Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsEkonomi & BisnisKamis, 18 Juni 2026

Kisah Pendek — "Dirham Berkah Utsman bin Abi al-'Ash"

Di tengah kabar pekan ini tentang keluarga muda yang terjerat paylater dan dompet yang bocor di mana-mana, ada satu kisah singkat dari zaman sahabat yang mengingatkan kita bahwa berkah harta tidak diukur dari jumlahnya. Imam Yusuf al-Kandahlawi dalam Hayat as-Sahabah — Bab Hijrah / Infaq 'Utsman bin Abi al-'Ash radhiyallahu 'anhu menghimpun riwayat dari Imam Thabrani melalui Abu Nadhrah, tentang lima puluh dirham yang menggetarkan hati seorang sahabat tabi'in.

Hari-hari sepuluh awal Dzulhijjah. Bulan haji. Madinah yang tenang sedang merayakan ibadah agung. Abu Nadhrah berjalan menuju rumah Utsman bin Abi al-'Ash radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat Nabi ﷺ yang juga gubernur Thaif.

Utsman bin Abi al-'Ash punya kebiasaan unik di rumahnya. Beliau menyisihkan satu kamar khusus, dikosongkan dari barang-barang dunia, hanya untuk majelis hadits — tempat tetamu bisa duduk dan ia membacakan riwayat Rasulullah ﷺ kepada siapa saja yang mau mendengar.

Abu Nadhrah masuk ke rumah itu. Belum sempat duduk lama, seseorang lewat menggiring seekor domba. Utsman menoleh kepada penggiringnya.

"Berapa harganya?" tanyanya tenang.

"Dua belas dirham," jawab si penggiring.

Abu Nadhrah, yang berdiri tidak jauh dari sana, tanpa sadar berkata dengan suara setengah berbisik kepada dirinya sendiri:

"Andai aku punya dua belas dirham, akan kubeli domba itu, kusembelih untuk kurban, dan kuberi makan keluargaku."

Kalimat itu terucap pelan. Mungkin Utsman mendengarnya, mungkin juga tidak. Tidak ada respons saat itu. Abu Nadhrah kemudian pulang, melupakan kalimatnya, melanjutkan harinya.

Ketika ia sampai di rumah, seseorang mengejar di belakang. Membawa sebuah kantong kecil. Tangan menyodorkannya kepada Abu Nadhrah.

"Dari Utsman bin Abi al-'Ash, untukmu."

Abu Nadhrah membuka kantong itu. Lima puluh dirham. Bukan dua belas. Lima puluh.

Bertahun-tahun kemudian Abu Nadhrah masih bercerita dengan suara bergetar:

فَمَا رَأَيْتُ دَرَاهِمَ قَطُّ كَانَتْ أَعْظَمَ بَرَكَةً مِنْهَا

"Tidak pernah aku melihat dirham yang lebih besar berkahnya daripada dirham itu."

Mengapa ia berkata demikian? Karena ia tahu rahasia di baliknya:

أَعْطَانِي وَهُوَ لَهَا مُحْتَسِبٌ وَأَنَا إِلَيْهَا مُحْتَاجٌ

"Ia memberikannya dengan ihtisab — niat tulus mengharap pahala Allah, sementara aku benar-benar membutuhkannya."

Dua sisi yang menjadikan pemberian itu istimewa. Pemberi memberi murni karena Allah, tidak demi pujian, tidak demi balasan. Penerima memang sangat membutuhkan, bukan sekadar menginginkan. Dirham yang sama secara matematis — lima puluh keping perak — bisa menjadi biasa di tangan yang lain. Tetapi di antara kedua hati yang ikhlas dan jujur ini, ia menjadi kekayaan yang dikenang seumur hidup.

Cerita ini bersambung dengan kisah lain di fasal yang sama, tentang Aisyah radhiyallahu 'anha yang memberikan satu-satunya roti di rumah kepada peminta-minta saat sedang berpuasa — lalu di malam yang sama Allah mengirim hadiah berupa daging kambing utuh ke rumahnya. Dan tentang Harithah bin an-Nu'man radhiyallahu 'anhu yang buta, namun setiap pengemis datang, ia tetap memegang ujung benang yang terikat dari shalatnya sampai pintu rumahnya — agar ia sendiri yang menyerahkan sedekah ke tangan si pengemis, walaupun orang rumah berkata "cukup kami yang menyalurkan, ya Harithah." Ia menjawab: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda — meletakkan sedekah dengan tangan sendiri di tangan miskin, melindungi pemberinya dari kematian yang buruk."

Pelajaran

Di pekan ketika berita didominasi oleh narasi kelangkaan — paylater dipakai untuk belanja receh, garis kemiskinan disebut Rp20.305 sehari, keluarga muda hancur karena utang menumpuk — kisah Utsman bin Abi al-'Ash mengembalikan kita pada kebenaran sederhana: berkah harta tidak diukur dari berapa banyak masuk ke rekening, tapi dari bagaimana ia mengalir keluar. Lima puluh dirham yang diberikan dengan ihtisab terasa lebih besar di hati penerima daripada gaji bulanan yang mengalir tanpa makna. Kita pekan ini sering menabung untuk diri sendiri sambil mengabaikan tetangga yang berbisik pelan "andai aku punya dua belas dirham". Cobalah berlatih: dengarkan bisikan tetangga, kemudian beri lebih dari yang ia sebut. Bukan untuk pamer, tapi untuk membuktikan kepada diri sendiri bahwa kita masih bisa hidup di luar kalkulus rekening.

Sumber Asli

Hayat as-Sahabah — الباب الرابع باب الهجرة / إنفاق عثمان بن أبي العاص رضي الله

إنفاق عثمان بن أبي العاص رضي الله عنه حديث أبي نضرة في ذلك أخرج الطبراني عن أبي نَضْرة قال: أتيت عثمان بن أبي العاص رضي الله عنه في أيام العشر - وكان له بيت قد أخلاه للحديث - فمُرَّ عليه بكبش فقال لصاحبه: بكم أخذته؟ فقال: بإثني عشر درهماً، فقلت: لو كان معي إثنا عشر درهماً إشتريت بها كبشاً فضحيت وأطعمت عيالي.

فلما قدمت أتبعني بصرّة فيها خمسون درهماً، فما رأيت دراهم قط كانت أعظم بركة منها أعطاني وهو لها محتسب وأنا إليها محتاج. قال الهيثمي: رجاله رجال الصحيح.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan