Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumAqidah & IbadahKamis, 18 Juni 2026

Kultum — "Ganti Tangan Sebelum Asyura"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, kita baru saja memasuki tahun baru hijriah 1448 H beberapa hari yang lalu. Di feed kita ramai sekali ucapan tahun baru islam — gambar Ka'bah, video pergantian kiswah, ajakan transformasi diri dari para tokoh. Tapi malam ini saya ingin mengajak kita berhenti sejenak dan mengajukan satu pertanyaan yang tidak nyaman: apakah hijrah kita pekan ini ada bedanya dengan tahun lalu?

Saya bertanya begini bukan untuk membuat kita merasa bersalah. Saya bertanya karena saya sendiri merasakan tarikan yang sama. Tiap tahun ada momen reset — Januari, Ramadhan, Muharram — dan tiap tahun ada janji yang sama: kali ini saya akan berhenti. Berhenti dari satu kebiasaan. Berhenti dari satu hubungan yang melukai iman. Berhenti dari satu pengeluaran yang tidak diperlukan. Tapi kemudian momen itu lewat, dan kita kembali ke jalur lama dengan sedikit rasa bersalah yang segera kita lupakan.

Mari kita buka satu hadits pendek dari Nabi ﷺ:

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ، قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ يُدْنِينِي مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ.

Seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya: "Tunjukkanlah kepadaku suatu amal yang mendekatkanku kepada surga dan menjauhkanku dari neraka." Maka beliau ﷺ bersabda: "Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan berbuat baik kepada kerabat." Sahih Muslim 106.

Pertanyaan lelaki ini, jamaah, adalah pertanyaan yang seharusnya kita ajukan di awal tahun hijriah ini. Bukan "apa resolusi saya tahun ini?" — itu pertanyaan kalender masehi. Pertanyaan hijriah adalah pertanyaan lelaki itu: amal apa yang mendekatkan saya kepada surga dan menjauhkan saya dari neraka? Ini pertanyaan jangkar. Sekali kita kembali ke pertanyaan ini, banyak rencana tahun baru kita yang tampak megah jadi terasa kosong, dan banyak amal sederhana yang sering kita abaikan jadi terasa penting.

Lihat jawaban Nabi ﷺ. Beliau tidak menyuruh lelaki itu menjadi penghafal Quran sempurna dalam setahun, tidak menyuruhnya menjadi mubaligh, tidak menyuruhnya pergi haji setiap tahun. Empat hal saja: tauhid yang murni, salat yang ditegakkan, zakat yang ditunaikan, ihsan kepada kerabat. Inilah inti hijrah — kembali ke pondasi yang sering kita lewati karena tampak terlalu sederhana.

Saudara-saudara sekalian, mari kita lihat tiga kabar yang pekan ini ramai di sekitar kita. Yang pertama, hampir seratus ribu jemaah haji gelombang satu sudah kembali ke tanah air dari Makkah. Di tempat kita masing-masing mungkin ada saudara, paman, tetangga yang baru mendarat. Mereka pulang dengan rasa khusyuk Arafah, rasa rindu Multazam, hati yang lapang setelah thawaf wada'. Tapi kita semua tahu, dari pengalaman tahun-tahun lalu, bahwa rasa itu cepat sekali pudar. Tugas kita pekan ini bukan hanya mengucapkan selamat — tugas kita adalah membantu saudara kita yang baru pulang haji mempertahankan rasa khusyuk itu di rumah dan di pekerjaan.

Kabar yang kedua, di feed pekan ini kembali muncul diskursus pahit tentang paradoks pemuka agama. Bukan satu kasus baru pekan ini, tetapi diskursus berulang tentang bagaimana sebagian — dan ini penting kita ingat: sebagian, bukan semua, bahkan jauh dari mayoritas — pendidik agama terjerumus ke kekerasan moral. Pertanyaannya bukan untuk mencari kambing hitam, tetapi untuk bertanya pada diri sendiri: apakah ilmu yang sudah kita pelajari ada di tangan kanan kita, atau hanya melintas di kepala kita? Karena ilmu yang ada di tangan adalah ilmu yang menggerakkan; ilmu yang melintas di kepala adalah ilmu yang menguap.

Kabar yang ketiga, sebuah post pendek pekan ini sangat mengiris — seseorang menulis bagaimana dosa tertinggi dalam Islam itu syirik dengan ancaman kekal di neraka, tetapi dukun dan riba justru tumbuh subur di negeri mayoritas Muslim. Sindiran ini menyakitkan justru karena dia benar. Kita yang mengaku beriman tetap menyimpan kebiasaan-kebiasaan kecil yang merusak tauhid amali kita — bergantung pada hal lain selain Allah, takut kepada selain Allah, mencari rezeki dengan cara yang Allah haramkan.

Mari kita renungkan satu peringatan Allah Ta'ala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوا۟ ٱلرِّبَوٰٓا۟ أَضْعَٰفًۭا مُّضَٰعَفَةًۭ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda, dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan." QS. Aal-i-Imraan: 130.

Allah memberi syarat keberuntungan — la'allakum tuflihun — pada satu pondasi: meninggalkan riba dan bertakwa. Hari ini kita mungkin merasa keberuntungan adalah promosi di kantor, gaji yang naik, fasilitas paylater yang bertambah. Tapi Allah memberi tahu kita di sini: keberuntungan hakiki ada di kebebasan dari riba. Dan keberuntungan itu kita kunci dengan takwa.

Saudara-saudara, mari kita masuk ke refleksi pribadi. Bukankah sering kita merasa hidup kita melingkar di tempat? Sudah salat lima waktu, sudah baca Quran sebulan sekali, sudah ikut kajian Sabtu — tapi mengapa rasanya tidak ada yang bergerak? Mungkin jawabnya ada di tangan kita: amal-amal kita masih melintas di kepala, belum turun ke tangan. Tauhid kita masih konsep di mulut, belum menjadi keputusan di rekening. Salat kita masih ritual lima kali, belum jadi rem moral di tengah pekerjaan. Zakat kita masih kewajiban tahunan, belum jadi kepekaan harian pada tetangga yang membutuhkan.

Inilah letak hijrah yang sesungguhnya. Bukan ganti kalender, bukan ganti caption Instagram, bukan ganti niat "tahun ini saya lebih baik". Hijrah adalah ganti tangan — apa yang dulu dipegang tangan kita, hari ini kita lepaskan; apa yang dulu kita abaikan, hari ini kita pegang. Tangan yang melepas paylater. Tangan yang menggandeng tetangga lansia. Tangan yang menggenggam mushaf di waktu yang dulu untuk scrolling.

Dan ini, jamaah, adalah momentum yang sempurna. Pekan depan — Rabu 24 Juni bertepatan 9 Muharram, dan Kamis 25 Juni bertepatan 10 Muharram — kita akan menjumpai hari Tasu'a dan Asyura. Puasa dua hari ini adalah hijrah yang sangat konkret. Setelah pulang dari sholat malam ini, ada tiga tindakan yang ingin saya tawarkan untuk dikerjakan dalam 24 jam ke depan. Pertama, set niat dan jadwal sahur untuk puasa Tasu'a-Asyura, dan sebarkan ke grup WA keluarga. Kedua, buka satu aplikasi paylater di handphone kita, pilih satu fasilitas yang tidak benar-benar dibutuhkan, tutup malam ini. Ketiga, kirim pesan WA pribadi ke satu kerabat yang sudah lama tidak kita sapa — bukan template ucapan tahun baru, melainkan pesan tulus berisi doa untuknya.

Mari kita tutup dengan doa.

اَللّٰهُمَّ بَلِّغْنَا تَاسُوْعَاءَ وَعَاشُوْرَاءَ، وَوَفِّقْنَا فِيْهِمَا لِلصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، وَاجْعَلْهُمَا كَفَّارَةً لِذُنُوْبِ السَّنَةِ الْمَاضِيَةِ.

اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سِوَاكَ، وَأَطْلِقْ أَيْدِيَنَا مِنْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ تُسْخِطُكَ، وَاحْفَظْ أَلْسِنَتَنَا مِنْ كُلِّ قَوْلٍ يُغْضِبُكَ.

اَللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ حُجَّاجِ بَيْتِكَ الْحَرَامِ، وَأَعِدْهُمْ إِلٰى أَهْلِيْهِمْ سَالِمِيْنَ غَانِمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan