Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumEkonomi & BisnisKamis, 18 Juni 2026

Kultum — "Dua Pintu Harta: Masuk Bersih, Keluar Mengalir"

Pembuka

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَأَوْجَبَ الْعَدْلَ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja melewati kita dengan ramainya bincang tentang harga BBM, garis kemiskinan, dan cerita-cerita keluarga muda yang terjerat paylater — ada satu pesan yang ingin saya bagikan ba'da maghrib ini. Pesannya sederhana, tapi sering kita lupakan: harta yang kita miliki pekan ini sedang ditimbang oleh Allah dari dua arah sekaligus — bagaimana cara masuknya, dan bagaimana cara mengalirkannya.

Hook & Ayat Pembuka

Saudara-saudara sekalian, apakah kita pernah berhenti sejenak dan menghitung: berapa aplikasi pinjol dan paylater yang masih terinstal di handphone kita malam ini? Satu? Dua? Tiga? Bagi sebagian dari kita mungkin terasa wajar — "buat jaga-jaga saja", katanya. Tetapi kalau saya boleh meminta kita merenung pekan ini, mari kita dengarkan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

يَمْحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰا۟ وَيُرْبِى ٱلصَّدَقَٰتِ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa." (QS. Al-Baqara: 276)

Ayat ini menarik karena Allah memakai dua kata kerja yang saling berlawanan dalam satu tarikan nafas: yamhaqu (memusnahkan, mengikis, mengurangi sampai habis) dan yurbi (menyuburkan, melipatgandakan, membuat tumbuh). Riba secara matematis menambah saldo; tapi Allah berfirman: "Tidak. Aku yang menentukan kerangkanya. Yang kalian anggap bertambah, sebenarnya sedang Aku kikis dari berkahnya."

Inti Pesan

Coba kita ingat-ingat pekan kita masing-masing. Pernahkah kita merasa gaji bulan ini terlihat utuh saat masuk rekening, tapi habis dengan cara yang tidak bisa kita jelaskan di akhir bulan? Pernahkah kita merasa berbelanja banyak, tapi rumah masih terasa kekurangan? Pernahkah kita merasa "kerja keras tapi tidak ada yang nempel"? Saya tidak akan langsung menyimpulkan itu karena riba — banyak faktor yang berperan. Tetapi izinkan saya menyajikan satu kemungkinan yang sering luput: ada kategori "berkah" yang tidak masuk dalam grafik rekening kita, dan justru kategori inilah yang membuat harta mengikat hati atau melewatinya begitu saja.

Pekan ini, kabar yang sampai ke kita menceritakan sebuah keluarga muda yang awalnya semua baik-baik saja. Suami bekerja, ekonomi memburuk perlahan, lalu suami menganggur lebih lama dari yang istri bisa tahan. Bayangkan tekanan yang menumpuk: cicilan motor lewat aplikasi, cicilan barang rumah, paylater untuk belanja kebutuhan bayi. Ketika gaji berhenti, tagihan tetap berjalan. Akhirnya istri minta cerai. Suami yang sudah terhimpit utang dan rasa malu, gelap mata. Akhir cerita itu sangat menyayat hati. Saya tidak mau bilang utang riba adalah satu-satunya penyebab — kemiskinan dan masalah komunikasi rumah tangga punya peran sendiri. Tetapi mari kita jujur: utang berbunga sering menjadi pemicu ledakan, karena ia mengubah krisis kecil menjadi krisis yang tak tertahankan.

Cerita lain juga muncul pekan ini di feed publik: ada warganet yang bingung melihat sebuah pola — pasangan muda yang rela memberikan data diri pribadinya untuk dijadikan paylater pacarnya. Pertanyaan yang muncul: bagaimana mungkin kepercayaan personal dijadikan jaminan untuk produk berbunga? Mari kita pikirkan, jamaah. Pola ini menunjukkan betapa kita sebagai keluarga muda Muslim sudah kehilangan kosa-kata syar'i untuk menyebut paylater sebagai apa adanya — yaitu utang berbunga dengan kemasan modern. Yang dulu dinamai "rentenir" kini dinamai "fintech"; yang dulu disebut "bunga" kini disebut "biaya layanan". Nama berganti, hakikatnya tetap.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam riwayat Muslim, sebagaimana diriwayatkan Jabir radhiyallahu 'anhu:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

"Rasulullah ﷺ melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, pencatatnya, dan dua saksinya. Beliau bersabda: mereka semua sama." (Sahih Muslim 4093)

Hadits ini sungguh menggetarkan. Pemakan dan pemberi disamakan; pencatat dan saksi pun disamakan. Mengapa? Karena tanpa rantai pendukung, sistem riba runtuh dengan sendirinya. Kita harus jujur bertanya: di posisi mana kita berdiri sekarang? Saya mengakui ini bukan pertanyaan yang nyaman. Sebagian dari kita mungkin di posisi pemakai pinjol — itu jelas. Tetapi ada juga di antara kita yang mungkin bekerja di bank konvensional dan tugasnya menyusun produk kredit, atau di aplikasi pinjol bagian admin yang memvalidasi dokumen. Saya tidak sedang menghakimi — Allah yang memberi rezeki, dan banyak saudara kita yang masih berikhtiar mencari yang lebih baik. Tetapi kita perlu menyadari peta ini, sehingga niat hijrah karier bisa mulai dipupuk, walaupun pelan dan bertahap.

Pertanyaan reflektifnya, jamaah: apa yang membuat kita sebagai umat Muslim terbiasa dengan riba? Tiga hal saya rasa. Pertama, lemahnya pengetahuan fiqh muamalah di kalangan keluarga muda — banyak dari kita yang tahu rukun shalat dengan baik, tapi tidak tahu apa itu gharar atau qardh hasan. Kedua, kemudahan akses yang luar biasa dari aplikasi modern dibanding alternatif syar'i yang ribet dan birokratis. Ketiga, dan yang paling mendasar, adalah turunnya pemahaman bahwa keberkahan adalah variabel nyata dalam hidup — banyak dari kita sudah memperlakukan ekonomi sebagai sistem tertutup yang tidak ada urusannya dengan ridha Allah.

Saudara-saudara, mari kita renungkan lebih dalam. Allah subhanahu wa ta'ala tidak pernah melarang kita kaya. Allah tidak pernah melarang kita menabung, membeli motor, memiliki rumah. Yang Allah larang adalah cara yang melukai keadilan. Yang Allah perintahkan adalah memastikan bahwa setiap rupiah yang masuk dan keluar dari dompet kita lewat pintu yang bersih. Sahabat seperti Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu menjadi salah satu sahabat terkaya di Madinah — tapi kekayaannya disertai pengaliran sedekah yang luar biasa. Kekayaan tidak salah; yang salah adalah kekayaan yang sumbernya tidak bersih atau alirannya mampet.

Pekan ini, marilah kita mengambil tiga langkah konkret. Pertama, buka handphone kita malam ini, periksa setiap aplikasi pinjol dan paylater. Susun rencana untuk melunasi yang masih berjalan, dan hapus aplikasi setelah lunas — bukan "disimpan untuk jaga-jaga", karena pintu yang terbuka akan diketuk lagi di saat lemah iman. Kedua, sediakan dana darurat keluarga sekecil apapun — Rp50.000 per minggu lebih baik daripada bergantung pada limit kartu kredit. Ketiga, kalau kita punya kelebihan, ajak keluarga RT atau teman komplek untuk pool dana qardh hasan — pinjaman tanpa bunga untuk saudara yang sedang terhimpit. Lima atau sepuluh keluarga menyumbang sekian ratus ribu bisa menjadi kas yang sangat berarti.

Tutup

Jamaah yang dirahmati Allah, pesan kultum malam ini sederhana: harta yang kita miliki sedang ditimbang dari dua sisi — pintu masuknya dan pintu keluarnya. Pintu masuk harus bersih dari riba. Pintu keluar harus terbuka untuk sedekah dan keluarga. Kalau kedua pintu ini terjaga, insya Allah berkah akan turun, dan keluarga akan diberi kekuatan menghadapi badai ekonomi pekan apa pun.

Marilah kita berdoa.

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا، وَأَطْعِمْنَا مِنَ الْحَلَالِ، وَجَنِّبْنَا الْحَرَامَ وَالرِّبَا. اَللّٰهُمَّ اقْضِ دُيُوْنَنَا، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بُيُوْتَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ ضِيْقِ الْمَالِ وَفِتَنِ الدُّيُوْنِ، وَافْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ الرِّزْقِ الْحَلَالِ الطَّيِّبِ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ شَبَابَنَا، وَاهْدِ قُلُوْبَهُمْ إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan