Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumToleransi & Lintas-ImanKamis, 11 Juni 2026

Kultum

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ النَّاسَ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِيَتَعَارَفُوْا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ أَرْسَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, malam ini kita berkumpul ba'da sholat di ambang yang sangat istimewa. Hanya beberapa hari lagi kita akan memasuki Tahun Baru Hijriah, 1 Muharram 1448. Dan di pekan ini, kita baru saja menutup musim haji dengan Tawaf Wada di Tanah Suci — saudara-saudara kita yang berkesempatan menunaikan ibadah haji sedang mengemas koper untuk pulang. Ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini, yang mungkin sederhana tetapi sering kita lewati: bagaimana kita sebagai Muslim memperlakukan tetangga kita yang berbeda iman.

Mari kita mulai dengan satu pertanyaan jujur. Kapan terakhir kali kita menyapa tetangga kita yang Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, atau penganut kepercayaan lokal, dengan tulus — bukan formalitas, bukan karena bertabrakan di jalan, melainkan karena hati kita memang ingin menyapanya? Pertanyaan ini bukan untuk membuat kita merasa bersalah. Pertanyaan ini hanya untuk membuka mata kita pada satu kenyataan: kita kerap hidup di lingkungan multi-iman tetapi membatinkan diri seakan-akan kita hidup sendirian.

Allah berfirman dalam QS. Al-Mumtahana: 8.

لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ

Terjemahannya: "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." Perhatikan, jamaah, betapa lembutnya ayat ini. Allah bahkan tidak sekadar mengizinkan kebaikan kita kepada non-Muslim yang damai — Allah secara aktif menyatakan kecintaan-Nya kepada orang yang berlaku adil kepada mereka. Cinta Allah, yuhibbul muqsiṭīn, adalah hadiah yang besar bagi siapa pun yang mampu menjaga keadilan lintas-iman.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Saudara-saudara sekalian, kita kerap salah memahami ayat-ayat tentang non-Muslim dengan hanya mengingat ayat-ayat yang berbicara tentang permusuhan — padahal Al-Qur'an juga penuh dengan ayat-ayat seperti Al-Mumtahana 8 yang membuka pintu lebar kepada kebaikan dan keadilan. Imam Al-Qurtubi dalam tafsirnya menyebut ayat ini sebagai dasar yang sangat luas — siapa pun non-Muslim yang tidak memerangi kita dalam urusan agama dan tidak mengusir kita dari rumah kita, mereka adalah golongan yang berhak mendapat birr dan qist dari kita. Birr adalah kebaikan yang sangat luas — kebaikan yang sama yang Allah perintahkan kepada orang tua kita. Qist adalah keadilan yang prosedural, yang setara, yang tidak miring sebelah.

Pekan ini, kabar yang sampai kepada kita dari berbagai daerah — laporan situasi hak asasi manusia yang dirilis lembaga internasional, gugatan rakyat dari Sumatera yang menyuarakan keluhan struktural, kabar tentang anak-anak rentan di lingkungan kita — semuanya mengingatkan bahwa kerja koeksistensi tidak terjadi di gedung diplomatik. Ia terjadi di RT, di kelurahan, di pasar, di sekolah. Kalau kita sebagai mayoritas Muslim di Indonesia hanya bergerak ketika korbannya seiman, kita gagal pada ayat Al-Mumtahana 8 dan kita gagal pada konstitusi sosial yang Nabi ﷺ tegakkan sejak Sahifat Madinah empat belas abad lampau.

Bagaimana kita memulai? Mari kita ingat satu lagi pesan dari Rasulullah ﷺ.

اتَّقُوا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Rasulullah ﷺ bersabda dalam Riyad as-Salihin 1420: "Jauhilah kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan pada Hari Kiamat." Hadits ini tidak membatasi siapa korban kezalimannya — semua kezaliman adalah kegelapan. Kezaliman kita kepada tetangga non-Muslim yang berbuat baik kepada kita, kezaliman kita berupa diam saat hak warga lain diinjak, kezaliman kita berupa prasangka yang tidak berdasar — semuanya akan menjadi kegelapan kita di Hari Kiamat. Imam An-Nawawi mengatakan kegelapan itu bukan metafora — ia adalah hakikat ruhani yang akan menyelimuti pelaku zhulm di hari saat tidak ada cahaya selain cahaya amal.

Mari kita berpikir lebih dalam, jamaah. Apa yang membuat kita kerap sulit berbuat baik kepada tetangga beda iman? Saya kira bukan ketidakmampuan — kita semua punya kapasitas. Yang menjadi penghalang adalah kebiasaan. Kebiasaan menonton media yang membangun frame curiga, kebiasaan duduk di lingkaran yang seragam sehingga lupa bahwa di dunia nyata kita hidup dalam keberagaman, kebiasaan menerima narasi sederhana padahal hidup itu rumit. Hijrah pertama yang Nabi ﷺ lakukan di Madinah bukan hanya hijrah geografis — itu hijrah dari isolasi ke koeksistensi yang sistemik. Sahifat Madinah lahir dari hijrah itu. Kita yang akan memasuki Tahun Baru Hijriah pekan depan, mari kita pikirkan: hijrah apa yang akan kita pilih untuk diri kita masing-masing?

Ada satu lapisan yang lebih dalam. Saat kita berbuat baik kepada tetangga non-Muslim, kita bukan sedang membantu mereka — kita sedang membantu diri sendiri menjaga ruh kita tetap lembut. Hati yang keras kepada saudara sebangsa adalah hati yang juga akan keras kepada saudara seiman. Kelembutan tidak terbagi — ia bersifat tunggal dan menular. Saat ruh kita terbiasa menyapa dengan tulus orang yang berbeda iman, ruh kita juga akan lebih siap menyapa dengan tulus orang yang seiman tetapi berbeda mazhab, berbeda kelas sosial, berbeda pendapat politik.

Saudara-saudara, setelah malam ini, ada beberapa hal konkret yang ingin saya minta kita semua lakukan dalam 24 jam ke depan. Pertama, pilih satu nama tetangga non-Muslim — kalau perlu, tulis di hp kita — dan dalam tiga hari ke depan sapa beliau dengan tulus. Bukan untuk dakwah verbal, hanya untuk menunaikan birr yang Allah maksudkan. Kedua, di malam menjelang 1 Muharram, sebelum tidur, lakukan muhasabah pendek tentang satu pos amanah kita di lingkungan multi-iman: apakah selama setahun ini kita pernah lalai pada hak tetangga, hak warga, hak rekan kerja yang berbeda iman? Kalau ada, niatkan untuk memperbaiki sebelum 1 Muharram. Ketiga, kalau kita pengurus pengajian atau pengurus RT, agendakan satu pertemuan kecil dengan tetangga lintas-iman dalam dua minggu ke depan — bukan agenda doktriner, hanya agenda saling kenal.

Akhirnya, saudara-saudara sekalian, mari kita ingat: Allah menjadikan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, di Indonesia berbagai-bagai iman, supaya kita saling mengenal. Tugas kita bukan untuk meleburkan, bukan untuk mengeliminasi, bukan untuk mempersaingkan — tugas kita untuk merawat anugerah keberagaman ini dengan adab yang membuat Allah ridha dan membuat Nabi ﷺ tersenyum di akhirat nanti.

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا قُلُوْبًا سَلِيْمَةً، تَرْحَمُ جَارَهَا الْمُؤْمِنَ وَجَارَهَا غَيْرَ الْمُؤْمِنِ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِفْتَاحًا لِلْخَيْرِ، مِغْلَاقًا لِلشَّرِّ، وَاجْعَلْ هِجْرَتَنَا فِيْ هٰذِهِ السَّنَةِ الْجَدِيْدَةِ هِجْرَةً مِنَ الضِّيْقِ إِلَى السِّعَةِ، وَمِنَ الْعَدَاوَةِ إِلَى الْأُلْفَةِ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا وَجِيْرَانَنَا أَجْمَعِيْنَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Lihat Briefing Mingguan