langsung memberi nasihat, jangan langsung memecah masalah. Dengar saja dulu. Lima menit mendengar dengan tulus, jamaah, kadang menyelamatkan rumah tangga dari sepuluh tahun ke depan.
Kedua, kalau kita pengurus RT, RW, takmir masjid, atau ibu pengajian — coba pekan ini lihat ke sekeliling kompleks kita. Apakah ada rumah yang akhir-akhir ini terdengar lebih sepi dari biasanya? Ada tetangga yang biasanya keluar tapi sekarang menarik diri? Datang. Ketuk pintunya. Bawakan kue, bawakan satu rantang nasi. Tanya kabar dengan tulus. Banyak luka rumah tangga itu mereda hanya karena ada tetangga yang peduli sebelum semuanya terlambat.
Ketiga, bicarakan dengan ibu PKK, dengan ibu RW, atau dengan pengurus masjid putri tentang membentuk protokol pelaporan informal — sebuah jalur yang aman bagi perempuan atau anak di RT kita yang sedang dalam kesulitan untuk bisa bercerita, tanpa langsung harus berurusan dengan polisi yang mungkin terasa terlalu jauh. Cukup ada satu nama, satu nomor WhatsApp, satu rumah yang aman, yang setiap orang di RT tahu: "kalau ada apa-apa, saya bisa ke sana." Kadang itu sudah cukup untuk menyelamatkan satu nyawa.
Saudara-saudara, kita semua di sini, tanpa kecuali, sedang memikul amanah keluarga dengan caranya masing-masing. Ada yang baru menikah, ada yang sudah puluhan tahun. Ada yang anaknya kecil-kecil, ada yang sudah ditinggal anak-anaknya. Tapi semua kita sedang dipanggil untuk memelihara — bukan sekadar menjaga papan nama keluarga, tapi merawat kehidupan di dalamnya, hari demi hari, dengan kebiasaan kecil yang konsisten. Karena dari sanalah, jamaah yang dirahmati Allah, sakinah itu tumbuh. Bukan dari pesta resepsi yang megah, tapi dari "kamu baik-baik aja?" yang ditanyakan dengan tulus setiap malam sebelum tidur. Semoga Allah memampukan kita untuk konsisten dalam hal kecil yang sering kita anggap remeh ini, karena dari sanalah pintu surga keluarga itu terbuka.
Mari kita tutup dengan doa.
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا سَكَنًا وَمَوَدَّةً وَرَحْمَةً، وَاجْمَعْ بَيْنَنَا عَلٰى طَاعَتِكَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاجْعَلْ أَوْلَادَنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْأَهْلِ وَالْمَالِ وَالْوَلَدِ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شِقَاقٍ يُفَرِّقُ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ، وَمِنْ ظُلْمٍ يَقَعُ فِيْ بُيُوْتِنَا، وَمِنْ غَفْلَةٍ تُهْلِكُ أَوْلَادَنَا، وَمِنْ قَسْوَةِ قَلْبٍ تَحْجُبُنَا عَنْ رَحْمَةِ أَهْلِنَا.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ نِسَاءَنَا وَأَطْفَالَنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ، وَاحْفَظْ ضُعَفَاءَنَا فِيْ كُلِّ بَيْتٍ، وَاجْعَلْنَا عَوْنًا لِجِيْرَانِنَا فِيْ حَاجَتِهِمْ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْكُتُ عَنْ ظُلْمٍ يَرَاهُ بِعَيْنَيْهِ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَنْصُرُ الْمَظْلُوْمَ وَيَأْخُذُ بِيَدِ الضَّعِيْفِ.
اَللّٰهُمَّ اشْفِ قُلُوْبَ مَنْ جُرِحَ فِيْ بَيْتِهِ، وَارْحَمْ كُلَّ زَوْجَةٍ تَبْكِيْ فِيْ صَمْتٍ، وَكُلَّ طِفْلٍ خَائِفٍ مِنْ أَهْلِهِ، وَكُلَّ وَالِدٍ نَدِمَ عَلٰى تَقْصِيْرِهِ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
