اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِيْ جَعَلَ الْهِجْرَةَ مَنْهَجًا لِلْحَيَاةِ، وَجَعَلَ الْمُحَرَّمَ شَهْرًا عَظِيْمًا مِنَ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Pada Jumat ini kita berdiri di ambang dua tonggak yang berdekatan. Beberapa hari yang lalu kita memasuki tahun baru hijriah 1448 H, dan dalam beberapa hari lagi — Rabu 24 Juni bertepatan 9 Muharram 1448 H, dan Kamis 25 Juni bertepatan 10 Muharram — kita akan menjumpai hari Tasu'a dan Asyura. Bulan ini disebut Allah sebagai bulan haram, bulan yang dimuliakan sejak diciptakannya langit dan bumi. Mari kita buka khutbah pekan ini dengan firman Allah Ta'ala dalam Kitab-Nya:
وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًۭا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ إِنَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ
"Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat." QS. Hud: 114.
Ayat ini, jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, adalah jantung dari semua percakapan kita pekan ini. Dari berita yang sampai kepada kita, ramai dibicarakan dua hal yang kelihatannya berbeda tetapi sebenarnya berpilin. Yang pertama adalah pergantian tahun baru hijriah — ribuan ucapan beredar, hampir semua mengajak transformasi diri, mengajak meneladani Rasulullah ﷺ. Yang kedua adalah kepulangan hampir seratus ribu jemaah haji gelombang satu ke tanah air. Yang ketiga, di sela-sela dua kabar hangat itu, tetap muncul diskursus pahit yang berulang — mengapa sebagian pemuka agama yang ilmunya tidak kurang justru terjerumus ke kekerasan moral; mengapa di negeri mayoritas Muslim, riba dan paylater tumbuh subur menjerat keluarga muda. Pesan ayat di atas adalah kunci: innal hasanati yudzhibna as-sayyi'at — sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapuskan keburukan-keburukan. Ibadah ritual yang tidak mengubah perilaku sehari-hari adalah ibadah yang belum menemukan dirinya.
Jamaah yang dimuliakan Allah, mari kita perhatikan satu hadits pertama yang penting untuk kita renungkan pekan ini. Diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah:
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ إِسْمَاعِيلَ، قَالَ حَدَّثَنِي قَيْسُ بْنُ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى إِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ.
"Aku berbaiat kepada Rasulullah ﷺ atas hal-hal berikut: mendirikan salat dengan sempurna, menunaikan zakat, dan tulus serta setia kepada setiap Muslim." Sahih al-Bukhari 57.
Lihatlah, jamaah Jumat, betapa singkat tetapi padatnya bai'at ini. Hanya tiga poin: mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tulus kepada sesama Muslim. Yang pertama adalah hubungan vertikal dengan Allah. Yang kedua adalah hubungan harta yang dibersihkan untuk kebutuhan umat. Yang ketiga — dan inilah yang sering kita lupakan — adalah an-nushh li kulli muslim, ketulusan dan kesetiaan kepada setiap Muslim. Bai'at ini menunjukkan bahwa ibadah ritual (salat) tidak dipisahkan dari ibadah sosial (zakat dan nasihat). Kita yang berbaiat pada syahadat secara hakiki sudah berbaiat juga pada tiga komitmen ini. Maka ketika sebagian kita memuliakan salat tetapi pelit menunaikan zakat, atau menunaikan haji tetapi tidak tulus kepada tetangga — sesungguhnya bai'at kita belum lengkap.
Di sinilah, jamaah, kita memahami mengapa diskursus tentang paradoks pemuka agama itu menyakitkan sekaligus penting. Bukan karena institusi pesantren rusak — mayoritas pesantren kita lurus, mendidik puluhan ribu santri dengan ihsan setiap tahun. Tetapi karena setiap kasus penyalahgunaan amanah yang muncul di feed publik mengingatkan kita bahwa ilmu tanpa amanah adalah bencana, dan amanah tanpa ilmu adalah ketersesatan. Tugas kita pekan ini bukan menjadi pembela buta atau pencaci sembrono. Tugas kita adalah membantu lingkungan kita — masjid, RT, halaqah ibu-ibu, organisasi mahasiswa — memperketat penjagaan terhadap anak-anak yang dititipkan pada pendidik agama, sambil tetap memuliakan pendidik yang lurus.
Rasulullah ﷺ memberikan kita peta tentang persaudaraan yang sehat dalam riwayat berikut:
وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم -{ لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا, وَلَا تَبَاغَضُوا, وَلَا تَدَابَرُوا, وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ, وَكُونُوا عِبَادَ اَللَّهِ إِخْوَانًا, اَلْمُسْلِمُ أَخُو اَلْمُسْلِمِ, لَا يَظْلِمُهُ, وَلَا يَخْذُلُهُ, وَلَا يَحْقِرُهُ.
"Janganlah kalian saling hasad, janganlah kalian saling menawar barang yang sudah ditawar orang lain, janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling membelakangi, dan janganlah kalian saling menipu dalam jual beli. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzalimi, tidak meninggalkannya, dan tidak meremehkannya. Takwa itu di sini..." Bulugh al-Maram 1694.
Hadits ini, jamaah, adalah panduan lengkap untuk masyarakat Muslim yang sehat. Perhatikan bahwa Rasulullah ﷺ menyebutkan tujuh larangan dan satu perintah dalam satu nafas: jangan hasad, jangan menipu di pasar, jangan saling benci, jangan saling jauh, jangan menipu dalam jual beli, jangan zalim, jangan tinggalkan, jangan remehkan saudara. Kemudian satu perintah: kunu 'ibadallahi ikhwana — jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Lihatlah betapa praktisnya. Tidak ada teori tentang ukhuwah; yang ada adalah perilaku konkret di pasar, di rumah, di lingkungan kerja. Kita yang merayakan tahun baru hijriah tetapi tetap menyebar gosip di grup WA, tetap memandang rendah tetangga yang berbeda mazhab, tetap menjebak teman lewat skema bisnis yang merampas hak — perayaan hijriah kita belum menyentuh inti pesan Nabi ﷺ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, mari kita masuk ke pelajaran yang lebih dalam. Rasulullah ﷺ memberi tahu kita tiga hal yang Allah ridhai dan tiga hal yang Dia tidak sukai bagi kita:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "إن الله تعالى يرضى لكم ثلاثا، ويكره لكم ثلاثًا: فيرضى لكم أن تعبدوه، ولا تشركوا به شيئًا، وأن تعتصموا بحبل الله جميعًا ولا تفرقوا، ويكره لكم: قيل وقال، وكثرة السؤال، وإضاعة المال".
"Sesungguhnya Allah menyukai tiga hal untuk kalian dan tidak menyukai tiga hal untuk kalian. Dia menyukai kalian menyembah-Nya semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun (dalam ibadah), dan berpegang teguh pada tali (agama) Allah dan tidak berpecah belah; dan Dia tidak menyukai bagi kalian percakapan yang tidak berguna, banyak bertanya yang tidak perlu, dan menyia-nyiakan harta." Riyad as-Salihin 1102.
Hadits ini, jamaah, adalah resep tahun baru hijriah yang lebih jujur dari ribuan ucapan yang beredar di feed pekan ini. Perhatikan tiga yang Allah tidak sukai: qila wa qala (gosip dan obrolan tak berguna), katsratu as-su'al (banyak bertanya yang tidak perlu — yang sering kita lakukan kepada orang lain untuk merepotkan, bukan untuk belajar), dan idha'atu al-mal (menyia-nyiakan harta). Bayangkan, jamaah, betapa relevannya tiga larangan ini dengan pekan kita. Qila wa qala — bukankah ini yang membuat feed kita penuh dengan rumor dan asumsi tentang siapa salah dan siapa benar? Idha'atu al-mal — bukankah inilah yang menjebak banyak rumah tangga muda dalam paylater dan pinjol yang menggerogoti harta keluarga untuk konsumsi yang tidak diperlukan?
Allah Ta'ala dalam Kitab-Nya memperingatkan kita tentang riba secara tegas:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَذَرُوا۟ مَا بَقِىَ مِنَ ٱلرِّبَوٰٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman." QS. Al-Baqara: 278.
Ayat ini turun secara tegas — bukan menyuruh menutup riba secara bertahap, melainkan meminta meninggalkan sisa riba yang belum dipungut. Allah memberi pilihan: takwa atau riba. Tidak ada ruang abu-abu. Jamaah yang dimuliakan Allah, kita semua paham bahwa hari ini tidak setiap kita bisa langsung menutup KPR konvensional atau menutup kartu kredit. Tetapi yang Allah minta jelas: niatkan keluar dari sisa riba yang masih bisa kita tinggalkan, mulai dari satu langkah hari ini. Tutup satu fasilitas paylater yang tidak benar-benar kita butuhkan. Hentikan satu kebiasaan belanja impulsif yang membuat tagihan terus berjalan. Ini bukan tentang ekonomi makro — ini tentang takwa yang menyelinap ke buku tabungan kita.
Hadits Rasulullah ﷺ berikut menutup peta praktis ini:
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ، قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ يُدْنِينِي مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ.
Seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata: "Tunjukkanlah kepadaku suatu amal yang mendekatkanku kepada surga dan menjauhkanku dari neraka." Maka beliau ﷺ bersabda: "Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan berbuat baik kepada kerabat." Sahih Muslim 106.
Jamaah, lihatlah betapa singkatnya jawaban Nabi ﷺ. Empat amal saja: tauhid, salat, zakat, dan ihsan kepada kerabat. Tidak ada syarat menjadi ulama besar, tidak ada syarat menjadi haji setiap tahun, tidak ada syarat memiliki harta berlimpah untuk membangun masjid besar. Yang Nabi ﷺ minta justru amal yang ada di jangkauan setiap kita: jaga tauhid, dirikan salat, keluarkan zakat, dan berbuat baiklah kepada saudara dan kerabat. Kesederhanaan inilah yang sering hilang dari hijrah kita. Kita merancang hijrah dengan rencana besar yang tidak pernah terjadi, padahal yang dituntut adalah amal sederhana yang konsisten.
Mari kita masuk ke aplikasi konkret untuk pekan depan yang sangat istimewa. Pekan depan kita akan menjumpai Rabu 9 Muharram dan Kamis 10 Muharram — hari Tasu'a dan Asyura yang dianjurkan Rasulullah ﷺ untuk dipuasai. Puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu (HR. Muslim 1162); dan digandeng dengan puasa Tasu'a untuk membedakan dari praktik Yahudi yang hanya berpuasa pada 10 Muharram. Ini adalah pintu hijrah yang sangat konkret untuk kita semua: dua hari puasa, satu paket penghapusan dosa setahun. Tugas kita pekan ini adalah menyiapkan niat, menyiapkan sahur, dan menyebarkan reminder di grup WA RT dan masjid.
Di luar puasa, ada empat tindakan konkret yang ingin saya tawarkan untuk pekan depan ini. Pertama, audit satu kebiasaan riba. Buka aplikasi paylater di handphone kita, lihat saldo dan tagihan; pilih satu fasilitas yang tidak benar-benar dibutuhkan, tutup hari ini. Kedua, audit satu kebiasaan harta yang sia-sia. Belanja online yang impulsif, langganan yang tidak terpakai, kebiasaan kuliner berlebihan — pilih satu untuk dihentikan minimal tiga bulan ke depan. Ketiga, niatkan satu silaturahmi yang tertunda. Mungkin ada saudara yang sudah lama tidak kita kunjungi, ada tetangga lansia yang tinggal sendiri, ada teman lama yang kita jauhi karena salah paham — datangi salah satu pekan ini sebagai bagian dari ibadah hijriah kita. Keempat, niatkan satu nasihat tulus untuk saudara. Bukan kritik di grup, tetapi pesan WA pribadi yang berisi doa dan dorongan untuk satu saudara yang sedang struggle. Inilah an-nushh li kulli muslim yang Jarir baiat kepada Nabi ﷺ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, satu refleksi terakhir sebelum saya tutup khutbah pertama. Hampir seratus ribu saudara kita pekan ini kembali ke tanah air dari ibadah haji gelombang satu. Mari kita sambut mereka dengan baik. Tetapi jangan kita berhenti di ucapan selamat dan jamuan syukuran saja. Mari kita bantu mereka mempertahankan rasa khusyuk Arafah, rasa rindu Multazam, rasa lelah Mina — dengan halaqah evaluasi pasca-haji di lingkungan masjid kita. Tiga pertemuan ringan, satu jam setiap kali, isinya saling berbagi pelajaran haji dan bagaimana menjaganya. Karena haji yang mabrur, kata Nabi ﷺ, tidak ada balasannya kecuali surga — tetapi mabrur itu ditentukan setelah pulang, bukan di Mina.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلٰى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالٰى حَقَّ تُقَاتِهِ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, pada khutbah kedua ini saya ingin memperdalam tiga sisi dari pesan tadi. Sisi pertama, hijrah selalu memiliki tsaman — harga yang harus dibayar. Nabi ﷺ meninggalkan rumah, keluarga, harta, dan kampung halaman ketika hijrah ke Madinah. Hari ini, hijrah kita mungkin tampak ringan, tetapi sebenarnya selalu menuntut kita meninggalkan kenyamanan tertentu. Hijrah dari paylater berarti rela menahan keinginan instan. Hijrah dari kebiasaan ghibah berarti merelakan kepuasan singkat membicarakan kekurangan orang. Hijrah dari riba berarti merelakan kemudahan kredit yang merampas berkah. Jangan kita merasa hijrah harus selalu mudah — hijrah yang mudah biasanya bukan hijrah, melainkan tren.
Sisi kedua, kita tinggal di tengah masyarakat yang sebagian terjerumus, dan kita tidak boleh memutus diri dari mereka. Para sahabat Nabi ﷺ tidak hijrah meninggalkan masyarakat secara permanen — mereka hijrah untuk kembali memperbaiki masyarakat. Kalau pekan ini sebagian kita disakiti oleh berita-berita pahit tentang pemuka agama atau jeratan riba, jangan kita lari dan menutup diri. Justru ini saatnya kita lebih dekat ke pesantren binaan, lebih dekat ke majelis taklim, lebih hadir di lingkungan RT. Hijrah kita adalah hijrah ke kepedulian yang lebih, bukan ke isolasi.
Sisi ketiga, ibadah ritual dan ibadah sosial adalah satu nafas. Ketika kita memilih puasa Tasu'a dan Asyura pekan depan, mari kita rancang sahurnya bersama keluarga, mari kita siapkan iftarnya untuk dibagi dengan tetangga yang membutuhkan. Ketika kita memilih qiyamul lail di malam Asyura, mari kita ringankan tangan untuk membantu satu keluarga prasejahtera di lingkungan. Inilah ibadah yang utuh — yang menggerakkan hati dan menggerakkan tangan dalam satu gerakan yang sama.
Jamaah yang dimuliakan Allah, mari kita angkat tangan untuk berdoa:
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِيْ مَطْلَعِ السَّنَةِ الْجَدِيْدَةِ هٰذِهِ هِدَايَةً تَمْلَأُ قُلُوْبَنَا، وَتَوْفِيْقًا يُسَدِّدُ خُطَانَا، وَاسْتِقَامَةً تَحْفَظُ أَلْسِنَتَنَا وَأَعْمَالَنَا.
اَللّٰهُمَّ بَلِّغْنَا الْعَشْرَ الْأُوَلَ مِنْ شَهْرِ الْمُحَرَّمِ، وَوَفِّقْنَا فِيْهِ لِلصِّيَامِ يَوْمَ تَاسُوْعَاءَ وَعَاشُوْرَاءَ، وَاجْعَلْهُ كَفَّارَةً لِذُنُوْبِنَا، وَطَهَارَةً لِقُلُوْبِنَا.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ احْفَظْ دِمَاءَهُمْ وَأَعْرَاضَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ، وَفَرِّجْ كَرْبَهُمْ، وَاجْعَلْ لَهُمْ مِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ حُجَّاجَ بَيْتِكَ الْحَرَامِ الْعَائِدِيْنَ إِلٰى دِيَارِهِمْ، تَقَبَّلْ مِنْهُمْ مَنَاسِكَهُمْ، وَاجْعَلْ حَجَّهُمْ مَبْرُوْرًا، وَسَعْيَهُمْ مَشْكُوْرًا، وَذَنْبَهُمْ مَغْفُوْرًا.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ شَبَابَنَا وَشَابَّاتِنَا مِنَ الرِّبَا وَالْقِمَارِ وَالشَّهَوَاتِ الْمُحَرَّمَةِ، وَارْزُقْهُمْ صَفَاءَ الْإِيْمَانِ وَسَلَامَةَ الْأَخْلَاقِ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَطْفَالَنَا فِيْ مَدَارِسِهِمْ وَمَعَاهِدِهِمْ، وَأَمِّنْهُمْ عَلٰى أَنْفُسِهِمْ وَأَجْسَامِهِمْ، وَلَا تَجْعَلْ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مُعَلِّمِيْهِمْ إِلَّا الرَّحْمَةَ وَالْأَمَانَةَ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَهَيِّئْ لَهُمْ بِطَانَةَ خَيْرٍ تَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ مَشَايِخَنَا وَمُعَلِّمِيْنَا، وَإِخْوَانَنَا وَأَخَوَاتِنَا، وَجَمِيْعَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
