إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, marilah kita memuji Allah yang telah mempertemukan kita di rumah-Nya pada siang yang penuh berkah ini, dan marilah kita bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, manusia yang menerangi setiap zaman — termasuk zaman kita yang penuh layar, algoritma, dan kecerdasan buatan.
Allah Ta'ala mengingatkan kita dalam Kitab-Nya dengan satu pertanyaan yang menggetarkan, satu pertanyaan yang seharusnya menjadi mizan setiap kali kita berhadapan dengan kekuatan baru:
أَمْ نَجْعَلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ كَٱلْمُفْسِدِينَ فِى ٱلْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ ٱلْمُتَّقِينَ كَٱلْفُجَّارِ
QS. Saad: 28 — "Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah pula Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?"
Hadirin yang dimuliakan Allah, ayat ini bukan ayat retoris yang sekadar dibaca lalu dilupakan. Ini adalah ayat penegas — Allah menolak penyamarataan. Allah menolak pandangan yang menganggap semua kekuatan, semua kemajuan, semua kemampuan baru itu netral dan setara. Di hadapan Allah ada pembedaan antara muslih — yang membangun — dan mufsid — yang merusak. Dan pertanyaan terbesar bagi kita pekan ini, di tengah riuh diskusi tentang teknologi baru yang sedang mengubah cara kita bekerja, berbicara, mendidik anak, bahkan berdoa, adalah: di pihak mana kita berdiri ketika menggunakan, membangun, atau membiarkan teknologi itu berjalan?
Sepanjang pekan ini, ramai dibicarakan kekhawatiran orang tua dan pendidik terhadap generasi muda kita — anak-anak yang lahir sudah memegang layar, remaja yang berbicara dengan kecerdasan buatan sebelum berbicara dengan kakeknya. Pekan ini juga ramai membahas konsentrasi kekayaan di tangan segelintir penguasa teknologi — kabar yang sampai kepada kita menyebutkan kekayaan satu orang melebihi kekayaan beberapa negara, dan satu platform digital mengendalikan kenyamanan psikologis jutaan manusia. Ramai pula percakapan tentang perusahaan teknologi besar yang berjanji memperkuat prosedur hak asasi manusia setelah investigasi mengungkap penyalahgunaan datanya oleh aparat keamanan asing. Tiga benang ini — pendidikan generasi, monopoli kekayaan, dan pelanggaran martabat manusia — bertemu pada satu titik: teknologi.
Hadirin yang dirahmati Allah, sebelum kita melangkah lebih jauh, izinkan kita menetapkan posisi terlebih dahulu. Tradisi kita, tradisi ahlu sunnah wal jama'ah yang berakar pada Al-Qur'an dan sunnah Nabi ﷺ, tidak pernah menjadi tradisi yang anti-teknologi. Para sahabat Nabi menerima penggunaan parit di Perang Khandaq — sebuah inovasi militer dari tradisi Persia yang baru bagi orang Arab. Para ulama kita menulis dengan tinta dari Cina, di atas kertas yang teknologinya datang dari peradaban lain, lalu mendistribusikan kitab-kitab itu hingga ke ujung Andalusia. Tradisi kita adalah tradisi yang mengambil kebaikan dari mana pun ia datang. Tetapi — dan ini "tetapi" yang besar — tradisi kita juga bukan tradisi yang menelan mentah-mentah setiap hal baru hanya karena ia baru, kuat, dan disukai banyak orang. Tradisi kita memberi kita mizan, timbangan, untuk menimbang.
Dan timbangan itu kembali ke pertanyaan Al-Qur'an tadi: muslih atau mufsid? Apakah alat ini, sistem ini, kebiasaan baru ini, membangun atau merusak? Membangun apa? Merusak apa? Pada siapa? Dengan ongkos apa? Untuk siapa keuntungannya? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan pertanyaan teknis yang harus diserahkan kepada insinyur saja. Ini pertanyaan akhlaq, pertanyaan aqidah, pertanyaan yang setiap mukmin wajib menanyakannya kepada dirinya sendiri sebelum kepada orang lain.
Hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita timbang dengan jujur. Pertama, mari kita bicara tentang anak-anak kita. Sebagian dari kita pekan ini membaca atau mendengar kekhawatiran seorang pengamat yang berkata, "Saya sangat khawatir dengan Gen Z dan Gen Alpha dalam menggunakan kecerdasan buatan." Kekhawatiran ini bukan sentimen kuno yang anti-perubahan. Kekhawatiran ini bersumber dari pengamatan empiris: anak-anak yang sebelum bertanya kepada guru atau orang tua, sudah bertanya kepada mesin; anak-anak yang menjadikan mesin sebagai teman bicara emosional di kamarnya; anak-anak yang menyalin tugas dari kecerdasan buatan tanpa membaca, tanpa berpikir, tanpa berproses. Yang hilang di sini bukan teknologinya — yang hilang adalah PROSES. Yang hilang adalah jalan tradisi belajar yang dahulu mengajarkan kita kesabaran membaca, kerendahan hati di hadapan guru, dan ketekunan menghadapi kesulitan.
Mari kita renungkan: ketika seorang anak terbiasa mendapatkan jawaban dalam tiga detik, apa yang terjadi pada kesabarannya? Ketika ia terbiasa mendapatkan pujian dari algoritma yang dirancang untuk membuatnya tinggal lebih lama, apa yang terjadi pada kerendahan hatinya? Ketika ia terbiasa berinteraksi dengan mesin yang tidak pernah marah, tidak pernah lelah, tidak pernah menuntut empati balik, apa yang terjadi pada kemampuannya merawat hubungan manusia yang nyata — yang penuh kekecewaan, salah paham, dan perlu maaf-memaafkan? Ini bukan pertanyaan kuno. Ini pertanyaan masa depan iman.
Allah Ta'ala memperingatkan dalam Kitab-Nya tentang kerusakan yang muncul dari kekuasaan tanpa rem:
وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِى ٱلْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ ٱلْحَرْثَ وَٱلنَّسْلَ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلْفَسَادَ
QS. Al-Baqara: 205 — "Dan apabila ia berpaling dari kamu, ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan."
Hadirin yang dirahmati Allah, perhatikan dua kata yang disebut Al-Qur'an di sini sebagai yang dirusak: al-harts (tanaman) dan an-nasl (keturunan, generasi). Para ahli tafsir kita mengajarkan bahwa kedua kata ini melambangkan dua pilar peradaban: sumber penghidupan kita dan masa depan kita. Ketika kekuasaan, ketika kekayaan, ketika kekuatan apa pun "berpaling" — yaitu lepas dari pengawasan moral, lepas dari tanggung jawab kepada Allah — ia akan merusak dua hal ini. Ia akan merusak sumber penghidupan banyak orang (lewat monopoli, lewat eksploitasi, lewat pemiskinan struktural), dan ia akan merusak generasi (lewat pembentukan kebiasaan, lewat penangkapan perhatian, lewat manipulasi keinginan).
Pekan ini kita mendengar kabar tentang konsentrasi kekayaan teknologi yang luar biasa — seorang individu yang kekayaannya konon melampaui banyak negara. Hadirin, ini bukan sekadar prestasi bisnis yang patut dikagumi. Ini juga pertanyaan etis yang harus kita timbang. Ketika satu orang atau satu perusahaan memegang kekuatan untuk mengubah apa yang dibaca jutaan orang, apa yang dibeli jutaan orang, apa yang dirasakan jutaan orang — dengan cara mengatur algoritma — maka ia memegang kekuatan yang dulu hanya dimiliki oleh raja-raja terbesar dalam sejarah. Pertanyaannya bukan "boleh atau tidak punya kekayaan sebesar itu" — Allah tidak melarang kekayaan. Pertanyaannya adalah: kekayaan itu digunakan untuk islah atau untuk ifsad? Untuk membangun atau untuk merusak? Untuk membebaskan manusia atau untuk mengikat mereka pada kecanduan?
Inilah sebabnya tradisi kita selalu menekankan mizan. Allah berfirman menyampaikan nasihat Nabi Syu'aib kepada kaumnya:
وَيَٰقَوْمِ أَوْفُوا۟ ٱلْمِكْيَالَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
QS. Hud: 85 — "Dan Syu'aib berkata: 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.'"
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah, ayat ini turun untuk kaum yang curang dalam timbangan pasar. Tetapi para ulama kita mengajarkan bahwa prinsip mizan — keseimbangan, keadilan, kejujuran ukuran — bukan hanya berlaku di pasar fisik. Mizan berlaku di mana pun ada interaksi antar manusia, di mana pun ada pertukaran nilai. Dan hari ini, di abad layar dan algoritma, mizan yang paling banyak dicurangi adalah mizan yang tidak terlihat oleh mata: timbangan perhatian, timbangan informasi, timbangan kesempatan.
Bayangkan, hadirin, sebuah algoritma yang merekomendasikan video kepada satu juta remaja. Algoritma itu adalah timbangan. Ia menimbang: video mana yang akan menahan mereka lebih lama? Video mana yang akan memicu emosi mereka? Video mana yang akan membuat mereka kembali besok? Tetapi algoritma itu tidak menimbang: apakah video ini baik untuk jiwanya? Apakah video ini membuatnya lebih dekat kepada Tuhannya? Apakah video ini membuatnya lebih baik kepada ibunya? Inilah timbangan yang curang. Bukan curang dalam arti pelanggaran hukum negara — sering kali ia legal sempurna. Curang dalam arti syar'i: ia mencukupkan satu sisi (keuntungan platform) sambil mengurangi sisi yang lain (kebaikan jiwa pengguna). Dan Allah memperingatkan: "janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka."
Salah satu hak manusia yang paling sering "dirugikan" hari ini adalah hak atas perhatiannya sendiri — attention. Allah memperingatkan kita lewat ayat lain yang ringkas tapi tajam:
وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
QS. Ash-Shu'araa: 183 — "Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan."
Hadirin yang dimuliakan Allah, "hak-hak manusia" yang dimaksud ayat ini sering ditafsirkan sebagai harta materi. Tetapi para ulama akhlaq kita memperluas: setiap hal yang merupakan milik manusia — termasuk waktunya, perhatiannya, kedamaian batinnya, hubungan keluarganya — adalah haknya. Mengambil hak-hak ini tanpa kerelaan yang benar-benar sadar adalah bentuk bakhs. Dan teknologi yang dirancang untuk menyandera perhatian — dengan notifikasi yang dirancang merangsang dopamin, dengan umpan tak berujung yang dirancang membuat kita lupa waktu, dengan personalisasi yang dirancang membuat kita merasa dipahami padahal dimanipulasi — teknologi semacam itu, betapapun canggihnya, sedang mengambil hak manusia tanpa kerelaan yang benar-benar sadar. Ia legal. Tetapi ia tidak adil dalam mizan Allah.
Pekan ini, kabar lain yang sampai kepada kita adalah pengumuman dari perusahaan teknologi besar yang berjanji memperkuat prosedur hak asasi manusianya, setelah penyelidikan menunjukkan datanya telah digunakan oleh aparat keamanan asing untuk tujuan yang menyakiti orang yang lemah. Pengumuman itu, secara perusahaan, adalah langkah baik. Tetapi yang menggerakkan hati kita untuk merenung adalah: berapa banyak data tentang manusia yang tersimpan di server-server perusahaan yang kita tidak kenal, di negara-negara yang kita tidak datangi, yang dapat sewaktu-waktu menjadi alat untuk merugikan orang yang lemah? Dan Rasulullah ﷺ telah memperingatkan kita tentang bahaya zhulm secara sistemik:
اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ
Sahih Muslim 6576 — Rasulullah ﷺ bersabda: "Jauhilah kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan di Hari Kiamat, dan jauhilah kekikiran, karena kekikiran telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, karena ia mendorong mereka untuk menumpahkan darah dan menghalalkan apa yang diharamkan bagi mereka."
Hadirin jamaah yang dirahmati Allah, perhatikan susunan hadits ini. Rasulullah ﷺ menyandingkan dua hal: zhulm dan syuhh. Zhulm — kezaliman. Syuhh — kekikiran, ketamakan, kerakusan untuk mengumpulkan tanpa mau berbagi. Dan Rasulullah ﷺ memberitahu kita bahwa kerakusan inilah yang dahulu menghancurkan umat-umat sebelum kita: ia mendorong mereka menumpahkan darah dan menghalalkan apa yang diharamkan. Ini bukan sekadar nasihat tentang sifat pribadi. Ini diagnosis tentang bagaimana peradaban runtuh. Kerakusan yang sistemik — kerakusan untuk mengumpulkan data, kerakusan untuk mengumpulkan perhatian, kerakusan untuk mengumpulkan kekayaan tanpa batas — kerakusan inilah yang membuka pintu kepada kezaliman yang lebih besar.
Maka, hadirin, sikap kita bukan menolak teknologi. Sikap kita adalah menimbangnya. Tradisi kita memberi kita kerangka, dan kerangka itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus kita tanyakan sebelum kita menggunakan, sebelum kita membiarkan anak kita menggunakan, sebelum kita memuji secara publik suatu produk teknologi. Pertanyaan pertama: apakah alat ini, dalam dampak nyatanya pada saya, muslih atau mufsid? Membangun ibadah saya atau melemahkannya? Mendekatkan saya kepada keluarga saya atau menjauhkan? Pertanyaan kedua: kepada siapa keuntungan terbesar dari alat ini mengalir, dan apakah aliran itu adil? Pertanyaan ketiga: hak siapa yang sedang diambil tanpa kerelaan yang sadar?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan urusan akademisi. Ini urusan setiap rumah Muslim. Ini urusan ayah yang melihat anaknya enggan lepas dari layar. Ini urusan ibu yang melihat dirinya sendiri lebih banyak melihat layar daripada melihat wajah anaknya. Ini urusan remaja yang merasa hampa setelah dua jam menelusuri umpan tetapi tidak tahu kenapa. Ini urusan setiap kita yang akan dihisab pada Hari Kiamat tentang waktu kita, tentang umur kita, tentang amanah kita atas pikiran dan hati kita.
Hadirin yang dimuliakan Allah, ada satu cerita dari sirah yang relevan untuk kita renungkan. Dalam riwayat yang sahih, Nabi ﷺ pernah mendatangi seorang anak di Madinah yang dikabarkan memiliki pengetahuan luar biasa di luar jalur belajar yang biasa — seorang anak yang disebut Ibn Sayyad. Para sahabat sebagian terkesan, sebagian curiga. Nabi ﷺ tidak menolak begitu saja, tetapi juga tidak menerima begitu saja. Beliau datang, beliau menguji, beliau bertanya. Beliau mencari tahu: ini pengetahuan dari mana? Yang membawa kebaikan atau yang membawa kerusakan? Yang membuat anak ini taat kepada Allah atau yang membuatnya sombong? Sikap Nabi ﷺ itulah sikap yang seharusnya kita warisi hari ini di hadapan setiap kekuatan baru yang muncul "di luar jalur biasa" — termasuk kecerdasan buatan. Bukan ditolak buta. Bukan dipuja buta. Tetapi diuji dengan timbangan tradisi: ini muslih atau mufsid?
Hadirin yang dirahmati Allah, sebelum kami menutup khutbah pertama ini, izinkan kami menawarkan beberapa langkah konkret yang dapat kita ambil pekan ini juga. Pertama, ajak anak kita bicara jujur tentang penggunaan kecerdasan buatan dan media sosialnya — bukan dengan nada interogasi, tetapi dengan nada keingintahuan. Tanyakan kepadanya: "Apa yang kamu rasakan setelah menggunakan aplikasi itu? Apakah kamu merasa lebih tenang atau lebih gelisah?" Sebagian besar anak yang ditanya dengan tulus akan mulai melihat dirinya sendiri.
Kedua, lakukan audit pribadi terhadap aplikasi-aplikasi di telepon kita sendiri. Tanyakan untuk setiap aplikasi: dalam tujuh hari terakhir, aplikasi ini telah membuat saya lebih dekat kepada Allah atau lebih jauh? Lebih dekat kepada keluarga atau lebih jauh? Aplikasi yang jawabannya "lebih jauh", apakah kita berani memindahkan ke layar yang lebih dalam, mematikan notifikasinya, atau bahkan menghapusnya?
Ketiga, ciptakan ruang dan waktu tanpa layar dalam keluarga kita — minimal satu kali per pekan. Makan malam tanpa layar. Sholat berjamaah tanpa telepon di dekat sajadah. Mengaji tanpa telepon di tangan. Ruang-ruang ini bukan ruang kuno. Ini ruang masa depan iman.
Keempat, bagi yang memiliki kapasitas, advokasikan literasi mizan digital di sekolah-sekolah anak kita, di pengajian-pengajian remaja, di majelis-majelis taklim kita. Anak-anak kita perlu belajar bukan hanya cara menggunakan teknologi, tetapi cara menimbangnya. Inilah pendidikan akhlaq yang baru — akhlaq di hadapan layar.
Kelima, doakan para pengembang teknologi Muslim agar Allah memberikan mereka kekuatan untuk membangun alat yang muslih — alat yang melayani umat, bukan mengeksploitasinya. Ini umat besar; di tengah kita pasti ada anak-anak yang Allah anugerahi kecerdasan teknis luar biasa. Tugas kita mendoakan agar kecerdasan mereka digunakan untuk islah, bukan untuk ifsad.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, izinkan kami pada khutbah kedua ini memperdalam beberapa sisi yang baru kami sentuh tadi. Sisi pertama: ketakutan kita terhadap teknologi sering kali salah alamat. Yang harus kita takuti bukan teknologinya — yang harus kita takuti adalah kelalaian kita sendiri di hadapannya. Sebatang pisau bukan musuh. Tetapi pisau di tangan orang yang lalai atau zhalim adalah bencana. Kecerdasan buatan, algoritma rekomendasi, platform digital — semuanya adalah alat. Allah akan menghisab kita bukan atas keberadaan alat-alat itu, tetapi atas pilihan-pilihan yang kita buat di hadapannya. Maka ketakutan yang sehat adalah ketakutan kepada Allah, taqwa, yang membuat kita berhati-hati setiap kali jari kita menyentuh layar.
Sisi kedua: tradisi kita kaya, sangat kaya, dengan perangkat etika yang dapat kita pakai untuk menavigasi zaman ini — tetapi hanya jika kita mengenalinya. Mizan. Amanah. Islah versus ifsad. Bakhs (mengurangi hak orang). Tabdzir (memboroskan, termasuk memboroskan waktu dan perhatian). Ghibah (sekarang juga lewat keyboard di kolom komentar). Su'u zhann (berburuk sangka, sekarang juga lewat headline yang baru kita baca setengah). Semua perangkat ini sudah ada di tangan kita sebelum kecerdasan buatan ada. Tugas kita bukan menciptakan etika baru — tugas kita membaca ulang etika lama dengan mata yang terbuka kepada lanskap baru.
Sisi ketiga: pertanyaan "muslih atau mufsid" bukan pertanyaan yang dijawab sekali seumur hidup. Ia pertanyaan harian. Sebuah aplikasi yang bermanfaat tiga bulan lalu bisa menjadi alat kerusakan tiga bulan kemudian, ketika pemiliknya mengubah algoritma demi keuntungan, atau ketika kita sendiri terlalu sering menggunakannya hingga ia menelan sholat kita. Muraqabah — kesadaran terus-menerus akan pengawasan Allah — adalah sikap yang dituntut. Setiap pekan, mungkin setiap pagi, kita perlu menanyakan ulang: aplikasi-aplikasi yang ada di telepon saya hari ini, apakah masih muslih untuk jiwa saya?
Sisi keempat: ada bahaya yang mengintai pada arah yang berlawanan. Sebagian dari kita, karena khawatir terhadap teknologi, akan tergoda menjadi anti-segala-sesuatu, menarik diri dari dunia digital sepenuhnya, lalu menjadi orang tua yang anak-anaknya tumbuh tanpa bimbingan di dunia yang justru dipenuhi anak-anaknya. Ini sikap yang Nabi ﷺ tidak ajarkan. Nabi ﷺ tidak mundur dari Madinah ketika tantangan datang; beliau menyambut, menguji, lalu memberikan bimbingan. Tugas kita bukan lari. Tugas kita adalah hadir — hadir di ruang digital sebagai muslih yang membawa cahaya, bukan sebagai pengeluh yang membawa kegelapan.
Sisi kelima: di balik semua diskusi tentang algoritma, kekayaan ekstrem, dan privasi data, ada satu hal yang sering luput dari pembicaraan publik tetapi mendasari semuanya — yaitu pertanyaan tentang manusia macam apa yang ingin kita bentuk. Setiap teknologi membentuk penggunanya. Buku membentuk pembaca yang sabar. Layar pendek membentuk pengguna yang tidak sabar. Kecerdasan buatan yang menjawab segera membentuk manusia yang lupa bagaimana caranya menunggu jawaban dari Tuhannya dengan sabar lewat doa dan istikharah. Inilah taruhan terbesar dari era ini: bukan kemajuan ekonominya, bukan keuntungan bisnisnya, tetapi bentuk jiwa yang akan tumbuh di tengahnya. Tugas dakwah kita adalah memastikan jiwa-jiwa yang tumbuh di tengah teknologi tetap menjadi jiwa yang takut kepada Allah, yang sabar, yang ingat akhirat.
Marilah kita tutup khutbah ini dengan doa, dengan harapan Allah meneguhkan kita di tengah arus zaman.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْأَعْمَى الْكَذَّابِ الَّذِيْ يُزَيِّنُ الْبَاطِلَ حَتَّى يُرَى كَالْحَقِّ، اَللَّهُمَّ احْفَظْنَا مِنْ كُلِّ تَزْيِيْنٍ يَصْرِفُنَا عَنْ ذِكْرِكَ، وَمِنْ كُلِّ صُوْرَةٍ تَلْهِيْنَا عَنْ سَبِيْلِكَ، وَمِنْ كُلِّ صَوْتٍ يَدْعُوْنَا إِلَى غَيْرِكَ.
اَللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا فِيْ زَمَنٍ كَثُرَتْ فِيْهِ الْأَخْبَارُ وَاخْتَلَطَ فِيْهِ الْحَقُّ بِالْبَاطِلِ، وَفَرِّقْ لَنَا بَيْنَ الْمُصْلِحِ وَالْمُفْسِدِ، وَبَيْنَ النُّوْرِ وَالظُّلْمَةِ، وَبَيْنَ الْهُدَى وَالضَّلَالَةِ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا وَهُمْ مُفْسِدُوْنَ.
اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْحِكْمَةَ فِيْ اسْتِخْدَامِ كُلِّ نِعْمَةٍ آتَيْتَنَا، وَاجْعَلْ مَا فِيْ أَيْدِيْنَا مِنْ آلَاتٍ وَأَسْبَابٍ سَبِيْلًا إِلَى مَرْضَاتِكَ، لَا حِجَابًا دُوْنَكَ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يُسْخِرُ الْأَدَوَاتِ لِلْإِصْلَاحِ، لَا مِمَّنْ تُسْخِرُهُ الْأَدَوَاتُ لِلْإِفْسَادِ.
اَللَّهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ يُدَسُّ إِلَيْهِمْ مِنْ خَلْفِ الشَّاشَاتِ، وَاجْعَلْ قُلُوْبَهُمْ مُتَعَلِّقَةً بِالْمَسَاجِدِ وَبِكِتَابِكَ وَبِسُنَّةِ نَبِيِّكَ، وَلَا تَجْعَلْ هَوَاهُمْ تَابِعًا لِأَهْوَاءِ مَنْ لَا يَخَافُكَ.
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللَّهُمَّ ارْحَمْ شَهِيْدَهُمْ، وَاشْفِ جَرِيْحَهُمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَاحْفَظْ بَيَانَاتِهِمْ وَأَخْبَارَهُمْ مِنْ أَنْ تُسْتَعْمَلَ سِلَاحًا ضِدَّهُمْ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَأَلْهِمْهُمْ رُشْدًا فِيْ تَنْظِيْمِ هَذِهِ التِّقْنِيَّاتِ الْجَدِيْدَةِ، لِيَحْفَظُوْا أُمَّتَنَا مِنْ ضَرَرِهَا، وَيُمَكِّنُوْنَا مِنْ نَفْعِهَا.
اَللَّهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا، وَاجْعَلْنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَهُمْ، وَاجْعَلْ أَبْنَاءَنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ، أَقِمِ الصَّلَاةَ.
