بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini ada satu kanal opini yang menyebut Elon Musk lebih tajir dari Amerika, lengkap dengan pertanyaan apakah zona nyaman kita sekarang sedang dikendalikan oleh satu orang lewat platform yang kita pakai setiap hari. Di pekan yang sama, ramai diskusi tentang Gen Z dan Gen Alpha yang larut bersama AI — anak-anak kita yang sebelum bisa membaca shalawat sudah lebih dulu fasih bertanya kepada chatbot. Tradisi kita punya satu kerangka tegas untuk menavigasi semua ini, dan kerangka itu tidak berbunyi "tolak total" atau "terima penuh". Kerangka itu cuma dua kata: muslih atau mufsid?
Kalau teknologi bisa mengubah perilaku jutaan orang dalam hitungan jam, dengan kerangka apa kita mengevaluasinya? Itu pertanyaan yang harus berani kita ajukan malam ini. Selama ini kita cenderung evaluasi teknologi lewat dua jalur yang sama-sama tidak memadai. Jalur pertama: evaluasi kepraktisan — "apakah ini bikin hidup saya lebih mudah?" Jalur kedua: evaluasi viral — "apakah semua orang sudah pakai?" Dua jalur itu tidak salah, tapi keduanya tidak mampu menjawab pertanyaan moral yang lebih dalam: apakah teknologi ini, secara keseluruhan, sedang memperbaiki kehidupan manusia, atau sedang merusaknya? Allah memberikan kita kerangka yang lebih jernih dari itu. Allah berfirman dalam QS. Saad: 28:
أَمْ نَجْعَلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ كَٱلْمُفْسِدِينَ فِى ٱلْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ ٱلْمُتَّقِينَ كَٱلْفُجَّارِ
"Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah pula Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?"
Ayat ini ditujukan kepada manusia, tetapi maknanya bisa kita pinjam sebagai timbangan ketika menilai apa pun yang kita buat. Allah menolak menyamakan muslih — yang memperbaiki — dengan mufsid — yang merusak. Penolakan itu tegas. Bukan negosiasi. Bukan "tergantung sudut pandang". Ini adalah aksioma moral yang Allah letakkan sebagai dasar penilaian. Maka ketika sebuah teknologi datang ke tengah-tengah kita, pertanyaan pertama yang tradisi kita ajukan bukan "apakah ini canggih?" melainkan "apakah ini, pada akhirnya, muslih atau mufsid?"
Jamaah, mari kita pakai kerangka ini pada apa yang ramai pekan ini. Ketika satu kanal opini bertanya apakah satu orang bisa lebih kaya dari satu negara, sebenarnya yang sedang disodorkan ke kita bukan sekadar fakta finansial. Yang sedang disodorkan adalah pertanyaan kekuasaan: ketika kekayaan dan kontrol algoritma menumpuk pada satu titik, apa konsekuensinya bagi jutaan pengguna yang tidak punya pilihan selain ikut? Algoritma yang mengatur feed kita pekan ini bisa berubah besok pagi, dan ratusan juta orang akan ikut berubah perilakunya tanpa pernah menyetujui perubahan itu. Itu bukan teknologi netral. Itu kekuasaan dalam bentuk baru. Tradisi kita tidak alergi pada kekayaan dan tidak alergi pada inovasi — tetapi sangat waspada pada kekuasaan tanpa pertanggungjawaban.
Lalu kekhawatiran tentang Gen Z dan Gen Alpha yang larut bersama AI. Saya kira kita semua di ruangan ini punya cerita kecil tentang ini. Anak yang minta jawaban PR ke chatbot sebelum sempat berpikir sendiri. Remaja yang lebih nyaman curhat ke AI daripada ke orang tua. Mahasiswa yang skripsinya 70 persen hasil generate. Kita tidak perlu panik, tetapi kita juga tidak boleh pura-pura tidak terjadi apa-apa. Yang sedang terkikis bukan kemampuan kognitif anak saja — yang sedang terkikis adalah kebiasaan bergulat dengan kesulitan. Padahal pergulatan itulah yang dulu membentuk tafakkur, taubat, sabar. Kalau setiap kesulitan langsung diselesaikan dengan satu prompt, kapan jiwa belajar tahan banting?
Di sinilah ayat lain dalam Al-Quran membantu kita memperjelas. Allah berfirman dalam QS. Hud: 85 melalui lisan Nabi Syu'aib:
وَيَٰقَوْمِ أَوْفُوا۟ ٱلْمِكْيَالَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
"Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan."
Nabi Syu'aib berbicara kepada kaum yang akrab dengan pasar dan timbangan. Tetapi pesan inti ayat ini melampaui pasar. Yang Allah perintahkan adalah al-mizan bi'l-qist — timbangan yang adil. Hari ini, timbangan yang paling banyak menentukan nasib manusia bukan timbangan beras dan gula di pasar tradisional. Timbangan yang menentukan nasib manusia hari ini adalah algoritma. Algoritma yang memutuskan siapa yang muncul di feed, siapa yang tidak. Algoritma yang memutuskan berita apa yang sampai ke kita dan berita apa yang dikubur. Algoritma yang memutuskan pinjaman online disetujui atau ditolak. Kalau Nabi Syu'aib hidup hari ini, beliau akan berbicara tentang mizan algoritma dengan kelantangan yang sama seperti beliau berbicara tentang takaran kurma. Karena prinsip yang Allah letakkan adalah prinsip universal: setiap sistem yang menimbang manusia harus menimbang dengan adil.
Maka tugas kita sebagai Muslim Indonesia bukan menjadi technophobic — menolak semua teknologi karena curiga. Tradisi kita tidak pernah anti pada ilmu dan tidak pernah anti pada alat. Justru Al-Quran membuka diri dengan perintah membaca, dan Rasulullah ﷺ mendorong umatnya untuk mencari ilmu walau ke negeri yang jauh. Tetapi tugas kita juga bukan menjadi techno-utopian — menyambut setiap teknologi baru dengan tepuk tangan seolah semua kemajuan otomatis baik. Tugas kita adalah berdiri di tengah dengan vocabulary yang sudah Allah berikan: mizan untuk fairness, muslih atau mufsid untuk evaluasi keseluruhan, amanah untuk pertanggungjawaban yang punya kuasa, dan zulm — kezaliman — untuk monopoli yang merampas hak orang banyak.
Tentang zulm ini, Rasulullah ﷺ memberi peringatan keras. Dalam riwayat Muslim, Jabir bin Abdullah melaporkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda dalam Sahih Muslim 6576:
اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Jauhilah kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan di Hari Kiamat."
Ungkapan zulumat — kegelapan yang berlipat-lipat — bukan kebetulan dipakai oleh Rasulullah ﷺ. Kezaliman bukan satu kegelapan tunggal. Kezaliman menggandakan dirinya. Ketika sebuah platform mengubah aturan main tanpa berkonsultasi pada penggunanya, itu satu lapis kegelapan. Ketika perubahan itu membuat ribuan pekerja konten kehilangan penghasilan dalam semalam, itu lapis kedua. Ketika tidak ada saluran ganti rugi yang bisa mereka tempuh, itu lapis ketiga. Inilah zulumat — gelap yang berlipat — dan inilah yang Rasulullah ﷺ minta kita jauhi, baik sebagai pelaku maupun sebagai pendukung diam.
Jamaah, sampai di sini argumennya mungkin terasa berat. Mari kita turunkan ke meja makan kita sendiri pekan ini. Sebelum kita bicara tentang regulasi nasional atau geopolitik Silicon Valley, ada tiga tindakan kecil yang bisa kita lakukan dalam tujuh hari ke depan, dan saya minta kita mencoba minimal satu. Pertama, lakukan audit aplikasi keluarga. Buka HP anak-anak kita malam ini, dengan izin mereka, dan tanyakan satu pertanyaan untuk setiap aplikasi: "Aplikasi ini membantumu menjadi pribadi yang seperti apa?" Bukan menghakimi. Bukan menghapus paksa. Sekadar mengajak mereka berpikir dengan kerangka muslih atau mufsid untuk diri mereka sendiri. Kedua, matikan notifikasi yang sudah jelas membuat kita gelisah. Setiap getaran HP yang menarik kita dari shalat, dari anak, dari pasangan, adalah satu lapis mizan yang sedang condong ke arah salah. Tradisi kita mengajarkan bahwa tubuh kita punya hak atas kita, mata kita punya hak atas kita. Notifikasi yang mencuri itu semua adalah pengurangan takaran. Ketiga, ajak satu anak atau satu remaja ngobrol tentang bagaimana mereka pakai AI. Jangan ceramahi. Tanya. Dengarkan. Lalu bersama-sama susun satu aturan sederhana untuk rumah: misalnya, AI boleh dipakai untuk memahami, bukan untuk menggantikan proses berpikir.
Tiga tindakan kecil ini tidak akan menghentikan satu konglomerat teknologi dari kebijakan apa pun. Tetapi tiga tindakan ini akan mengembalikan satu hal yang lebih penting dari semua itu: kesadaran bahwa kita masih punya wewenang atas hidup kita. Kita bukan penonton pasif di atas panggung yang dikendalikan algoritma. Kita pemilik amanah atas mata, telinga, waktu, dan anak-anak kita sendiri. Allah tidak pernah menyerahkan amanah itu ke platform mana pun. Allah menyerahkannya kepada kita.
Mari kita tutup dengan satu refleksi. Setiap teknologi pada akhirnya akan ditimbang. Bukan oleh tren, bukan oleh valuasi pasar, bukan oleh jumlah pengguna. Ditimbang dengan timbangan Allah yang tidak pernah condong. Pertanyaannya bukan apakah kita sempat memakai teknologi tertentu — pertanyaannya adalah, ketika kita memakainya, apakah kita berdiri di pihak muslih atau pihak mufsid. Semoga Allah menjadikan kita termasuk yang memperbaiki, bukan yang merusak.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُصْلِحِيْنَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ. اَللّٰهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا نَافِعًا. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَوْلَادَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا مِنْ شَرِّ مَا خَلَقْتَ، وَاجْعَلْ قُلُوْبَهُمْ مُعَلَّقَةً بِكِتَابِكَ وَسُنَّةِ نَبِيِّكَ ﷺ. اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الظُّلْمِ وَالظَّالِمِيْنَ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْعِلْمِ وَفِتْنَةِ الْجَهْلِ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
