Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatHukum & KeadilanKamis, 18 Juni 2026

Khutbah Jumat — "Amanah, Ghulul, dan Lapisan Kegelapan"

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِيْ جَعَلَ الْعَدْلَ مِيْزَانًا بَيْنَ الْعِبَادِ، وَجَعَلَ الْأَمَانَةَ ثَقِيْلَةً عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, di mimbar yang mulia ini, di hadapan kita yang sedang berkumpul untuk menjemput satu jam yang telah Allah pilihkan setiap Jumat, izinkan saya membuka satu pintu pembahasan yang mungkin terasa berat — tapi pekan ini tidak bisa kita hindari. Allah berfirman dalam Kitab-Nya:

وَيَٰقَوْمِ أَوْفُوا۟ ٱلْمِكْيَالَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

"Dan Syu'aib berkata: 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.'" (QS. Hud: 85)

Hadirin yang dimuliakan Allah, ayat ini turun dalam konteks Nabi Syu'aib menasihati kaumnya yang dikenal curang dalam takaran. Tetapi setiap kali kita membaca ulang ayat ini, kita menyadari bahwa "takaran" dan "timbangan" bukan hanya alat di pasar. Setiap pos jabatan adalah timbangan. Setiap amanah anggaran adalah takaran. Setiap kursi yang kita duduki — dari bangku menteri sampai ketua RT — adalah miqyās, ukuran yang akan ditanyakan Allah pada hari ketika tidak ada lagi yang bisa kita sembunyikan.

Pekan ini, dari berita yang sampai kepada kita, kasus korupsi di salah satu program penyaluran gizi nasional terus bergulir dengan pemeriksaan-pemeriksaan baru. Kita semua tahu betapa sederhana niat awal program seperti ini: memberi anak-anak Indonesia satu piring makan bergizi. Tetapi di antara dapur dan piring itu, ada banyak meja yang dilewati. Di salah satu meja itu, sebagian dari yang seharusnya menjadi gizi balita berubah menjadi uang yang tidak halal. Kita tidak datang ke mimbar ini untuk menambah kemarahan — feed yang kita lihat sehari-hari sudah cukup memasok kemarahan. Kita datang untuk menamai apa yang sedang terjadi dengan bahasa yang benar: ini adalah ghulul, penggelapan harta publik, yang Allah dan Rasul-Nya mengangkat persoalannya jauh lebih tinggi daripada sekadar pelanggaran administrasi.

Dari kabar lain pekan ini, kita juga mendengar bahwa otoritas pajak menarik kembali sejumlah aset dari para penunggak — mobil, motor, hingga apartemen. Ada sisi kecil yang bisa kita syukuri: harta yang seharusnya menjadi hak publik bisa ditarik kembali. Tetapi ada sisi yang lebih besar yang harus kita renungkan: penundaan, sekalipun pada hal yang sepertinya teknis, selalu berbiaya. Apa yang sedang dijaga, dan apa yang sedang dibiarkan? Pertanyaan ini bukan untuk kita lemparkan ke aparat — pertanyaan ini untuk kita lemparkan ke diri sendiri di setiap pos di mana kita memegang amanah, sekecil apa pun pos itu.

Dan kabar yang paling memilukan pekan ini menyangkut perlindungan anak dan perempuan. Kanal sosial dipenuhi seruan keras yang menuntut hukuman lebih berat bagi pelaku kekerasan seksual — diskursus yang kembali ramai setiap kali kasus baru viral, dan pekan ini turut diwarnai oleh kasus dugaan pelecehan yang sedang diselidiki di lingkungan kampus. Kita sebagai komunitas Muslim Indonesia harus jujur: setiap kali ada figur yang dipercaya — guru, pengasuh, dosen, ustadz, atau siapa pun yang diberi amanah mendidik — terbukti menjadi pelaku, luka yang ditimbulkan berlapis: luka pada korban itu sendiri, luka pada keluarga, dan luka pada kepercayaan ratusan keluarga lain. Maka pekan ini, mari kita perlebar konsep amanah: amanah bukan hanya tentang uang, juga tentang tubuh dan kehormatan saudara kita yang paling lemah.

Hadirin sekalian, mari kita perdalam dengan dalil kedua. Rasulullah ﷺ bersabda dalam riwayat Muslim:

اِتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Jauhilah kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan di Hari Kiamat." (Sahih Muslim 6577)

Perhatikan kata yang dipilih Rasulullah ﷺ: zhulumāt — bentuk jamak dari zhulmah, kegelapan. Bukan satu kegelapan, melainkan lapisan-lapisan kegelapan. Para ulama menjelaskan: di Hari Kiamat, ketika cahaya wajah orang-orang beriman menerangi jalan menuju surga, mereka yang berbuat zalim — yang merampas hak orang lain, yang menyalahgunakan amanah, yang melukai yang lemah — akan berdiri dalam kegelapan yang berlipat-lipat. Kegelapan pertama karena tidak ada cahaya iman yang menyertainya. Kegelapan kedua karena hak orang lain yang dia rampas menutup matanya. Kegelapan ketiga karena tidak ada satu pun saksi yang berani membela dia. Inilah gambaran yang Rasulullah ﷺ ingin tancapkan di hati kita sebagai jamaah.

Kita yang duduk di sini pekan ini — apakah kita sudah memetakan zhulm-zhulm kecil yang mungkin selama ini kita anggap remeh? Karyawan yang gajinya kita potong tanpa hak. Pegawai yang naik pangkatnya kita hambat karena hubungan pribadi. Tetangga yang tanahnya kita serobot sedikit demi sedikit. Anak yang kita asuh dengan kasar karena lelah. Istri yang nafkahnya kita kurangi tanpa keadilan. Semua itu, bila dikumpulkan, adalah lapisan-lapisan kegelapan yang akan menghampiri kita di hari ketika tidak ada satu kuasa pun yang bisa kita andalkan kecuali rahmat Allah.

Mari kita bawa dalil ketiga. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ berdiri di tengah para sahabat, lalu menyebutkan tentang al-ghulul — penggelapan harta publik — dan menekankan besarnya dosa itu. Beliau bersabda:

لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ، أَوْ عَلَى رَقَبَتِهِ فَرَسٌ لَهُ حَمْحَمَةٌ

"Aku tidak suka melihat salah seorang di antara kalian pada Hari Kiamat, memikul di atas lehernya seekor domba yang akan merengek, atau memikul di atas lehernya seekor kuda yang akan meringkik." (Sahih al-Bukhari 3073)

Bayangkan, hadirin. Seseorang yang menggelapkan satu kepala kambing dari harta umat akan tampil di hari pengadilan dengan kambing itu di lehernya, mengembik di depan seluruh manusia. Bukan untuk dipertontonkan — tapi karena harta itu sendiri yang menjadi saksi. Hari ini kita gampang menggelapkan harta umat dengan menutupnya di rekening, di properti yang tersamar, di rekanan yang kita kondisikan. Tetapi pada hari itu, harta yang tersembunyi akan menampakkan dirinya. Subhanallah, betapa beratnya gambaran ini, dan betapa sayangnya Rasulullah ﷺ kepada kita sehingga beliau memilih perumpamaan yang sangat konkret, yang bahkan orang Badui buta huruf di zamannya pun langsung memahami.

Hadirin, dalil keempat akan kita ambil dari satu peringatan tegas. Rasulullah ﷺ bersabda, dalam riwayat 'Ubadah bin as-Samit:

لَا تَغُلُّوا فَإِنَّ الْغُلُولَ نَارٌ وَعَارٌ عَلَى أَصْحَابِهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

"Janganlah kalian berkhianat dan berbuat curang (terhadap harta yang dipercayakan), karena ghulul akan seperti api bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya dan menjadi sebab kehinaan bagi pelakunya di dunia dan di akhirat." (Bulugh al-Maram 1469)

Perhatikan dua kata yang Nabi ﷺ pilih: nār (api) dan 'ār (kehinaan). Api di akhirat, kehinaan di dunia. Kita tidak perlu menunggu Hari Kiamat untuk melihat bagaimana kehinaan menjamah keluarga para pelaku korupsi. Anak mereka yang masih sekolah harus berganti nama. Istri yang dulu duduk di kursi terhormat harus menarik diri dari pergaulan. Orang tua yang dulu bangga dengan jabatan anak kini tertunduk. Inilah 'ār — kehinaan dunia yang sudah Allah tunjukkan sebagai sampel kecil sebelum nār yang menanti di akhirat. Maka, hadirin, ketika kita memimpin sekecil apa pun komunitas — satu RT, satu masjid, satu majelis taklim, satu kelas, satu keluarga — ingatlah dua kata ini: api dan kehinaan. Bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menerangi pilihan yang ada di depan kita setiap pagi.

Kita beralih ke sisi reflektif yang lebih dalam. Apa yang membuat seseorang yang dulunya jujur, yang dulunya sholat lima waktu di shaf pertama, yang dulunya hafal beberapa juz Al-Qur'an, akhirnya tergelincir? Para ulama menjawab dengan satu kata: taswīf — penundaan. Dia mulai dengan satu rupiah yang dia anggap "halal kecil-kecilan". Lalu satu juta. Lalu satu miliar. Hawa nafsunya menormalkan pelan-pelan apa yang dulu dia tolak. Inilah mengapa Rasulullah ﷺ mengajarkan kita doa khusus, yang Aisyah radhiyallahu 'anha riwayatkan: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan usia tua renta, dari segala macam dosa dan dari terlilit utang." Beliau menggabungkan empat hal yang kelihatannya berbeda — kasal (malas), haram (lanjut usia), ma'tsam (dosa), maghram (utang) — karena keempatnya dapat menggiring manusia menuju ghulul tanpa dia sadari. Malas berusaha jujur. Lanjut usia tanpa amal. Tumpukan dosa kecil. Lilitan utang yang membuat dia mencari jalan pintas.

Hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita perluas pandangan. Selain ghulul harta, pekan ini kita juga membaca dinamika hubungan antara aparat dan suara kritis mahasiswa, di tengah laporan-laporan yang muncul dari berbagai pihak ke aparat penegak hukum. Dan kita juga membaca seruan keras publik di kanal sosial yang kembali ramai menuntut hukuman lebih berat bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan — diskursus yang muncul berulang setiap kali kasus baru viral. Dua kabar ini, ditambah benang korupsi tadi, membentuk satu pertanyaan besar: apakah suara yang lemah dijaga di negeri ini, atau dibungkam? Allah berfirman:

وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

"Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan." (QS. Ash-Shu'araa: 183)

Ayat ini tidak hanya berbicara tentang takaran di pasar. Bakhs — pengurangan hak — adalah konsep luas yang mencakup: mengurangi hak korban untuk didengar, mengurangi hak anak untuk dilindungi, mengurangi hak pengkritik untuk berbicara. Setiap kali sebuah suara yang lemah dipinggirkan, ada bakhs yang sedang terjadi. Maka, hadirin, kita sebagai jamaah Muslim Indonesia, tugas kita pekan ini bukan hanya marah di kanal sosial. Tugas kita adalah membangun ruang di mana suara yang lemah terlindungi: di rumah kita, di lingkungan kita, di masjid kita, di TPA tempat anak-anak kita belajar. Mulailah dari yang paling dekat.

Sekarang, mari kita masuk ke bagian praktis. Ada empat tindakan konkret yang saya ajak kita lakukan pekan ini, sebagai jamaah yang baru saja mendengar khutbah ini.

Pertama, audit satu pos amanah pribadi. Setiap dari kita memegang minimal satu pos amanah — uang kantor, fasilitas perusahaan, harta yatim yang dititipkan, dana arisan, dana kotak amal masjid, sumbangan untuk acara RT. Pulang dari sholat Jumat hari ini, pilih satu pos yang paling rentan kita lalaikan. Bukan dalam bayangan — tulis di kertas kecil. Lalu pekan ini, periksa apakah ada celah yang selama ini kita biarkan terbuka.

Kedua, perkuat perlindungan anak di lingkungan ngaji yang kita kelola atau ikuti. Bila kita pengurus TPA atau pengurus masjid, ajak takmir membahas SOP sederhana: tidak boleh ada guru sendirian dengan satu anak di ruang tertutup; jadwal pulang dijemput orang tua; orang tua dimasukkan ke grup informasi. Bila kita bukan pengurus, sampaikan usulan ini dengan hormat. Perlindungan anak bukan tugas pemerintah saja — itu tugas takmir.

Ketiga, doakan aparat hukum dan pejabat pemerintah dalam doa pribadi pekan ini. Bukan untuk membela kesalahannya, tetapi karena Rasulullah ﷺ mengajarkan kita bahwa mendoakan kebaikan untuk pemimpin adalah bagian dari nasihat (nashīhah) yang dianjurkan. Kita tidak akan membantu negeri ini hanya dengan mencaci. Kita akan membantunya dengan menambah orang baik yang berdoa untuk perbaikan.

Keempat, kalau kita pemegang jabatan — sekecil apa pun, dari bendahara arisan sampai direktur — buat satu komitmen pekan ini: satu hal yang selama ini "wajar-wajar saja kita ambil" akan kita kembalikan atau kita berhenti ambil. Itu saja. Satu hal. Tidak perlu langsung sempurna. Tetapi mulai dari satu titik konkret pekan ini.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْعَدْلَ مِيْزَانَهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَاتَّقُوا اللهَ عِبَادَ اللهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْعَدْلَ لَا يُقَامُ إِلَّا بِالْأَمَانَةِ، وَأَنَّ الْأَمَانَةَ لَا تُحْفَظُ إِلَّا بِتَقْوَى اللهِ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, sebelum kita menutup, izinkan saya memperdalam satu sisi yang belum sempat saya kembangkan di khutbah pertama. Kita mudah tertarik membicarakan keadilan dalam skala besar — pejabat, lembaga negara, miliaran rupiah. Tetapi keadilan adalah otot yang harus dilatih setiap hari, dan ia dilatih di skala kecil. Ketika kita memberi nasihat kepada anak yang bersalah, kita memberi waktu yang cukup untuk dia menjelaskan dirinya? Itu keadilan. Ketika kita membagi warisan keluarga, kita merujuk ke aturan syariat dan musyawarah, bukan ke senioritas atau keinginan pribadi? Itu keadilan. Ketika di tempat kerja kita memilih tim untuk satu proyek, kita memilih yang paling kompeten atau yang paling dekat secara emosi? Itu keadilan. Setiap pilihan kecil ini adalah latihan otot. Tanpa latihan otot ini, jangan harap kita bisa adil ketika diberi pos yang lebih besar.

Kita juga harus jujur tentang kepada siapa kita berdoa. Hari ini banyak yang berdoa "Ya Allah, hancurkan koruptor itu." Tetapi Rasulullah ﷺ mengajarkan adab yang lebih dalam: berdoa untuk perbaikan pemimpin, bukan kehancuran. Sebab ketika seorang pemimpin yang bertobat memimpin dengan adil, ribuan rakyat tertolong. Doa kita harus seluas itu — bukan hanya menyalurkan kemarahan, tetapi mengundang perbaikan dari atas.

Ada satu refleksi terakhir yang harus kita bawa pulang. Di antara peristiwa pekan ini, satu yang paling perlu kita renungkan adalah diskursus tentang sempitnya ruang suara kritis bagi mahasiswa dan aktivis. Bayangkan, ada keluarga yang malam ini tidur dengan rasa khawatir bukan karena anaknya berbuat salah, melainkan karena dia mencoba berbicara apa adanya. Apa yang kita lakukan sebagai komunitas Muslim untuk keluarga seperti itu? Doa kita pekan ini harus mencakup mereka — yang sedang berusaha membela hak orang banyak dengan caranya masing-masing. Itulah yang Nabi ﷺ doakan untuk mustadh'afin, kaum yang dilemahkan, di setiap zaman.

Mari kita selesaikan dengan beberapa kalimat refleksi yang sederhana. Adil bukan event. Adil adalah kebiasaan. Adil tidak menunggu jabatan besar. Adil dimulai di meja sarapan pagi ini. Bila kita meminta dunia menjadi lebih adil, mari kita menjadi orang pertama yang menambah satu butir keadilan di pos kita sendiri pekan ini.

Mari kita berdoa.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْ وِلَايَتَهُمْ فِي طَاعَتِكَ وَطَاعَةِ رَسُوْلِكَ، وَاحْفَظْهُمْ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْ كُلَّ مَنْ تَوَلَّى أَمْرَ الْمُسْلِمِيْنَ الصِّدْقَ وَالْأَمَانَةَ وَالْعَدْلَ، وَطَهِّرْ قُلُوْبَهُمْ مِنَ الطَّمَعِ وَالْغُلُوْلِ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَيَّامِهِمْ يَوْمَ لِقَائِكَ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَطْفَالَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ شَرٍّ، وَأَبْعِدْ عَنْهُمُ الْفَاحِشَةَ وَالْأَيْدِيَ الْآثِمَةَ، وَاجْعَلْ مَجَالِسَ تَعْلِيْمِهِمْ مَجَالِسَ نُوْرٍ وَأَمَانٍ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِيْنًا، اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ ضَعْفَهُمْ وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ مَنْ يَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالْحَقِّ، وَاجْعَلْهُمْ تَحْتَ كَنَفِكَ، وَلَا تَجْعَلِ التَّرْهِيْبَ سَبَبًا لِسُكُوْتِهِمْ، وَلَا تَجْعَلِ الْحَقَّ غَرِيْبًا فِيْ بَلَدِنَا.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا، وَتَقَبَّلْ مِنَّا صَالِحَ أَعْمَالِنَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan